Be Your Secret Wife

Be Your Secret Wife
Keputusan Celina



"Celina !!!" seru Andares dari arah pintu.


Andares menatap Celina dengan tatapan tajam dan mengintimidasi. Sementara investor yang bersama mereka pun hanya terdiam melihat adegan yang membuatnya sedikit canggung. Sungguh diluar dugaan. Dan jangan lupakan Aksa yang dari tadi hanya diam terpaku.


"Pak Andares, sejak kapan Bapak disini?" tanya Celina kaget.


"Apa-apaan kau ini, berantem seperti anak kecil. Kau lupa ini masih di kantor?" Andares meneriaki Celina di depan semua orang yang ada di ruangan itu.


"Maaf Pak, tapi mereka.." suara Celina tercekat karena Andares mengisyaratkan Celina untuk diam.


"Cukup! Saya tidak mau mendengar apapun lagi, saya sudah melihatnya sendiri. Saya kecewa dengan kau, Nona Celina" ujar Andares dan bergegas meninggalkan lobby bersama investor tersebut.


Ketiga karyawan perempuan yang beradu mulut dengan Celina pun sudah melarikan diri entah kapan dan kemana. Hanya tersisa Celina dan Aksa yang masih berdiri di dekat pintu masuk.


Celina menangis. Ada apa dengannya hari ini, sungguh membuat Celina tidak habis pikir. Apakah dia yang salah? Apa dia pantas diperlakukan seperti ini? Pikiran itu terus berulang menghantui kepalanya. Bahkan bosnya pun ikutan menghakiminya tanpa tahu sebabnya. Bos yang ia turuti seluruh perintahnya.


Tanpa disadari oleh Celina, Aksa sudah berdiri di sampingnya. Mencoba mendekati Celina namun justru ditinggalkan oleh Celina. Ia tak mau melihat Aksa untuk saat ini, terlebih setelah pacarnya melakukan hal itu kepadanya dan dia hanya diam saja. Aksa pun hanya menutup wajahnya dengan kedua tangannya seraya berteriak keras. Frustasi mode on.


***


Di ruangannya, Andares menunggu Celina setelah memanggilnya lewat ponsel. Beruntung urusannya dengan investor itu bisa diselesaikan dengan baik tanpa terpengaruh oleh insiden yang terjadi di lobby sebelumnya.


Dan beberapa menit kemudian terdengar suara pintu yang diketuk. Celina pun masuk setelah mendapat ijin dari si empunya ruangan.


"Silakan duduk!"


Celina menurut tanpa berkata apapun. Ia duduk tanpa berani menatap mata Andares. Celina sudah membayangkan hal terburuk yang akan terjadi, ia akan diusir dari kantor ini.


"Celina, ada apa dengan kinerja kamu saat ini? Kemarin saya dengar kamu bermasalah dengan investor, dan saya masih memberimu kesempatan untuk menunjukkan kinerja kamu dengan menemui investor sendirian. Tapi barusan apa?" Andares mencecar Celina dengan pertanyaan beruntun.


"Pak, bolehkah saya berbicara sekarang?" tanya Celina, karena sedari tadi dia tidak diberi kesempatan untuk membela diri.


"Saya tidak melakukan hal buruk apapun dengan investor. Dan soal yang di lobby, saya memang salah, bertengkar di kantor. Tapi saya tidak menyesal, karena mereka pantas menerima itu" jawab Celina.


Andares tidak berkata apapun setelah Celina membela diri. Dia lantas mengeluarkan sebuah amplop cokelat dengan logo perusahaan di atasnya. Celina tahu itu amplop resmi, berarti di dalamnya ada sesuatu yang penting, entah apapun itu.


Andares menyodorkan amplop cokelat itu ke arah Celina. Dan ketika Celina membuka dan melihat isi amplop tersebut, Celina nampak lemas. Amplop yang semula dia pegang, kini sudah tergeletak di meja.


"Bapak mengusir saya?" tanya Celina lesu.


"Apa maksud kamu 'mengusir'? Bukannya itu yang tertulis di resume kamu?" jawab Andares santai.


"Tapi tidak dengan cara seperti ini, Pak. Ini sama seperti saya sengaja diusir dari sini" Celina berkilah.


"Jadi kamu menolaknya?"


Celina terdiam, dia bingung harus bagaimana. Tiba-tiba saja dia harus pindah ke Seoul, Korea. Senang? Harusnya, tapi nyatanya Celina justru merasakan sebuah ketidakadilan saat itu.


"Kamu pindah ke Seoul dan saya akan melupakan semuanya. Atau kamu mau menerima tawaran saya yang kemarin?" tanya Andares.


Celina masih membisu. Ia tak tahu pilihan apa yang harus dia ambil. Memang benar bekerja di Seoul adalah salah satu impiannya. Dia berharap bisa mendapatkan kesempatan itu meski hanya sekali dalam hidupnya. Tapi pilihan ini sama sekali tidak ada dalam bayangan Celina. Sebab di dalam surat yang diberikan Andares, tertulis bahwa Celina harus bekerja di kantor Seoul sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Itu berarti hanya ada dua kemungkinan, dia tidak bisa kembali dalam waktu lama, atau dia hanya diungsikan sebentar lalu akan dipulangkan. Sangat tidak menjanjikan.


Di sisi lain, pilihan lainnya adalah menikah dengan Andares. Pilihan ini sama buruknya dengan pilihan pertama. Bagaimana bisa dia menikah dengan orang yang tak ia kenal, tanpa perasaan apapun, dan hanya akan disembunyikan oleh suaminya kelak.


Di tengah kebuntuannya berpikir, tiba-tiba ponsel Celina berbunyi. Ia langsung mengangkat panggilan yang tak lain berasal dari Melani kakaknya.


Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh kakaknya, tangan Celina terjatuh lemas hingga ponselnya juga terjatuh. Wajahnya mendadak pucat. Napasnya mulai tak beraturan.


Melihat Celina dengan wajah seperti itu, Andares mulai khawatir. Ia bertanya pada gadis itu apakah dia baik-baik saja. Namun Celina tak menjawabnya. Ia hanya terdiam dan tertunduk dengan menjatuhkan butir-butir air bening dari matanya.


Beberapa saat setelahnya, akhirnya dia mendongak dan mengatakan keputusannya.


"Baik pak, saya terima tawaran ini, saya bersedia menikah dengan Bapak."


***


"Sialan banget si Celina, kenapa dia nyebut-nyebut nama Aksa" gerutu Ellen di toilet.


"Jadi bener, lo pacaran sama Aksa? Temennya si Celina sialan itu?" tanya Stefani.


"Iya" jawab Ellen pendek.


"Lo gila Len? Ngapain lo pacaran sama Aksa" sahut Denisa, salah satu anggota geng yang lain.


"Diem lo semua! Ini urusan gue" gertak Ellen sambil beranjak meninggalkan mereka berdua di toilet.


Baru saja Ellen keluar dari pintu toilet, Aksa sudah menghadang dan menarik tangannya. Ellen terkejut tapi membiarkan Aksa terus menariknya entah kemana.


"Aw, sakit Aksa!" keluh Ellen, tangannya memerah karena cengkraman tangan Aksa yang besar.


"Mau kamu apa sih, Len? Huh? Kenapa kamu ngelakuin hal bodoh kayak gitu di kantor?" kata Aksa geram.


Plakk


Aksa menampar Ellen dengan sangat keras, bahkan Denisa dan Stefani yang masih ada di dalam toilet pun sampai keluar karena mendengar suara tamparan itu.


"AKSA!!!" Ellen berteriak sekencang yang dia bisa. Ia sudah bukan lagi terkejut tapi marah. Bagaimana tidak, seorang gadis yang seperti putri seperti Ellen, ditampar oleh laki-laki, terlebih laki-laki itu adalah pacarnya sendiri. Antara marah dan merasa dipermalukan.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu tampar aku?” teriak Ellen lagi.


"Karena kamu sudah keterlaluan. Aku menjadi pacarmu bukan untuk seperti ini" jawab Aksa tegas.


"Kamu ngebelain si sialan Celina? Kamu suka sama dia?" cecar Ellen kesal karena pacarnya justru membela Celina.


"Ini bukan soal suka atau tidak. Kamu yang sudah keterlaluan mengatakan Celina jual diri dan pelacur. Kamu sadar gak?"


"Kalau kamu seperti ini terus, aku akan berpikir ulang soal rencana pertunangan kita" pungkas Aksa dan meninggalkan Ellen yang masih memegang pipinya yang 'disentuh' Aksa.


"Liat aja lo, Cel! Gue akan buat perhitungan sama lo" batin Ellen


***


"Apaa?? Korea?"


Farah terkejut mendengar sahabatnya mengatakan hal konyol itu.


"Kenapa tiba-tiba kamu disuruh pindah ke Seoul, Cel? Kalau ini hukuman, harusnya mereka bertiga yang nerima hukumannya" kata Farah.


"Nggak tahu, Far. Harusnya aku seneng ya, tapi entah kenapa aku justru sedih. Katanya, aku beruntung tidak dipecat, aku beruntung bisa ke Korea tanpa harus capek nabung” kata Celina. Masih ada kesedihan dalam intonasi suaranya.


"Huh, terus kapan berangkatnya?" tanya Farah.


"Lusa" jawabnya singkat.


"Gila, pengusirannya langsung kilat" gumam Farah lirih.


Celina terpaksa berbohong pada sahabatnya. Andares memintanya mengatakan pada semua orang di kantor bahwa dia dipindahkan ke Seoul. Ia juga tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya akan menikahi bosnya sendiri tanpa alasan yang jelas.


Setelah merampungkan pembicaraannya dengan Farah, Celina berdiam diri di sebuah lounge yang ada di atap gedung. Ia merenungi nasibnya.


Celina terpaksa menerima tawaran pernikahan itu, karena hidup sang kakak tengah dalam bahaya. Panggilan yang ia terima sebelumnya, adalah panggilan dari seseorang di rumah sakit yang memberitahunya bahwa Melani telah mengalami kecelakaan, dan ia harus segera dioperasi.


Masalahnya, operasi besar yang harus dilakukan kakaknya, membutuhkan biaya yang tak sedikit. Ia harus mencari uang sebesar delapan ratus juta untuk semua biaya operasi, rumah sakit, dan biaya ganti rugi pada orang yang bertabrakan dengan kakaknya.


Celina menangis sejadi-jadinya di tempat itu. Ia merutuki nasibnya yang dirasa tak pernah mendapat kebahagiaan dalam hidupnya.


Ada jeda beberapa menit sampai akhirnya suara pintu atap terbuka dan membuyarkan keheningan di sekitar Celina. Aksa sudah berdiri di depan pintu dan langsung bergerak mendekati Celina. Sementara Celina hanya menghela nafasnya panjang.


"Cel, aku mau ngomong."


Celina hanya berusaha mengabaikan ucapan Aksa dengan bergerak menghindari Aksa.


"Cel!”


Celina masih mengabaikannya tanpa menjawab sepatah kata pun.


"CELINA!!" teriak Aksa.


Kali ini Celina menghentikan pergerakannya dan berbalik menatap Aksa.


"Sudah lama ya. Sejak kita ngobrol berdua seperti ini. Saat itu aku seneng banget punya sahabat kayak kamu, Sa.." Celina menghentikan ucapannya dan bergerak mundur saat Aksa melangkah mendekatinya.


"Cel, please..dengerin aku dulu" Aksa memandangnya dengan tatapan lembut.


"..sejak saat itu aku mulai bergantung sama kamu. Bahkan saat aku pacaran sama si brengsek Dion, aku masih bergantung sama kamu.." lanjut Celina.


"..tapi sejak kamu pacaran sama Ellen sialan itu, aku udah ngerasa kehilangan kamu, Sa.." suara Celina mendadak tercekat seolah ragu ingin meneruskan kalimat selanjutnya.


"Aku berharap aku tidak pernah ngucapin ini, tapi aku nggak bisa terus kayak gini.”


Kini Celina mendekat ke arah Aksa berdiri, tidak terlalu dekat tapi cukup untuk membuat Aksa bisa melihat raut wajah Celina yang mulai menangis.


"Kita berhenti saja, Sa" ucap Celina.


“Apa maksudmu?” tanya Aksa.


“Kita hentikan saja pertemanan kita ini!” pungkas Celina.


“..aku akan pergi ke Korea.”