
“Halo? Juno?”
Suara itu terdengar jauh dari tenang di seberang telepon sana. Kepalaku masih terasa berputar semenjak pulang dari perpustakaan tadi, tapi sudah jauh lebih baik semenjak sampai di rumahku dan secangkir kopi panas di genggamanku.
Aku di kamarku di lantai dua, duduk di kursi belajarku, alat tulis bersiap di mejaku kalau-kalau aku perlu mencatat sesuatu. Aku berusaha terdengar setenang mungkin walau adrenalin sedang membanjiri pembuluh otakku.
“Ben.. tolong jelaskan semuanya, secara berurutan..!”
Benji yang juga biasa dipanggil pak jurnalis di kelasku menarik nafas agak panjang. Aku harap dia bisa menjelaskan semuanya dengan tenang tanpa melewatkan satu detail pun, tentang foto korban yang tadi sore dikirimnya, tentang semua yang dia tahu berkaitan kasus ini.
“Jadi.. tahu kan tadi aku bolos jam pelajaran siang? Nah, aku dapet kabar kalo di taman distrik S ada kejadian dan langsung cabut ga pake mikir..”
Baik, ini menjelaskan perihal absennya siang tadi, kalau memang segawat itu aku bisa mengerti kenapa dia bolos walau tahu akan ada test.
“Aku sampe di tempat kejadian dan udah ada polisi juga ambulance disana, beberapa foto sempet kuambil sebelum akhirnya seorang polisi yang sedang berjaga menarikku keluar dari tkp..”
Foto di tkp.. tapi jelas bukan foto itu yang tadi dia kirimkan padaku.
“Lalu?” tanyaku mulai tidak sabar.
“Seorang polisi yang mengaku sebagai detektif menanyaiku beberapa pertanyaan. Aku kooperatif.. keberadaanku disitu udah sangat mencurigakan..”
“Dari polisi itu kamu dapet foto yang kamu kirim tadi sore?”
“Iya, katanya itu dari kasus sebelumnya. Aku ditanya soal para korban yang ternyata masih seumuran kita. Detektif itu curiga ada motif tertentu di kasus ini..”
“Dan..”
“Dan pembunuhnya masih berkeliaran di kota ini!”
Sebisa mungkin aku tak ingin mendengar kesimpulan itu. Aku tahu dengan jelas tanpa harus mendengar keseluruhan ceritanya, dan itu adalah kesimpulan yang paling tak ingin kutemui.
Aku mengurut keningku sekedar menghilangkan pening, sejak dari perpustakaan tadi rasanya kepalaku berat sekali. Kugunakan sandaran kepala kursiku, kopi di atas meja yang kubawa dari dapur belum kuminum sejak tadi. Aku di kamarku, di meja belajarku ditemani secangkir kopi dan kasus yang menghantuiku sejak seminggu terakhir. Bukan teman yang kuharapkan di malam hari yang menuntutku untuk istirahat karena besok masih harus pergi ke sekolah.
Baiklah Juno, mari urutkan masalahnya dari awal.
…
Bus yang sumpek penuh penumpang, sore hari jam pulang kantor. Aku dalam perjalanan pulang bersama dua orang gadis yang semakin lama semakin setuju untuk saling tidak setuju. Duduk di tengah, diantara dua kekuatan yang bisa saling menghancurkan kapan pun ada kesempatan, maksudku secara harfiah, tekanan diantara mereka berdua benar-benar membuat gerah. Ditambah sesaknya penumpang di dalam bus, lengkap sudah penderitaanku sore ini.
Kedua sisi di kanan dan kiriku saat ini benar-benar saling bertolak belakang. Weena di sebelah kananku duduk sambil memeluk tas ransel yang dia letakan di pangkuannya, kacamatanya dia kenakan sekedar menutupi wajah lelahnya. Aku tahu dia bisa tertidur dengan mudah di posisi ini, dan wajah tidurnya akan terlihat sangat imut dengan kacamatanya itu. Di sisi lain Alice nampak sama sekali tidak terganggu dengan segala ketidaknyamanan di bus ini. Dia asyik dengan lagunya, bersenandung seolah tak ada yang mendengarnya sambil sesekali bermain dengan boneka teru-teru bozu yang menjadi hiasan di casing smartphone-nya. Benar-benar tak terpengaruh dengan hiruk-pikuk disekitarnya.
“Jadi gimana? Mau coba selidikin kasus ini?” Alice mulai membuka percakapan yang rasanya salah tempat ini.
“Hah? Kasus?”
Aku mencoba menghindari topik yang bakal memicu kembali konflik di perpustakaan tadi. Kulihat ada seorang paman yang berdiri di depanku berharap bisa memberikan tempat duduk padanya.
“Pelajar kayak kita ga ada urusannya dengan kasus begituan! Jangan seenaknya bercanda!”
Weena menahan lenganku untuk tetap duduk di sisinya. Sahabatku satu ini tahu betul rute kabur yang sedang berusaha kuambil.
“Hee? Bukannya karena itu jadi pas banget! Ini bakal jadi cerita petualangan detektif Juno selanjutnya!”
Pertama, aku benci sebutan detektif itu. Selanjutnya kupikir kalian berdua sama benarnya juga sama salahnya.
“Gimana, Juno? Mau ya? Mau! Aku bakal jadi assisten kamu buat mencahin kasus ini!”
“Hah!? Ga salah? Emang kamu bisa bantu apa?”
Pertanyaan itu tak dijawab melainkan dengan tatapan sengit diantara keduanya. Seseorang tolong selamatkan aku.
“Kamu juga kok malah diem aja sih! Juno bilang sesuatu apa gitu!” pertanyaan itu diikuti cubitan keras di lengan kananku.
“Aku harus bilang apa? Kasus ini jelas merepotkan.”
“Hee? Kok gitu? Semangat dikit dong Sherlock!! “
“Alice, seseorang terbunuh di kasus ini. Aku bukan sociopath yang bakal semangat karena hal semacam ini..”
“Tapi kamu penasaran kan? Kan? Kaaan?”
Dalam hal ini Alice ada benarnya. Walau pun kutahu ini merepotkan, tapi otakku sudah otomatis mencari kemungkinan dan menyusunnya menjadi teori-teori. Tapi ini.. merepotkan..
“Soal itu bukannya tugas polisi buat memecahkan kasus ini? Kenapa harus repot-repot mecahin kasus yang pada akhirnya bakal diselesaikan pihak berwajib?”
Sahabatku ini memang sudah sangat mengenalku sampai di level bisa membaca pikiranku. Nice Weena!
Bus memperlambat lajunya pertanda akan segera sampai di suatu halte, halte tempat Weena turun. Dia berdiri bersiap keluar dari bus yang hampir berhenti seutuhnya. Tubuhnya mungilnya berhimpitan dengan padatnya bus sore itu.
“Sebelumnya biar kutegaskan. Juno, kalau kamu coba nanganin kasus ini aku ga akan ganggu. Semuanya terserah kamu. Tapi aku juga ga akan bantu kamu soal ini. Aku akan selalu bantu kamu, apa pun masalahnya, tapi ga buat yang satu ini.”
Kalimat terakhirnya sebelum meninggalkanku sore tadi terdengar sangat tegas dan serius, seperti ultimatum. Dan aku bisa mengerti sikapnya yang seperti itu. Bagi seorang Weena Shurelion hal semacam ini jelas bukan dunia-nya, atau ya setidaknya bukan hal yang diharapkannya ada di dunianya. Aku sadar betul misteri pembunuhan yang sedang kami bicarakan ini bukan main-main, bukan cerita tentang kehilangan barang yang setelah ditemukan semuanya akan berakhir happy ending. Beberapa orang telah terbunuh, tepatnya tiga orang, tiga orang manusia yang memiliki keluarga, teman, dan latar belakang lainnya telah menemui akhir ceritanya dengan cara yang yang tragis.
Dengan hanya memikirkannya saja membuat kepala rasanya penuh. Membayangkan orang-orang yang telah kehilangan nyawanya dan si pelaku yang.. entah aku tak bisa menjangkau nalarnya. Cerita ini sudah bad ending sebelum semuanya dimulai, apa pun keputusan yang kuambil tetap tak akan bisa mengembalikan nyawa mereka yang telah hilang. Ini tidak seperti kasus kehilangan handphone di penginapan tempo hari.
Aku terdiam sejak kepergian Weena. Aku mengerti betul the gravity of coming event di depanku. Aku tak sanggup menanggung semua ini. Tidak tanpa Weena di sampingku.
Aku tersadar kami sudah sampai sejauh ini, aku tak memperhatikan sekelilingku sejak kepergian Weena di bus tadi. Untung tak terjadi hal yang tidak-tidak, yah aku bisa saja salah turun halte atau tersandung saat turun dari bus. Lalu aku perhatikan tanganku yang sedari tadi digenggam gadis di sampingku. Alice, sedari tadi dia menuntunku yang sedang tenggelam dalam pikiranku sendiri. Dan dia menuntunku yang berjalan seperti orang linglung sampai ke taman ini.
Aku berdiri sebentar, mengumpulkan kesadaranku yang tercecer disana-sini selama perjalanan. Melihat ke arah taman yang sekarang sudah dirintangi garis polisi dengan tatapan kosong, berusaha mencari hal yang tak bisa kutemukan di tempat itu.
“Kurasa kamu bisa lebih baik dari ini deh!”
“Hah? Kenapa? Aku?” aku yang tak siap dengan pernyataannya itu pasti terlihat bodoh sekali.
“Iya, kamu. Yang kudenger dari temen-temenku kamu tuh selalu bisa diandalkan dan jenius. Harusnya kamu ga perlu terlalu bergantung gitu sama Weena.”
“Kenapa kamu mikir kalo aku bergantung sama Weena?”
Dia tak menjawab pertanyaanku yang sudah jelas jawabannya itu.
“Coba kutanya, sekarang udah berapa teori yang udah kamu pikirin soal kasus ini?”
“Ada.. sebelas.. tapi bisa kupersempit jadi lima kalo emang diperlukan..”
“Boleh aku tahu? Satu aja!”
“Apa bagusnya kamu tahu soal ini? Ga ada hal baik yang bisa kamu temuin di keadaan semacam ini, lebih baik kamu berhenti.”
“Hoo.. Aku jadi makin penasaran dengan isi kepala kamu..”
Tidak, aku yakin dia tidak ingin tahu.
“Kamu juga pasti penasaran kan? Soal kasus ini.” Pertanyaannya terdengar seperti menggodaku.
“Aku punya beberapa dugaan, tapi ga satu pun dari dugaan itu yang ingin kubuktikan..”
“Tapi?” tanya gadis itu dengan senyum usilnya.
“Tapi apa?”
“Entahlah.. kalimatmu barusan kayak yang belum selesai.. ehehee..”
Mind game? Apa ini mind game agar aku mau mengikuti keinginannya?
“Udah ya! Aku pulang. Kalo kamu masih penasaran soal kasus ini kita bisa selidikin bareng-bareng! Kamu bisa percaya sama aku, aku bakal jadi asisten kamu!”
Dan sosoknya menghilang di balik belokan. Alice Eris, gadis yang baru kutemui kemarin berkata aku bisa mempercayainya. Apa aku bisa mempercayainya? Di kasus dimana beberapa orang telah tebunuh secara berantai. Memecahkan kasus pembunuhan tentu saja bukan tanpa resiko, sebaliknya karena berkaitan dengan nyawa maka nyawa pulalah taruhannya. Apa aku bisa mempercayakan nyawaku pada gadis yang baru kutemui kemarin?
…
“Juno! Hei, Juno!”
Suara Benji di seberang telepon menyadarkanku.
“Jadi bagaimana menurutmu?”
Apa yang menurutku? Tunggu, sepertinya aku tidak benar-benar menyimak pertanyaan sebelumnya.
“Yak, halo? Maaf tadi aku ke-distract.. bisa tolong ulangi pertanyaannya?”
“Yah.. Jadi sekarang polisi sedang memburu si pelaku yang belum diketahui ini. Dan karena korban-korban sebelumnya siswa SMA seperti kita, rasanya kita perlu berbuat sesuatu.. Mungkin saja kalau kita bisa membantu kita bisa mencegah terjadi pembunuhan selanjutnya, atau mungkin kita bahkan bisa membantu polisi menangkap pelakunya!”
“Kemungkinan yang barusan kamu bilang tuh.. Terdengar muluk sekali..”
“Buatku mungkin muluk, tapi engga buat kamu..”
Hah? Aku tak mengerti arah pembicaraannya..
“..Kamu kan Juno, kalo ada satu orang yang kukenal bisa memecahkan kasus semacam ini.. Ya, cuma kamu orangnya!”
“Apa itu ga berlebihan ya?”
“Engga lah! Detektif Juno!”
Demi apa aku benci panggilan itu.
“Baiklah pak Jurnalis, sebelum kututup teleponnya. Tadi kamu bilang kamu ngambil beberapa foto dari tkp kan? bisa tolong kirimin?”
“Okey-dokey!”
Telepon kututup, dan satu email berisi kumpulan foto kuterima di komputerku. Foto taman dekat rumahku yang sangat kukenali itu. Dan.. tentu saja dia ada disana.
Ada perasaan senang dan lega yang aneh kurasakan saat melihat sosoknya di salah satu foto yang dikirimkan Benji. Sosok Elegan dengan setelan jas hitam. Wanita misterius itu.
…