BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust

BROKEN BUTTERFLY; Beyond The Night That Differs Love And Lust
BAB 12. A WOMAN IN SUIT



“CEPAT BANGUN PEMALAS!! LIHAT SUDAH JAM BERAPA SEKARANG!!!”


Samar-samar kudengar suara itu dalam mimpiku. Ah, jam alarm sialan itu. Aku cukup sadar untuk mengetahui kalau sekarang adalah hari Minggu, biarkan aku tidur sebentar lagi!



Tentu saja alarm sialan itu tak membiarkanku tidur lebih lama, bahkan untuk sepuluh menit lagi. Suaranya sudah terlalu mengganggu, dan kalau pun aku bisa kembali tidur tanpa mematikan alarm itu, aku yakin selanjunya aku pasti akan bermimpi buruk. Aku tak bisa tidur nyenyak dengan suara mengerikan itu di sekitarku.


Saat mengumpulkan pakaian untuk dicuci aku sadar gelang ini masih menempel di lenganku. Aku lupa meminta Alice melepasnya kemarin. Bagus sekali, Juno. Tapi mungkin ini pun bisa kuabaikan. Ada hal yang lebih penting yang harus kupusingkan dari pada gelang sialan ini. Argh! Aku bangun dengan mood yang jelek sekali.


Cucian sudah kumasukan ke mesin cuci, dari suaranya masih butuh waktu setengah jam lagi sebelum selesai dan bisa kujemur. Hari ini cerah, ya, seminggu ini memang tidak turun hujan. Aku semakin percaya kalau di negeri ini cuma ada satu musim – pancaroba. Kalau cucianku kujemur di cuaca seperti ini, sebelum sore pasti sudah kering. Aku tak perlu repot dengan masalah pakaian belum kering minggu selanjutnya. Dan kenapa aku harus repot dengan masalah pakaian belum kering saat aku punya masalah yang harus kupecahkan disini!? Baiklah Juno, fokus!


Christian Adrew, siswa Vandour 13 kelas 3. Sempat pindah sekolah dari Vandour 8 di kelas 2, alasannya karena masalah keluarga. Nampaknya dulu dia seorang siswa berada, tapi sejak perceraian orang tuanya dan karena keinginan egois dari pihak ibu dia terpaksa pindah ke sekolah yang lebih terjangkau secara ekonomi. Walau memiliki latar belakang keluarga yang berantakan dia tetap bisa mempertahankan prestasi belajarnya. Bahkan dia yang tidak pernah masuk peringkat atas di sekolah asalnya bisa mendapat peringkat teratas di sekolah barunya. Catatan guru-guru dan wali kelasnya mengatakan dia siswa baik tanpa ada satu pun catatan kenakalan, hanya saja cenderung menutup diri dan sulit berteman.


Hooo… tipe yang melampiaskan semua kekesalannya pada pelajaran dan nilai akademik ya. Wajar kalau yang seperti ini tak punya teman.


Semua laporan penyelidikan Alice sudah ku-print dan sekarang bisa dengan leluasa kubawa kemana pun. Walau begitu jumlahnya sangat banyak dan berakhir menjadi lembaran yang tebalnya hampir setengah dari buku persiapan ujian nasional. Sampai sekarang aku masih belum percaya Alice bisa mengumpulkan semua ini dalam waktu kurang dari seminggu, bahkan catatan latar belakang serta keseharian ini terkesan sangat akurat. Harus kuakui dia memang hebat walau penampilan dan kelakuannya seperti itu.


Eddie Lim, rasanya aku tahu soal orang satu ini. Dia pernah menjadi perwakilan olimpiade matematika regional Vandour. Kalau tidak salah aku pernah bertemu dengannya sekali disana. Yah, pengalaman yang tidak menyenangkan. Orang dingin bermuka tembok yang tak menunjukan emosinya bahkan walau sudah menyisihkan Weena di babak awal. Sisa hari itu yang kuingat hanya berusaha menyemangatinya yang terpuruk setelah gagal mewakili sekolah kami. Dan dia terus mencubiti lenganku sambil merengek “Kenapa gak kamu aja sih yang kepilih~?” Yah, pengalaman yang tidak menyenangkan.


Salah satu siswa unggulan dari Vandour 49, itu kalau tidak salah sekolah paling ketat di kota ini. Banyak lulusan dari sekolah itu yang berakhir meneruskan pendidikan militer atau kepolisian. Sekarang rasanya aku bisa mengerti sikap dinginnya waktu itu. Tidak punya cacat secara akademis dan catatan kesiswaan menyatakan sangat baik. Hanya saja sempat diketahui memelihara kucing liar di kamar asramanya, walau melanggar peraturan, karena catatan baiknya selama ini hal tersebut tidak menjadi cacat dalam catatan akademisnya. Malahan ditulis sebagai “penyayang binatang.”


Si muka tembok itu ternyata punya sisi imut ya.


Membaca catatan ini membuatku semakin menyayangkan peristiwa ini. Mereka semua orang-orang baik dengan masalah pribadinya masing-masing. Rasanya aku semakin tak bisa terima dengan semua ini, mereka tak seharusnya berakhir seperti ini. Mereka tetaplah manusia dengan semua permasalahannya, tak seharusnya berakhir mati sebagai korban pembunuhan berantai. Kalimat itu terus kuulang sambil menatap kosong ke lembaran kertas itu. Aku tak ingin meneruskannya lagi, ini terlalu berat bagiku.


Kupikir kembali berbaring di tempat tidurku setelah membereskan semua pekerjaan rumahku bisa membuatku kembali tertidur. Wajahku tertutup kertas-kertas itu, aku terlalu malas untuk merapihkannya dan hanya mengandalkan clip untuk menjaganya agar tidak berantakan. Kuharap aku bisa tidur dalam keadaan seperti ini.


Tapi tentu saja hal itu tidak terjadi. Perutku meraung minta diisi. Matahari sudah tinggi dan kuingat perut ini hanya diisi beberapa lembar roti dan secangkir kopi sejak pagi. Mungkin jalan-jalan keluar sambil mencari makan di warung dekat sini bisa membantuku berpikir. Dengan hanya mengenakan celana pendek dan beberapa lembar uang juga smartphone disakunya aku meninggalkan rumahku.


Tak jauh dari rumahku ada sebuah warung mie, aku hampir selalu makan disini jika hari libur seperti ini. Dan karena memang sudah lama menjadi langganan disini aku tak bisa berkomentar banyak tentang makanan yang ditawarkannya selain dengan kata terbiasa. Yah, aku sudah terbiasa dengan makanan di warung ini.


Lembaran tertempel klip itu masih kubawa, terpikir aku bisa membuangnya kapan pun aku puas membacanya. Sambil mengantri pesanan aku juga bisa sedikit membacanya. Masih ada profil yang belum kubaca semenjak meninggalkan rumahku, walau begitu aku masih sempat membaca beberapa halaman di perjalanan, beberapa halaman lagi saat menunggu pesanan. Dan sekarang beberapa halaman lagi ditemani mie ayam dihadapanku. Ada beberapa tetes kuah mie menodai lembaran kertas itu, tepat di halaman yang membahas seorang siswa bernama Mario Tanoe. Orang satu ini memiliki catatan sejarah yang cukup rumit, aku menghabiskan agak lebih banyak waktu membacanya. Walau begitu aku bisa bilang kalau orang ini pun menarik, sayang hidupnya harus berakhir tragis.


Sempat terpikir untuk langsung pulang setelah selesai dengan urusan mengisi perut, tapi sepertinya aku perlu ke minimarket untuk membeli bahan makanan. Sekarang mungkin perutku kenyang, tapi beberapa jam kemudian dia akan kembali menuntut untuk diisi. Ya, selalu berpikir  beberapa langkah ke depan.


Bahkan dengan belanjaan di tangan kiriku, tangan kananku masih menggenggam lembaran kertas itu. Sepanjang jalan bahkan selama mengantri di depan kasir aku membaca tanpa mempedulikan sekelilingku. Makanan yang kubeli pun kuambil asal-asalan, hanya beberapa produk mie yang sudah sangat biasa kukonsumsi.


Selanjutnya aku akhirnya berhasil membaca habis lembaran-lembaran kertas itu.



Matahari terasa terang sekali kulihat dari celah dedaunan. Keresek belanjaan kuletakan tak jauh dari tempatku duduk, lembaran-lembaran kertas yang digulung mencuat dari dalamnya. Walau siang itu terik, aku sama sekali tak tertarik untuk kembali ke kamarku yang ber-AC. Aku perlu menjernihkan kepalaku. Rindang dedaunan dari tumbuhan menjalar itu teduh, memberiku tempat untuk bernaung di taman itu.


Entah berapa lama aku duduk disini. Mungkin cukup lama, tapi matahari nampak tak beranjak sedikit pun dari tempatnya sejak aku datang ke tempat ini, jadi mungkin hanya sekitar beberapa menit. Kepalaku rasanya benar-benar penuh, sampai rasanya tak tahu lagi harus memikirkan apa. Sejak awal, apa pula yang kulakukan di taman ini?


Taman ini sepi, tak ada seorang pun yang datang kesini tengah hari bolong seperti ini. Cuacanya terlalu terik untuk membiarkan siapa pun meninggalkan rumah. Tapi disinilah aku, menatap kosong ke langit yang nyaris tanpa awan.


Seseorang mengambil tempat di samping kiriku, kursi yang memang kosong sedari tadi.


Aku sama sekali tak mempedulikan keberadaannya, orang itu pun nampaknya sepakat denganku. Dia hanya duduk disana, di tempat yang memang teduh itu. kuperhatikan dengan sudut mataku dia seorang wanita, mengenakan celana panjang dan jas hitam berkancing dua, di dalamnya dia kenakan kemeja putih tanpa dasi. Sling bag-nya diletakan di pangkuannya, dari sana dia keluarkan sebuah buku. Buku bercover hitam dengan gambar kucing hitam bermata satu. “Black Cat” karya Edgar Alan Poe!?


Serasa ada desiran angin dingin membelai tulang punggungku yang menjadikannya tegak siaga. Wanita ini! Kulihat lekat-lekat wajahnya yang sedang asyik dengan bukunya. Iya, ternyata memang dia.


“Manusia itu, lucu..” dia berkata setengah bergumam, walau begitu aku bisa mendengarnya cukup jelas seolah percakapan itu memang hanya ditujukan untuk kami berdua. “…mereka mengakui konsep bernama cinta, konsep yang membenarkan manusia untuk memberi tanpa menuntut untuk diberi. Konsep yang selalu mereka agung-agungkan, yang akhirnya malah menjatuhkan nilai diri mereka sendiri.”


“Maksudnya…?”


“Ah, ini buku yang sedang kubaca. Disini diceritakan seorang pria sangat mencintai kucingnya dan akhirnya malah membunuhnya dengan keji. Lucu bukan?”


“Lucu?”


kurasa pemilihan kata wanita ini kurang tepat untuk menggambarkan kejadian yang baru saja dia ceritakan.


“Kalau cinta kenapa dibunuh? Bukannya itu lucu? Konsep bernama cinta yang mereka agungkan malah membuat mereka jatuh menjadi pembunuh.”


“Saya gak begitu ngerti soal cinta..”


“Aku malah tak mengerti soal manusia.”


Wanita itu sama sekali tak melihatku selama percakapan, hanya fokus pada bukunya tanpa ekspresi.


Dan dia terus membaca meninggalkan hening di percakapan itu. Saat ini ada jutaan pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya, aku bahkan sempat bolos demi membuntuti wanita yang ada di sampingku ini. Tapi sekarang, di tempat ini seolah dia yang berhasil menangkapku yang sedang tidak siap. Aku bahkan tak sempat mencerna apa dan bagaimana moment ini bisa terjadi, yang aku yakin pasti bukan suatu kebetulan.


Dia membaca buku kecil agak tebal itu dengan tangan kanan memegang sekaligus menahannya sementara tangan kirinya menggengam tas di pangkuannya. Posturnya sangat elegan, postur yang menurutku sangat cocok untuk menjadi model majalah fashion. Dan wajah itu, aku hanya bisa memandangi wajah tanpa ekspresi itu berusaha menemukan petunjuk apa-apa pun yang bisa menjelaskan siapa sebenarnya orang ini.


“Hei bocah!”


Bo-bocah? Baru pertama kali seseorang memanggilku seperti ini.


“Apa kau tertarik padaku?”


Pertanyaan macam apa itu? Bagaimana aku harus merespon pertanyaan semacam itu?


“Eh, ah..”


“Kalau begitu bisa tolong tidak memandangiku seperti itu? Orang tuamu tidak pernah mengajarimu sopan santun ya?”


Orang ini menyebalkan. Sejak dia menyinggung soal orang tuaku, saat itulah aku mulai membencinya. Walau begitu ekspresinya tetap dingin seolah tak terjadi apa pun.


Suasana menjadi kaku di bangku itu. Tak ada siapa pun selain kami disini, aku tak tahu bagaimana harus memulai percakapan dengan wanita ini. Dalam kepalaku aku masih memproses keadaan yang sedang terjadi, dimana wanita yang berusaha kubuntuti sekarang ada tepat disampingku. Ya, aku hanya perlu menanyakan pertanyaan yang tepat. Dari situ akan kugali sebanyak mungkin informasi dari wanita ini.


“Namamu Juno Welkin ‘kan?”


Dia tahu namaku!?


“Ini buku yang menarik, aku sangat merekomendasikannya. Kau bisa ambil buku ini di perpustakaan besok, rasanya malam ini aku bisa menyelesaikannya.”


Dia mengatakannya sambil menunjukan kartu perpustakaan di buku itu.