BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust

BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust
BAB 08. STILL ON A CHASE



Aku meminta kembali pulpen di saku kemejaku pada Alice. Beberapa helai tisue kususun sedemikian rupa agar mudah kugunakan untuk corat-coret, aku tahu apa yang kulakukan selanjutnya akan sangat merepotkan. Tapi aku tak punya cara lain untuk menjelaskan apa yang ada di benakku saat ini pada gadis dihadapanku. Baiklah Juno.. here we go..


“Tunggu, tunggu!” Alice menghentikanku sebelum sempat memulai. “Penjelasannya bakal lama ga? Kalo lama apalagi sampe beribet boleh aku pesen satu gelas lagi?”


Sialan… dia mengerjaiku.


Segelas lagi parfait sampai di meja kami. Aku memang setuju untuk mentraktirnya tadi, dan sekarang aku mulai menyesali keputusan itu. Huuuuuuh.. oke, tarik nafas dalam-dalam. Fokus!


“Bisa kita mulai sekarang?”


“All Green, Captain!” jawabnya bersemangat sambil menyendok potongan strawberi.


“Good..”


Baiklah, harus kumulai dari mana? Sial, kenapa sekarang aku yang bingung harus mulai dari mana!


“Malcolm Database ltd… Perusahaan yang tadi wanita itu sebutkan benar-benar ada, dan sesuai dengan apa yang dia katakan perusahaan itu memang bergerak di bidang database, dan selain menyediakan jasa bagi sekolahan perusahaan itu juga menangani perusahaan swasta lainnya sebagai client…


“…Sayangnya aku ga menemukan nama yang dimaksud di halaman yang memuat staff inti perusahaan itu, jadi mungkin dia cuma karyawan biasa yang bertugas menangani hal teknis atau pegawai lapangan..” Atau mungkin sales keliling seperti dugaan awalku.


“Tapi di halaman lain, tepatnya di halaman yang memuat client-client dari perusahaan tersebut aku nemu beberapa petunjuk. Kamu tahu kalau di kota ini ada 20 sekolah negeri dan sekitar 30an sekolah swasta?”


“Hum, hum.. aku ga tahu ada sebanyak itu..” Mata itu telihat begitu berkilau dengan antusiasme.


Melihat Alice yang sedari tadi asyik menyendok parfaitnya aku tanpa sadar ikut menyendok parfait yang sedari tadi aku diamkan. Dan ya, enak juga.


“Sampai mana kita tadi? Oh, iya! Sekolah! Dari situ aku tahu kalau beberapa sekolah memang sudah jadi client perusahaan itu dan sekolah kita juga mungkin lagi proses menuju kesana. Nah dari situ aku cari sekolah mana lagi yang belum atau mungkin sedang dalam proses menuju kerjasama dengan perusahaan ini..


“Hasilnya lumayan banyak kalau ditambah dengan sekolah swasta, sekitar.. 40an. Tapi jumlahnya bisa diperkecil kalau menimbang faktor ekonomi tiapnya yang mana biaya jasa yang ditawarkan di situs resminya cukup tinggi, kita bisa potong kemungkinnan ke sekolah-sekolah yang memang memiliki potensial budget untuk menggunakan jasa mereka..


“Hoo.. kamu cari tau itu semua waktu kita nongkrong di depan? Keren..”


“Dari situ kemungkinannya turun jadi tinggal 15 sekolah.. atau yah, kurang lebih. Jadi ada sekitar 15 sekolah lagi yang mungkin bakal didatangi wanita itu. Jadi kehilangan wanita itu hari ini ga terlalu masalah buatku. Aku bisa mencarinya lagi dengan mengikuti pola ini.”


Walau bilang gitu, aku jelas-jelas mustahil melakukannya. Menyelidiki 15 sekolah untuk menemukan satu wanita yang bisa datang dan pergi kapan saja jelas merepotkan. Aku tak mungkin melakukan itu.


“Woooow!! Keren! Keren!! Pantesan tadi kamu santai banget begitu tahu wanita itu udah ga ada disini..”


Aku gak santai. Aku lelah.


“Dan baru aja Benji ngasih data kritikal. Semua korban dari kasus pembunuhan ini, ketiganya bersekolah di sekolah-sekolah yang tadi kumaksud. Jadi kalau memang wanita itu ada hubungannya kasus ini, kita bisa temuin dia di tiga sekolah ini.”


Intinya ini cuma soal eliminasi sederhana menyingkirkan beberapa variabel dari kumpulan dan mengambil beberapa dengan tingkat kemungkinan tertinggi. Cara yang sama dengan yang kugunakan untuk menemukan handphone yang hilang di penginapan tempo hari.


Yah, kemungkinannya memang tipis. Tapi cuma ini satu-satunya petunjuk yang kumiliki saat ini, perihal wanita misterius itu dan kasus pembunuhan berantai ini. Lebih dari siapa pun akulah yang paling mengerti betapa lemahnya teoriku ini.


“Ya, ya.. Hmmm.. gitu ya.. Ngerti, ngerti..” Angguk Alice yang nampaknya menyimak penjelasanku. “Trus maksudnya bulet-bulet ini?” Dia menunjuk coretanku diatas tisue.


“Itu.. Sekolah..”


“Trus garis-garis ini?”


“Itu.. Jalan.. Rute bus.”


“Aku gak ngerti kamu gambar apa..”



Tiga gelas Parfait itu pun akhirnya kosong.



“Ini rute bus distrik ini dan distrik-distrik sekitarnya, sebelumnya aku pernah lihat wanita itu naik bus dari halte ini..” Aku menunjuk satu bulatan dari tisue yang kubawa dari café tadi.


Gemerlap lampu kota di kawasan pertokoan itu menjadi latar dari percakapan kami selanjutnya. Jujur aku sudah sangat lelah, kuharap aku masih bisa menjelaskan rencanaku dengan baik. Alice masih antusias mendengarkan penjelasanku walau aku tahu dia pun sudah sangat lelah.


“Nah, dia naik dari halte ini. Tepat di jam ini kira-kira seminggu yang lalu..”


Aku melihat sekeliling kalau-kalau wanita itu ternyata ada disini. Dan ya, dia tidak ada disini.


“Serius kamu inget itu? Dari seminggu yang lalu?”


Harusnya kamu juga inget. Kamu ada disitu waktu itu.


Tak lama bus datang dan sekitar selusin orang yang menanti di halte itu masuk kedalamnya, kami termasuk dalam selusin orang itu.


“Waktu itu dia mengambil kursi disini..” Lanjutku meneruskan penjelasan yang sempat terjeda.


Kebetulan memang kursi itu ditinggalkan oleh penumpang yang duduk sebelumnya. Aku dan Alice mendapat tempat duduk di bus yang mulai padat itu.


Aku tak menjawab pertanyaannya yang mulai terdengar mengantuk itu. Hanya memandang keluar jendela dari tempat wanita itu dulu. Mata yang terlihat sedih itu… Apa yang dia lihat dari tempat ini? Hanya pemandangan kota di malam hari, dan keramaiannya yang seolah tak pernah berisitirahat. Apa yang membuatnya melihat dunia ini dengan tatapan kosong itu?


Aku tak menemukan jawabannya.


Yang kutemukan hanya Alice yang sedang bersandar di pundakku.


Kubiarkan dia seperti itu. Tak merasa terganggu sedikit pun karena aku sendiri pun sudah sangat lelah saat ini. Biarlah semua keluhanku padanya ini kusimpan untuk lain hari. Untuk sekarang biarlah dia beristirahat.


Bus berhenti di halte kami. Kubangunkan Alice sehati-hati mungkin tak ingin mengejutkannya. Dia nampak masih setengah tidur, dengan matanya yang tak terbuka seutuhnya. Bagai seorang linglung dia mengikuti saja kemana aku menuntunnya. Aku harus agak ekstra hati-hati saat menuntunnya menuruni tangga. Akhirnya bus itu meninggalkan kami di halte yang sudah sepi itu.


Jarak menuju rumahku tidak terlalu jauh, tapi perjalanan yang harus kutempuh tidaklah singkat. Terutama karena gadis yang sekarang ada di pelukanku ini. Alice masih belum begitu sadar dari tidurnya, jalannya tertatih dan sangat berbahaya jika kubiarkan begitu saja. Alhasil, perjalanan yang biasanya membutuhkan lima sampai sepuluh menit itu terasa seperti berjam-jam. Walau begitu Alice terlihat bahagia dalam setengah tidurnya. Entah apa yang sedang dia impikan saat ini.


Kami sampai di taman itu. Butuh waktu baginya untuk mengenali tempat ini dan alasan kenapa kami berhenti disini. Beberapa kali dia perlu mengucek matanya, sebelum akhirnya bisa terbuka seutuhnya. Aku meminta kembali kemejaku yang ada di tasnya dan berniat mengembalikan T-shirt  yang kugunakan ini di lain hari.


“Ah, ga usah! Buat kamu aja, kamu cocok kok pake itu.” Jawabnya ringan seperti biasa.


Sejenak jeda hening yang canggung.


“Jadi…” aku mulai menginisiasi percakapan.


“Jadi kayaknya biar aku aja deh yang nyari informasi ke sekolah yang tadi kamu maksud..”


“Hah? Kenapa emang?”


“Habis kamu mencolok banget kalo di tengah kerumunan..”


Yah, aku belum bilang apa pun soal mencari informasi ke sekolah lain. Tapi mungkin dia ada benarnya. Aku sendiri tak tahu harus bagaimana untuk menggali informasi dari orang asing. Keperibadian Alice yang mudah bergaul akan lebih memudahkan dia untuk melakukan pekerjaan semacam ini.


“Iya sih.. Kamu bener soal itu.”


“Kasih tahu aja apa yang harus aku lakuin! Informasi macam apa yang kamu perluin buat penyelidikan..”


Dia mengulurkan tangannya, seperti meminta sesuatu..


“Sini! Pinjem smarthphone kamu..”


Kuberikan saja apa yang dia minta. Dia langsung mengetikan sesuatu dengan cekatan. Tak lama nomornya sudah tersimpan disana, dan dia juga menghubungi nomornya dari smarthphone-ku sehingga nomorku tersimpan disana.


Dia mengembalikan smarthphone-ku. Aku sudah menyiapkan kalimat penutup untuk malam ini. Sadar kalau malam sudah larut dan kami berdua sudah sangat butuh istirahat.


Tapi dia masih menyimpan kejutan untuk hari ini. Dengan gestur tangannya dia mengisyaratkan padaku agar jangan dulu beranjak pulang. Dan dengan tangan lainnya dia melepas salah satu gelang yang dia kenakan. Gelang berbahan nilon dengan rajutan yang khas, yang kuperkirakan sebagai buatan tangannya sendiri.


“Nih! Buat kamu..”


Dia memakaikannya di tangankananku, membuat simpul tali yang belum pernah kulihat sebelumnya dan memastikan ikatannya.


“Ini.. Buat apa?” Tanyaku tak mengerti maksud dibalik pemberiannya.


“Buat kenang-kenangan hari ini..”


“…”


“Makasih ya.. Hari ini seru banget!”


Dia tersenyum dengan sisa tenaganya di hari itu, senyum yang terlihat sederhana dan apa adanya. Sebelum akhirnya berbalik dan berjalan pulang ke arah rumahnya.


“Goodnight, Sherlock!”


Dan sosoknya menghilang di belokan itu.



Aku sudah sampai di mejaku. Hari sudah terlalu larut aku absen minum kopiku malam ini, bukan karena tak ingin tapi aku sudah terlalu lelah untuk membuatnya. Berakhirlah aku di meja ini, menghadapi setumpuk data untuk di proses dan diambil kesimpulan. Tapi yah, rasanya sudah cukup untuk hari ini.


Aku ganti baju dengan baju yang biasa kupakai untuk tidur. Dan setelah kuperhatikan baik-baik, aku benar-benar baru menyadari kalau T-shirt yang diberikan Alice untuk kupakai adalah T-shirt couple. Jadi seharian ini aku bolos sekolah dan berkeliaran di kota sambil mengenakan T-shirt ini, dan ditemani seorang gadis pula. Benar-benar masa sekolah yang indah.


Aku masih memikirkan tentang Weena dan bagaimana harus menghadapinya nanti, tak ingin hubungan kami berakhir dengan ketidakpahaman seperti ini. Aku berhutang banyak sekali penjelasan padanya mengingat kejadian hari ini. Aku yang tiba-tiba bolos setelah jam istirahat, dan hubungan kami yang perlahan semakin menjauh. Aku harus segera baikan dengan dia, rasanya aneh karena seingatku hubungan kami tak pernah sejauh ini.


Juga kasus yang saat ini resmi kutangani. Baiklah, mungkin tidak benar-benar resmi di mata hukum, karena jelas kasus ini sedang diselidiki oleh polisi. Aku melakukan penyelidikan karena aku menginginkannya, atau bahkan harus melakukannya supaya bisa lepas dari ketakutan yang selama ini menghantuiku. Dan kuharap setelah semua ini berakhir hubunganku dengan Weena bisa kembali seperti sedia kala. Yah kuharap seperti itu.


Sebelum tidur rasanya aku perlu melepas gelang di tanganku ini. Rasanya gatal dan kurang nyaman. Aku tidak biasa memakai aksesoris semacam ini sebelumnya.