BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust

BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust
BAB 15. CONFESSION



Aku duduk di bangku taman yang sama, bedanya kali ini hari sudah gelap. Belanjaan yang tadi kutinggalkan sudah tak ada lagi disana, seseorang pasti sudah mengambilnya. Lampu-lampu taman yang melankolis menerangi taman di malam hari. Dan berbeda dengan siang tadi yang mana aku tak siap mendapat kunjungan tak terduga dari seorang wanita, kali ini aku sangat siap dan menantikan seseorang untuk datang menemuiku di taman ini.


“Heeey!!”


Ah, itu dia datang.


“Ada apa? Ga biasanya ngajak ketemuan kayak gini, kangen ya?”


Sosok pemilik suara itu perlahan semakin jelas diterangi cahaya lampu taman. Dia adalah Alice Eris. Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya.


“Ih, ada apa sih? Kok senyum-senyum gitu?”


“Aku baru aja mecahin kasus pembunuhan berantai ini!”


Aku memasang wajah yakin terbaikku, menunjukan senyuman dengan tingkat kepercayaan diri yang jauh dibatas keseharianku. Tapi percayalah, dibalik itu semua, aku sedang ketakutan setengah mati.



“Biar kupastikan sekali lagi. Dengan semua data ini, yang ingin kau katakan padaku adalah..”


“Alice Eris..” dia menyebutkan nama itu bersamaan denganku, “Adalah si pelaku pembunuhan berantai.” Lanjutnya penuh keyakinan.


Aku belum bisa setuju dengan kesimpulannya itu, rasanya masih ada hal yang mengganjal. Walau begitu data yang dia berikan padaku terasa begitu valid, dokumen siswa ini terlihat persis dengan dokumen yang biasa kulihat di ruang administrasi. Dan dari dokumen ini terbukti bahwa Alice Eris adalah siswa fiktif di sekolahku. Semua catatan tentang dirinya, terbukti palsu berdasarkan bukti yang dia sematkan di dokumen ini. Apa dengan ini sudah cukup untuk menyimpulkan dialah pembunuhnya?


“Bagaimana dengan modus pembunuhannya?”


Bagaimana dia bisa membunuh 3 orang laki-laki yang secara fisik lebih unggul darinya? Pertanyaan ini masih terasa janggal bagiku.


“Apa itu penting?”


“Ya, dan aku juga perlu tahu atas dasar apa kau menjatuhkan tuduhan itu.”


“Bukannya bukti-bukti ini sudah jelas?”


“Ini jelas membuktikan kalau dia memang siswa fiktif di sekolahku. Yah, setidaknya secara teori dengan anggapan kalau yang kau berikan padaku adalah dokumen yang valid.”


“Oh, jadi kau pikir aku sedang berusaha menipumu, begitu?”


Ah, obrolan ini tak membawaku kemana pun.



“Gimana? Gimana? Ayo ceritain dong gimana kamu mecahin kasus ini?”


Alice segera menghampiriku, aku yang duduk di tempat yang sama dengan siang tadi.


Tempat duduk ini cukup terang walau malam hari, terima kasih pada lampu taman yang terpasang tepat disampingnya. Aku bisa melihat sosok Alice dengan lebih jelas, dia dengan pakaian tidurnya dan sebuah jaket. Dia datang tanpa persiapan apa pun, tanpa membawa apa pun selain apa yang kulihat saat ini. Sesuai perkiraanku.


Aku sengaja membuat keadaan dimana dia tak sempat mempersiapkan pembunuhan selanjutnya, jika memang dia pelakunya seperti yang dikatakan CelwoodS16. Dengan begitu aku bisa, setidaknya merasa sedikit lebih aman.


“Hmmm.. cerita dari mana ya enaknya?”


Dia sudah nyaman duduk disampingku, matanya berbinar menunggu ceritaku.


“Ya, kita mulai dari korban selanjutnya..” aku menatap langsung pada kedua mata berbinar itu. memastikan dia tak melewatkan apa yang akan kukatakan selanjutnya, “korban selanjutnya dari kasus pembunuhan berantai ini adalah aku. Juno Welkin.”



“Korban selanjutnya dari pembunuhan berantai ini adalah aku. Juno Welkin.”


Suara diujung telepon menjadi hening. Kutebak dia pun tak tahu harus merespon apa kata-kataku barusan. Ini pun pertanda kalau dia setuju dengan tebakanku.


“Aku sudah baca profil semua korban sebelumnya. Dan walau benci mengakuinya semua korban itu memiliki kesamaan denganku.”


“Justru karena itu.. aku memperingatkanmu..”


“Dan justru karena itu.. Kalau tuduhanmu itu benar, cuma aku yang bisa menyelesaikan kasus ini.”


“Kamu ga lagi mikir buat menangkap pelakunya sendirian kan?”


“Aku ga mungkin lakuin hal itu sendiri.. Tapi aku punya rencana.”


“Ide buruk! Itu tindakan bodoh. Jangan…”


Teleponnya kututup tanpa perlu mendengar dia menyelesaikan kalimatnya.


Kucoba membuka emali dari komputerku tapi layarnya masih terkunci di dokumen yang dia kirimkan. Sial! Si CelwoodS itu benar-benar merepotkan. Tak lama smarthphone-ku kembali bergetar dengan volume getar melebihi setelan getarku.


“Hei! Jangan seenaknya..”


“Bisa tolong kembalikan komputerku seperti semula? Ada email penting yang harus kukirim. Terima kasih.”


“Hah? Email?


Dan teleponya kembali kututup tanpa menunggu dia menyelesaikan kalimatnya.



Wajahnya tersenyum mendengarku mengawali paparan ini. Tak ada ekspresi terkejut sama sekali di wajah itu, hanya tersenyum. Dia mengagguk mempersilahkanku melanjutkan ceritaku.


Sebagian diriku masih tak ingin menerima kalau Alice lah pelakunya, meskipun semua data yang kumiliki menyimpulkan demikian. Tapi jika ada sedikit saja, sedikit saja kemungkinan dimana teori itu terbukti salah aku akan mengejarnya. Ini tidak seperti aku menyukai gadis ini. Hanya, aku tak bisa membayangkan seorang gadis seperti dia bisa melakukan hal keji macam itu. Yah, mungkin dia tak bisa dicap sebagai gadis baik-baik juga, tapi pembunuh berantai?


Dan saat ini aku sedang membuktikan celah dari teori itu.


“Aku tahu ini kedengerannya bodoh.. ga masalah kalo kamu mau ketawa..”


“Ga apa-apa..” dia nampak sama sekali tak terganggu dengan tuduhanku atas dirinya, “Terusin ceritanya!” kedua mata itu semakin antusias.


Entah bagaimana aku harus meneruskan cerita yang aku sendiri pun tak yakin dengannya. Tapi justru itulah tujuan utamaku datang ke tempat ini, bertemu dengan gadis ini.


“Kita pertama kali ketemu sekitar dua minggu yang lalu, di ruang UKS ‘kan?”


“Yup!”


“Kamu yakin? Jauh sebelum itu rasanya aku pernah bertemu denganmu. Tak jauh dari taman ini, kamu ingat?”


Pandangan matanya kulihat menerawang mencoba mengingat kembali.


“Hari hujan, kamu dengan seragam sekolah. Yah, walau kubilang bertemu mungkin lebih tepatnya kita cuma berpapasan.”


“iya mungkin, emang ada apa soal itu?”


“Itu hari terjadinya pembunuhan di taman ini, walau mayatnya baru ditemukan sekitar seminggu setelahnya.”


“Kamu melihatnya?”


“Ya, aku ada disini di hari nahas itu.”


Tentu saja itu bohong.


“Hooo.. Begitu ya.. Kamu melihatku membunuhnya?”


Ayo Juno! Sedikit lagi! Beranikan dirimu! Beranikan dirimu dan tatap baik-baik kedua mata yang penuh antusias dihadapanmu itu.


Saat ini mungkin aku sedang menceritakan kebohongan terbesar selama hidupku dihadapan gadis ini. Kebohongan yang kuharap dia respon dengan tawa setelahnya. Jauh di dalam hati aku sangat tak mengharapkan cerita ini menjadi kenyataan. Aku tak punya bukti yang kuat untuk menyimpulkan dialah pelakunya, walau pun dokumen yang kuterima menyatakan dia memang siswa fiktif di sekolahku. Karenanya aku harus membuktikan hal itu dengan menggunakan diriku sendiri sebagai umpan.


Baiklah, ini tak seheroik seperti kedengarannya. Pertama, aku masih belum bisa membuktikan Alice adalah pembunuhnya, karena itu aku harus mengarang cerita untuk menjebaknya. Kedua aku sudah mengirim salinan dokumen penyelidikanku pada Benji sebelum datang kesini, dari situ kuharap dia bisa mengambil keputusan selanjutnya entah percaya atau tak percaya padaku. Juga rencanaku untuk menjebak Alice dan memintanya untuk menghubungi detektif kenalannya jika memang dirasa perlu.


Ya! Tak akan ada yang mati malam ini. Aku hanya perlu menyelesaikan ceritaku yang akan jadi bahan tertawaan setelahnya. Dan malam ini akan berakhir seperti biasa.


“Ya, butuh waktu cukup lama untuk mencerna kejadian yang kulihat di hari itu.”


“Benarkah?”


Wajahnya dekat sekali dengan wajahku, kedua matanya penuh curiga.


“Bagaimana caraku membunuhnya?”


“Dengan jerat tali.”


Pertanyaan ini bisa kujawab dengan mudah berkat foto-foto korban yang dikirimkan Benji seminggu lalu. Tak perlu jadi detektif jenius untuk menyimpulkan mereka mati dengan cara dijerat.


“Hooo..”


Ada jeda dimana dia melihat langsung kedua mataku dengan sangat lekat. Dan setelahnya dia seperti menyerah dan menarik diri menjauhiku. Dia berdiri dan menarik nafas panjang, meregangkan tubuhnya dan berjalan kecil di sekitar tempatku duduk.


“Jadi kamu ada disini, waktu itu ya..”


“Ya, ini juga menjelaskan kenapa kamu yang mengajukan diri menyelidiki korban-korban sebelumnya. Karena jika aku yang selidiki mungkin aku bisa menemukan bukti kalau kamu pernah ada kaitannya dengan para korban.”


“Smart is a new sexy, isn’t it?”


Suara gelinya kudengar dari belakangku. Bisa kurasakan dingin ujung jarinya di pundaku, menari-nari disana.


“Sapiosexual. Kecenderungan untuk menyukai orang-orang yang dianggapnya pintar, setidaknya itu kesan yang kudapat setelah membaca data para korban. Mereka adalah orang-orang yang biasa dicap pintar oleh orang-orang sekelilingnya.”


“Dan~?”


Pertanyaannya menggodaku untuk meneruskan kalimat setelahnya.


“Dan dari situ aku tahu aku akan jadi korban selanjutnya dari kasus pembunuhan berantai ini.”


Iya, aku tahu. Ini cerita bodoh. Bagaimana mungkin seorang gadis seperti Alice mampu membunuh 3 laki-laki secara berantai. Teoriku tak masuk akal, mari pulang sambil kita tertawakan kebodohan ceritaku ini.


“Selesai, kasus terpecahkan!”


Hah?


“Tapi kamu curang! harusnya kamu ga ada disitu waktu pembunuhan terakhir terjadi.”


Haaaah? Apa? Bagaimana?


“Tapi biar gitu kamu tetep mau jalan bareng aku, walau tahu aku yang seperti itu. Kamu beneran yang terbaik!”


Aku bangkit dari kursi, beranjak menuju sosok Alice yang sedang menungguku di bawah terang lampu taman. Kucari kepastian dari wajah manis itu. Dia tersenyum tanpa beban.


“Apa maksudmu?”


“Kasus terpecahkan. Selamat, Juno!”


Tak mungkin! Tak mungkin kasusnya terpecahkan dengan cara seperti ini! Cerita barusan hanya karanganku, tak mungkin itu yang sebenarnya terjadi!


Kedua matanya menatapku lembut, terasa bagai belaian lembut dipipiki. Wajahnya merona dengan bibir yang lembab, mencoba mengatakan apa yang tak mudah untuk ia katakan. Kedua tangannya menggenggam tanganku, menarikku semakin dekat dengannya.


“Aku gak ngerti.”


“Aku juga, aku cuma ingin selalu ada di momen ini.”


Tubuhku dipeluknya. Degup jantungku pasti bisa dia dengar dengan jelas, dan nafasnya yang terasa begitu hangat.


“Kenapa?”


Pertanyaan itu seharusnya hanya kukatakan dalam benakku.


Dia menatapku, wajahnya dekat sekali denganku. Bisa kulihat refleksi wajah bingung dan tak mengertiku dari kedua matanya. Wajah itu semakin mendekat, dan kedua matanya menutup perlahan.


“Aku cinta kamu, Juno.”


Dan sebuah ciuman mendarat di pipiku


Apa ini? Pernyataan cinta? Di saat seperti ini? Keadaan tak terduga ini membuat pikiranku blank untuk sesaat. Aku sama sekali tak memperkirakan keadaannya akan berakhir seperti ini.


Belum sempat otakku kembali berfungsi mendadak tubuhku seperti ditarik keatas dari leherku. Kakiku tak lagi menapak tanah dan leherku terasa sakit seperti tercekik. Aku hanya bisa melihat senyum lembutnya sambil mati-matian berusaha bernafas. Senyum itu, begitu lembut dan tulus seperti ditujukan pada orang yang dicintainya.


Dan aku tercekik diatas sini, sambil meronta berusaha bernafas.