BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust

BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust
BAB 03. NOT JUST A FRIEND



“Jadi begitulah..” ucapku bersiap mengakhiri paparan melelahkan nan berliku ini, “kupikir selama ini aku cuma paranoid dan dari situ jadi gak bisa ngambil kesimpulan dengan baik. Mungkin selama ini aku salah, mungkin wanita misterius itu cuma sales keliling yang muncul di tempat dan waktu yang salah.”


Ini jam makan siang. Seperti biasa aku dan Weena menghabiskan waktu di belakang perpustakaan di lantai dua sekolah kami. Tempat yang terpencil dan sulit ditemukan ini menjadi tempat rahasia kami menghabiskan waktu makan siang. Bagiku ini tempat yang tenang untuk sekedar melamun atau membaca buku. Bagi weena ini tempat diamana dia bisa asyik dengan laptopnya tanpa harus dicap ansos.


Cuaca cerah siang itu, bau laut dari kejauhan dan keperakannya yg samar-samar kulihat dari balik gedung dan bangunan lainnya. Aku bersandar pada tembok di belakangku yang terasa dingin di punggungku.


“Siapa tadi? Nama cewek yang kamu temuin kemarin?” Weena melepas kacamatanya.


Pertanyaan itu tiba-tiba saja dia lontarkan. Weena yang sedari tadi asyik dengan laptopnya seperti biasa mendengarkan ceritaku.


“Entah.. aku ga tahu soal situ. Cuma sempat berpapasan di bus dan yang kuingat soal dia cuma pakaian dan wajahnya.” Jawabku sambil menerawang ke laut yang jauh disana.


Weena menatapku marah.


“Apa? Kenapa?”


“Bukan itu! Nama cewek dari sekolah kita yang kemarin pulang bareng kamu!”


“Aku baru aja jelasin cerita misteri kriminal dimana wanita misterius itu sebagai fokus ceritanya dan kamu malah tanya soal karakter sampingan yang gak berkontribusi apa pun ke ceritanya? Well done Weena, Well done..”


Tatapan marah itu semakin intens, mungkin tak lama lagi dia bisa membenturkan laptopnya itu ke kepalaku. Tapi tak mungkin, sebenci apa pun dia padaku aku yakin cintanya pada laptopnya jauh lebih besar.


“Bodo amat!! Siapa namanya!? Cepet bilang!!!”


“Eu.. ya, ugh.. hmm..”


Dan sekarang aku baru sadar, setelah semua hal yang terjadi kemarin. Semua detail yang kompleks itu. Aku sama sekali tak ingat siapa namanya. Hanya boneka teru-teru bozu dan sifat riangnya di bawah hujan. Selain itu aku tak ingat apa pun soal gadis itu.


“Sial aku lupa..”



“Setelah ngabisin waktu bareng seorang gadis, kamu bahkan ga inget siapa namanya. Such a gentleman, Juno. Such a gentleman..”


Sepanjang perjalanan kembali ke kelas dia terus mengomeliku soal itu. Pertama, itu jelas bukan tindakan yang efektif karena sama sekali tidak membantuku untuk mengingat nama gadis itu. Kedua, aku sangat yakin kalau informasi soal namanya ada di suatu tempat di kepalaku hanya saja saat ini sangat sulit kutemukan. Dan selanjutnya, ada apa dengan nama sialan itu!? Kenapa itu jadi begitu penting untuk Weena saat ini sampai membuatku pantas mendapat perlakuan seperti ini!?


“Nah, itu dia!”


Seorang teman sekelasku menunjuk padaku, nampaknya seseorang sedang berusaha mencariku ke kelas dan..


“HAI JUNOOO!!! Aku cariin dari tadi!!”


Yah, aku bahkan tak sempat menyelesaikan kalimat dibenakku sendiri. Seperti dugaanku dia sangat mudah bergaul dan tidak kesulitan untuk akrab dengan teman-teman sekelasku selama mencariku. Beberapa siswi berbisik-bisik melihat adegan ini di kejauhan, dan gadis itu sama sekali tidak terganggu dengannya.


Weena melirikku singkat, memastikan kalau ini gadis yang sedari tadi dimaksud. Dari ekspresi wajahku dia mengerti dan mengambil celah antara aku gadis itu.


“Ada perlu dengan Juno?”


“Engga sih, Say hi aja.. Kamu siapa ya?”


“Bukannya ga sopan ya kalau nanyain nama orang tanpa sebelumnya memperkenalkan diri?”


Atmosphere lorong kelas tempat percakapan itu belangsung mendadak terasa menyesakan. Beberapa gadis dari kelasku mulai terlihat gelisah dan yang lainnya berusaha menghindar, aku sendiri tak bisa berbuat banyak di tengah percakapan yang terasa canggung itu.


“Aku Alice Eris, kemarin aku pulang bareng Juno..” Jawabnya ringan sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman.


Weena hanya tersenyum tipis tanpa menghiraukannya. Hanya kulihat kedua tangannya memeluk erat laptop di dadanya.


Aku sangat kenal kebiasaannya yang satu ini. Kebiasaan dia memeluk bantal, laptop, atau tasnya saat merasa gelisah dan tidak nyaman. Tangannya gemetar tak ingin menolak berjabat tangan, tapi hanya bisa mematung seperti itu membiarkan gadis di hadapannya menunggu. Suasana semakin canggung.


“Bentar lagi bel masuk kelas..”


Kuberanikan diri menepuk punggungnya, mendorongnya keluar dari situasi menyesakan itu. dia mengangguk dan tersenyum canggung pada gadis itu.


“Ah iya! Nanti ketemu lagi ya!” gadis itu nampaknya mengerti dan mulai undur diri, “Nanti pulang bareng ya! Kelasku di sebelah, kalau keluar duluan nanti kutunggu di gerbang kayak kemarin.”


Aku melambaikan tangan padanya tanda mengerti. Walau sebenarnya sama sekali tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Ada apa dengan Weena? Ada apa dengan gadis itu? Kenapa semua ini terasa begitu canggung dan menyesakan?


Aku mengantar Weena sampai ke mejanya, memastikan dia baik-baik saja. Walau dari ekspresi wajahnya aku tahu ada yang salah. Alice Eris. Ya, hanya itu yang kutahu pasti. Nama gadis yang sedari tadi berusaha kuingat. Alice Eris.



+xx 852 6499 200 : Tau ga? Tau ga? Ada gosip baru loh! [stiker ngegosip]


+xx 811 7124 547 : Apaan? soal ketua kelas yang ditikung anak baru dari kelas sebelah?


+xx 852 6499 200 : Ah ga asik. [stiker bubar]


+xx 811 7124 547 : Lagian kejadiannya emang depan kelas kita kan? Ga mugkin kita ga tau.


+xx 858 5186 435 : Yeeey~ ketua kelas suaminya direbut orang~ [stiker NTR]


+xx 856 4532 239 : Diam kau wibu! Becandamu ga pada tempatnya! Situasinya lagi serius nih!


+xx 811 7446 995 : Aku duduk di belakang Weena jadi tahu seberapa serius situasi saat ini [emot serius]


“Yah Weena memang agak aneh sejak istirahat tadi, lebih tepatnya sejak pertemuannya dengan Alice..”


+xx 856 4532 239 : Masalahnya ga kayak Juno ada apa-apa dengan anak kelas sebelah itu, cuma emang cewek itu agak.. gimana ya bilangnya.. [emoji mikir]


+xx 852 6499 200 : Bitchy? [stiker ***** please!]


+xx 811 7446 995 : Itu kok kedengerannya kayak.. bahasanya bisa tolong dikondisikan? [emoji sweat drop]


+xx 852 6499 200 : Ya liat aja penampilannya, rambut pirang dan cara berpakaiannya. Trus sifatnya juga.


+xx 856 4532 239 : Mungkin maksudnya agresif kali ya..


Ya, aku setuju soal itu..


+xx 811 7446 995 : Aku selalu percaya kok kalo mereka pacaran.. [stiker innocent]


+xx 852 6499 200 : Kok gitu?


+xx 811 7446 995 : Ya, aku bisa liat dari cara Juno ngeliatin Weena dari tadi. Kayaknya dia juga khawatir..


JDUK!!


Tak sengaja lututku beradu dengan meja. Ap, Apa? Apa memang kelihatan sejelas itu?


+xx 852 6499 200 : Ketua kelas juga dari tadi diem aja tau kita chatting, kayaknya emang ada yang ga beres.. [emoji mikir]


ME: Guys, kalian udah beres ngerjain soalnya? Waktu test-nya tinggal 5 menit lagi btw.


+xx 856 4532 239 : Lah, orangnya malah ngebahas test.. [gif facepalm]


ME: Ya kita emang lagi test kan? Kenapa kalian malah chatting?


+xx 856 4532 239 : Aku mentok, kasih tahu nomor 19 gimana cara nyeseleinnya! [stiker dead]


+xx 811 7446 995 : Aku nomor 6 sampe 10 nge-blank, dari tadi nanya ke Weena ga direspon!


+xx 858 5186 435 : Aku menyerah! Cabut saja nyawaku! [stiker dead]


Eugh..


+xx 856 4532 239 : Fotoin lembar jawabannya! No photo HOAX!


+xx 811 7446 995 : #nophotoHOAX


Menyebalkan..


ME: [sending picture]



“Sadar ga? Dari mulai kelas siang tadi, si jurnalis Benji itu ga ada di kelas..” Entah kenapa hal ini agak menggangguku jadi kutanyakan saja padanya.


“Masa? Kok ga ada yang bahas ya dari tadi?”


“Kok bisa dia ngilang gitu aja tanpa alasan?”


Weena mengecek kembali handphone-nya mencari petunjuk. Dan menemukan sesuatu.


“Hmm..? Aku izin absen pelajaran siang.. tolong sampaikan ke guru yang bersangkutan.. Hah? Izin?”


“Pasti kamu baru cek ya?”


“Duh, gimana dong..?”


Dan begitulah moment pulang sekolah itu berjalan seperti biasanya, dengan sedikit kejutan kecil seperti biasanya. Weena berlari panik ke ruang guru untuk mengurus absensi, dan mendapati teman sekelasnya yang lain sudah mengerjakan tugasnya. Kemudian dia keluar dari ruang guru sambil terus meminta maaf dan guru yang bersangkutan pun memakluminya. Yah, bagiku satu lagi hari terlewat di sekolah ini.


Weena masih sibuk mengecek handphone-nya berusaha berterima kasih pada siapa pun yang sudah menutupi kealpaannya dalam mengerjakan tugas sebagai ketua kelas.  Kami berbaur dalam lalutan siswa-siswi yang keluar lewat pintu depan sekolah. Dalam ramainya percakapan tak relevan pengisi suasana bubar sekolah. Seseorang memanggil seseorang lainnya, yang satu tertawa yang lainnya ikut tertawa, yang satu menyapa yang lainnya. Dan Weena masih asyik dengan handphone-nya.


Dari kejauhan aku bisa melihat sosok gadis itu. Rambut pirangnya yang jelas karena dicat, hal yang tak wajar ditemui di sekolah ini. Gesturnya yang seolah tak takut dengan penilaian orang lain, berbicara dengan lepas.


Weena terdiam sejenak berusaha mengenali gadis di depannya. Mereka saling menyapa penuh persahabatan. Tapi bisa kulihat kebiasaan Weena menggenggam erat benda terdekat dengannya saat sedang gelisah, dia lakukan pada handphone di tangannya. Aku berjalan agak di belakang tak ingin mencampuri obrolan mereka.


“Kamu hebat ya, baru pindah seminggu yang lalu tapi udah bisa kerasan gini di sekolah baru!”


“Yah, gimana ya.. Aku emang sering pindah-pindah sekolah sih.. jadi udah biasa..” Sambung Alice, “Tapi ini ga kayak aku murid bandel atau apa sih, aku emang seneng dengan suasana baru aja..”


“Bebasnya.. ahahahaa…”


“Eheheeehee…”


Sampai sini aku bisa merasakan kecanggungan mereka siang tadi mulai mencair. Weena pun mulai nampak relax dan mengurangi genggaman di handphone-nya. Kalau percakapannya berjalan terus seperti ini aku bisa percaya kalau kelak mereka bisa menjadi teman baik.


“Ga apa-apa nih aku ikut kalian ke perpus?”


“Ya ga apa-apa sih.. kecuali kamu harus pergi ke tempat lainnya..”


“Engga, engga.. aku ikut! Aku ga begitu baca buku sih.. tapi kayaknya seru aja!”


Tunggu! Kenapa perkembangan cerita mulai keluar dari apa yang kuharapkan? Kupikir seharusnya acara ke perpus sore ini cuma soal aku dan Weena. Kenapa dia juga ikut?


“Tapi aku ga ganggu kan? Kalian.. ga lagi pacaran kan?”


Pertanyaan itu meluncur lancar dari mulut Alice. Membawa sensasi dingin ke percakapan yang mulai menghangat itu. Weena mematung sejenak, dalam sepersekian detik yang bagai diputar dalam adegan lambat, membuatnya tertinggal beberapa langkah di belakang Alice.


Weena kembali mengecek handphone-nya. Aku berhasil menyusulnya dan berjalan bersisian dengannya. Weena terlihat tersenyum kecil membaca sesuatu di handphone-nya.


“Engga kok kamu sama sekali ga ganggu..” jawabnya.


Senyum itu terlihat tulus dan entah kenapa menyimpan kekuatan. Seperti gambaran ketangguhan dan keindahan di saat yang sama. Dari sisinya aku bisa melihat sekilas pesan yang sempat ia baca di handphone-nya.


Anne : FIGHT WEENA!!! FIGHT!! FIGHT!! FIGHT!!! [emoji cheer]


Gina : Jangan kalah dari cewek bitchy itu!!! [emoji angry] [emoji fight]


Almighty Tedd : Kami mendukungmu ketua kelas!!! [stiker handsome]