Building A City In Ancient Times

Building A City In Ancient Times
Chapter 16 : Berbicara Dengan Luceus



Kereta kuda mereka dihentikan oleh beberapa penjaga yang ada di depan gerbang masuk Kota Dagang, masing-masing dari mereka ada orang muda yang mengenakan zirah besi dan memegang tombak di tangan mereka.


“Siapa kalian?!”


“Kami hanya pedagang,” jawab pengemudi kereta kuda paling depan yang merupakan warga kota biasa, mereka sengaja menaruh warga biasa di kereta gerbong paling depan karena Xavier berpikir mereka lebih sempurna dalam hal-hal seperti ini.


“Pedagang? Kalau begitu biarkan aku memeriksa daganganmu, kau tidak keberatan, bukan?”


“T-Tentu ...” jawabnya lirih sambil mempersilahkan kedua prajurit untuk memeriksa gerbong mereka.


Ceklakkk ...


Prajurit itu berseru setelah berhasil membuka pintu gerbong kereta yang diperiksanya, “Ikan ... sebanyak ini?”


Kemudian temannya yang satunya menjadi tertarik dan ikut datang memeriksa apa yang telah dilihat oleh prajurit itu dengan ekspresi terkejut yang sama.


“Astaga, bagaimana bisa ada ikan sebanyak ini?!”


Itu hampir memenuhi satu gerbong.


Di dunia ini ikan adalah daging yang cukup mahal karena kesulitan untuk menangkapnya, bagaimana bisa ada banyak daging mahal di satu tempat?


“Hehe, tuan prajurit itu memang ikan.”


“Aku tahu!” timpal baliknya dengan dengusan, lalu mereka berdua pun pergi ke gerbong yang lain dan semuanya sama— Sama-sama banyak ikan!


“Tuan-tuan, apakah kalian sudah selesai memeriksa semuanya?” tanya dia, warga kota biasa yang sebelumnya ditanyai oleh dua prajurit Kota Dagang.


“Kami sudah memeriksanya dan sepertinya memang kalian adalah pedagang.”


“Baguslah ...”


“Sekarang berikan satu koin emas!” celetuknya yang membuat warga kota itu menjadi kaget.


“Bukannya biasanya 15 koin perak perak per gerbong?” Ia mendesah dengan wajah sedikit mengeluh.


Tetapi sang prajurit kelihatannya tidak peduli dengan keluhan pihak lain.


“Tarif masuk sudah naik, cepatlah bayar atau kau tidak boleh masuk!”


“Duh ... baiklah.” Ia pun berpura-pura meraba pakaiannya sampai akhirnya memasukkan tangannya ke saku bajunya, “Ah, akhirnya aku menemukannya.”


“Ini tuanku.” Ia mengulurkan tangannya yang sudah terdapat satu koin emas dalam genggaman tangannya.


“Hmm ...” Prajurit itu agak kaget dan terkejut, “Ini benar-benar emas, bukan?” tanyanya sambil mengambil koin emas yang ada di tangan pihak lain.


Pria paruh baya yang merupakan warga biasa itu sepertinya mengharapkan pertanyaan itu keluar dari mulut lawan bicaranya, jadi dia pun menjelaskannya.


“Ini benar-benar emas, Tuanku. Mana mungkin aku berani menipu prajurit perkasa dari Kota Dagang?”


“Hmm ... kau pandai memuji, masuklah!”


“Terima kasih.”


Akhirnya lima gerbong kereta itu pun mulai bergerak kembali menuju ke dalam Kota Dagang yang sangat semarak dengan keramaian lalu lalang manusia di sana-sini.


Kereta mereka terus berjalan menyusuri bagian dalam kota dan berhenti di salah satu lapak yang kosong.


“Tuanku, tebakan anda benar-benar tepat,” puji Hamrir, lelaki paruh baya yang sebelumnya berbincang dengan kedua prajurit penjaga di luar kota.


“Ya.” Xavier mengangguk dengan senyum tipis.


“Sekarang kalian tunggulah di sini, aku dan Adolf akan pergi untuk membayar izin dagang di kota ini.”


“Baik, Tuan Xavier.”


“Ayo, Adolf.”


“Siap— maksudku, baik!”


•••


Bersama dengan Adolf, salah satu dari prajurit terbaiknya yang dia bawa dari Kota Insel, Xavier akhir menginjakkan kakinya di depan balai kota, Kota Dagang.


“Berhenti, ada keperluan apa?”


“Kami ingin meminta izin dagang di kota ini,” jawab Xavier dengan nada sopan namun tidak merendah.


“Saat ini tidak bisa! Pengurus balai sedang pergi keluar—”


“Biarkan dia masuk!” celetuk seorang pria paruh baya berpakaian rapi yang saat ini sedang berjalan menghampiri mereka sambil memainkan kumis tebalnya dengan tangannya.


“Tuan kota!” Kedua prajurit itu berseru kepada pria paruh baya yang baru saja sampai ke tempat mereka.


“Jadi Tuan Kota ...” Xavier berpura-pura terkejut.


“Siapa namamu?” tanya Tuan Kota dengan senyum ramah.


Xavier menjawab, “Nama yang muda ini adalah Enru.”


Meski dia berbohong, tetapi kelihatannya Tuan Kota Dagang percaya dengan ucapannya.


“Enri, yah.” Ia sedikit memicingkan matanya dan mengingat-ingat, ‘Aku tidak pernah mendengar nama seperti ini ... siapa dia sebenarnya?’


Ia keluar dari pikirannya sendiri dan mengundang Xavier untuk masuk ke dalam.


“Silahkan masuk ke dalam, Enri.”


“Terima kasih atas kemurahan hati anda, apakah pengawalku ini boleh ikut masuk?” Yang dimaksud Xavier adalah Adolf yang saat ini berada di sampingnya.


“Tentu saja, biarkan dia juga ikut masuk.”


Dilihat dari cara Tuan Kota Dagang menyikapi hal ini, dia kelihatannya tidak memandang Adolf sebagai masalah melainkan hanya rakyat jelata biasa.


“Hmm ...” Xavier hanya mengangguk dan dengan begitu dia bersama Adolf diajak masuk ke dalam gedung balai kota yang berada tepat di tengah-tengah kota.


"Duduklah, apa kau mah teh?"


"Ah … tidak perlu." Xavier tiba-tiba mengubah nada santainya, masuk ke dalam jenjang yang lebih serius.


"Jadi ada apa, Tuan Kota?" Sebenarnya Xavier sudah tahu kenapa sifat Tuan Kota sebaik ini, akan tetapi dirinya tetap bertingkah polos dan tidak tahu apa-apa.


"Sebenarnya … aku ingin bertanya, apakah kau agen atau seorang pedagang besar ikan?" Matanya menyoroti Xavier dengan serius yang mengisyaratkan bahwa ini bukan hanya pertanyaan, tetapi ini adalah perintah.


"..." Xavier mengangguk, "Kau bisa menganggapku seorang agen."


"Begitu … jika boleh tahu, siapa produsennya?"


Xavier menjawab tanpa berpikir panjang, katanya, "Semua ikan itu berasal dari Kota Insel."


"Kota Insel …" Tuan Kota Dagang jelas tahu, "Bukankah itu kota mati? Kudengar Tuan Kotanya sudah menjual kota itu kepada seseorang yang tidak dikenal."


'... Jaringan pria ini cukup luas, rupanya,' pikir Xavier.


"Kota Insel memang sudah menjadi kota mati tahun lalu, namun karena adalah Tuan Kota baru yang pintar, mereka berhasil bangkit dari keterpurukan."


"Kuharap kau tidak berbohong."


"Tidak mungkin aku berbohong kepada anda, Baron Luceus."


"... Baiklah, anggap saja kau benar. Lalu, dari mana semua ikan di kelima gerbong itu?"


Xavier sudah lama menunggu pertanyaan ini.


"Percaya atau tidak, Kota Insel memiliki rahasia besar dalam menangkap ikan yang tidak aku ketahui, dalam sehari mereka terkadang bisa menangkap tiga puluh sampai lima puluh ekor ikan."


"Benarkah?" Luceus kurang yakin. Dirinya yakin menangkap ikan itu sulit, apalagi menangkap banyak ikan seukuran lengan orang dewasa.


Akan tetapi salah satu bukti sudah jelas menunjukkan bahwa Xavier memang membawa banyak ikan, hak seperti ini tidak mungkin terjadi kecuali yang dikatakan oleh Xavier itu benar.


Kota Insel … memiliki rahasia.


Tapi rahasia apa? Sampai-sampai tidak hanya mengubah kota mati menjadi kota hidup, tetapi juga memiliki cara untuk mendapatkan hasil laut yang sangat berlebihan seperti ini.


•••


Bersambung! Jangan lupa like dan komen sebagai dukungan untuk Author, makasih :)