Be Your Secret Wife

Be Your Secret Wife
Bad Day



Celina tak bisa berkata-kata lagi. Ia bingung harus bagaimana menyikapi ucapan orang yang tengah berdiri di depannya. Ia pun memberanikan diri memastikan siapa sebenarnya orang tersebut.


“Maaf, apa Anda Andreas?” tanya Celina takut.


Sosok itu melepaskan cengkeraman tangannya di bahu Celina. Ia mengangguk tanpa mengeluarkan satu kata pun.


“Kau harus menjauh dari Andares! Dia hanya akan memanfaatkanmu!” kata Andreas.


“Apa maksudnya itu? Kenapa dia mau memanfaatkanku?”


Sosok bernama Andreas itu tidak menjawab. Tiba-tiba saja dia melangkah pergi meninggalkan Celina sendirian di ruangan asing itu.


“Dasar gila! Kenapa hal kayak gini terjadi sama gue?” gerutu Celina kesal.


Ia memutuskan untuk turun kembali menuju ruangannya. Sepanjang jalan hingga sampai di ruangannya, Celina kembali memikirkan ulah Dion yang sengaja membuat rumor tak masuk akal itu. Ia berpikir keras tentang sikapnya di masa lalu, apakah ia pernah menyakiti hati Dion sehingga dia bisa melakukan hal seperti ini. Namun yang ia ingat hanyalah kelakuan Dion yang berkali-kali selingkuh darinya, tapi selalu mendapat maaf dari Celina.


***


Beberapa bulan yang lalu


Celina merasakan hidupnya sedikit berwarna setelah berpacaran dengan Dion, meski harus sembunyi-sembunyi alias backstreet karena aturan kantor yang melarang pacaran di antara karyawan. Celina adalah tipikal pacar yang posesif tapi kadang itulah yang Celina suka.


Suatu hari saat Celina ingin mengajak Dion jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, dia mendapati ponselnya berdenting menandakan ada pesan yang masuk.


Bi, aku mau pergi ke acara ulang tahun temen, ke mall nya ditunda dulu atau kamu pergi sendiri ya.


Celina mendengus kesal, lagi-lagi dia gagal mengajak pacarnya itu nge-date. Dalam hati Celina, ia sempat mencurigai pacarnya selingkuh dengan wanita lain. Hal ini karena perubahan sikap Dion selama ini yang semakin sulit dihubungi dan menghindar tiap diajak kencan.


Kesal dengan pacarnya, Celina pun memutuskan berangkat sendiri ke mall untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan sekedar cuci mata. Namun begitu sampai di luar rumah, ia mendapati Farah turun dari mobilnya sambil melambaikan tangannya ke arah Celina.


"Mau kemana Cel? Aku baru aja dateng loh" seru Farah.


"Mau belanja bulanan, yuk ikut aku aja!" Celina langsung menggaet tangan Farah yang hanya melongo. Pas banget Farah datang, pikir Celina. Setidaknya dia tidak sendirian.


Sesampainya di salah satu mall, Celina langsung menuju market untuk berbelanja kebutuhan bulanannya. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat dia melihat sepasang kekasih yang bermesraan di depan pintu masuk market.


"Huh, dasar gak tau tempat. Mesra-mesraan di sini, nggak punya malu apa gimana sih" cibir Celina. Dia sangat benci orang yang menunjukkan kemesraan yang tidak perlu, apalagi di ruang publik.


Namun ketika ia mendekati pasangan itu dari belakang, ia mengenali suara salah satunya.


"Dion?"


Seketika si laki-laki itu menoleh ke arah suara yang memanggilnya, dia langsung terbelalak melihat Celina berada di depannya. Dan memang benar itu adalah Dion kekasih Celina.


"Ngapain kamu disini, Bi. Party ultah temen kamu ada di sini?" cecar Celina mengabaikan perempuan di samping Dion.


"A-aku..aku emang mau ke party temen, Bi. Tapi mau beli beberapa makanan ringan dulu" dalih Dion.


Celina tersenyum sinis, konyol sekali pacarnya masih bisa berkelit saat sudah tertangkap basah seperti ini.


"Lo siapanya Dion?" Celina berganti mencecar perempuan yang bersama Dion.


"Siapa lagi, gue pacarnya."


Celina kembali tersenyum, tanpa babibu lagi dia menarik tangan Dion ke arahnya tapi malah segera ditepis oleh si perempuan.


"Heh, maksud lo apa narik-narik pacar gue?" teriak si perempuan.


"Bi, sekarang juga lepasin tangan dia, dan ikut sama aku!" Celina memandang Dion yang sudah keringat dingin melihat adegan dua cewek di depannya.


Belum juga Dion menjawab omongan Celina, si perempuan itu mendorong Celina untuk menjauh dari Dion.


Melihat sikap perempuan itu, Celina cukup terkejut dan terdiam. Namun tak lama bagi Celina untuk menyembunyikan keterkejutannya di depan mereka. Celina selalu membayangkan hal-hal seperti ini saat dia mengambil keputusan untuk berpacaran dengan seseorang.


Kemudian Celina melangkah mendekati Dion, mengayunkan tangannya ke udara namun menahannya sejenak, membuat Dion memejamkan matanya. Sungguh pengecut, pikir Celina.


"Kita putus.." bisik Celina lirih di depan wajah Dion yang perlahan membuka matanya.


Dan..


Plakk


Celina pun menampar Dion keras sampai tangannya memerah. Tidak peduli lagi bagaimana ia menjadi tontonan banyak pasang mata pengunjung mall tersebut.


Farah yang sedari tadi hanya terdiam di belakang Celina pun, hanya bisa memeluk sahabatnya yang mulai menangis dan bergegas membawanya pergi.


Lamunan Celina seketika buyar setelah Fero mengetuk pintu ruangannya. Ia lupa bahwa Fero menawari membantunya mencari kontrakan baru. Mereka telah memutuskan untuk menjadi teman.


***


Celina diperintahkan menemui investor sendirian karena Andares ingin menghabiskan waktu seharian untuk berenang. Sungguh absurd sekali.


Padahal investor harus bertemu langsung dengan Andares agar bisa segera memutuskan untuk investasi di perusahaan mereka.


Membayangkan harus melihat wajah para investor nanti, membuat Celina malas untuk sarapan. Ditambah hari itu hari terakhir dia tinggal di asrama kantor. Ia harus segera mencari kontrakan lagi karena kemarin ia belum berhasil mendapatkannya bersama Fero. Namun Celina merasa lega, setidaknya dia tidak harus menghadapi wajah Andares karena dia menyuruhnya lewat telepon. Sejujurnya Celina masih tak nyaman setelah adegan bertemu Andreas kemarin.


Sepanjang perjalanannya naik ke ruangannya, ia hanya memikirkan bagaimana cara mengatakan alasan konyol itu di depan mereka. Apa iya dia harus mengatakan bahwa Andares sibuk berenang.


"Dasar gila, huh!" Celina menggerutu dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tanda frustasi.


"Siapa yang gila?"


Sebuah suara yang dikenal muncul dari belakang Celina. Dan raut wajahnya pun semakin kecut. Bagaimana bisa dia tidak sadar kalau Aksa ada di belakangnya dari tadi. Andares sialan, dia membuat semuanya jadi rumit hingga pikirannya juga ikut kusut.


Celina tak menjawab pertanyaan Aksa. Dia masih kesal dan marah atas perlakuan Aksa padanya tempo hari di rooftop. Meskipun Celina masih bertahan di kantor karena permintaan Fero untuk mengundur proses surat pengunduran dirinya, tetap saja dia membenci sahabatnya itu, setidaknya untuk saat ini. Ya, Celina memutuskan untuk resign daripada dipecat demi menjaga resume-nya.


"Kamu masih marah sama aku?” tanya Aksa.


"Sampai akhir pun kamu tetap gak percaya sama aku kan, Sa? Kamu lebih percaya sama omong kosong yang dikatakan sama pacarmu itu" pungkas Celina seiring bunyi lift yang telah berada di lantai yang dia tuju.


Celina melangkahkan kaki keluar dari lift meninggalkan Aksa yang masih berada di dalam. Dan begitu melihat jam di tangannya, Celina bergegas menuju ke ruangannya. Sejenak dia melupakan tugas yang diberikan Andares padanya.


"Nggak ada yang beres semuanya. Kenapa aku harus ngalamin ini semua, huh" gerutu Celina di ruangannya.


***


Penderitaan Celina belum selesai hari itu. Langit sepertinya tak bersahabat dengannya setiap ada urusan penting. Hujan turun dengan sangat deras disaat dia hendak menuju tempat pertemuannya dengan investor. Beruntungnya investor tersebut justru ingin menemui Celina di kantornya. Syukurlah, batin Celina.


Sambil menunggu, Celina menghubungi Andares untuk melaporkan segala yang berhubungan dengan investor.


"Pak, hari ini saya tinggal menemui satu investor terakhir, tapi sepertinya dari pihak mereka ingin bertemu di kantor. Bisakah Bapak bertemu dengannya secara langsung? Soalnya CEO nya sendiri yang akan ke sini" kata Celina di telepon.


"Apa? Kenapa dia mau datang sendiri? Ish, saya akan kesana. Jangan temui dia sendirian, tunggu saya!"


Perintah Andares membuat Celina bingung. Bosnya itu sangat plin plan. Di awal dia disuruh menemui mereka sendiri, sekarang dilarang menemui mereka sendiri.


"Maunya apa sih tuh orang" gerutu Celina sambil menutup teleponnya.


Sudah hampir jam empat sore. Celina sudah menyiapkan segalanya yang diperlukan untuk meeting. Namun bos dan investor yang ditunggu tidak kunjung datang. Celina pun sudah menunggu di lobi kantor agar tidak repot naik turun.


"Lihat dia, dasar nggak tahu malu, nggak tahu diri.”


Celina menoleh mencari sumber suara dan menemukan ketiga cewek yang mengusilinya kemarin berdiri di belakangya sambil melipat tangan mereka.


"Kalian lagi, kalian lagi. Kalian ini geng anak SMA? Kenapa bergerombol kemana-mana, nggak bisa jalan sendiri?" celetuk Celina.


"Cari mati lo? Lagian ngapain lo masih disini, nggak punya malu? Udah dipecat masih aja nggak tahu diri" balas Ellen.


"Tau tuh, dasar pelacur.." seru Stefani dari belakang Ellen.


Amarah Celina sepertinya sudah mencapai ubun-ubun, namun dia masih bisa menahannya dengan mengepalkan tangan. Dia tidak ingin meladeni ketiga orang sinting ini. Celina hanya tertawa dan mendekat ke arah Ellen berdiri.


"Ellen, Ellen, gue kasihan sama Aksa, harus pacaran sama cewek kayak lo. Sepertinya hidupnya akan menderita"


"Apa barusan lo bilang?" Ellen terkejut mendengar nama pacarnya disebut. Aksa adalah pacar Ellen yang sudah berhasil dia tutupi selama ini. Hanya Celina yang tahu hal ini dan sekarang ditambah kedua teman Ellen yang ikut terkejut mendengarnya.


"Len, lo pacaran? Sama temen dia?" Stefani kaget dan memastikan Ellen tidak salah jawab.


"Diam !!!" teriak Ellen pada Stefani sambil melihat berkeliling takut ada orang lain yang mendengar.


"Celina, mulut lo.."


Plakk


Belum sempat Ellen menyelesaikan perkataannya, Celina sudah mendaratkan kelima jarinya di pipi mulus Ellen.


"Gue diem bukan berarti gue takut sama lo. Kalian nyebut gue pelacur tapi kalian sendiri yang lebih mirip pelacur. Kalau lo gak pengen hubungan lo sama Aksa berakhir, tutup mulut dan pergi dari sini" teriak Celina geram, kini dia sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.


Sementara itu di belakang mereka, ada sosok yang sedari tadi mengamati mereka tanpa disadari.


"Celina!" Suara keras itu membuat Celina menoleh. Dan dia mendapati beberapa orang sudah berkumpul di depan pintu utama.


Ternyata Andares yang memanggil, bersama investor yang dia tunggu, dan bahkan juga Aksa.


Ketiganya berkumpul di hadapan Celina yang hampir pingsan melihat pemandangan itu.