
Dilihat dari sikap mereka, apakah mereka tidak tahu? Xavier khawatir bahwa itu adalah benar, mungkin saja hal-hal di dunia ini tidak sepenuhnya sama dengan yang ada di bumi.
Untuk mengelabui pikiran mereka, Xavier hanya memberitahu bahwa itu adalah bibit dari kampung halamannya sehingga mereka tidak lagi banyak bertanya.
“Oh, yah. Di dalam plastik itu juga ada bibit-bibitan untuk bumbu-bumbu dapur, kalian tanamlah semuanya.”
“Baik, Tuanku.”
Tanpa menunggu lagi, mereka segera berbalik dan pergi untuk membagi tugas kepada yang lain.
“Makanan di dunia ini kurang enak karena kekurangan bumbu dapur, kuharap dengan ini masalah bisa segera terselesaikan.”
•••
“Kau kembali.”
Miao En melirik Xavier dari balik buku yang sedang dia baca.
“Umm ...” Xavier mengangguk dan berjalan melewatinya yang saat ini sedang berbaring di atas sofa empuk sambil membaca buku berwarna putih.
“Apa yang sedang kau baca?” Xavier mengambil buku Miao En dengan paksa lalu membaca judulnya, “Sains.”
“Hei, kenapa kau mengambilnya begitu saja? Kembalikan!”
Tanpa menunggu jawaban dari Xavier, tangan Miao En sudah menggapai buku itu dan memeluknya seolah itu adalah buku yang penting.
“Kau belajar sains dasar, memangnya kau paham?” Xavier menyeringai kepadanya.
Miao En yang tidak terima dirinya direndahkan seperti itu segera mendengus lembut dan mencibir, “Memang agak sulit, tapi aku sudah sedikit memahaminya, kau pikir aku bodoh?”
“Ohhh ... kau sepertinya cukup pintar,” Xavier memujinya. “Namun itu hanya pelajaran bocah 8 tahun di kampung halamanku.”
“Bo-Bocah 8 tahun? Bagaimana mereka bisa memahami hal rumit seperti siklus hidrologi dan perubahan bentuk zat?”
Xavier menjawab, “Itu karena mereka diajar, bukan belajar sendiri.”
Ini adalah suatu perbedaan.
“... Apa kau yang mengajari mereka?” Miao En bertanya dengan wajah polos
Aku? Xavier ingin tertawa dalam hatinya.
“Di kampung halamanku ada orang-orang pintar yang sudah profesional dalam berbagai macam ilmu, merekalah yang mengajari para anak-anak untuk menjadi pintar.”
“Itu artinya banyak orang pintar di kampung halamanmu? Tunggu-tunggu, di mana kampung halamanmu? Rasanya kau sudah menceritakan banyak hal menakjubkan yang berasal dari sana.”
“Kampung halamanku sangat jauh ...” Xavier tidak ingin menjelaskannya lebih lanjut tentang detail lokasinya, ia hanya menyebutkan keunggulan tempat dia berasal. “Tempat itu ribuan kali lebih baik daripadakerajaan Artea ini.”
“Maksudmu lebih baik daripada Kerajaan Artea?” Miao En cukup terkejut hingga mulai curiga dengan tempat yang dimaksudkan oleh Xavier, ‘Apakah Kerajaan Elf yang tersembunyi? Kudengar banyak hal mengagumkan di sana,’ batinnya.
Tetapi terlepas dari itu semua, memang benar, menurut Miao En, Xavier bisa dipastikan berasal dari tempat yang cukup maju.
“Oh, yah. Miao-Miao, ada hal yang ingin aku berikan padamu.”
Miao En tampak tertarik setelah Xavier mengatakan hal itu, sehingga ia pun melupakan pemikirannya sebelumnya dan memutuskan untuk bertanya, “Oh, yah. Benda apa itu?”
“Kau akan tahu. Ayo ikut aku!”
•••
“Waw, pakaian ini sangat bagus! Aku jadi lebih leluasa untuk bergerak!”
“Ya, itu memang cocok untukmu.” Xavier memujinya sebab dekarang Miao En benar-benar kelihatan cantik. Apa yang dia kenakan adalah sebuah Tube Dress dan rompi hitam, sementara dari kaki sampai pahanya mengenakan stoking yang menarik perhatian Xavier, betapa cantiknya Miao En saat ini.
“Kau sangat cantik dengan pakaian ini, Miao-Miao.”
“Benarkah?” Miao En menoleh ke kiri dan kanan untuk melihat pakaiannya, “Memang pakaian ini sangat bagus, aku tidak pernah melihat gaun sebagus ini.”
“Iya, kan?” Xavier tersenyum, “Anggap saja itu hadiah karena kau sudah mau bergabung denganku.”
“Hmm, tumben kau sangat baik.” Miao En menyipitkan matanya, merasa bahwa tidak mungkin Xavier melakukan semua ini dengan cuma-cuma.
“Jangan menatapku seperti itu. Aku benar-benar ikhlas, kok.”
“Kuharap begitu!”
“Hehe ... kalau begitu pegang ini juga.” Xavier melempar satu pistol kepadanya yang langsung diterima oleh Miao En dengan cepat.
Miao En memandangi senjata api itu, lalu menyipitkan matanya ke arah Xavier, “Kau tidak takut? Bagaimana jika aku membunuhmu dengan ini?”
“Kau benar ...”
Saat itu, pada saat pertama kali diterima oleh Xavier untuk bekerja di kota ini, Miao En sempat menyelinap malam-malam ke dalam kamar Xavier untuk membunuh Xavier, namun hal itu dia hentikan karena mengingat Xavier yang sudah menyelamatkan nyawanya dari para bandit.
Dia jadi berhutang budi, karena itulah dia berhenti berusaha untuk membunuh Xavier, terlebih lagi dia ingin bisa bertemu dengan Liani di kota ini.
“Hmm, tapi berhati-hatilah, sebab teman juga bisa menjadi musuh.”
“Hehe, aku juga tahu itu.”
Xavier lalu memberikan beberapa magazine kepada Miao En dan berbincang-bincang dengannya selama beberapa saat sebelum akhirnya pergi kembali ke ruang kerjanya dan membuka buku catatannya.
“Rumah sudah, ladang sudah, regu militer sudah, sumur sedang tahap pembuatan ... memasang selang dari sungai juga sudah, pembangunan sekolah ... belum.”
Masih ada beberapa hal dan banyak lagi hal penting yang menurut Xavier harus dia lakukan. Akan tetapi ...
“Aku kekurangan pekerja ...”
Sebelumnya Kota Insel memiliki 200 lebih warga kota, tapi setelah para bandit menyerang, itu sudah berkurang puluhan, kini hanya berjumlah kurang dari 200.
“Untuk membangun kota ini, aku butuh pekerja.”
Bukan hanya pekerja keras, tetapi juga dia membutuhkan pekerja yang profesional pada bidang-bidang lainnya, misalnya penempaan, pemahatan, dan juga pendidikan.
“Apa aku harus memainkan ide yang agak buruk?” Xavier benar-benar tidak ingin melakukan ini, tetapi terkadang hal kotor juga diperlukan dalam membangun kota.
Inilah realistis, tidak seperti idealis yang hanya terpaku pada pedomannya semata.
“... Tapi aku harus bermain halus agar reputasiku di kota ini tidak rusak.” Karena berpenampilan jahat di muka umum hanya akan menambah kebencian para warga kota kepadanya— Jadi dia harus melakukannya dengan perlahan.
“Hmm ... baiklah.”
Xavier adalah seorang pemikir yang realistis, dia hanya berpikir tentang apa kepentingan yang penting saat ini, entah bagaimana caranya, dia harus melakukannya. Sangat berbeda jauh dengan orang-orang yang berpikiran idealisme yang selalu konsisten dengan ideologi mereka sendiri.
“Mari mulai memainkan permainan ini.”
•••
Dua minggu telah berlalu, dan Xavier sepertinya ingin melakukan sesuatu.
“Apakah semuanya sudah siap?” Xavier berdiri di samping gerbong kereta kuda yang berisi banyak sekali ikan-ikan yang sudah diawetkan di dalamnya.
Tujuannya tentu saja untuk menjualnya ke kota lain.
Adapun yang mengendarai kereta kuda itu, mereka semua merupakan para warga kota biasa, kecuali gerbong tempat dia berada yang terdapat beberapa prajurit yang sudah terlatih untuk melewati berbagai masalah.
“Kalau sudah siap, ayo kita berangkat segera!”
“Ya!”
Pada pagi hari itu, Xavier bersama dengan beberapa kereta kuda bergegas pergi dari Kota Insel untuk pergi ke tempat tujuan mereka, yakni Kota Dagang.
Melihat kepergian rombongan Xavier dari kejauhan, Miao En hanya menghela nafas, “Dia pasti sedang melakukan rencana ...” Miao En berpikir seperti itu sebab dia tahu Xavier tidak mungkin mau membuang-buang waktunya untuk mengikuti rombongan itu, dia bisa saja menyuruh para warga kota yang lain untuk pergi.
“Huh ... semoga dia baik-baik saja.”
“!!!” Miao En tiba-tiba terkejut.
“Tunggu-Tunggu, kenapa aku mengkhawatirkan bajingan itu?!”
•••
Empat hari berlalu dalam perjalanan mereka. Xavier dan lainnya akhirnya dapat melihat plang kota yang menunjukkan mereka sudah sampai.
“Tuanku, itu adalah Kota Dagang!”
“Aku tahu.” Lagipula kota tersebut adalah tempat pertama yang dia injak ketika tiba di dunia lain.
“Ingat, tetaplah tenang dan jangan membuat orang-orang curiga.”
“Baik!”
Sesungguhnya ada lima kereta gerbong yang dikemudi ke tempat ini, empat di antaranya dikendarai oleh para warga kota biasa, sementara satu gerbong lagi adalah tempat Xavier dan empat prajurit terpilih berada, bisa dibilang gerbong khusus.
•••
Bersambung! Jangan lupa tinggalkan like dan komen sebagai dukungan untuk Author, makasih :)