
“CEPAT BANGUN PEMALAS!! LIHAT SUDAH JAM BERAPA SEKARANG!!!”
Bunyi alarm itu tetap membuatku jengkel, terutama di hari minggu seperti ini, dan aku benar-benar memberi penekanan pada kata jengkel. Dengan mata yang masih setengah tertutup kumatikan jam sialan itu.
Di hari Minggu aku tidak perlu datang ke sekolah, ya, itu sudah jelas, tapi tak berarti aku bisa bangun siang seenaknya. Mungkin siangnya aku bisa kembali tidur atau bermalas-malasan, tapi minggu pagi seperti ini terlalu penting untuk dilewatkan olehku yang tinggal sendirian ini. Aku punya setumpuk cucian yang harus bisa kuselesaikan hari ini.
Baju-baju kotor sudah menumpuk di suduk kamarku, kemeja dan baju olahraga, sisanya baju asal-asalan yang kupakai untuk tidur. Dan T-shirt couple yang kugunakan kemarin pemberian Alice, mungkin yang satu ini pun akan masuk kedalam kategori baju asal-asalan yang kupakai untuk tidur. Yah, aku cukup cuek soal yang seperti ini, buatku harus mengurusi hal seperti gaya berpakaian rasanya terlalu merepotkan.
Tapi detail kecil yang satu ini rasanya tak bisa kuabaikan. Di tangan kananku saat ini terpasang sebuah gelang dari tali yang dirajut. Aku ingat kalau gelang ini pemberian Alice kemarin sebagai “kenang-kenangan untuk hari yang sangat melelahkan”. Yang tak kuingat adalah kapan aku memasangkannya lagi pagi ini. Seingatku semalam, sebelum tidur aku sudah melepasnya dan meletakannya di atas meja belajarku. Kenapa sekarang bisa kembali ke tanganku? Apa aku salah ingat?
…
Cucian tergantung rapi di luar berandaku di lantai dua. Aku baru saja kembali dari belanja bahan makanan minggu ini, yang yah.. isinya tak jauh dari roti juga makanan instan lainnya. Juga kopi, tentu saja. Aku tak bisa membiarkan coffee maker di dapur ini menganggur untuk sehari saja. Setelah selesai dengan semua ritual hari minggu ini, mencuci dan beres-beres rumah juga berbelanja, sekarang aku bisa kembali kembali ke mejaku di lantai. Tentu saja ditemani secangkir kopi.
Kunyalakan komputer. Tangan kananku agak gatal, tepatnya di tempat dimana gelang itu terpasang. Mungkin karena aku masih mengenakannya saat mandi tadi dan sekarang gelang ini belum kering betul. Aku benar-benar tidak terbiasa dengan gelang ini di tanganku, apa lagi dia terpasang di tangan kanan yang merupakan tangan dominanku. Aku tak bisa mengabaikannya dan berpikir kalau gelang ini tak ada disitu.
Apa kulepas saja? Ya, rasanya itu terdengar seperti ide bagus yang seharusnya sudah kulakukan sejak tadi.
Aku perhatikan sekeliling gelang itu untuk mencari titik sambungnya. Dan tidak bisa kutemukan. Apa ini? Apa ini semacam simpul tali yang tidak kuketahui? Kenapa gelang ini tidak punya titik sambung seperti gelang pada umumnya?
Cewek sialan itu lagi-lagi mengerjaiku. Akan kutanyakan bagaimana melepas gelang ini jika bertemu nanti. Walau pun rasanya ragu dia akan langsung memberitahu caranya, mungkin dia akan menggodaku dengan bilang, “Yeeey~ gelangnya cuma aku yang bisa buka. Dengan gini Juno resmi jadi milikku~”
Marking!?! Apa ini semacam marking?!? Seperti manusia yang memberikan kalung pada hewan peliharaannya!?!
Tenang, Juno.. Tenang! Panik tak akan menyelesaikan apa pun. Terutama untuk masalah semacam ini dimana yang kuhadapi adalah gadis semacam Alice. Aku tak boleh kehilangan ketenanganku dihadapannya. Entahlah, aku masih belum sepenuhnya pecaya pada gadis itu. Bahkan setelah apa yang kami alami kemarin, setelah dia membantuku kemarin. Aku masih belum terbiasa dengan kehadirannya di sekitarku.
Baik, kembali ke komputerku. Saatnya masuk ke bagian yang paling tidak menyenangkan dari kasus ini, bagian dimana ada orang yang mati di dalamnya. Dihadapanku terpampang foto-foto mayat yang diambil dari TKP oleh polisi. Pada dasarnya ini adalah foto yang diambil dari foto, entah bagaimana Benji behasil membuat polisi membocorkan informasi penting seperti ini padanya. Dan saat ini, inilah petunjuk terkuatku untuk memecahkan kasus ini.
Aku belum memberitahukan tentang foto ini pada siapa pun, hanya aku dan Benji yang tahu soal ini untuk saat ini. Mungkin kedepannya aku akan memperlihatkan ini juga pada Alice untuk kutanya bagaimana pendapatnya, tapi rasanya itu tidak perlu. Mayat-mayat ini jelas bukan objek yang menyenangkan untuk diabadikan kedalam foto. Terlebih mereka mayat korban pembunuhan.
Aku berusaha tidak melihat kearah wajah atau mata mereka secara langsung. Ekspresi menjelang kematian seperti ini bisa membuatku mimpi buruk beberapa hari. Benar-benar bukan keadaan yang menyenangkan. Dan dari keterangan didalamnya tertulis semua korban mati dalam keadaan tercekik. Yang artinya mereka mati dengan ekspresi mata melotot dan lidah terjulur. Wow, good job Juno kamu melihat langsung ke matanya.
…
HOOOEEEEEK!!!!!
…
Suara air dari keran yang kunyalakan sedikit menyegarkan pikiranku. Hampir saja aku harus menguras semua sisa sarapanku di closet tadi. Waktu sebentar lagi menunjukan jam makan siang tapi aku sudah terlanjur kehilangan selera makanku. Mungkin sebaiknya aku berhenti melakukan ini, memandangi foto-foto mayat sambil berharap menemukan petunjuk jelas bukan kegiatan yang sehat bagi pelajar sepertiku. Tapi, mungkin sekali lagi. Mungkin aku masih bisa melanjutkannya untuk beberapa menit lagi.
Aku kembali ke mejaku. Kali sungguh-sungguh berusaha untuk tidak melihat wajah si korban. Aku fokus pada hal-hal kecil yang bisa kutemukan disekitarnya. Salah satu korban memiliki beberapa helai bulu kucing di sekitar kerah bajunya, yang lain memiliki titik tinta di lengan bajunya. Hmmm.. menarik. Tapi yang menjadi kesamaan mereka adalah luka jerat di lehernya.
Setelah 13 detik pertama korban akan kehilangan kesadaran, diikuti dengan kejang-kejang dan setelah 20an detik tubuh mulai kaku. Setelah 45 detik fungsi otak melemah dan setelah 1 menit 30 detik diikuti hilangnya tensi otot. 4 menit gerakan otot terisolasi, 4 menit 30 detik pernapasan semakin menurun dan 6 menit 30 detik pernapasan berhenti total.
Dasar. Hobimu buruk sekali tuan pembunuh berantai.
Yang kubayangkan dengan cara membunuh dengan dijerat ini kurang lebih sama dengan menyaksikan langsung korban bunuh diri. Dan kubilang langsung disini karena selain menyaksikan sebagai penonton pasif si pembunuh juga ambil bagian dalam prosesnya. Dengan menjerat si korban berarti si pembunuh harus bergulat langsung dengan korban yang sedang meronta berjuang untuk hidup, walau akhirnya mati juga.
Ketiga korban adalah laki-laki seumuranku dengan berat dan tinggi yang tidak jauh beda denganku. Yang artinya si pelaku setidaknya harus memiliki perawakan yang lebih besar dariku, dan dengan fisik yang kuat untuk mencegah perlawanan. Mungkin seorang pria dengan tinggi lebih dari 180 cm dan berat lebih dari 60 dengan kondisi fisik prima cocok dengan kriteria ini. Aku yakin seperti itu, karena ada beberapa tanda perlawanan dari para korban dan apa pun yang pelaku lakukan sudah berhasil mengatasinya.
Baju yang berantakan, seragam dan almamater lain. Beberapa bekas goresan benda tumpul di tangan, tali? Bekas ikatan? Bisa jadi. Dan mungkin ini cukup menarik. Tali yang digunakan sebagai alat pembunuh tidak pernah ditemukan di tkp dan kalau di lihat dari foto-foto ini semua pembunuhan dilakukan dengan alat yang sama, atau mungkin tali dengan diameter yang sama. Seperti tali tambang anyaman dengan diameter kecil, bukan jenis yang umum ditemukan pada penggunaan sehari-hari. Yah, mungkin ini juga yang membuatnya semakin sulit dilacak.
Dan lagi apa motif si pelaku melakukan semua ini? Dilihat dari cara membunuhnya, si pelaku jelas tidak memilih cara yang mudah untuk menghabisi korbannya. Dengan menjerat korbannya dia jelas menempatkan dirinya di posisi siap bertarung dan bergulat dengan si korban. Adu kekuatan? Asserting dominance? Apa si pelaku sedang berusaha menunjukan kekuatannya pada si korban dengan cara pembunuhannya? Dan apa pun yang korbannya lakukan untuk melawan dia selalu berhasil menaklukannya. Apa si pelaku juga menguasai beladiri atau teknik membunuh lainnya? Apa yang si pelaku dapatkan dari pembunuhan ini?
Apa yang dia dapat dari membunuh 3 orang laki-laki seumuranku. Karena korbannya laki-laki dan si pelaku juga kemungkinan laki-laki, apa mungkin ini soal asserting dominance? Seperti dalam perguruan beladiri tertentu yang mengharuskan siswanya saling bertarung satu sama lain? Apa perguruan semacam itu benar-benar ada? Aku harus mencari tahu lebih lanjut tentang para korban ini, Aku butuh data lengkap mereka.
…
Aku tahu Senin besok akan ada tes di kelasku. Tes yang.. kalau tidak salah fisika? Ya sudahlah, apa pun itu aku tak sempat belajar dan tak ada niat untuk belajar setelah ini. Penyelidikan ini sungguh menyita perhatianku, juga sebagian besar ruang dalam kepalaku saat ini. Rasanya peristiwa semacam ini terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja – melakukan apa yang seharusnya pelajar lakukan jika meminjam perkataan Weena.
Aku tak menemukan petunjuk yang berarti dari penyelidikan hari ini, aku hanya duduk di depan komputer seharian ini. Tapi rasanya aku bisa lebih mengerti walau masih terasa samar-samar. Pertama, wanita misterius itu jelas tak mungkin jadi pelakunya, secara fisik dia tidak terlihat bisa melakukan semua yang kupikirkan sebagai cara si pelaku membunuh korbannya, tapi itu bisa lainnya cerita kalau ternyata dia memang terlatih dengan teknik tertentu untuk membunuh korbannya dengan jerat tali. Tapi untuk sekarang kemungkinan seperti itu bisa kusingkirkan.
Dengan begitu mungkin bisa diartikan kalau penyelidikanku menemui jalan buntu terhadap wanita itu. Tidak, aku merasa masih harus menyelidikinya. Aku rasa wanita itu tetap ada kaitannya dengan kasus ini.
Dengan kesimpulan itu kurasa aku bisa menutup penyelidikan hari ini. Penyelidikan yang tidak mengharuskanku pergi kemana pun, hanya duduk di depan komputerku memandangi beberapa slide foto mayat. Aku benar-benar salut pada diriku sendiri, good job, Juno.
“…jadi begitulah, aku perlu data 3 orang ini, mereka sekolah di 3 sekolah yang berbeda jadi aku ga berharap kamu bisa kumpulin itu semua dalam waktu dekat..”
Dan pesan itu kukirim pada Alice.
Dari aplikasi chat-ku aku tahu ada beberapa pesan dari Weena yang belum kubalas sejak siang tadi. Kukatakan aku sibuk dan baru bisa mengeceknya sekarang. Dia kembali mengingatkan perihal tes fisika besok, dan kujawab aku baik-baik saja terima kasih sudah diingatkan. Mungkin ada baiknya aku membaca kembali catatan fisikaku beberapa menit sebelum tidur malam ini. Ya, tak ada rugi. Hitung-hitung refreshing setelah seharian bergelut dengan foto mayat.
Dan gelang sialan ini. Terasa gatal karena keringat dan lembab seharian ini terpasang di tanganku.
…