BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust

BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust
BAB 06. TURNING POINT



Hampir seminggu berlalu sejak e-mail itu kuterima, e-mail berisi foto korban dan tempat kejadian perkara. Aku tidak benar-benar menyanggupi permintaan Benji hari itu, tapi dia tetap berjanji akan memberitahuku jika ada perkembangan terkait kasus ini. Entahlah, semua hal tentang pembunuhan berantai ini rasanya belum bisa benar-benar kuterima sebagai kenyataan. Semua ini masih kurasakan seperti mimpi aneh di malam sebelum ujian kenaikan kelas.


Dan ngomonng-ngomong soal ujian..


“Juno, file rangkuman materi kemarin sudah kukirim. Tolong pelajari untuk tes 2 hari lagi..”


Weena benar-benar tahu bagaimana membuatku kerasan dengan kenyataan ini.


“Thank you.. kamu membantu sekali.”


“Apa itu sarkasme?”


“Apa aku terlihat seperti perlu bantuan untuk tes besok?”


“Tesnya hari Senin.. Kamu dengerin aku ga sih dari tadi?”


Yah, hubunganku dan Weena makin memburuk sejak hari itu. Ini tidak seperti kami sedang berkelahi atau saling marah satu sama lain. Oke, mungkin juga iya.. karena dia memang lebih marah sekarang. Tapi kurasa masalahnya jauh lebih besar dari itu. Aku sudah mengenal gadis ini sangat lama, bahkan jika aku mengingat masa kecilku saat ini, sangat sulit untuk membayangkannya tanpa adanya Weena disitu. Ya, intinya kami sudah kenal cukup lama untuk tahu baik dan buruk masing-masing.


Dan permasalahannya, jika selama ini aku dan dia ada masalah dan kami berkelahi, tetap ada komunikasi yang malah membuat kami semakin dekat. Entah itu dengan saling memaki atau saling membuka aib satu sama lain. Pokoknya perkelahian yang membuat kami semakin dekat, bukan malah semakin jauh seperti ini.


Jam istirahat sebentar lagi selesai. Kami masih di tempat rahasia kami, menghabiskan waktu berdua dengan seminimal mungkin percakapan. Entahlah, dengan setiap kata yang malah membuat kami makin menjauh seperti ini, kupikir diam adalah pilihan yang terbaik.


Sebenarnya ada satu hal yang masih mengganjal pikiranku dan sangat ingin kubahas dengan Weena saat ini. Ya, dari foto yang kudapat, di tkp tempat ditemukannya mayat wanita misterius itu ada disitu. Bukan seperti orang yang kebetulan lewat atau kebetulan ada di tempat dan waktu yang salah, dia benar-benar sengaja ada disitu, atau lebih tepatnya ada di foto itu. Mungkin ini terdengar aneh, tapi aku yakin dia benar-benar sengaja terfoto disitu. Ya, walau agak kabur aku yakin sekali dia sadar ada kamera yang sedang mengambil gambarnya, dan mata itu, mata itu tanpa ragu melihat langsung ke kamera. Melihat langsung padaku.


Apa yang kupikirkan? Itu jelas-jelas tidak mungkin. Apa yang untungnya bagi wanita itu melakukan tindakan provokatif semacam itu? Apa karena..? Tidak, tidak mungkin.. kasus ini tak ada sangkut pautnya denganku, ini pasti cuma perasaanku saja.


Di depan kelas Weena berpapasan dengan Alice, seperti sewajarnya. Mereka pun saling menunjukan ketidakcocokannya satu sama lain, seperti sewajarnya. Weena dengan kalimat pendek nan sinis, dan Alice dengan kalimat ringan yang tak tahu diri. Entah mengapa hal seperti ini sudah menjadi keseharianku sejak sejak seminggu terakhir. Walau rasanya salah jika membiarkan semuanya terus seperti ini, aku tak tahu bagaimana cara untuk memperbaiki keadaan ini. Dan walau pun aku tanyakan soal ini pada Weena apakah jawaban yang kudapat  akan memperbaiki keadaan? Atau malah menambah jarak diantara kami? Aku tidak bisa mengambil resiko lebih jauh.


Setidaknya semua hal selain masalah tadi masih berjalan seperti biasanya. Kelas dan pelajarannya sama sekali tak berubah. Obrolan teman-temanku di grup chat juga tidak banyak berubah, mereka masih meributkan hal  yang itu-itu saja. Di balik sikapnya yang menjadi dingin padaku dia masih seperti Weena yang biasanya di depan teman-temannya. Kuharap semuanya memang baik-baik saja.


Dari semua orang di muka bumi ini, diriku sendiri lah yang paling tahu kalau harapan itu hanya kebohongan yang bersembunyi dibalik optimisme semu yang tidak realistis.


Jam sekolah berakhir. Alice seperti biasa menungguku keluar kelas, dan jika itu terjadi Weena akan mundur dengan alasan akan pulang dengan teman-temannya setelah menyelesaikan absensi atau piket. Alibi sempurna untuk menutupi hubungan kami yang semakin menjauh.


Perjalanan pulangku kini diwarnai pertanyaan-pertanyaan pancingan Alice mengenai kasus pembunuhan berantai ini. Jujur saja aku sangat lelah menanggapinya. Tapi di sisi lain ini sedikit meringankan beban pikiranku terkait kasus ini. Aku bisa menceritakan teori-teoriku berkaitan dengan kasus ini padanya dengan leluasa, tentang wanita misterius itu, dan tentang foto-foto yang dikirimkan Benji. Dari situ aku menjadi semakin dekat dengan gadis ini. Cewek aneh yang membahas kasus pembunuhan seperti membahas gosip terbaru di kalangan para gadis.


Seperti itulah hariku berlalu. Diawali dengan komunikasi yang semakin menjauh antara aku dan Weena, dan ditutup dengan obrolan ringan berbau pembunuhan dengan Alice. Bagiku dunia tidak sama lagi sejak adanya kasus ini. Apa aku masih bisa yakin kalau kasus ini memang benar-benar tidak ada hubungannya denganku?


Pertanyaan itu terus kutanyakan pada diriku sendiri, di kamarku menghadap meja belajarku, hanyut dalam kontemplasi yang semakin suram dan dingin. Sampai akhirnya tertidur beberapa jam sebelum jam wekerku berbunyi.



Siang ini aku tidak pergi ke tempat biasanya dengan Weena. Aku merasa kami berdua masing-masing butuh waktu untuk sendiri. Hal yang paling tak kuinginkan saat ini adalah menyakitinya dan membuat hubungan kami semakin jauh di level yang tak bisa kuperbaiki lagi.


Aku makan siang di taman dekat kantin, dengan roti isi favoritku dan sekaleng kopi hitam. Ada tempat di bawah pohon dimana aku bisa duduk sendirian tanpa diganggu siapa pun, tempat yang bisa dilihat dari gerbang utama. Yah, kupikir untuk sementara aku lebih baik mengambil jarak dari semuanya. Kalau pun aku makan siang di kelas, aku tak tahu harus menjawab apa jika Benji menanyaiku tentang perkembangan kasus ini. Faktanya aku belum melakukan apa pun untuk menyelidikinya. Belum lagi jika Alice seenaknya masuk ke kelas dan membuat suasananya semakin tidak nyaman dengan tatapan curiga dari teman-teman di kelasku. Tatapan yang anehnya, seperti tak berpengaruh apa pun pada gadis itu.


“Permisi..”


Aku bisa mendengar suara itu dimaksudkan pada seseorang, yang tentu saja bukan aku. Dengan mengambil tempat terpencil yang jelas-jelas mengisyaratkan jangan ganggu ini, mana mungkin ada orang yang sudi mendekatiku.


“Permisi.. Dik?”


Suara itu tak juga pergi, pertanda dia belum mendapatkan respon yang diharapkan. Dan pundakku ditepuknya.


Aku kaget bukan main. Dan itu pasti terlihat jelas di wajahku saat ini.


“Permisi, saya ada janji bertemu dengan..” dia mengecek smartphone-nya mencari nama yang dia maksud.


Aku dengan wajah bodohku masih berusaha mengumpulkan kesadaranku yang buyar karena moment tak diduga ini. Di depanku sedang berdiri seorang wanita, dengan setelan hitam yang terlihat elegan di tubuhnya yang ideal. Aku masih tak mempercayai apa yang kulihat, lebih dari itu aku mulai meragukan kenyataan di hadapan mataku saat ini.


Wanita inilah hantu di hidupku sejak beberapa minggu terakhir, yang keberadaannya sempat memberiku teror dan kengerian yang tak bisa kujelaskan. Apa yang dia lakukan disini? Apakah ini nyata? Aku tidak sedang bermimpi kan? Pertanyaan-pertanyaan bodoh itu mulai bermunculan satu persatu di balik wajah bodohku.


“David Normandy.. Bpk. David Normandy, bisa tolong antar saya ke ruangannya?”


“Pak David.. Guru komputer?”


Baiklah yang satu ini pertanyaan paling bodoh yang muncul di kepalaku. Pertama, Pak David mengajar computer science yang merupakan muatan lokal di sekolah ini. Kedua, dia juga bertanggung jawab dalam pengelolaan database dan security di sekolah ini. Dengan mengetahui dua hal itu rasanya cukup bodoh jika aku mengalamatkan predikat guru komputer pada Pak David.


“Ah iya.. Mari, mari! Saya antar!” Aku tergopoh bangkit dari posisi nyamanku, meninggalkan kopi kaleng yang baru setengahnya kuminum.


Pikiranku kosong menanggapi turning point yang tak bisa kuduga ini. Apa yang dilakukan wanita ini disini? Di sekolahku? Apa yang sedang terjadi?


TAK TOK TAK TOK


Langkah kaki dari hak yang digunakan oleh wanita itu terdengar seperti pukulan palu pada paku di kepalaku.


TAK TOK TAK TOK


Ada sensasi mengambang selama melintasi lorong-lorong kelas untuk sampai ke ruangan yang dituju. Keringat dingin mengucur deras di wajahku, kuseka dengan lengan bajuku.


TAK TOK TAK TOK


TAK TOK TAK TOK


Dan suara itu.


TAK TOK TAK TOK


Suara langkah kaki itu membuatku tak bisa berpikir lagi.



“Ini ruangannya?”


Aku hanya mengangguk sambil membukakannya pintu, tentu saja sebelumnya aku mengetuk terlebih dahulu, mendapati guru yang dimaksud sudah menunggu di dalamnya.


“Selamat siang pak! Saya Risa dari Malcolm Database..”


“Oh iya! Ibu Risa ya? Iya, iya saya sudah dapat memonya dari kepala sekolah..”


“Kalau begitu obrolannya akan singkat..”


“Oh iya, iya..”


Tiba-tiba saja obrolan terhenti dan semua mata tertuju padaku yang sedari tadi berdiri mematung di depan pintu.


“Juno, ngapain kamu berdiri disitu?”


Seperti yang kuharapkan dari Pak David, selalu presisi dan efisien, tidak melewatkan satu detail pun dalam pekerjaannya. Termasuk seorang siswanya yang sedari tadi berdiri seperti orang ***** memandangi wanita yang baru saja ditemuinya. Tanpa sepatah kata pun aku segera pamit.



Aku masih melintasi lorong-lorong kelas dengan perasaan mengambang. Rasanya kepalaku seperti terbuat dari kapas, sangat ringan dan bisa terhempas kapan saja, kesana dan kemari. Aku tak tahu lagi apakah ini mimpi atau kenyataan, semuanya terlihat sama surealisnya. Perjalanan menuju kelasku terasa sangat panjang dan tanpa akhir, setahuku jarak antara ruangan Pak David dan kelasku tidaklah terlalu jauh. Tidak, tidak bisa lagi. Aku harus beristirahat, ah, iya di lorong kelas ini pun tak masalah.


“Juno!!”


Seseorang memanggilku, suaranya terdengar sangat jauh, tapi juga sangat kukenal.


“Juno!!!”


Seseorang menyangga bobotku yang perlahan roboh ke dinding yang dingin.


“Juno, kamu ga apa-apa? Muka kamu pucet gitu! Ayo kita ke UKS!”


Ah, Weena.. Kebetulan sekali aku bertemu dengannya disini, saat ini.


Tidak, aku yakin dia juga dalam perjalanan ke kelas dari tempat rahasia kami.


Ada banyak hal yang ingin kusampaikan padanya, terlalu banyak. Dia yang menghabiskan waktu istirahatnya sendirian di belakang perpustakaan di lantai dua, pasti kesepian tanpa ada siapa pun untuk bertukar obrolah tak mutu. Atau mungkin dia memilih untuk asyik dengan laptopnya tanpa mempedulikan hal itu. Yah, mungkin saja.


Apa yang kupikirkan? Disaat seperti ini aku malah memikirkan betapa kesepiannya gadis di depanku ini menghabiskan waktu makan siangnya? Yah, aku tidak bisa berpikir lurus sekarang ini. Biarpun saat ini Weena sedang menyeka keringat dingin yang mengalir deras di keningku. Aku tak bisa mengumpulkan pikiranku yang baru saja pecah berkeping-keping.


Jauh di dalam diriku, aku takut bertemu wanita misterius itu. Semua hal yang berkaitan dengannya, kasus pembunuhan berantai ini, semua petunjuk dan penyelidikannya. Sejujurnya aku tak mau berurusan dengan semua ini, terlebih dengan wanita misterius itu. Karena sejak hari itu semuanya berubah, teror dan paranoia yang berusaha kutekan dengan rasionalitas dan logika. Aku yang ingin percaya bahwa kasus pembunuhan berantai ini tak ada hubungannya denganku, dan kini si wanita misterius itu ada di sekolahku, menepuk pundakku, berbicara padaku.


Aku ingin kabur sejauh-jauhnya dari semua ini, tak ingin berurusan dengan semua ini. Aku hanya siswa SMA biasa yang ingin menjalani kehidupan SMA biasa. Dan sekarang semua itu terasa seperti mimpi dari tempat yang jauh.


Kembalikan kehidupanku seperti sedia kala!!!


Aku tak tahu pada siapa kualamatkan teriakan frustasi itu. Yang jelas aku ingin semuanya kembali seperti sebelum semua ini dimulai. Aku ingin keseharianku yang biasa kembali, tanpa teror dan paranoia. Aku ingin hubunganku dengan Weena kembali seperti dulu, hari-hari yang kami lalui tanpa pertengkaran dan jarak yang semakin menjauh. Weena.. aku tak ingin melihat wajahnya yang penuh kekhawatiran seperti ini, dan kesepian yang kutahu dia simpan rapat-rapat.


“Weena..” tanganku yang gemetar berusaha menggapai pundaknya. Kuletakan sebentar disana menggantikan jutaan kata maaf yang tak bisa kusampaikan.


Dia menatap wajahku dengan mata penuh kekhawatirannya, berusaha mencari makna dari senyum yang berusaha kupaksakan. Tak mengerti atau mungkin tak mau menerima. Dahinya mengerut tanda tak setuju, bibirnya berusaha berucap. Tapi dititik ini kami sepakat kalau kata-kata tak lagi cukup untuk menjembatani ketidaksepahaman ini.


Dan bahu itu pun kulepaskan sambil berbisik halus dengan suara yang hanya bisa didengarnya.


“Aku.. harus pergi..”


Aku tak menengok kembali setelah mengatakannya. Hanya terus berjalan dengan langkah yang masih sempoyongan. Bukan menuju kelasku, bukan juga ke UKS.


Hanya satu hal yang bisa kulakukan untuk mengakhiri teror ini, aku harus menemukan jawaban itu. Dan satu-satunya petunjuk yang kumiliki untuk menemukannya saat ini ada dekat sekali denganku. Aku tak takut, aku tak akan lari.


Akan kuselesaikan kasus ini sampai ke akarnya. Sampai ke semua pertanyaan yang selalu kuhindari itu terjawab tanpa sisa. Aku tak ingin terus membohongi diriku kalau semua ini tak ada hubungannya denganku. Aku tak ingin terus lari dari kenyataan yang harus kuhadapi.