BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust

BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust
BAB 11. AFTER SCHOOL



+xx 852 6499 200 : Parah ini parah!!! [stiker gawat]


+xx 856 4532 239 : Jangan halangin! Jangan halangin!! biar kuabisin cewek sialan itu!!! [gif undertaker]


+xx 858 5186 435 : OTP ku.. kenapa harus OTP ku yang dirusak NTR? KENAPAAAA!?!?!!? [emoji cry] [stiker why]


+xx 811 7446 995 : Guys, kalian bisa tenang? Kita lagi ditengah pelajaran loh.. [stiker harap tenang]


+xx 856 4532 239 : Itu kan dialognya Weena kenapa kamu ambil juga!? [emoji angry]


+xx 811 7446 995 : Karena aku duduk dibelakannya aku jadi ngerasa berkewajiban ngingetin kalian..


+xx 811 7446 995 : Hehe.. [stiker innocent]


+xx 852 6499 200 : Hehe, kepalamu hah!?! [stiker bacok]


+xx 858 5186 435 : Hilang sudah harapanku pada cinta sejati di dunia 3D!!! Sekarang aku bakal fokus mencari cinta di dunia 2D.. Selamat tinggal dunia!!! Aku akan kembali ke pelukan Miyu-pon!!! [stiker cry]


+xx 856 4532 239 : Mati sana dasar Wibu!!


Sejak pagi tadi aku tidak masuk kelas, alasannya? Tentu saja sakit dan perlu istirahat di ruang UKS. Aku tak bisa menghadapi teman-teman sekelasku seperti ini. Lebih dari itu aku tak tahu harus bagaimana menghadapi Weena setelah kejadian pagi tadi.


+xx 877 1757 693 : Aku malah lebih kesel sama Juno! Dia kok ga bisa tegas ya.. aku sebal! [emoji angry]


+xx 811 7446 995 : Juno itu.. ya emang begitu.. [gif facepalm]


+xx 852 6499 200 : Cowo apaan!? Plin-plan gitu!? [stiker bacok]


Dan tentu saja, teman-teman sekelasku yang sangat perhatian dan peduli ini..


+xx 811 7124 547 : Kupikir Juno dan Alice cocok, seengganya buat partner kerja.. Faktanya mereka bisa ngerjain apa yang ga bisa dikerjain murid SMA kebanyakan. [gif keberatan yang mulia]


+xx 856 4532 239 : Benji sialan, sebenernya kamu dipihak siapa, hah!? [gif undertaker]


+xx 811 7124 547 : Aku sih objektif aja.. kepribadian Juno yang introspektif dan Alice yang Extrovert terbukti efektif buat nanganin kasus semacam ini..


+xx 858 5186 435 : Tapi kan Juno tuh pairing-nya sama Weena!!! [emoji cry]


+xx 856 4532 239 : Tau nih, jadi wartawan gosip aja sana!! [stiker bacok]


+xx 811 7446 995 : Pak Jurnalis ga asyik.. [stiker stare]


Sekarang malah Benji yang kena bully. Entah sudah jadi sekacau apa keadaan di kelas sekarang, yang jelas aku sama sekali tidak tertarik untuk mencari tahu. Mungkin tak akan terlalu mengherankan kalau hari Senin nanti aku mendapati bangkuku sudah habis dicorat-coret dengan umpatan kekesalan. Yah, sudahlah.. mungkin ini yang disebut kehidupan masa SMA.


Dan satu pesan baru masuk, kali ini bukan dari grup chat.


Asisten: Kok kamu ga ada di kelas? Bolos lagi?


Alice Eris, di saat seperti ini malah dia..


Asisten: Kamu di UKS? Ga kenapa-napa kan? Perlu kutemenin?


Aku ingat tadi sudah minum obat yang diberikan petugas UKS sebelum tiduran, tapi rasanya baru sekarang kepalaku terasa sakit. Cewek ini betulan ga ngerti apa yang sedang terjadi, atau memang dia sengaja memprovokasi? Yang mana pun itu dia berhasil membuat kepalaku sakit walau sudah minum obat tadi.


Me: Ya, Aku di UKS.. Butuh istirahat, tolong jangan ganggu!


Asisten: Aye-aye~!



Sekolah sudah sepi saat aku meninggalkan ruang UKS, seharian ini aku cuma setor muka sekali di pagi hari ke kelas dan sisanya tiduran di ruang UKS. Aku sempat mengecek kembali laporan yang diberikan Alice pagi ini dan mempelajarinya. Tapi hanya beberapa saat sebelum akhirnya kalah oleh reaksi obat yang memintaku untuk tidur. Dan sakit di kepalaku ini yang sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan siang tadi.


Akan merepotkan kalau aku harus pulang lewat gerbang depan seperti biasa, lewat depan kelasku yang mungkin malah bertemu orang-orang yang tak ingin kutemui saat ini. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan jika bertemu Weena, dan lebih serba salah lagi kalau malah jadinya pulang bareng Alice. Pilihan paling aman ya pulang sendirian lewat gerbang belakang.


Dari ruang server sekolah Pak David keluar dengan terburu-buru, setengah berlari dia berjalan kearahku. Kemeja tangan panjangnya digulung hingga siku, wajah lelahnya seperti biasa seperti sudah berhari-hari tidak tidur ditemani kafein. Dia menyadari kedatanganku ke arahnya, dan dengan nada cepat dan presisi berkata padaku.


“Juno! Ke ruangan saya, sekarang!”


Lengkap sudah hari ini. Baiklah aku menyerah, kalau ini soal Sabtu lalu yang aku bolos dan nilai tesku seminggu ini yang jeblok dengan senang hati aku akan menerima teguran resmi ini. Sudah tak ada tempat bagiku untuk mengelak lagi, tak ada yang akan membantuku dari situasi ini. Tanpa melawan aku mengikuti pria paruh baya itu ke ruangannya.


Di ruangannya dia langsung dengan cekatan mengeluarkan hard drive dari komputernya. Gerakan tangannya sangat cekatan, terlihat dia sangat terbiasa dengan apa yang dilakukannya ini.


“Scan, back-up, format ulang!”


“Bapak ke ruang guru, terus ke ruang administrasi, masih ada komputer disana yang harus dicek. Nanti kamu tinggal aja, bawa peralatan seperlunya bapak tunggu disana!”


Dan pria itu pergi begitu saja hanya berbekalkan obeng tespen di saku kemejanya. Benar-benar meninggalkanku tanpa penjelasan. Yang bisa kulakukan sekarang hanya mengikuti instruksinya sambil membuat menebak-nebak apa yang sedang terjadi. Pertama, ayo kita runut dari awal, Pak David keluar dari ruang server dengan tergesa sepertinya ada hal gawat yang sedang terjadi. Apa yang dia lakukan di ruang server?


Laptop yang tadi diberikan padaku menunjukan isi hard drive itu, data yang harus ku-back up.. sepertinya ini yang dia maksud. Isinya soal nilai siswa, daftar kehadiran, tak ada hal yang mencurigakan hanya data biasa yang pasti ditemukan di komputer kerja guru disini. Tunggu! Koneksi wi-fi.. mati? Aku cek smartphone-ku dan kucoba sambungkan ke wi-fi sekolah, mati. Apa itu yang tadi dia lakukan di ruang server? Mematikan koneksi internet sekolah?


Yang kutahu prosedur back-up dan format ulang yang tadi diinstrukan padaku biasanya dilakukan pada komputer dengan masalah malware atau virus. Hard drive ini rasanya baik-baik saja tak ada file aneh atau anomali lainnya yang biasa ditemui di komputer dengan masalah tersebut. Hasil scan juga menunjukan hard drive ini aman. Ah, sudahlah dalam hal ini penilaian Pak David lebih baik, aku cuma bisa mengikuti instruksinya sebaik mungkin.


Aku bisa merasakan sedikit demi sedikit aku mulai panik, kemungkinan-kemungkinan yang kususun di kepalaku semakin lama semakin menunjukan titik terang. Aku langsung bergegas meninggalkan ruangan itu begitu proses format ulang berjalan. Adrenalinku mulai terpacu, aku yang tadi berjalan sempoyongan ke ruang UKS sekarang sedang berlari ke ruang guru. Lorong koridor itu sudah sepi aku bisa leluasa berlari tanpa khawatir ditegur, begitu pula dengan ruangan guru dan ruangan administrasi yang dimaksud.


“Wah, Pak David lembur nih!” seru seorang satpam yang sedang keliling mengecek ruangan.


“Iya nih, kalau siang saya ngajar jadi gak sempat maintenance komputer kantor.” Pak David menjawab dari belakang meja, jawabannya terdengar ramah dan ekspresinya sangat tenang, “Pak, nanti saya perlu ke ruangan kesiswaan, tolong jangan dulu dikunci!”


Pak satpam menyanggupi dan segera berlalu dari ruangan itu. Nampaknya percakapan seperti ini sudah sering terjadi sampai-sampai dia tak mencurigai ada hal gawat yang sedang terjadi. Apanya yang maintenance? Walau pun rasanya enggan mengakuinya, tapi dari fakta yang kutemui kesimpulan yang kudapat adalah komputer sekolah baru saja dibajak. Sekali lagi aku tegaskan aku membenci kesimpulan ini. Di mataku Pak David terlalu kompeten untuk membuat kesalahan, jadi ini pasti faktor si peretas yang memang ahli.


Aku segera mengambil hard drive yang sudah dilucutinya dan bergegas kembali ke ruangannya melanjutkan proses format ulang sesuai instruksinya. Terus seperti itu sampai satu komputer dinyatakan bersih dan komputer itu membersihkan hard drive lainnya. Aku bisa mengikuti alur kerjanya yang efisien itu tanpa kesulitan. Pak David masih sempat mengobrol dengan satpam selama prosesnya, aku sendiri terlalu tegang karena memang situasinya bukan pada tempatnya untuk mengobrol santai dengan satpam. Komputer sekolah baru saja dibajak! Artinya seseorang diluar sana baru saja berhasil membobol keamanan sekolah ini dan entah apa yang sudah dia lakukan setelahnya dia sudah berhasil lolos dengannya!


Aku yakin satpam itu tak akan sempat mengobrol santai jika tahu sekolah ini baru saja dibobol maling dan malingnya berhasil kabur.



Waktu sudah menunjukan lebih dari jam sepuluh malam. Aku kembali mengecek untuk ke sekian kalinya kalau semua hard drive sudah aman dan terpasang dengan benar, OS sudah selesai di-install dan semuanya berjalan lancar, biar begitu aku masih disuruh untuk mengecek semuanya sekali lagi sampai akhirnya Pak David puas.


Jika sudah selarut ini terpaksa aku harus memesan taksi untuk pulang, kubuka aplikasi di smartphone-ku yang baterainya tinggal beberapa persen lagi. Pak David menangkap gesturku dan menawarkan tumpangan padaku, walau begitu kalimat tawarannya lebih terdengar seperti instruksi yang tak mungkin kutolak.


Mobil sedan keluaran Eropa itu terparkir rapih di tempat parkir khusus staff dan guru. Terlalu prestisius untuk seorang guru seperti beliau, tapi jika mengingat dia pernah bekerja di perusahaan IT terbesar di kota ini rasanya semua ini jadi masuk akal. Dengan santainya dia menghisap rokok sebelum mengeluarkan kunci mobil di sakunya. Aku duduk di kursi belakang, tak terbiasa dengan asap rokok. Dia mengerti dan menyuruhku pindah ke depan setelah menyelesaikan rokoknya.


“Kau pikir ini taksi apa? Pindah ke depan!”


Dia katakan itu dengan wajah lelahnya, tapi entah kenapa aku menangkapnya sebagai lelucon dan tertawa menanggapinya. Dan dia pun ikut tertawa dengan wajah lelahnya.


“Gimana kalau kita mampir buat makan dulu? Kamu ga masalah kan pulang malam?”


Tak perlu dijawab pun dia tahu kalau aku tak masalah dengan pulang malam, biar bagaimana pun pria ini pernah menjadi wali kelasku di kelas satu, dia tahu tentang kondisi rumahku, tentang orang tuaku yang memang jarang di rumah. Karenanya aku tak menjawab pertanyaan retoriknya itu.


Kami sampai di restoran keluarga yang buka 24 jam. Memesan menu yang hampir identik dan mengambil kursi agak ke dalam dimana kami tak akan terganggu dengan lalu-lalang orang lewat. Dia kembali menceritakan pengalamannya bekerja di Netherwork, perusahaan IT terbesar di kota ini. Bagaimana dulu hari-hari seperti ini adalah makanan sehari-harinya sewaktu bekerja disana, bagaimana setiap hari kerjanya terasa seperti neraka tapi dia sanggup menjalaninya karena ada istri  yang menunggunya di rumah. Dan bagaimana dia kehilangan semua itu, istri yang sangat disayanginya juga pekerjaannya. Cerita yang sudah berulang kali kudengar selama hampir dua tahun terakhir ini.


Dan tagihan makan malam itu dia bayar di kasir.


Aku diantar sampai ke depan rumahku, sudah hampir tengah malam dan aku sudah tak ingin melakukan apa-apa lagi untuk hari ini.


“Kamu harus beresin semuanya sampai tuntas, cuma dengan begitu kamu bisa jalanin sisa hidup kamu tanpa penyesalan..”


Matanya memandang jauh kedepan, tanpa menemukan apa yang dia cari disana.


Aku mengurungkan niatku untuk segera masuk ke rumahku dan tidur di kamarku. Tanganku masih memegang handle pintu.


“Apa ini soal pekerjaan bapak? Atau mendiang istri bapak?”


Pria itu hanya tersenyum menanggapi pertanyaan lancangku, membiarkanku keluar dari mobilnya.


“Hei! lain kali, kalau mau kabur lewat gerbang belakang kamu harus lebih hati-hati!”


Sudah kuduga dia tahu soal itu. Baiklah dia mendapatkan perhatianku, aku berhenti tepat di depan pagar rumahku.


“Bapak gak tahu apa yang kamu lakuin sampai bolos dan nilai tes kamu berantakan. Tapi apa pun itu kamu harus beresin semuanya sampai selesai!” dia menyalakan mesin mobilnya, sebelum pindah gigi dia sempatkan untuk menyalakan sebatang rokok. “Khusus kali ini anggaplah kita impas!”


Mobilnya melaju di jalanan yang sepi. Butuh waktu untukku mencerna maksud perkataannya.


“Dasar sok keren!” aku tersenyum geli sambil membuka pagar rumahku.


Tentu saja, kalau kejadian peretasan hari ini sampai tersebar diantara staff sekolah, Pak David sudah pasti dalam masalah. Dengan kata lain “anggaplah kita impas” itu maksudnya aku menutupi aibnya dan dia pun menutupi aibku. Benar-benar sok keren, sama-sama kecolongan juga.