BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust

BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust
BAB 14. SANCTUARY



BRAK BRAK BRAK


Sudah kuusakan untuk mengetuk sehalus mungkin tapi adrenalin yang mengalir deras ini tak membiarkanku untuk melakukannya.


“WEENA!!!”


Dan suaraku pecah saking paniknya, pasti terdengar sangat aneh.


BRAK BRAK BRAK


“WEENA!!!”


Kumohon Weena buka pintunya. Tolong biarkan aku masuk.


CKLEK


Pintu terbuka sangat pelan, seolah yang membukanya tak ingin dunia luar melihatnya apa yang ada di dalamnya. Dari pintu yang terbuka perlahan itu muncul sosoknya, seorang gadis dengan rambut diikat dan kacamata yang menyembunyikan sepasang mata sembab setelah menangis kemarin. Weena, seandainya dia tahu betapa lega perasaanku bisa melihatmu. Semua teror dan rasa takut yang sudah membawaku kemari terangkat begitu saja begitu melihat wajah itu.


Dengan nafas yang belum teratur kupegangi kedua pundak mungil itu, ingin rasanya aku roboh begitu saja dalam pelukannya. Mulutku kering, dan nafasku satu-satu. Tak bisa menjelaskan apa pun pada wajah yang menuntut penjelasan itu. Tapi kupikir bukan itu yang dia butuhkan saat ini.


PLAK


Satu tamparan mendarat tepat di pipi kiriku.


PLAK PLAK


Dua tamparan lagi mendarat di pipi kirikku. Dan sekarang akulah yang menuntut penjelasan darinya. Dari wajah merah yang seakan meleleh dengan air mata itu. Tangisnya pecah, kedua pundak mungilnya masih dalam genggamanku, kuguncangkan berharap mendapat jawaban. Tapi hanya tangisnya yang semakin pecah, memukul-mukul dadaku dengan segenap keputusasaannya.


Setidaknya aku tahu satu hal. Saat ini tak ada kata yang bisa mewakili perasaannya, hanya air mata. Dan setelah semua itu habis, dia tutup kembali pintu itu. Meninggalkanku di luar.



Langit senja kemerahan. Aku masih disana, di samping pintu apartemennya yang dia tempati sendirian. Tak tahu lagi harus pergi kemana. Setelah kejadian siang tadi rasanya tak aman bagiku kembali ke rumahku. Wanita itu tahu dimana aku tinggal.


Senja turun perlahan diiringi perutku yang mulai terasa lapar. Sial! Keresek belanjaan tadi kutinggalkan begitu saja di taman. Aku tak bisa terus berada di tempat ini, hari juga mulai gelap. Saat beranjak dari tempat itu, pintu dibuka dari dalam dan suaranya menyuruhku masuk.


Aku tak mempercayainya. Dan dari celah pintu itu keluar wajah cemberut yang kedua matanya tak sudi melihat langsung ke arahku.


“Masuk!”


Dan saat dia menatapku, aku tak sanggup lagi menolak kedua mata itu.


Hanya ada satu kamar di dalamnya, selain kamar mandi tentunya. Sebuah kamar kira-kira 6x5 meter persegi dengan dapur tanpa sekat, hanya ada satu meja belajar tempat dia menyimpan semua perlengkapan sekolahnya. dan satu meja kecil untuk lesehan. Di atas meja kecil itu ada sebuah mangkuk dan gelas yang terisi air, kutebak isi dari mangkuk itu adalah sup ayam. Aku sempat melewati panci berisi sup itu saat masuk, dan masih terasa hangat saat kulewati.


Weena tak mengatakan apa pun, tak sepatah kata pun dia ucapkan. Hanya duduk menghadap laptopnya di meja kecil itu, di seberangnya sup yang masih hangat itu seakan sudah dia sediakan untukku. Aku duduk disana, masih tak mengerti apa yang sedang ia pikirkan. Di balik kaca matanya dia menatap tajam padaku, kupastikan dengan gerakan tangan bahwa sup itu boleh kumakan, dan dia mengangguk.


Sup itu hangat. Krim, jagung, wortel dan daging ayam yang dipotong dadu, juga ditemani sepotong roti baguette. Tak terhitung berapa kali sup buatan Weena ini menyelamatkan nyawaku, saking seringnya. Rasa hangat yang akhirnya menenangkan hatiku.


Dan melihatku selesai dengan hindangan luar biasa ini dia beranjak dari tempatnya. Menyingkirkan laptopnya dari meja itu juga mangkuk yang tidak berisi lagi dihadapanku. Kini tak ada lagi yang menghalangi kami untuk saling berhadapan. Dia duduk tepat dihadapanku, kacamatanya dia lepas. Sikap duduknya condong ke depan dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya menopang pundaknya, dan mata itu, mata itu menuntut penjelasan.


Aku yang sudah cukup tenang kini mulai merangkai penjelasan dalam kepalaku. Menyusun semua peristiwa berdasarkan kronologi dengan didukung alasan yang logis. Dengan mantap kutatap kedua mata yang menuntut penjelasan itu, dan seketika aku sadar aku tak sanggup melakukannya.


“Kamu bener..”


Wajah itu tak bergeming di hadapanku, memaksaku untuk melanjutkan kalimat yang belum selesai itu.


“Harusnya aku ga ngelakuin penyelidikan ***** ini.”


“Harusnya aku dengerin kamu dari awal, pelajar SMA biasa kayak aku harusnya ga berurusan dengan hal berbahaya semacam ini. Aku udah ketemu wanita misterius itu. akhrinya aku ga tahu apa-apa soal dia, sama sekali. Yang kutahu dia bawa colt revolver, kayaknya dia sengaja tunjukin itu buat mengintimidasi. Dan dari situ kupikir semuanya jadi jelas..”


Dia menyangga pipinya dengan telapak tangannya, aku tahu dia mulai bosan. Dan helaan nafas panjang itu.


“Tolong dengerin aku dulu. Dia bawa colt revolver, dan mungkin dengan caliber yang cukup besar. Artinya dia bukan agen federal atau polisi. Tebakanku mungkin dia seorang penyidik swasta atau ya, detektif swasta. Yang artinya dia memang bekerja dibidang itu, ya, dia hanya sedang menjalankan tugasnya dan aku.. aku selama ini hanya menjadi penghalang.”


“Mungkin itu yang coba dia sampaikan dengan menemuiku hari ini. Dia berusaha bilang ‘minggir kau bocah! Kau menghalangi jalan’ atau semacamnya..”


“Dan kupikir hal kayak detektif swasta yang menyelidiki kasus pembunuhan itu cuma ada di cerita fiksi.. wow.”


“Harusnya aku dengerin kamu dari awal. Pada akhirnya kasus ini akan selesai dengan sendirinya..”


PLAAAK


Tamparan itu keras sekali. Telingaku sampai berdenging. Weena menamparku dengan kedua tangannya, dan kedua tangan itu masih menempel erat di pipiku. Dia menarik wajahku dekat-dekat dengan wajahnya, sangat dekat sampai aku bisa melihat dengan jelas setiap detailnya.


Wajah itu merah. Mata itu meleleh. Dan bibir itu bergetar berusaha mengendalikan perasaannya.


Dan aku sama sekali tak mengerti maksud perkataannya.


“Ini bukan soal kasus bodoh itu! Ini soal kamu! Kalo terjadi hal buruk sama kamu gimana!?”


Dia.. mengkhawatirkanku?


“Ya, dari awal aku tahu ini emang bahaya sih..”


“Tapi kamu lakuin juga kan!”


Wajahku ditarik lebih dekat ke wajahnya, membuatku bisa melihat dengan jelas setiap inci dari kemarahan di wajah itu.


Kami tetap dalam posisi itu cukup lama, dan yang kumaksud dengan cukup lama disini terasa bagai selamanya. Hanya aku dan dia, dipisahkan meja yang juga menyangga siku tangannya. Wajahnya dan wajahku hanya terpisah beberapa senti, kedua tangannya menggenggam erat wajahku. Aku bisa merakasakan semua kemarahannya dari jarak sedekat ini. Kedua mata yang entah sudah berapa kali melelehkan air mata, tak lagi dia malu dengannya kacamata yang biasa dia gunakan untuk menutupinya sudah tak tahu ada dimana.


Aku tak bisa menatap kedua mata itu. Semua kebodohan ini tak mengizinkanku menatapnya, juga rasa bersalah di hati ini padanya. Dalam keabadian itu dia menghukumku dengan tatapannya. Tak memberikanku kesempatan untuk kabur karena kedua tangan itu menggenggam erat wajahku, menekan keras pipiku. Dan kubiarkan diri ini dihukumnya.


Aku pun bersalah karena tak bisa melindungi perasaannya. Aku yang kalah oleh egoku, dipermainkan dengan mudah dalam permainan yang tak bisa kumenangkan.


Dan disinilah aku. Kembali ke titik awal, kembali jadi Juno yang pengecut,  mengharapkan perlindungan Weena yang selalu ada untukku.



Lampu-lampu kota menyala terang. Kuning orange berlatar hitam gelap berkelip satu dua bintang diatas sana. Aku dalam perjalanan pulangku. Melewati jalanan yang sangat kukenal baik, jalan yang masih ramai dengan lalu-lalang mereka yang yang kembali pulang, di minggu malam itu. Ada beban yang baru saja terangkat dari pudakku, membuat langkahku lebih ringan ketimbang saat sore tadi aku berangkat. Tak lagi tergesa, dan menitik anak tangga satu-satu melewati gang yang diterangi LED putih. Aku ingin segera pulang, besok masih harus pergi ke sekolah.


Pintu kubuka dengan kunci yang kubawa. Menyalakan lampu satu per satu, tak ada yang aneh, semuanya persis seperti terakhir aku tinggalkan. Satu lagi hari minggu yang biasa kulewati.


Dan kuharap hari-hari biasa ini terus berlanjut.


Aku merapihkan meja belajarku dari semua omong kosong tentang kasus pembunuhan ini. Tak ada gunanya lagi aku memikirkan semua ini. Kasus ini jelas ada di luar jangkauanku, jauh di luar jangkauan siswa SMA biasa sepertiku. Cepat atau lambat kasus ini akan terpecahkan, oleh seseorang di luar sana, atau mungkin oleh si wanita misterius yang tadi kutemui di taman.


Baiklah, sebelum tidur biar kucek sebentar komputerku. Aku harus memastikan tugas merepotkan apa saja yang harus kuselesaikan minggu selanjutnya.


OS dimuat dengan sempurna, komputer ini siap kugunakan. Tapi ada yang aneh, kursornya tak bergerak sesuai kehendakku. Apa mouse-ku bermasalah? Dan mendadak layar itu menjadi gelap. Aku kaget dengan situasi yang baru pertama kali kualami ini. Apa ini? komputerku baik-baik saja saat terakhir kugunakan pagi tadi. Dan dari layar gelap itu perlahan muncul sebuah.. simbol?


CelwoodS16


Tulisan itu kubaca jelas dari simbol itu. Diakhiri bunyi noise yang mengerikan. Apa? Tak mungkin, komputerku.. kena hack? Dan lagi CelwoodS16?


Smarthphone yang kuletakan tak jauh dari situ bergetar melebihi volume getar yang kusetel. Kulihat nomor yang menghubungiku, nomor acak yang seolah sengaja menutupi identitasnya. Tidak mungkin. Kupikir sudah cukup keanehan yang kualami hari ini, akhirnya aku bisa kembali ke kamarku dan tinggal selangkah lagi beristirahat di tempat tidurku.


Kuangkat telepon itu ragu-ragu. Tak tahu dan tak siap dengan apa pun yang akan terjadi setelahnya.


“Halo?” Suaraku goyah membuka percakapan.


“Halo, Juno. Perkenalkan aku..”


“CelwoodS16.. yah, aku mendapat pesanmu di komputerku.”


Suara di seberang sana tak bisa kupastikan, seperti suara laki-laki tapi aku yakin dia menggunakan pengubah suara. Pitch-nya terdengar tidak natural.


“Ada apa? Apa yang kau inginkan dariku?”


“Justru sebaliknya, aku memiliki hal yang sangat kau inginkan.”


Seketika layar komputerku menunjukan sejumlah dokumen. Dokumen yang kutahu dia ambil dari sekolahku mengingat logo yang tercantum disana. Aku terus membaca sepintas setiap data yang ada disana, dan seketika itu pula aku mengerti.


“Kulihat kau sangat tertarik dengan kasus pembunuhan berantai yang terjadi belakangan ini..”


Aku masih terpaku menatap layar monitor, kepalaku masih berusaha mencerna data yang baru saja diterimanya.


“Aku sangat tertarik dengan apa yang sedang kau kerjakan, jadi sekalian saja kubantu..”