
“Hei, Xavier, berikanlah aku satu jaring ikan itu!”
Sekembalinya dari pesisir pantai, terjadi sebuah masalah di mana Miao En merajuk meminta jaring atau jala ikan yang dibawa oleh Xavier.
Dikarenakan sifat penyendiri Miao En yang tidak ingin terlihat banyak oleh manusia, dia sebelumnya melihat diam-diam dari atas tebing untuk mengetahui bahwa ada alat yang jauh lebih baik dari pancing untuk mendapatkan ikan!
Ketika mengetahui ini, tidak heran seorang Miao En pun terpikat dan tergoda.
‘Kucing tetaplah kucing ...’ Xavier sekarang paham betul, bahwa selain setengah manusia, Miao En juga setengah kucing! Tak heran dia menyukai ikan.
“Tidak usah, itu milik para warga. Lagi pula, akan ada banyak ikan yang diasap nanti, aku bisa meminta beberapa kilo untukmu.”
“Ikan diasap rasanya tidak enak, aku lebih suka ikan yang masih segar ...”
Ikan segar …
Tiba-tiba Xavier memiliki firasat buruk.
“Tunggu, Miao En ... Apa kau makan daging mentah?”
“Mana ada!” Miao En kesal karena dianggap sangat primitif seperti itu, “Aku tidak suka daging amis!”
Xavier menghela nafas lega dan tersenyum, “Baguslah ... kau bisa sakit jika makan daging mentah.”
“U-Ummm ...” Miao En baru kali ini melihat Xavier mengkhawatirkan kesehatannya seperti itu.
“Jadi mana jaringnya?” Miao En tetap tidak gampang menyerah dan terus meminta, akan tetapi Xavier juga bukan orang gampangan.
“Miao En, aku akan meminta beberapa ikan segar untuk disimpan, kau tidak perlu khawatir.”
“Menyimpan ikan segar? Caranya?” Di dunia ini, selain proses pengawetan dengan cara diasap dan dijemur, bagaimana lagi cara menjadi kesegaran ikan?
“Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan menipumu.”
“Hmmm ...” Miao En memegangi dagunya dan nampak berpikir, ‘Xavier selalu konsisten dengan ucapannya, mungkin dia tidak berbohong? Tunggu, apa jangan-jangan ...’
“Apa kau pengendali air?!”
Xavier tidak mengerti apa yang dia maksud, “Kau sudah melihatnya, bukan? Aku hanya manusia biasa ...”
“Tapi dari perkataanmu sebelumnya, kau seolah mempunyai kemampuan mengawetkan daging dengan cara lain, pasti itu dengan membekukannya, bukan? Untuk mendapatkan es di daerah seperti ini, hanya pengendali air yang bisa memanipulasinya air menjadi es!” jelas Miao En yang tampak pintar setelah menjelaskannya, “Hmm-Hmm, kau tidak akan bisa mengelabuhiku, kau pasti pengendali air.”
“Kau pintar Miao En.”
“Hehe ...”
“Tapi kau salah, aku hanya manusia biasa, bukan pengendali elemen air.”
“Kau masih membantah?”
“Sudahlah, aku hanya berkata apa adanya, terserah kau percaya atau tidak.”
“Ckkkk ... kau benar-benar tidak mau mengakui kemampuan berpikirku tentangmu. Kalian manusia sama saja, selalu merasa dirinya yang paling tinggi dan tidak ingin dianggap salah.”
“Umm, terserah kau mau mengatakan apa, lagi pula itu tidak sepenuhnya salah ...”
“...” Miao En menutup salah satu matanya dan melirik Xavier selama beberapa saat, “Jadi apa rencanamu selanjutnya? Menguasai wilayah sekitar?”
Mendengar pertanyaan itu, Xavier menjawab dengan tenang, “Tentu saja ... jika aku melihat ada kesempatan.”
Memang terdengar kejam, tetapi seperti itulah. Ini adalah dunia kuno yang penuh dengan penjarahan, jika Xavier mau tetap diam saja di kota ini dan tidak unjuk gigi memperlihatkan kekuatannya, maka akan ada banyak pihak yang memandang remeh dirinya dan bisa kapan saja mengajak perang dengannya.
“Apa kau khawatir dengan pengendali elemen?”
Xavier mengangguk, ini juga salah satu alasannya. Bahkan jika Xavier memiliki banyak senjata api, tetapi dia masih belum tahu seperti apa dan sekuat apa pengendali elemen itu.
Miao En berkata, “Kau bisa tenang, pengendali elemen adalah sosok yang dikucilkan di kerajaan ini sehingga mereka hampir tidak pernah bekerja sama dengan orang lain, karena mereka sering dianggap pembawa bencana ...”
“Jadi begitu ... Itu sangat disayangkan, padahal mereka sosok luar biasa.”
“Kau mengagumi mereka?” suara Miao En tampak bergetar, “mereka adalah pembawa bencana, lho!”
“Bencana? Biarkan bencana itu datang, memangnya apa gunanya otak jika tidak bisa menghadapi bencana? Dengar ini, Miao-Miao ...” Xavier berkata sambil menatapnya dalam-dalam, “Jangan pernah meremehkan manusia, karena mereka jauh lebih kuat dari naga.”
Bahkan di Bumi, spesies lemah seperti manusia bisa bertahan hidup dari zaman dinosaurus yang perkasa, padahal mereka hanya makhluk kecil, tetapi karena menggunakan otaknya, mereka bisa membunuh dan bertahan hidup.
Pada titik ini, yang terpenting adalah pikiran, selama manusia itu ingin berpikir, maka pasti ada jalan keluar untuk bertahan hidup.
“Uhhh, yayaya, kenapa malah ke sini pembicaraan kita?”
“... Ya, mari bicarakan hal lain.”
•••
Penangkapan ikan dengan jala berhasil meraup panen yang sangat besar dan menambah persediaan makanan yang sangat banyak di Kota Insel untuk beberapa bulan ke depan.
Semua ini bisa terjadi, tetapi bukan lain karena Xavier, jika bukan karena dia, hampir mustahil semua hal ini terjadi.
Mulai dari gandum yang masih tersisa, bahkan lauk, semuanya bisa terjadi hanya karena Xavier.
Dengan semua kemajuan ini, tentunya membawa pengaruh baik dan loyalitas masyarakat kepadanya sangat meningkat, terlebih lagi sikap Xavier yang selalu menyetarakan diri dengan rakyatnya membuat warga Kota Insel merasa sangat nyaman dan tentram dengan kehadirannya.
***
Pagi ini, Xavier mengajak beberapa orang ke beberapa titik di dalam kota, tempat di mana dia akan membangun sumur.
Setiap tempat yang dituju dialasi dengan daun pisang, teknik ini entah apa namanya, yang jelas jika ada daun pisang yang memiliki embun sangat banyak di pagi hari, itu artinya ada sumber mata air di bawah tanah.
“Cuman ada tiga tempat, kalian gali lah ke dalam tanah sampai menemukan sumber mata airnya, oke?”
“Roger!”
Xavier tersenyum puas dengan mereka, “Kalau begitu aku akan pergi dan menunggu hasilnya dalam beberapa hari.”
“Siap, Tuan!”
•••
Selanjutnya setelah meninggalkan mereka, Xavier bergegas pergi ke samping kanan kota untuk memantau keadaan ladang yang sudah dibuat oleh warga kota.
“Tuan Xavier datang!”
Kedatangannya menarik perhatian orang-orang yang sedang menanam gandum dan juga lobak di tempat itu.
“Apakah masih ada lahan tersisa yang bisa digunakan?” Xavier bertanya setelah dirinya tiba di samping ladang yang sudah dibuat.
“Ada, Tuanku.”
“Kalau begitu tanamlah itu dengan bibit-bibit ini,” ucap Xavier sambil memberikan puluhan bungkus bibit-bibitan yang ia beli dari bumi.
“Bibit apa ini?”
“Yang berbungkus oranye adalah wortel, ungu adalah terong, dan yang merah adalah bibit cabai rawit.”
“Ehhh?” Wanita paruh baya yang mendengar itu segera kebingungan, ia melihat ke temannya di sebelah tapi hanya mendapatkan balasan dengan gelengan kepala.
“Tuanku, aku memang tahu tentang cabai, tapi apa itu wortel dan terong?”
•••
Bersambung! Jangan lupa like dan komen sebagai dukungan untuk Author, makasih :)