
"iya iya bianca tau anak kurang ajar tau bahkan papa gak perlu ucapin itu berkali kali.bianca udah denger,dan bianca sadar akan hal itu.bianca cuma bisa minta maaf bahkan untuk berlutut didepan kalian bianca juga mau karena disetiap nafas yang bianca hembuskan, bianca selalu merasa bersalah sama kalian."ucap bianca tersedu sedu dan mulai membungkukkan badan memohon dibawah kaki papa dan mamanya.
bukanya membangunkan bianca,papanya malah menendang kepala bianca hingga terbentur cukup keras,akibat benturan itu bianca merasa pusing,ia mencoba untuk meraba kepalanya yang ternyata mengeluarkan darah.ternyata hidungnya juga ikut mengeluarkan darah,hal hal inilah yang bianca benci.
"Gak seharusnya kamu berlutut dihadapan papa!siapa bilang dengan berlutut kamu bisa dimaafkan?siapa bilang?"bentak papanya yang tak sadar akan keadaan bianca yang sekarang.
tak ingin terlalu lama berdebat dengan kedua orang tuanya karena jika terus berlangsung hanya akan menambah dosa.
"Oke bianca bangun yang jelas bianca minta hikss maaf sama mama papa,karena belum bisa banggain kalian"ucap bianca tersedat sedat karena tangisannya.dan pandangannya pun mulai mengabur.
"BIANCA!Kamu kenapa?Itu darah banyak banget,sini mama obatin"marah mama bianca yang melihat anaknya berdarah dengan mata yang berkaca kaca sementara suaminya hanya melihat nanar kepada bianca.
"ohh jadi bianca harus sakit dulu sampai parah biar mama peduli gitu?kalo gitu bianca lebih baik sakit ya?gak usah mama obatin luka bianca ini karena tangan mama terlalu berharga kalo hanya sekedar obatin luka bianca"ucap bianca dan meninggalkan kedua orangtuanya.ia berniat untuk ke rumah dr.fahri dan menobati kepalanya
"BIANCA MAU KEMANA KAMU"teriak mamanya tanpa ada niatan mengejar
"eh non kenapa banyak darah itu teh ihh jadi takut"ucap pak aji ketakutan
"gak kok pak jatoh tadi"
"mau kemana ini?kok pergi?"tanya pak aji
"mau jalan jalan pamit pak"ucap bianca diiringi senyum palsunya
bianca berjalan melewati beberapa rumah,dengan sekuat tenaganya ia terus berjalan walaupun pandangannya mulai mengabur dan kepalanya seperti tertekan.ia berusaha menuju rumah fahmi sambil menangis.
"Om,bukain pintunya dong ini bianca"
bianca mengetuk pintu fahmi dengan sisa tenaganya.
"Yaampun bia?kamu kenapa hah?bisa sampe kaya gini?sini masuk dulu"panik fahmi yang menuntun bianca masuk dan berlari mengambil kotak p3k
"duhh kamu kenapa sihh?apa yang sedang terjadi hah?sampe sampe kepala kamu luka gini?untung lukanya kecil,kalo besar sampe dijahit nih,kebentur apa?meja ya?"tanya fahmi bertubi tubi
"iya kebentur meja,sakit banget ini,kepala bianca pusing banget,"keluh bianca
"gak kok gak papa,kebetulan aja kaya gini"alibi bianca
"gak papa gak papa gimana?mana kepalanya udah kebentur,mimisan,pusing,habis kemo,lengkap sudah penderitaan itu,kamu kenapa sih?"tanya fahmi serius
"dibilang gak apa apa kok,ini gak sengaja bianca jatoh trus terbentur deh kena meja"jelas bianca bohong
"yaudah kalo emang gitu kenyataannya om terima aja"senyum fahmi merekah,tapi hatinya penasaran sebenarnya apa yang terjadi.
"nahh dahh selesai nih?mau dianterin pulang gak?"tawar fahmi yang baru menyelesaikan pekerjaannya
"gak usah bianca bisa sendiri.lagian gak jauh kok"tolak bianca
"bener nih?kan kalo dianterin sekalian konsul sama mama papa kamu"tanya fahmi curiga
"ehh jangan gak usah om gak usah bianca bisa sendiri kan bianca hebat"bangga bianca
"ohh jadi bener ada masalah sama mama papa?is right?"tanya fahmi memastikan
"yahh gabisa boong inimah udahlah iya ada masalah"jawab bianca jujur
"masalah apa baby?cerita dong apa sebabnya sampe kamu kaya gini?"pinta fahmi lembut
Bianca mulai menjelaskan kejadian tadi secara detail,tapi hal itu membuat bianca kembali menangis,karena sedih mengingat kejadian tadi.ia tak kuasa menahan air matanya.
"cup cup cupp udah jangan nangis lagi adikku tersayangg.yang tabah yaa,sabar jalani semua ini dengan ikhlas,pasti ada balasan.kamu cukup terima ini karena bagaimanapun mereka orangtua kamu"ceramah fahmi dengan nada lembut dan membelai rambut Bianca pelan membuat bianca nyaman.
"yaudah bianca pulang dulu udah malam nih"
"dadahh om ku terganteng"pamit bianca
bianca kini sudah berada di depan rumahnya tanpa ragu ia langsung memasuki,berharap ada kedua orangtuanya yang sedang menunggu kabar bianca khawatir.tapi ternyata mereka tak ada. dan itu semata mata hanya harapan bianca.ia menerima hal ini karena ia rasa kedua orangtuanya pun butuh istirahat,jadi tak bisa memaksa mereka untuk terus peduli kepada anaknya ini yang katanya kurang ajar.
malam itu di ruangan yang gelap gulita bianca menghabiskan waktunya dengan menangis memandang langit langit kamar meratapi nasibnya.ia lelah akan segalannya belum lagi kini efek samping dari kemoterapi mulai bekerja ditubuh bianca.