BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust

BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust
BAB 10. PIERCED



Tes hari Senin lalu berjalan lancar. Setidaknya aku yakin lulus walau beberapa soal sengaja tak kujawab karena memang aku tak tahu bagaimana harus menjawabnya. Aargh! Menyebalkan! Seandainya aku lebih serius belajar untuk tes itu. Tapi ini pun sudah kuperhitungkan sebelumnya, makanya aku bisa bilang kalau tesnya berjalan lancar.


Lain halnya dengan Weena. Sebagai ketua kelas yang mendapat tugas membagikan hasil tes kemarin, melihatku mendapat nilai pas-pasan seperti itu cukup memberinya alasan untuk mengomeliku seharian. Aku tak bisa lagi lari darinya, sekarang ini aku berada di bawah pengawasan penuh ketua kelas Weena Shurelion, bahkan untuk izin ke toilet pun aku harus melapor padanya. Dan aku pun tidak mempermasalahkannya, bagiku yang sering ditinggal sendirian di rumah berbulan-bulan hingga bertahun-tahun oleh orang tuaku, kehadirannya sudah seperti saudaraku sendiri, mungkin seperti kakak yang cerewet tapi di saat yang lain bisa jadi adik yang sangat merepotkan.


Aku kembali menghabiskan waktu istirahatku bersamanya di tempat rahasia kami. Dia benar-benar memperketat pengawasannya padaku dan mulai mengikutiku kemana pun aku pergi selama di sekolah, sepertinya dia tak ingin kecolongan lagi seperti hari Sabtu kemarin. Dan ini pun didudukung oleh fakta bahwa Alice tidak datang ke sekolah sejak hari Senin, kalau dihitung dengan hari ini sudah hampir seminggu dia tidak masuk.


Ini juga bagian dari rencanaku. Atau ya, tidak sepenuhnya bagian dari rencanaku. Hari Minggu kemarin aku memang memintanya menyelidiki beberapa nama, mereka korban dari pembunuhan berantai ini dan bersekolah di 3 sekolah yang berbeda. Aku tahu ini pekerjaan yang sulit dan merepotkan tapi aku sangat membutuhkan data para korban itu, diantara mereka bertiga pasti ada kesamaan yang menjadi benang merah kasus ini. Dan aku tak mungkin menyelidikinya sendirian.


Tapi dia malah menghilang sejak hari Senin dan hanya mengirimkan pesan kalau dia sedang melakukan penyelidikan. Aku tak tahu apa yang dia lakukan untuk mengumpulkan data, tapi dia terkesan serius sekali dalam melakukannya, dia bahkan mengirimi laporan harian setiap malam dan kadang di siang hari seperti ini menelponku.


BZZZZT BZZZZT BZZZZZT BZZZZZZT


Baru aja dibahas..


“Telpon dari siapa? Kok ga diangkat?” Weena bertanya tanpa melepaskan pandangannya dari layar laptop.


Aku hanya memandangi layar smartphone-ku dengan nomor yang seenaknya dia simpan disana.


Dan telepon itu tak pernah kuangkat. Sebuah pesan masuk dari nomor yang baru saja berusaha menghubungiku.


Asisten : Kamu kok ga angkat telponku sih?! Ga kangen apa sama aku~?



Aku tidak merasa perlu menjawab panggilan telepon itu. Aku tahu apa yang sedang dia kerjakan, dan aku merasa dia cukup kompeten untuk melakukannya, selain karena hal darurat yang mana dia bisa mengirimkan pesan teks kurasa tak ada alasan bagiku untuk berbicara dengannya. Terutama di jam sekolah seperti ini. Kalau pun mau dia bisa saja menghubungiku setelah aku sampai di rumah, tapi tak pernah dia lakukan.


Dengan kepribadiannya yang seperti itu teman-teman sekelasnya pun nampak tidak meributkan absennya Alice beberapa hari terakhir. Aku pun bisa menikmati kembalil hari-hariku seperti sebelumnya.


Dan aku sadar bahwa kesimpulan yang kuambil selain terlalu dini juga ternyata kurang realistis.


Hari kembali bertemu Sabtu, aku berangkat sekolah seperti biasa. Bertemu dengan Weena di bus dan mengobrol seperti biasa, perjalanan ke sekolah yang biasa.


Dan sampai di kelasku aku menemui hal yang tidak biasa. Teman-temanku sedang berkerumun di mejaku entah sedang meributkan apa. Kulihat ada Laptop yang sedang terbuka disana, laptop kepunyaan Benji, dan pemiliknya pun ada disana. Mereka sedang ribut menyaksikan apa yang ada di layar, sekumpulan foto? Dokumen? Entahlah, tapi yang kulihat Benji sangat terpukau olehnya. Dan di tengah kerumunan itu kudengar suara itu, suara gadis itu.


“Yak, ini semua catatan penyelidikanku seminggu ini.. Cape sih, mana harus sembunyi-sembunyi biar ga ketahuan guru atau staff lainnya.. Tapi menyusup ke sekolah lainnya seru loh! Sekali-sekali kalian harus coba..”


“Waaahhh!!!” Kerumunan itu berdecak kagum.


“Engga deh, kayaknya soal itu cuma kamu doang yang bisa!” Benji terlihat sangat terkesan dengan paparan Alice, “Eh, Juno! Kamu harus lihat ini!”


Tak perlu, aku tahu persis apa itu.


“HEI! JUNO!!! Kamu jahat ga pernah angkat teleponku!!! Padahal kan aku lakuin ini kan buat kamu!”


Semua mata tertuju langsung padaku. Beberapa ada yang sambil berbisik, beberapa ada yang sambil tersenyum kecil. Aku? Aku langsung mengecek dokumen yang dimaksud dari awal sampai akhir tanpa mempedulikan mereka.


“Exellent!” Kataku tanpa sadar dengan suara sepelan bisikan.


Aku terkejut dan takut disaat bersamaan. Tak menyangka kalau Alice bisa mendapatkan data selengkap dan sedetail ini.


“Apa? Apa tadi kamu bilang? Exellent?” Alice mendekatkan wajahnya padaku berharap bisa mendengarku lebih jelas. “Waaah~ Juno muji aku!!! Kalian denger kan? Katanya aku Exellent!”


Alice berusaha memelukku. Reflek kursi yang sedang kududuki kugunakan sebagai penghalang, mataku masih terpaku ke monitor.


Ini mengerikan, ternyata teoriku soal kesamaan dari korban-korban sebelumnya terbukti benar dengan data ini, data yang saking lengkapnya sampai ada salinan transkrip nilai akademis dari para korbannya ini. Tidak, ini terlalu jelas. Dalam sekejap saja aku bisa menangkap polanya.


Dan juga kemungkinan siapa korban selanjutnya.


Tidak Juno, masih terlalu dini untuk berkesimpulan.


“Aku baru tahu loh kalian kerja sama buat nyelidikin kasus ini? Kenapa kamu ga pernah cerita sebelumnya, Juno?”


“Kalo bisa sih aku ingin selidikin sendiri..”


“Tapi akhirnya detektif Juno sadar kalau pekerjaannya akan lebih efektif kalau dibantu assisten yang super exellent ini!! Iya kan? Gitu kan?”


Jangan seenaknya menyambung kalimatku, woi!


“Yah, kalau dipikir lagi kalian emang cocok sih..”


Benji, kuperingatkan jangan kamu teruskan sesi wawancara ini dengan segala pertanyaan pancingannya!


“Masa sih? Masa sih? Tuh kan kubilang juga apa! Kita emang cocok, Juno!!” Seru Alice bersemangat, saking semangatnya seisi kelas bisa mendengarnya dengan sangat jelas.


Mata-mata curiga itu semakin intens memperhatikan kami. Beberapa ada yang memberi isyarat pada Weena tapi dia hanya tersenyum dan tetap mengobrol seperti biasa dengan teman-temannya.


Situasi ini harus segera diakhiri.


“Datanya ada di Micro SD kan?”


“Tau ga? Tau ga? Sabtu kemarin aku sama Juno sampe bolos bareng buat ngikutin wanita mencurigakan di kota loh! Seru banget!!”


Seketika itu seisi kelas pun hening. Tak ada yang berani bersuara seolah sebuah vonis akan segera dijatuhkan. Semua orang melihat kearah Alice dengan penuh tanda tanya dan antisipasi akan apa yang akan dia katakan selanjutnya. Beberapa lainnya hanya bisa tertunduk atau mengalihkan pandangannya, tak mau terlibat dengan hal apa pun yang akan terjadi setelahnya. Tapi Weena, dia masih disana berusaha tak terganggu dengan ocehan gadis di sebelahku ini.


Tapi kerumunan di sekitarku yang hening dengan penuh antisipasi menunggu kelanjutan cerita Alice masih disini dengan pertanyaan yang menuntut untuk dijawab. Menunggu kelanjutan cerita detektif yang sejak aku belum datang sudah disuguhkan Alice di mejaku ini.


“Lihat!! Lihat!!!” Dia menunjukan foto smartphone-nya yang entah kapan diambilnya. Memperlihatkan gambarku dan dia di depan sebuah café Sabtu lalu dengan mengenakan T-shirt couple. “Kita udah kayak nge-date gitu seharian!!!”


Akhirnya aku sadar atas rencananya ini.


Weena tak bisa lagi bertahan disana dan bergegas meninggalkan kelas dengan alasan klisenya pergi ke toilet. Seisi kelas memahaminya. Alasan dibalik gestur lembut yang menyembunyikan luluh lantah perasaannya. Kuakui aku sudah kecolongan. Akhirnya aku mengerti, jadi itu rencanamu Alice Eris. Semua omong kosong soal penyelidikan kasus ini, dibalik itu semua, dia berusaha menghancurkan Weena dengan cara mengambil kepercayaanku.


“Memory Card-nya kupinjam ya! Terima kasih, kerja bagus.”


Kusodorkan memory card itu dekat-dekat dengan bibirnya, berharap dia tak melanjutkan kalimat beracunnya yang mungkin akan mengundang murka murid satu kelas. Tapi dia tidak bergeming. Tak ada rasa takut dalam ekspresi wajahnya, seolah dia memang kuasa menanggung semua kebencian mereka. Sambil tersenyum.


Aku berjalan keluar dari tempat itu, bagai pecundang yang baru saja kalah dalam pertarungan. Hebatnya lagi pertarungan itu disaksikan oleh teman-teman sekelasku. Aku benar-benar tak menyadarinya, ini semua akan berakhir seperti ini. Hari ini di kelasku sendiri dan disaksikan oleh teman-teman sekelasku, Juno Welkin baru saja dikalahkan seorang Alice Eris dalam permainan strategi yang melibatkan perasaan. Well played Alice, Well played..



Aku berhasil mengejar Weena sesaat sebelum dia masuk ke toilet wanita di lantai ini. Aku berusaha menahannya karena aku tahu dia hanya pergi ke toilet sebagai alasannya lari dari situasi di kelas tadi. Lebih dari itu aku ingin minta maaf padanya karena kebodohanku terlambat menyadari rencana busuk Alice.


Tapi yang kulihat adalah wajah itu, wajah yang tak kuasa lagi menahan tangis itu. Pipi yang merah dan air mata yang mulai meleleh. Aku akhirnya sadar kerusakan yang sudah terjadi tak mungkin kuperbaiki lagi. Tapi aku berusaha menahan tangannya untuk sesaat lebih lama, berusaha menjelaskan semua ini padanya walau penjelasanku berantakan tak jelas mana awal dan akhirnya.


Lebih dari itu ceritaku malah semakin memperburuk keadaan, air mata itu akhirnya pecah bercucuran.


“Gelangnya bagus.. cocok kamu pake..”


Tolong jangan katakan itu.


Dengan senyum terakhirnya dia menghilang dibalik pintu yang dia banting sekuat tenaga tepat di depan wajahku. Dan sarkasmenya yang menyayat lebih dari apa pun yang pernah kuterima selama ini.


Di titik ini aku yakin semuanya tak mungkin kembali seperti sedia kala. Jembatan itu telah terbakar habis dan kapal yang membawaku kesini telah kutenggelamkan. Aku tak pernah merasa kalah seperti ini sebelumnya.


Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana aku bisa bangkit dari semua ini. Aku tidak pernah memikirkan kemungkinan akan terjadi skenario seperti ini sebelumnya. Benar-benar bodoh, harusnya aku bisa memperkirakan hal seperti ini akan terjadi. Kuakui Alice memang menyerangku di titik buta. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang, selain terduduk putus asa di depan toilet wanita. Membiarkan bel masuk kelas berbunyi tanpa beranjak sedikit pun. Samar-samar aku bisa mendengar suara tangis Weena dari dalam, dan disini, di sisi lain pintu itu aku berusaha menemaninya, berusaha menyelamatkan kepingan-kepingan kecil dari keadaanku yang hancur berantakan ini.