
Dua bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 20 Februari 1001, musim salju akhirnya berhenti turun melanda wilayah Kerajaan Artea.
Cuaca dingin yang membekukan banyak hal itu seperti lilin yang dibakar dan mulai mencair dan menguap akibat pergantian dari musim salju ke musim semi.
Semua peserta latihan saat ini dikumpulkan di seberang sungai di belakang Kota Insel, selama tiga bulan terakhir mereka sudah melalui neraka dunia yang sesungguhnya, mereka paham betul bahwa Xavier jauh lebih menakutkan dari kematian itu sendiri!
“Kalian masih semangat?!”
Para peserta latihan masuk dalam sikap siap dan berkata, “Siap, Tuan!”
Dan mereka pun kembali ke sikap istirahat di tempat.
“Bagus!” Xavier datang ke depan mereka di barisan pertama, dan berteriak di depan mereka satu persatu, “Siapa namamu?”
“Siap! Luiz!”
“Siapa namamu?!” Xavier masih kurang puas dengan nada pihak lain yang terdengar tidak kuat.
“Siap! Luizzzz!!”
“Bagus!” Xavier menampar-nampar pipinya dengan senyum bangga.
Selanjutnya dia pindah lagi ke mereka yang lain dan melakukan hal yang sama kepada setiap dan masing-masing dari mereka yang saat ini bertotal 40 orang dan semuanya adalah pemuda yang memiliki otot-otot terbaik, jika dibandingkan dengan tiga bulan lalu, mereka benar-benar berbeda.
Para peserta yang sering nangis dan ketakutan setiap kali disuruh melakukan hal sulit, sekarang mereka semua berbanding terbalik 360 derajat, mereka bukan lagi pengecut, mereka seorang prajurit saat ini!
Xavier tersenyum puas.
Menurutnya latihannya dalam tiga bulan ini benar-benar membuahkan hasil yang melebihi ekspektasinua.
“Bagus, aku sangat puas dengan perkembangan kalian. Ingatlah bahwa bukan kepadaku, tetapi untuk Kota Insel!”
“Siappp!!”
Semua orang jelas mengerti dengan maksud ucapan Xavier, tapi meski begitu mereka tetap akan mengorbankan hidupnya karena Xavier saat ini sudah seperti jantung Kota Insel, tanpa dia tidak mungkin ada kemajuan seperti saat ini, jadi pada dasarnya Kota Insel adalah Xavier itu sendiri, sesuatu yang harus mereka lindungi!
“Bagus!” Xavier sekali lagi menyanjung mereka, “Kalian sangat kuat, aku yakin itu!”
“Bahkan jika tidak ada satupun dari kalian yang membangkitkan kemampuan pengendalian elemen, aku yakin kalian tetaplah yang terbaik!”
Semua orang sangat senang dengan pujian Xavier, sebab sangat jarang Xavier memuji mereka.
“Ingatlah apa yang pernah aku ajarkan dahulu. Manusia kuat bukan karena kekuatan saja, tetapi karena ini,” ucapnya sambil menunjuk kepalanya, “Pikiran adalah kekuatan manusia, dengan pikiran yang bagus seseorang bisa menaklukkan apapun.”
Tapi tentu saja, Xavier tahu bahwa dengan pikiran saja tidak mungkin, mereka butuh senjata.
Melihat dari keloyalan mereka kepadanya, Xavier sudah tidak ragu lagi.
“Luiz, Reus, Adolf, dan Sqot, setelah ini, datanglah ke ruang kerjaku.”
“Siap!”
Xavier mengangguk dan tidak lagi membuang waktunya, dia mulai membagikan mereka senjata tajam seperti panah, sangkur, dan tombak.
“Bersumpahlah bahwa apa yang kuberikan ini tidak akan kalian gunakan untuk melukai sesama.”
“Siap, kami bersumpah!”
•••
Siang hari, pertemuan antara Xavier dengan Luiz, Reus, Adolf, dan Sqot di mansion akhirnya terjadi.
Masing-masing dari mereka berumur sekitar 20-23 tahunan, tinggi mereka juga di atas 175 cm dengan tubuh kekar namun terlihat ramping.
Ceklekkk ...
Sebuah koper berisikan pistol dibuka oleh Xavier di hadapan mereka berempat yang saat ini sedang berada di depan meja kerjanya.
“Ambillah.”
“Kalian pasti sudah pernah melihatnya, bukan?”
“Ya!” jawab mereka. Mereka ingat saat itu untuk membantai para bandit, Xavier menggunakan benda pembunuh ini.
“Ini senjata yang sangat berbahaya, aku harap kalian mengerti.”
Mereka mengangguk serius.
“Oleh karena itu, aku ingin kalian berjanji dua hal kepadaku, yang pertama jangan menggunakannya kecuali dalam keadaan darurat, dan yang kedua, kalian jangan pernah mabuk!”
Kasus penembakan di Bumi dengan senjata api kebanyakan karena konsumsi minuman beralkohol yang membuat orang-orang kehilangan kendali, itulah kenapa Xavier menekankan mereka untuk tidak mabuk sebab itu akan sangat berbahaya.
“Apa kalian paham?”
“Siap, paham!” jawab mereka bersama-sama.
“Baguslah.” Xavier mengangguk kembali kepada mereka, “Aku mempercayakan kalian senjata ini karena kulihat kalianlah yang terbaik dari mereka semua.”
Selain karena stamina mereka yang ada di atas rata-rata, tetapi juga karena kekuatan mereka.
Xavier sempat melakukan riset kepada mereka, para manusia di dunia ini. Menurut pengamatannya, kekuatan orang di dunia ini berasa beberapa kali lebih baik daripada manusia di Bumi.
Contohnya, orang normal di dunia ini bisa mengangkat gandum seberat 50 kg dengan mudah, tetapi orang-orang di Bumi meskipun bisa mereka tentu akan agak lelah.
Dan, itu adalah normal. Sedangkan semua orang yang dia latih sudah berada di atas rata-rata, sementara mereka berempat ini sudah jauh di atas kata rata-rata.
Mereka bahkan bisa menghancurkan pohon pisang dalam dua kali pukulan dan pernah duel tangan kosong dengan gorila yang berkeliaran di hutan, mereka benar-benar bukan manusia lagi, mereka Monster!
Mungkin ini karena Xavier selalu memberikan mereka makanan dengan kalori berkecukupan dan gula yang tidak berlebihan, selain itu karena tiap hari dilatih di medan yang sulit, mental mereka benar-benar sudah tertempa menjadi baja yang tak terhancurkan.
Xavier bangga dengan mereka, dan mengangkat mereka sebagai pemimpin para prajurit yang baru.
“Mulai sekarang kalian akan memimpin mereka ini untuk menjaga kawasan yang sudah aku tandai,” Xavier berkata sembari mendorong empat kertas yang sudah bertuliskan nama setiap orang dan kawasan yang harus mereka lindungi.
“Tapi maaf, tidak ada gaji untuk kalian. Aku berjanji jika kota ini berhasil menjadi tempat maju, jangankan 2 keping emas per bulan, aku bahkan akan memberi 6 keping emas kepada kalian setiap bulannya.”
6 keping emas …
Wajah mereka sangat senang ketika Xavier menyebutkan gaji yang fantastis itu, akan tetapi mereka buru-buru menghilangkan ekspresi kegirangan mereka dan tidak terlalu terpaku pada hal itu saja.
Adolf berkata, “Kami menjadi prajurit untuk melindungi kota ini dan anda, anda tidak perlu terlalu memikirkan upah kami.”
“Itu benar!” sahut mereka yang lain.
Xavier menyeringai, “Jadi kalian tidak mau gaji?”
“Ahh, emmm ...”
Ekspresi mereka yang berubah menjadi linglung membuat Xavier tertawa kecil dalam hatinya.
“Hhh, aku hanya bercanda, keluarlah.”
“Siap!”
•••
Dalam dua bulan terakhir, banyak hal yang sudah Xavier lakukan. Selain melatih para prajurit baru, dia juga telah bersama-sama warga kota yang lain untuk membangun rumah-rumah kayu yang tersisa sampai selesai, mereka juga telah mencabut rumput-rumput liar dan mempercantik kota ini seperti yang seharusnya.
Intinya Kota Insel yang sekarang sudah bukan kota mati seperti dulu lagi.
Tetapi dalam dua bulan itu juga, Xavier menemukan masalah baru.
“Uang di tabunganku ... tidak mungkin bisa membeli gandum untuk mereka selamanya ...”
•••
Bersambung! Jangan lupa like dan komen sebagai dukungan untuk Author, makasih :)