BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust

BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust
BAB 01. JUNO WELKINS



“CEPAT BANGUN PEMALAS!! LIHAT SUDAH JAM BERAPA SEKARANG!!!”


Jam weker pemberian ayah membangunkanku seperti biasa. Dan seperti biasa aku terbangun dengan perasaan jengkel karena suaranya. Dengan mata yang masih setengah tertutup kumatikan jam sialan itu.


Belum beranjak dari tempat tidurku aku memandangi langit-langit kamar, mencoba mengingat kembali kejadian kemarin. Segera setelah panggilan itu Weena langsung bergegas ke rumahku, untuk keadaan darurat seperti ini aku memberinya kunci cadangan rumahku dan dia tak menemukan kesulitan untuk masuk ke kamarku di lantai dua. Aku tak begitu ingat apa yang kulakukan saat itu, yang kuingat hanya wajah khawatirnya, dia membopongku untuk duduk di kasurku dan membantu menenangkanku.


Aku duduk di kasurku mencoba mereka ulang kejadian itu, terpikir olehku mungkin waktu itu aku sedang sembunyi di bawah meja belajarku sebelum Weena datang. Dan ada noda di lantai, noda apa itu? Aku cium sedikit bau kain lap yang menutupinya. Muntah, dia pasti menemukanku dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Kuakui aku benar-benar malu pada diriku.


Saat kuraih smart phone-ku di atas meja aku juga menemukan mangkuk berisi air dan lap yang biasa dipakai untuk mengompres demam. Reflek aku memegang dahiku, dan memang terasa agak demam, dan baju yang kupakai basah karena keringat. Hmm, Jadi seperti itu kejadiannya. Kuambil smart phone-ku yang ternyata memiliki satu pesan belum dibaca dari.. tentu saja, Weena.


“Syukurlah demamnya sudah turun. Masih ada sisa sup di dapur, jangan lupa obatnya diminum!”, disertai stiker lucu khasnya.


Aku hanya bisa menitikkan air mata dan mensyukuri hidupku sambil menyantap sup yang dimaksud, sup yang merupakan makanan terenak yang kumakan setelah sekian lama.



Air hangat yang kugunakan untuk mandi pagi ini mebuatku merasa lebih segar. Awan mendung masih bergelayut di langit membuat pagi itu begitu gelap dan murung. Kendaraan yang lalu-lalang masih menyalakan lampu depannya, adegan berangkat sekolah kali ini jadi terlihat seperti adegan pulang sekolah. Aku duduk di halte bis itu, menggunakan jaket parasut bertudung tak ingin basah kuyup sebelum jam pelajaran pertama di mulai.


Serentak orang-orang yang duduk di kursi itu berdiri, nyaris bersamaan. Aku hanya menoleh ke arah cahaya menyilaukan yang datang perlahan. Bus yang kutunggu akhirnya tiba, dari pada berebut masuk dengan penumpang lainnya aku memilih untuk mempersilahkan mereka masuk terlebih dahulu. Pintu bis itu berdesis sesaat setelah aku menaikinya, tak ada kursi kosong yang bisa kududuki. Aku sudah sangat terbiasa dengan hal ini.


Tak lama bus melaju sampai akhirnya berhenti di halte selanjutnya. Tubuhku oleng, karenanya, kugenggam erat pegangan yang tergantung di atas kursi penumpang. Bisa kurasakan bubur sarapanku pagi ini bergejolak di perutku mencari jalan keluar. Ini buruk, tak rela rasanya jika harus kehilangan makanan terenak setelah sekian lama seperti ini. Kutahan diriku sekuat tenaga agar tak kehilangan hidangan yang sangat berharga itu.


“Pagi..”


Saat itulah suara lembut itu menyapaku. Nadanya segar, sangat tak sesuai dengan latar kota yang muram pagi itu.


“Gimana udah baikan?”


Aku menoleh kearah suara itu, mengetahui kalau Weena Shurelion ada di sampingku.


“Kayaknya belum ya..”, dia menjawab pertanyaannya sendiri.


Sepertinya wajahku pagi ini cukup menjelaskan keadaanku. Walau begitu kupaksakan sedikit senyuman untuk menghiburnya.


Selanjutnya selama perjalanan di bus itu aku diceramahi habis-habisan tentang pentingnya menjaga kesehatan terutama di musim hujan seperti ini.


“Kamu tuh, tahu tinggal sendirian harusnya bisa ngurus diri sendiri. Untung ada aku, gimana kalo..”


Baiklah, dititik ini aku mulai merasa diomeli.


Dia terus mengomel sampai tiga halte selanjutnya. Hanya sempat terhenti saat kami harus keluar dari bus, dan percakapan itu hening. Kupikir dia sudah lebih tenang sekarang, mungkin sudah waktunya aku katakan sesuatu.


“Soal kemarin.. thank’s ya. Nanti kutraktir makan siang.”


“Iya, ga apa-apa kok”


Dan kembali hening.


Kualihkan pikiranku ke tempat lain, melihat siswa-siswi lain yang juga berjalan ke sekolah, mereka yang bergerombol sambil sesekali tertawa. Dan hujan, aku bisa merasakan tetesnya di wajahku.


Setetes, dua tetes, dan tanpa ampun hujan turun dengan derasnya. Siswa-siswi tadi mulai berlarian ke sekolah. Percuma, pikirku. Dengan intensitas hujan seperi ini, secepat apa pun kalian berlari kalian tetap akan basah kuyup. Ditambah, berlari saat hujan malah akan membuat kalian dua kali lebih basah kuyup. Tudung jaket parasutku sudah terpasang, dari tasnya Weena juga mengeluarkan payungnya.


Kurasakan dorongan untuk menengadah ke langit. Membiarkan hujan membasuh wajahku, teringat itu jugalah yang dilakukan wanita itu. Apa yang dia pikirkan waktu itu? Sendirian di tengah taman yang sepi, memandangi langit dengan tatapan kosong itu.


“Mata yang terlihat sedih..”, gumamku.


Weena yang sudah agak jauh di depanku kembali menjemputku. Aku kembali ke dunia nyata, menemukan dirinya dinaungi payung, menawariku untuk ikut berlindung dibawahnya. Aku tak menolaknya, atau lebih tepatnya tak bisa menolaknya.


Gerbang sekolah sudah terlihat, kami berjalan dibawah payung yang sama. Aku yang asyik dengan jutaan pertanyaan di benakku dan dia yang, entah kenapa menundukan wajahnya sedari tadi. Siswa-siswi lain sibuk mengeringkan pakaiannya di depan pintu masuk, aku dengan santainya membuka jaket parasutku dan membawanya sepanjang lorong sekolah. Aku dan Weena tak bertukar sepatah kata pun di sisa perjalan kami.


Hanya mata itu mulai menggangguku, mata yang terlihat sedih itu.



+xx 811 7124 547 : Jadi, sudah ada petunjuk soal siapa sebenarnya CelwoodS16?


+xx 856 4532 239 : Apa itu CelwoodS16?


+xx 877 1757 693 : Itu dibaca celwoods-sixteen? [stiker mikir]


+xx 811 7124 547 : Bukannya celwood-s-sixteen?


+xx 856 4532 239 : Aneh banget. Ga tau. Ga ngerti. [stiker bod ah]


+xx 858 5186 435 : ga tertarik, mending bahas anime yuk! [stiker haruhi]


+xx 899 7098 177 : mati sana dasar wibu! Ini berita besar! Dia udah kayak urban legend kota ini, tahu! CelwoodS16 tuh codename dari hacker yang udah banyak mecahin kasus cyber crime akhir-akhir ini. Biar gitu sampe sekarang belum ada seorang pun yang tahu siapa identitas aslinya.


+xx 858 5186 435 : Jadi dia kayak Super Hacker Hashida Itaru dari Steins;gate, gitu?


+xx 856 4532 239 : Ujung-ujungnya bahas anime.. Dasar wibu! Jelas-jelas kita lagi ngomongin Rami Malek di Mr. Robot!


+xx 877 1757 693 : Ga da yang bener kalian.. [stiker dead]


+xx 811 7124 547 : Seriusan woi! Kalian ada yang punya petunjuk soal siapa itu CelwoodS16? Ini bisa jadi berita besar buat club jurnalistik.


+xx 877 1757 693 : serius mau cari tahu?


+xx 811 7124 547 : calon jurnalis besar kayak aku mana mungkin menolak berita sebesar ini!


+xx 856 4532 239 : Siapa pun dia, dia pasti laki-laki.


+xx 811 7124 547 : Kenapa bisa yakin begitu?


+xx 858 5186 435 : Soalnya Daru cowok, gitu kan? [stiker daru]


+xx 811 7124 547 : Diam kau wibu! Pokoknya siapa pun di grup chat ini yang punya informasi apa pun mengenai CelwoodS16 harap melapor, akan ada imbalan yang sepadan untuk informasi yang bisa menjadi petunjuk.


+xx 896 1076 673 : SERIUS!? [stiker maji!?]


“Orang ini sampai mau keluar uang untuk sebuah informasi. Kalau dipikir lagi bukannya lebih baik menyewa informan saja ya..”


Dan aku pun sadar satu hal yang janggal dari kalimatku barusan.


“Informan.. apa pekerjaan semacam itu benar-benar ada?”


Aku berbaring terlentang memandang kosong ke arah langit-langit berwarna putih. Ruangan ini jelas bukan ruang kelas, dan aku pun tidak sedang belajar di ruangan ini. Smartphone yang sedari tadi ada di tanganku bergetar lagi.


+xx 899 6130 435 : Karena hujan pertandingan volley pulang sekolah nanti akan digelar di gedung olah raga, semua pemain berkumpul di ruang ganti saat pelajaran selesai. Sekian!


+xx 852 6499 200 : Siap kapten!


+xx 899 6130 435 : Hari ini aku tidak melihat Juno Welkin, apa dia absen?


“Hadir kapten..” kalimat itu hanya terucap dibenakku.


+xx 856 4532 239 : Tadi pagi aku lihat dia datang ke sekolah kok..


+xx 899 6130 435 : Seseorang sampaikan pada Juno untuk datang di pertandingan pulang sekolah nanti. Pak guru membutuhkannya menjadi menjadi wasit pertandingan setelahnya.


+xx 856 4532 239 : Wasit? Kukira dia bakal ikut main.. iya sih.. Juno itu..


“Aku itu kenapa? Tolong lanjutkan kalimatmu wahai teman sekelasku yang baik”


+xx 899 6130 435 : Pertandingan sebelumnya dicurigai ada kecurangan, maka dari itu Pak guru meminta saya untuk mencari penggantinya sesegera mungkin.


+xx 856 4532 239  : sekalinya harus masuk lapangan malah jadi wasit, emang dia banget sih. Seengganya kita tahu dia ga akan berat sebelah.


“Sebenarnya aku tidak tertarik dengan apa pun hasil pertandingannya. Siapa pun yang menang atau kalah sama saja bagiku.”


Weena Shurelion : Hari ini Juno absen jam pelajaran siang, dia di ruang UKS kapten


+xx 852 6499 200 : Ciiee pacarnya belain.. [stiker ciee-ciee]


Weena Shurelion : SIAPA YANG  PACARNYA HAH!?


“DIA BUKAN PACARKU!!” kali ini tanpa sadar kalimat itu keluar dari mulutku.


+xx 852 6499 200 : kabur [emot lari]


Weena Shurelion : Dan lagi, bisa gak kalian rapatnya nanti aja? Ini kan lagi jam pelajaran, guru lagi menerangkan di depan.


+xx 811 7124 547 : Ketua kelas ga asyik nih, santai aja selama ga ketahuan guru.. [stiker woles]


Weena Shurelion : iya tapi kan ga sopan, ada guru yang lagi nerangin di depan kelas, murid-muridnya malah asyik chatting di grup. Dan lagi ada aturannya juga kan ga boleh buka smartphone saat jam pelajaran..


+xx 811 7446 995 : Anu.. weena, itu.. pak guru lagi melototin kamu. [emot was-was]


+xx 811 7124 547 : Yah dia ketahuan, dihukum deh sama si botak. [emot ngakak]


+xx 852 6499 200 : Dia ga pro sih jadi anak bandel.


“Yah aku setuju dengan siapa pun kamu wahai teman sekelasku. Weena selamanya akan menjadi ketua kelas kita yang baik-baik.”


“Hihi..”


Suara seorang gadis tertawa terdengar tak jauh dari tempatku berbaring. Terkejut, aku mencari sumber suara itu yang ternyata ada tepat di sampingku, duduk di kasur putih yang serupa dengan yang kutiduri sedari tadi. Wajahnya merah merona, gesturnya menyatakan dia sudah disana sedari tadi, mati-matian menahan tawa yang akhirnya kudengar juga.


“AHAHAHAHAAAA!!!”


Tawanya meledak melihatku menyadari keberadaannya. Aku tak mengenalnya, tapi dari seragamnya aku tahu dia siswi sekolah ini.


“Halo?” tanyaku tak mengerti


“Kamu lucu deh! Chat itu, harusnya kamu ketik trus kirim.” Jawabnya sambil terus tertawa.


Butuh waktu cukup lama untuk menyadari maksud ucapannya. Tapi akhirnya aku mengerti. Pantas saja dia tertawa, sedari tadi dia melihat seorang laki-laki berbicara dengan smartphonenya tanpa ada satu karakter pun yang dikirimkan dan tak ada seorang pun dari lawan bicaranya yang mendengarnya.


“Aku Alice Eris!” Ucapnya dengan ringan dan ceria sambil menjulurkan tangannya berharap bisa menjabat tanganku.


Sungguh kesan pertama yang brilian. Mungkin gadis ini akan menulis seperti ini di halaman medsosnya, “..hari ini aku ketemu cowok aneh yang ngomong sendiri di UKS, namanya Juno, Juno Welkins..”