BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust

BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust
BAB 07. A CHASE



Kawasan pertokoan itu ramai seperti biasa. Yah seperti biasa, seolah aku memang biasa menghabiskan waktu di tempat ini di jam seperti ini. Faktanya tidak. Aku baru pertama kalinya berjalan di kawasan ini siang hari selain di akhir pekan, mengesampingkan fakta kalau kawasan ini hanya berjarak beberapa menit jalan kaki dari sekolahku. Walau pun tidak seramai akhir pekan atau hari libur lainnya, keramaian ini cukup menyulitkanku membuntuti targetku. Ya, aku sedang membuntuti wanita misterius itu sekarang, setelah seminggu kemarin aku menghabiskan waktu dalam paranoia merasa dibuntuti olehnya.


Walau begitu, mengatakannya jauh lebih mudah dari pada melakukannya.


“Hei, Juno! Kesini! Kamu keliatan mencolok banget di kerumunan” Alice menarik lengan bajuku yang mulai kehilangan arah di tengah orang yang berlalu-lalang.


Aku mengikutinya tanpa berdebat.


“Tu, Tunggu!! Kamu kenapa bisa ada disini!?”


“Orang yang kamu ikutin yang itu kan?” Tanyanya sambil mengarahkan dagunya pada seorang wanita berjas hitam, “Gerah banget cuaca gini pake baju item-item..”


“Bentar! Kamu belum jawab pertanyaanku! Kenapa..”


Kami sama-sama berhenti, lengan bajuku kutarik paksa dari genggamannya. Akhirnya aku mendapatkan perhatiannya.


“Aku tahu kamu bolos, selama jam istirahat aku nongkrong depan kelas kamu. Aku cari. Dari jendela lantai dua aku lihat kamu diam-diam keluar lewat gerbang belakang. Aku ikutin. Aku tahu kamu bukan anak yang bakal bolos gitu aja tanpa alasan. Dan dari gelagat kamu jelas banget kamu lagi ngikutin seseorang..”


Oke, masuk akal…


“Puas? Bisa kita fokus sekarang? Orang itu baru aja belok kesana..”


Sejujurnya aku tak punya waktu untuk meladeni Alice sekarang ini. Terutama untuk saat ini. Aku tidak bisa membiarkan satu-satunya petunjukku hilang begitu saja.


Wanita itu berjalan dengan sewajarnya, seperti kebanyakan orang yang juga berjalan di kawasan pertokoan itu. Sambil sesekali berhenti untuk melihat barang-barang yang ditawarkan kios-kios sepanjang jalannya. Kupikir cukup wajar. Sampai aku sadar beberapa kios yang dilewatinya memiliki cermin atau kaca di etalasenya, dan dari caranya yang berdiri agak lama disitu..


Sial! Aku ketahuan!!


Seseorang menarik tanganku dari kerumunan orang.


“Sini!!”


Aku terkejut bukan main, Alice menarik tanganku ke gang sempit diantara pertokoan yang agak terpencil.


“Cepet buka baju kamu!!”


“Hah? Apa?”


Dia tak menanggapi pertanyaan bodohku dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya, tunggu, sejak kapan dia bawa tas?


“Pake ini!! Cepet! orang itu mulai curiga kalo kita ikutin..”


Dia mengawasi gerak-gerik wanita itu selagi aku memakai T-shirt yang dia berikan padaku.


“Aturan pertama kalo bolos sekolah, jangan berkeliaran pake seragam!” ucapnya mantap saat aku selesai dengan urusan out fit yang merepotkan ini. Tak lupa sambil tersenyum  dia memasangkan topi yang dipakainya ke kepalaku.


“Ayo, Sherlock ada kasus yang harus kita pecahkan!” Ucapnya bersemangat sambil mengenakan sun glass-nya.


“Dari mana kamu dapet barang-barang ini? Kamu ga mungkin bawa semua ini dari sekolah kan?” Langkah kami mulai selaras dengan tempo yang semakin cepat.


“Improvisasi.. Aku ambil dari toko di blok sebelumnya..”


Aku meliriknya curiga.


“Aku bayar kok!”



Wanita itu masuk ke sebuah café. Tampilan luarnya menawarkan suasana yang cozy dengan sofa dan ornamen kayu yang khas. Ada kaca jendela besar di depannya sehingga kami bisa melihat ruangan di dalamnya walau hanya sebatas pinggang orang dewasa ke atas, tapi itu pun cukup, aku bisa melihat wanita itu memesan dan mengambil kursi sambil menunggu pesanannya.


Aku dan Alice duduk di tempat yang disediakan di depan kios kaki lima di sepanjang pertokoan.


“Parfait..” kata Alice sambil memainkan Cup besar Thai Tea di tangannya. “Wanita itu pesan parfait..”


“Observasi yang luar biasa.. Kesimpulan apa yang bisa kita ambil dari situ?”


“Aku jadi pengen Parfait..”


Aku tak punya waktu mendengarkan rengekan gadis ini sekarang. Es kopi di mejaku pun belum kusentuh sejak tadi. Sekarang semua fokusku kuarahkan pada smartphone-ku. Aku mencari website dari perusahaan yang tadi wanita itu sebutkan. Malcolm Database..


“By the way kenapa kamu ngikutin wanita itu sampe kayak gini? Emang dia siapa?”


Baru sekarang kamu tanya itu!?! Haaah!?!?! Baiklah.. Fokus Juno! Fokus..


“Namanya Risa..”


“Risa siapa?”


“Dia kerja buat perusahaan Malcolm Database, perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan data untuk sekolah…” aku membaca home page dari perusahaan yang dimaksud.


“…biar begitu aku ragu dia benar-benar seperti apa yang dia perkenalkan waktu di ruangan Pak David tadi.”


Pandanganku kualihkan pada wanita yang sedang menikmati parfait di dalam café di seberang jalan itu.


“Kenapa kamu mikir gitu?”


“Entahlah.. Firasat.”


Wanita itu masih disana. Menikmati parfait-nya di temani sebuah buku yang sedang dibacanya.


“Ehehee.. he.. hihihi..”


“Kenapa? Apa yang lucu?”


“Ah, Engga.. Ga ada apa-apa~” tapi wajah itu makin terlihat cengar-cengir.


“Ayo bilang!” Di titik ini aku mulai merasa terganggu.


“Coba liat deh, sekeliling kita!”


Apa maksudnya? Tes observasi? Aku tak melihat satu hal pun yang lucu dari sekelilingku. Hanya orang-orang yang lalu-lalang, duduk-duduk, makan, bercengkrama, bergandeng tangan. Aku tak melihat ada satu pun yang masuk kedalam kategori lucu dari kumpulan itu.


“Coba liat baik-baik!” Alice menyadari kebuntuanku.


Tapi aku tak menemukan apa pun yang bisa menjadi jawabannya. Hanya muda-mudi yang sedang menikmati waktu mereka di sore itu. Tak ada yang istimewa.


“hehe.. kalo diliat kayak gini.. kita kayak lagi pacaran ya?”



Cup sedang es kopi yang sedari tadi kuabaikan itu kuteguk habis tanpa sisa. Dinginnya membantuku untuk tetap tenang menghadapi gadis menyebalkan dihadapanku ini. Cukup! Level mengganggunya sudah kelewat batas kali ini.


Parahnya tanpa sadar aku sudah kehilangan wanita itu. Entah kapan dia keluar dari café itu, aku tak tahu. Huuuh.. hari ini benar-benar melelahkan.


Kubuka topi yang dipasangkan Alice, kutaruh di atas meja. Sambil menarik nafas panjang aku berusaha menenangkan diri, membiarkan adrenalin yang sedari tadi mengalir deras surut sedikit demi sedikit. Smarthphone kuletakan diatas meja, menunjukan peta kota Vandour dan di tab lainnya menunjukan website Malcolm Database. Aku menarik nafas dalam-dalam sekali lagi, kali ini lebih dalam dan panjang.


Kubiarkan diriku hanyut dalam suasana hangat sore itu. Senja dengan warna jingganya, lampu pertokoan yang mulai menyala satu per satu. Aroma makanan yang beraneka ragam dan mengundang selera. Kalo diingat lagi baru pertama kali aku merasakan pengalaman ini. Rasa tenang dan hangat setelah seharian berpacu dengan adrenalin. Dengan memikirkannya saja aku merasa hariku tak terlalu buruk.


Aku memang kehilangan satu-satunya petunjuku. Tapi apa yang dia tinggalkan sudah lebih dari cukup untukku menyusun langkah selanjutnya. Yah, ini belum berakhir, petualanganku masih akan terus berlanjut.


Petualangan? Entah kenapa kata itu terdengar menyenangkan di telingaku. Seolah seharian tadi aku melakukan yang kusukai dan menantikan untuk melanjutkannya esok hari. Ya, harus kuakui aku cukup menikmati apa yang terjadi hari ini.


Kubuka aplikasi chat-ku dan mengirimkan pesan super panjang dan detail kepada Benji. Kuharap dia bisa memahami isinya dan merespon dengan cepat. Yah, sekarang ini aku tidak sedang terburu-buru, jadi mungkin dia bisa punya lebih banyak waktu. Dan lagi kalau memang diperlukan aku bisa mencari informasi ini sendiri, tapi rasanya merepotkan kalau harus membaca satu per satu artikel yang bersangkutan di internet.


“Eh? Mau kemana? Udah mau pulang?” Tanya Alice melihatku beranjak dari tempatku.


“Yup..”


“Hee? Trus kejar-kejarannya gimana?”


Jadi dia memang belum menyadarinya. Aku mengarahkan pandanganku ke tempat wanita misterius tadi duduk di café seberang jalan.


“Tuh! orangnya aja udah ga ada..”


“Yah.. gimana dong?”


“Ya pulang.. gimana lagi..”


Yah, aku merasa pengejaran hari ini sudah cukup. Tak ada lagi yang bisa kulakukan di tempat ini, selanjutnya aku tinggal menunggu balasan dari Benji dan membuat rencana untuk langkah selanjutnya ditemani secangkir kopi di meja belajarku.


Tiba-tiba langkahku tertahan oleh tarikan di kaosku. Aku berusaha mengabaikannya dan terus berjalan keluar dari situasi itu.


“Parfait!!”


Suara itu tak bisa kuabaikan. Dan kedua alis yang ditekuk pertanda tak puas juga bibir yang cemberut  setelah mengatakan kalimat itu.


Apa? Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba? Parfait?


“Hhmmmrggh…” Alice mulai menggeram memberikan tekanan pada ekspresinya.


Butuh waktu cukup lama sampai aku berhasil mengetahui maksudnya. Cukup lama sampai membuatku merasa sangat bodoh mengartikan maksud ucapannya. Yah, parfait.. Tentu saja.



Berikutnya yang kutahu aku sudah duduk di café tempat wanita misterius itu menghabiskan waktunya siang tadi. Akhirnya Alice dengan segala upayanya berhasil membawaku ke tempat ini dan mentraktirnya parfait, ditambah fakta kalau dia sudah sangat membantuku hari ini. Lebih dari itu dia berhasil membuatku memesan parfait untuk diriku sendiri. Pengalaman baru lainnya buatku, dan berakhirlah dua gelas fruit parfait ini di meja kami.


Aku tak begitu memperhatikan karena memang tadi mengawasinya dari kejauhan. Tapi wanita itu memiliki selera makanan yang sangat bertolak belakang dengan cara berpakaiannya, maksudku lihat semua warna-warni di gelas ini! Sangat bertolak belakang dengan imagenya. Sendok itu masih belum kusentuh, aku masih ingin menghabiskan lebih banyak waktu menganalisa objek di depan mataku ini. Mungkin dari sini aku bisa mendapat lebih banyak petunjuk mengenai wanita misterius itu.


Sebuah pesan masuk ke Smarthphone-ku. Aku melepaskan perhatianku dari gelas warna-warni di hadapanku dan langsung mengeceknya. Ini dari Benji, diluar dugaanku cepat sekali dia memberi jawaban. Bukan hanya itu, dia bahkan memberikan jawaban rinci seperti yang kuminta. Pak jurnalis memang hebat!


“Hei! Kok ga dimakan?”


Aku tak merespon pertanyaan Alice.


“Juno.. Liat apaan sih kok senyam-senyum gitu?”


“Hmmm.. Ehee.. Ehehee..”


Sekarang giliranku untuk menggangunya. Atau yah.. setidaknya membuat gadis ini kesal.


“Kamu mau tahu banget atau mau tahu aja?”