BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust

BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust
BAB 02. TERU TERU BOZU



Hari sudah larut saat aku meninggalkan gedung olah raga, hujan turun cukup deras. Untuk sejenak aku berpikir untuk terjebak disini sampai hujan reda, jaket yang tadi pagi kugunakan tak mempan untuk menghalau dinginnya udara malam. Tapi lagi-lagi Weena menyelamatkanku. Tidak, dia tidak disini, dia sudah pulang sejak sore tadi saat cuaca masih cerah. Dia titipkan payungnya kalau-kalau cuaca kembali tak bersahabat. Dan ya, dia benar. Hujan kembali turun malam ini.


Tepat di pintu utama gedung sekolah aku mengetahui kalau aku bukan satu-satunya orang yang punya masalah dengan hujan malam itu. Seorang gadis tengah menunggu hujan reda, berdiri menghadap pintu seolah sedang menonton tiap tetes air yang jatuh malam itu. Jelas sudah dia adalah gadis yang kukenal saat aku berdiri bersisian dengannya, dia gadis yang kutemui di ruang UKS siang tadi. Di luar dugaanku dia tidak sedang sibuk dengan media sosial di ponselnya, hanya sebuah boneka.. Teru teru bozu?


“Akhirnya! Ayo kita pulang!!”


Dengan ringan dan ceria dia katakan itu seolah itu adalah kalimat yang wajar diucapkannya. Disisi lain aku sama sekali tak mengerti maksud perkataannya.


“Alice Eris.. kamu nunggu hujan reda juga?” tanyaku sewajar mungkin.


Dari ekspresi wajahnya aku merasa bukan itu alasannya tetap di sekolah sampai selarut ini, dia malah menarik tanganku, sambil tertawa, dia membawaku berbasah kuyup di bawah naungan hujan. Mengabaikan payung yang jelas-jelas kubawa di tangan kananku.


“Hujan? Emang kenapa kalo hujan? Kita bisa hujan-hujanan bareng!”


Ingin kuajukan keberatan untuk argumennya itu, tapi rasanya percuma. Aku punya firasat buruk soal apa yang akan dia katakan selanjutnya.


“Aku dari tadi nungguin kamu pulang biar bisa hujan-hujannan sama kamu.”


Baiklah, kasus ditutup. Gadis ini jelas-jelas punya masalah di otaknya.


Aku menarik kembali tanganku untuk membuka payung titipan Weena, tak ingin kembali diomeli soal tak bisa menjaga kesehatan.


“Ih! Ga seru!” hardiknya dengan bibir cemberut.



Boneka itu berayun dari kanan ke kiri, seolah sedang menari mengikuti langkah gadis yang membawanya. Jari lentiknya memegang ikatan tali yang membuatnya bisa berayun dengan bebas, jari lentik yang kalau kuperhatikan sangat cocok mengerjakan pekerjaan seperti menjahit atau pekerjaan sejenisnya. Yah, kita bisa tahu banyak tentang pekerjaan seseorang dari bagaimana bentuk dan formasi jemarinya, dalam kasus ini aku yakin gadis ini cukup sering menggunakan benang karena sendi kedua jari telunjuknya agak mengeras dan lecet disana-sini.


Dan ya, dari sendi terakhir jari tengahnya juga aku bisa menemukan lecet yang serupa. Bisa kutebak dia cukup pandai menjahit atau mungkin menyulam atau yah aktifitas semacam itu. Dan kupikir itu menjelaskan teru teru bozu yang sedari tadi dimainkannya.


Pergelangan tangannya juga dipenuhi berbagia gelang anyaman, dan dari modelnya aku tahu itu bukan model yang biasa dijual di toko aksesoris. Apa dia membuatnya sendiri? Bisa jadi.


“Ada apa?”


Aku benar-benar mengabaikan pertanyaannya itu dan malah fokus pada tangannya.


“Kamu mau?” tanyanya sambil menunjuk salah satu gelangnya.


“Eh, ya?”


“Gelangnya. Kalo kamu suka aku bisa kasih satu..”


“Gelang?”


“Ya habis, dari tadi serius banget liatin ini!”


“Oh.. itu!”


Ekspresi wajahnya yang sedang melihatku saat ini sungguh kumaklumi, wajah ini jugalah yang sering diberikan teman-temanku di kelas.


“Teru teru bozu itu.. maksudnya penangkal hujan ‘kan? Kayaknya dia ga bekerja seperti semestinya..”


Butuh waktu untuknya mencerna pertanyaanku, tapi itu pun tak masalah buatku. Pertanyaan itu hanya bertujuan sebagai pengalihan dari rasa canggung. Karena rasanya aneh jika dua orang yang saling mengenal tidak berbicara pada satu sama lain di keadaan seperti ini.


“Hmm.. iya ya? Tapi ini ‘kan imut..” jawabnya ringan sambil memutar-mutar bonekanya.


Dia hanya tersenyum menanggapinya. Harus kuakui senyumnya sangat manis, cocok dengan kepribadiannya yang ceria.


Tak banyak orang di halte bus itu, hanya tinggal kami dan beberapa siswa lain yang sedang menunggu bus selanjutnya. Kami beruntung karena tak lama kami menunggu, bus pun datang dengan lampu depannya yang menyilaukan. Dia melompat ke arah pintu yang terbuka otomatis, ada percikan air dari pakaiannya yang basah kuyup.


Penumpang bus sudah jarang sehingga kursi kosong bisa ditemukan dengan mudah. Alice dengan santai mengambil tempat duduk untuknya, dan mengamankan satu tempat lagi di sampingnya untukku. Tidak, aku tidak mengambilnya. Aku berdiri di samping tempat duduknya, menghadap ke arah jendela yang menampilkan pemandangan malam kota Vandour. Bagiku, satu lagi hari melelahkan berakhir.


Tapi tidak bagi Alice. Dia masih melagukan lagu yang tak ku kenal dengan senandungnya, mengabaikan pakaiannya yang basah kuyup, dia bahkan tak mau repot merapikan rambutnya yang lepek karena hujan. Entah kenapa hari mendung dan segala permasalahan di luar sana tak berpengaruh baginya. Dia menangkap kedua mataku yang sedang memperhatikannya, hanya untuk menunjukan senyuman itu lagi.


Bus berhenti di halte selanjutnya. Tubuhku berayun kesamping dan hampir kehilangan keseimbangannya, tak mengharapkan siapa pun menaiki bus yang sepi penumpang. Sosok seorang wanita bisa kukenali dari sudut mataku, rambutnya hitam lurus sepunggung. Seorang wanita dengan jas dan celana panjang, pilihan busana yang membuatnya terlihat maskulin dan.. profesional? Tas selempangnya terbuat dari kulit dan tergantung di pundak kanannya, tas yang biasa dibawa wanita pada umumnya dan walau ukurannya kecil aku yakin harganya tidak murah mengingat brand yang tertempel disana.


Jujur saja aku saat ini sudah sangat lelah dan tak ingin berurusan dengan apa pun lagi seperti wanita kantoran yang nampaknya baru pulang kerja ini. Aku benar-benar sudah tidak ingin peduli lagi. Sampai wanita itu berjalan mendekat ke arahku. Seketika itu semua inderaku waspada.


Dia adalah wanita yang kulihat kemarin di depan rumahku. Tidak salah lagi. Aku sangat yakin dia adalah wanita yang terus mengikutiku seminggu terakhir. Dari pantulan jendela aku perhatikan baik-baik wajah itu saat dia lewat di belakangku, hanya untuk menjadi semakin yakin bahwa dialah orang itu.


“HATCCHIII!!”


Suara itu mengembalikan perhatianku. Alice tertawa sambil mengusap ingusnya, sama sekali tak malu dengan keadaan seperti itu.



AC dalam bis, deru statis dan ketukan air hujan yang menerpa jendela di luar sana. Lembap terasa di tubuhku, dingin yang hampir membuatku menggigil. Dari pintu yang terbuka di salah satu halte, seorang wanita masuk ke dalam bus. Kuamati dia menggunaka sepatu hak kulit hitam, cara berjalannya sangat percaya diri meninggalkan kesan elegan yang mengintimidasi. Wanita itu lewat di belakangku.


Sosoknya muncul dari refleksi kaca jendela, terangnya lampu interior bus dan gelap diluarnya membuatku bisa melihat wajahnya dengan cukup jelas . Wajah itu terlihat kontras dengan wajah hangat Alice yang agak memerah dengan senyuman di bibirnya, wajah itu sangat dingin dan terlihat pucat. Seketika itu sekujur tubuhku waspada, kulakukan apa pun agar kedua mata itu tak bertemu dengan kedua mataku.


Alice yang sedari tadi asyik menikmati hujan dengan lagunya mungkin tak menyadari perubahan sikapku semenjak wanita itu melewatiku. Tapi sejak saat itu, sejak kukenali wajah pucat itu naluri bertahan hidupku terpicu oleh horor yang telah diberikan oleh wajah itu. Wajah yang sama yang kulihat kemarin dibawah derasnya hujan, tersenyum padaku seakan bisa menerkamku kapan pun dia mau, tapi melepaskanku begitu saja untuk dinikmati perlahan seperti seekor binatang buas menikmati perburuan mangsanya.


Iya, pasti wanita ini! Dia pasti ada hubungannya dengan pembunuhan di hari itu. Aku tahu itu secara naluriah mengesampingkan fakta telah melihatnya di tempat kejadian dan perasaan paranoidku setelahnya. Tapi, apakah dia pembunuhnya? Adrenalin yang sedari tadi mengalir deras membanjiri otakku mengambil kesimpulan itu secepat kilat. Tak membiarkanku mencari data dan menganalisa kemungkinan lain. Tanganku kukepalkan erat-erat di dalam saku jaketku, sekuat tenaga berusaha menenangkan derasnya adrenalin yang terus membanjiri otakku.


Berdiri membuatku semakin sulit menenangkan diri. Aku duduk disamping Alice yang menyambutku dengan girang seolah dia telah memenangkan sesuatu. Sebelah tanganku masih kukepal dalam saku jaketku sedang tangan satunya disambutnya untuk digenggam erat. Untuk sejenak apa yang dilakukannya berhasil mengalihkan perhatianku. Dan senyum di wajahnya yang agak memerah saat dia seenaknya menggemgam tanganku.


Gadis ini baru kukenal hari ini. Tapi perlakuannya padaku seoalah dia sudah mengenalku sejak lama. Maksudku, cara dia memperlakukanku seperti bukan cara seseorang memperlakukan orang yang baru dikenalnya. Mungkin dia memang tipe yang seperti itu, tipe yang mudah bergaul dan cepat akrab dengan siapa pun. Ya, bisa jadi seperti itu.


Selanjutnya aku tak bisa menahan diriku dari membuka percakapan dengan Alice. Kulakukan itu karena kehadirannya membuatku merasa lebih tenang dan supaya aku bisa berhenti memikirkan pembunuhan dan si wanita misterius. Aku tak ingin hidup dalam teror paranoia itu terus-menerus. Dan lagi rasanya semua itu tak ada hubungannya denganku. Ya, seorang siswa SMA sepertiku tak seharusnya berhubungan dengan hal “gelap” semacam itu.


Bus akhirnya sampai di halteku. Alice ikut berdiri saat aku mulai beranjak dari tempatku, aku terdiam sejenak menangkap pesan itu, ternyata dia turun di halte yang sama denganku. Sebelum kulewati pintu itu aku sempatkan untuk menengok kembali pada wanita itu, wanita dengan wajah pucat dan tatapan dingin. Juga kedua mata itu, kedua mata yang terlihat sedih itu.


Hujan yang sedari tadi mengguyur telah pergi meninggalkan malam yang dingin dan berangin. Aku mulai cemas dengan tubuh berbalut seragam tanpa jaket disampingku. Tapi tangannya masih hangat, menggenggam tanganku sampai kami berpisah di taman dekat rumahku. Taman yang berusaha kuhindari karena kejadian waktu itu. Dengan riang dan hangat dia katakan rumahnya ada di arah berlainan dengan rumahku tapi masih di lingkup perumahan yang sama. Dan sosok itu pun meninggalkanku dengan perasaan hangat yang membuatku menikmati sisa perjalananku dengan senyum kecil di ujung bibir.


Dengan mudahnya kubuka kunci rumahku malam itu, segera menyalakan lampu dan menyiapkan makan malam. Televisi di ruang tengah sengaja kunyalakan tanpa kutonton, hanya untuk memberi suasana pada rumah yang kuhuni seorang diri. Setelah selesai dengan makan malam, segera kuberanjak ke meja belajar di kamarku di lantai dua. Dalam hening karena siaran televisi sudah kumatikan aku mengumpulkan semua kepingan puzzle itu satu per satu, semua yang kuketahui sejauh ini kususun menjadi gambaran besar tanpa kehilangan sedikit pun detailnya.


Penilaianku selama ini dibiaskan oleh ketakutanku pada hal yang tak kumengerti, soal kasus pembunuhan itu, juga soal identitas wanita misterius itu. Jika kurangkai semuanya tanpa rasa takut kemungkinan ceritanya seperti ini: kemungkinan wanita misterius itu adalah sales keliling, karenanya dia terlihat berkeliaran di sekitaran sini, juga mungkin waktu itu kebetulan ada di tempat kejadian perkara tak ada hubungannya dengan pembunuhan itu. Tidak semua hal yang terjadi harus saling berhubungan bukan? Mungkin waktu itu dia hanya ada di waktu yang salah untuk sekedar istirahat di taman itu. Dan kemunculannya kemarin di depan rumahku juga senyuman itu, mungkin dia tidak bermaksud jahat sama sekali padaku. Mungkin dia hanya sales keliling yang sedang mencari tempat berteduh dari hujan, sambil berusaha tetap terlihat ramah.


Mungkin dia orang baik, orang baik yang muncul di waktu dan tempat yang salah.


Entahlah, aku mulai berpikir kalau wanita itu orang baik dan selama ini penilaianku dikaburkan oleh ketakutanku sendiri. Dan lagi tatapan itu, mata yang terlihat sedih itu, rasanya tak mungkin dimiliki oleh seseorang dengan niat jahat.


Aku terdiam cukup lama mengingat tatapan kosongnya ke luar jendela di bus tadi, tatapan yang seolah mengisyaratkan kesendirian dan perasaan terasing dari dunia ini. Sampai akhirnya kantuk datang menjemputku ke alam mimpi. Disana kembali aku bertemu dengan wanita itu, dengan tatapan kosongnya menerawang ke kehampaan di balik jendela bus yang sedang melaju. Kali ini tanpa ketakutan sedikit pun aku menghampirinya, dan menanyakan, “apa yang kamu lihat diluar sana?”