Building A City In Ancient Times

Building A City In Ancient Times
Chapter 6 : Serangan Para Bandit



Ini masihlah awal musim salju, secara normal, musim salju akan berlangsung selama tiga bulan, dan salju lebih condong turun ketika malam hari, jadi pada pagi harinya, Xavier mengumpulkan kaum lelaki untuk melanjutkan pekerjaan mereka, sebab masih ada banyak rumah yang masih belum dibangun seutuhnya.


Pekerjaan kembali dilanjutkan, tanpa pasak, mereka menggunakan paku besi yang dibawa oleh Xavier dari bumi, selain kuat, paku besi juga membuat pekerjaan menjadi jauh lebih mudah untuk dikerjakan.


Membangun beberapa rumah, dengan bantuan puluhan orang bukanlah hal yang sulit, terlebih lagi ini hanyalah sebatas rumah kayu belaka, selama stamina mereka terisi, maka tidak ada kata lelah bagi mereka para pekerja.


“Kalian bekerjalah, aku kembali nanti malam!” Xavier memberi salam perpisahan pada para warga yang bekerja sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke mansionnya.


•••


Sementara itu, di pojokan kota, tampak seorang gadis berekor hitam tengah memantau keadaan rumah yang berada di bawahnya.


Telinganya memiliki pendengaran yang cukup baik, dan hidungnya memiliki penciuman yang tidak perlu ditanyakan, bahkan bau dari ratusan meter pun bisa dicium aromanya oleh hidung gadis siluman kucing tersebut.


Grurrrr ... Suara gemuruh keroncongan bergegas keluar dari dalam tubuh gadis tersebut, kelaparan jelas adalah hal yang sedang ia alami saat ini.


“Ughhh, aku benci ini, tapi aku sangat lapar.” Matanya yang berwarna ungu seperti bisa menjelaskan segalanya, bahwa dia benar-benar sangat lapar.


Ditambah mencium aroma roti gandum dari tiap rumah warga kota benar-benar membuat perutnya sering keroncongan.


“Aku sudah tidak tahan lagi!”


Ketika ia sudah memastikan tidak ada orang yang berlalu lalang di bawah pohon tempatnya berada, gadis siluman kucing itu pun mulai menjalankan aksinya untuk mencuri makanan yang ada di dalam salah satu rumah warga kota.


Awalnya dia memerhatikan dulu dengan baik-baik, lalu masuk melalui pintu rumah yang rupanya tidak dikunci.


‘Manusia begitu lalai?’ Bahkan di sukunya, mereka sering mengunci pintu supaya tidak ada orang lain yang menyusup ke dalam rumah, tetapi warga kota ini benar-benar lain.


Namun, apa yang terjadi sebenarnya adalah perintah yang diberikan oleh Xavier kepada para warga kota untuk membiarkan pintu rumah mereka tidak terkunci dengan maksud tertentu.


“Wow, sangat hangat di dalam sini ...” Sangat jauh berbeda dengan kondisi cuaca di luar.


Tetapi dia tidak mempunyai banyak waktu untuk mengagumi suhu ruangan di dalam rumah ini, karena sekarang dia mengincar hal lain.


“Itu dia!” Ketika berjalan ke dapur, gadis itu akhirnya menemukan ada beberapa potong roti gandum yang diletakkan di atas bakul di meja.


Dengan lahap gadis itu pun langsung memakannya tanpa memedulikan apapun, seolah masalah perut lebih penting daripada apapun saat ini.


Krenyess ... Krenyess ...


Rasanya hambar, tapi bagian kulit roti agak asin, namun tetap saja ini adalah hal yang sangat enak menurutnya untuk saat ini


“Apa kakak mau teh?”


“Boleh ... Eh?!” Mata gadis siluman kucing itu tersentak dan ia berbalik dengan tatapan terkejut.


“Hihi ...” Seorang gadis kecil bernama Liani tersenyum manis meski dalam hatinya sedikit gugup karena ini adalah kali pertama dia bertemu siluman kucing di dunia ini.


Terciduk seperti ini, gadis siluman kucing itu tetap tenang meski dia malu karena ketahuan mencuri.


Teh itu …


Ia menatap uap panas yang keluar dari gelas yang berisikan teh panas membuatnya sedikit tergoda.


“Kalau kakak mau, silahkan minum ini, lagipula cuacanya sangat dingin di luar.”


“Apa kau serius?”


“Ummm ...” Gadis berumur 10 tahun itu mengangguk dan menaruh teh hangat di meja kecil yang ada di sampingnya, “Jika Kakak mau, silahkan datang ke sini setiap hari. Gandum di rumahku sangat banyak sebab Penguasa Kota sangat baik hati.”


Kemudian gadis itu langsung pergi dari sana dan tidak kembali lagi karena dalam hati kecilnya dia agak takut.


•••


Sementara itu, Xavier sudah muncul kembali di bumi dan merubah setelan pakaiannya untuk menyesuaikan dengan penduduk bumi.


“Sisa uang di tabunganku adalah $53.199, apa aku gunakan untuk membeli senjata api saja?”


Senjata api di negaranya adalah legal dan bisa dibeli selama memiliki surat izin, untuk mengurus izin di negaranya tidak begitu sulit, yang membuat sulit adalah harga senjata api yang cukup mahal.


Seperti pistol yang dia miliki, itu harganya adalah $400, itupun karena diskon akhir tahun.


“Tidak, tidak ...” Xavier mulai menghilangkan ide gilanya itu untuk membeli banyak senjata api buat para warga. “Saat ini penduduk kota memang cukup loyal, tetapi jika aku membagikan senjata api kepada beberapa orang dari mereka ... ada kemungkinan aku dibunuh.”


Yeah, karena ini adalah senjata terburuk di dunia, bahkan penciptanya merasa menyesal sudah membuat penemuan seperti ini.


“Mereka belum siap ... aku harus membuat mereka sangat loyal dahulu padaku, sampai tingkat di mana mereka rela mati demiku.”


Mungkin terdengar kejam, tapi begitulah pandangan seorang pemimpin, harus hati-hati dan tidak boleh gegabah, sebab salah satu langkah bisa mengakibatkan kejadian yang tidak diinginkan kedepannya.


“Hmm, kalau begitu aku harus bertingkah pintar ...”


Maksud Xavier, dia harus menunjukkan hal baru kepada mereka. Tapi itu juga masih sebatas rencana, mungkin akan dilaksanakan tahun depan.


Menyingkirkan rencananya itu, Xavier segera pergi dari rumahnya, dengan uang di rekeningnya, dia pergi ke toko buku yang berada di tengah-tengah kota tempat ia tinggal.


‘Aku harus memberi mereka ilmu pengetahuan terlebih dahulu ... Setidaknya mereka harus tahu hal-hal penting tentang kehidupan.’


Maksud Xavier adalah buku yang membahas tentang cara menjaga diri agar tetap sehat.


Xavier melakukan hal ini karena dia juga sedikit kurang senang dengan sikap warga di Kota Insel. Terutama fakta bahwa masih banyak orang yang suka buang air besar sembarangan, itu benar-benar membuat Xavier sedikit pusing.


Setelah Xavier selesai membeli buku-buku yang menurutnya penting dengan menghabiskan $1.000. Xavier pun pergi ke toko senjata dan membeli berbagai macam barang, seperti parang, belati, bahkan tombak, dan panah yang tentunya terbuat dari kualitas tinggi.


“Fiuh, aku harus cari makan dahulu, sebelum membeli obat-obatan,” gumam Xavier setelah meletakkan belanjaannya di dalam mobil rentalnya.


•••


Sedang asik menikmati roti gandum yang diberikan oleh gadis Liani secara diam-diam di rumahnya, Gadis Kucing itu tiba-tiba memiliki telinga yang bergoyang sendiri seolah mendeteksi bahaya di dalam kota.


Tak lama terdengar suara jeritan-jeritan ketakutan yang masuk ke dalam telinganya sehingga membuat ia tertegun dan tatapannya tampak kompleks.


“Tolong! Ada bandit!”


“Lari! Selamatkan diri kalian!”


“Kyaaaaahhh, lepaskan aku!”


“Suara gadis kecil itu ...” Gadis kucing itu tiba-tiba mengernyitkan keningnya dan memutuskan untuk keluar dari pintu belakang untuk melihat dari atas pohon.


“Hahaha, gadis kecil! Beraninya kau melempariku dengan batu barusan!” Seorang bandit berbandana biru tersenyum jahat kepada gadis kecil itu, Liani, sambil menggenggam kedua tangannya ke atas.


“Itu bandit ...” Dia bergumam rendah, melihat situasi yang serupa terjadi di sini, gadis itu merasa teringat suatu memori yang buruk.


“...”


•••


Bersambung! Jangan lupa nggalkan like dan komen sebagai dukungan untuk Author, makasih :)