
Celina tiba-tiba terbangun di tengah malam. Tenggorokannya terasa kering dan ia berniat mengambil air minum. Sejenak dia lupa bahwa ia tengah berada di rumah Rio. Meskipun canggung ia tetap nekat ke dapur untuk mengambil air minum. Pikirannya tiba-tiba mengingat pertengkarannya dengan Aksa. Ia juga masih mengingat kejadian buruk yang menimpanya. Dan kepala Celina mendadak menjadi pusing. Ia terhuyung dan hampir jatuh, tapi di saat yang bersamaan Rio menahannya dari belakang.
"Nuna, hati-hati!"
Celina yang kaget Rio tiba-tiba berada di belakangnya, berusaha berdiri dari posisinya yang hampir jatuh.
"Aku minta maaf, aku haus" kata Celina pelan.
"Nuna.." Rio menahan Celina saat ia melangkah meninggalkan dapur.
"Aku sudah melaporkan hal itu ke polisi, tapi mereka minta Nuna tidak pulang dulu, karena mereka masih menyegel rumah Nuna"
"Terus, aku harus tinggal dimana?" ujar Celina lirih.
"Dimana lagi?" jawab Rio tenang.
Celina mengerti arah perkataan Rio, namun dia masih ragu untuk tinggal bersama orang asing. Tapi melihat Rio menolongnya hari ini, hati Celina pun tergerak untuk menurutinya.
"Baiklah, aku akan tinggal di sini.."
"..tapi dengan satu syarat.."
Rio mengernyitkan dahinya, penasaran dengan syarat yang akan diajukan gadis ini.
"Kamu jangan macam-macam" lanjut Celina.
Rio pun hanya tertawa mendengar ucapan Celina. Ia berjalan ke arah Celina yang perlahan melangkah mundur. Lagi-lagi wajah Rio sangat dekat dengan wajah Celina. Ia justru terbayang kejadiannya dengan Aksa di atap. Dan ketika Celina memejamkan matanya secara spontan, Rio pun tersenyum.
"Aku bukan teman priamu yang menyerangmu dengan brutal seperti tadi"
Mendengar hal itu Celina membuka matanya. Ia terkejut, bagaimana Rio bisa tahu akan hal itu. Apakah dia berada di atap dan melihat semuanya. Pikiran Celina berkecamuk.
"Aku tidak akan macam-macam. Aku juga tidak akan menyerangmu seperti temanmu.."
"...tapi ijinkan aku untuk melakukan satu hal ini.."
Celina menatap mata Rio yang berwarna cokelat. Sangat cantik untuk ukuran laki-laki. Bulu matanya juga terbilang cukup bagus.
"Apa?” Celina bertanya pelan.
"Ijinkan aku menyukaimu. Aku rasa aku sudah jatuh cinta padamu, Nuna" ucap Rio sambil tersenyum. Senyumnya sangat manis, pikir Celina.
Sejenak Celina terbuai dengan pemandangan malam hari yang indah di depan matanya. Namun begitu sadar, ia langsung memukul Rio dengan tangannya. Ia lantas meninggalkan dapur tanpa menggubris ucapan Rio yang menurut Celina sangat gila.
Sementara Rio yang gemas melihat tingkah Celina, kembali ke kamarnya dan menelepon seseorang.
"Halo, tolong carikan informasi untukku. Aku akan mengirimkan detailnya" kata Rio.
Sayup-sayup Celina mendengar suara Rio menelepon saat ia kembali ke dapur untuk mengambil air lagi. Tapi ia tidak ambil pusing dengan itu. Celina hanya ingin kembali tidur. Setelah apa yang ia alami seharian ini, membuatnya sangat lelah dan kehilangan tenaga.
Di tempat tidur, Celina masih saja resah. Tubuhnya lelah dan mengantuk, tetapi matanya enggan untuk tertutup. Otaknya juga belum berhenti berpikir. Siapa yang berani menerornya seperti itu. Dengan tujuan apa. Bagaimana caranya masuk ke apartemennya yang jelas-jelas terkunci. Apakah orang itu mengenalnya. Apakah dia memiliki aksesnya. Apa itu berarti orang dekatnya lah yang melakukan ini. Semua pikiran itu terus berkecamuk di kepala Celina. Sampai akhirnya matanya tertutup dengan sendirinya ketika subuh sudah mulai memasuki waktunya.
***
Rio dan Celina sepakat untuk membuat perjanjian. Dimana isi dari perjanjian itu berisi tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu Rio dan Celina. Awalnya Rio menolak permintaan Celina, namun pada akhirnya ia tetap menerimanya dengan syarat permintaanya juga ditulis dalam surat perjanjian tersebut.
Yang mana permintaan Rio hanyalah ucapan konyolnya di dapur pada malam itu. Dia meminta Celina untuk tidak melarangnya menyukai Celina. Celina yang merasa tidak bisa mendebat permintaan Rio, hanya mengiyakan syarat yang aneh itu.
Sementara itu Celina mengajukan berbagai macam syarat. Dan begini bunyi syarat yang diajukan Celina dalam surat perjanjian itu :
Rio tidak boleh muncul secara tiba-tiba
Rio tidak boleh memasuki ruang privasi Celina
Rio tidak boleh ikut campur urusan Celina tanpa ijin dari Celina
Rio tidak boleh membuat Celina melakukan hal-hal romantis yang membuat jantung dan hati Celina berdebar
Rio tidak boleh membuat Celina jatuh cinta
Dan begitu Rio membaca persyaratan dari Celina, ia langsung melakukan protes.
"Kamu curang, Nuna. Apa maksud poin 4 dan 5 ini, huh?"
Celina hanya tersenyum dan mengangkat bahunya. Ia mulai menikmati kesenangan membalas Rio dengan syaratnya yang disengaja.
"Oh ya, tunggu.." ucap Celina saat Rio hendak meninggalkan ruang tamu.
"Malam itu, di atap.."
"Nuna, kita baru saja membuat perjanjian. Apa kamu harus memberi pertanyaan yang akan membuatku melanggar perjanjian ini?"
Celina mengernyit heran. Rupanya Rio tidak ingin menjawab pertanyaan Celina karena takut melanggar poin ketiga dalam perjanjian mereka, yaitu Dilarang ikut campur urusan Celina tanpa ijin.
"Wait, kalau aku ijinkan untuk membahas ini, berarti kamu tidak melanggar, iya kan? Sekarang jelaskan, kenapa kamu bisa tahu kejadian di atap malam itu" kata Celina memaksa sambil melihat respon Rio.
"Wuah, kamu benar-benar egois, Nuna. Aku menuruti persyaratanmu tapi kau terus memojokkanku" ujar Rio terkekeh.
"Iya, aku di sana sebelum kalian datang. Aku mendengar dan melihat semuanya" lanjutnya.
Kini Rio yang berganti melihat respon Celina. Ia nampak terkejut dan malu, namun ia coba sembunyikan. Kejadian itu memang cukup memalukan apabila dilihat oleh orang lain. Bahkan Celina sendiri merasa malu.
"Apa Nuna mencintai pria itu?"
Celina kaget mendengar pertanyaan Rio yang teramat frontal. Ia pun memutuskan untuk tidak menjawabnya sambil menunjuk suratnya. Dan Celina mengakhiri percakapannya dengan Rio karena ia harus segera bersiap untuk bekerja. Merasa dibodohi oleh Celina, Rio pun hanya tersenyum.
Namun Celina melupakan satu hal. Ia terlalu takut dan terburu-buru meminta pertolongan sampai melupakan soal pekerjaannya. Ia harus mengambil baju-bajunya di rumah. Rio yang mengetahui hal itu langsung menghardiknya.
"No! Nuna tidak akan kuijinkan kembali ke sana. Tempat itu masih disegel oleh polisi"
"Tapi aku butuh bajuku untuk bekerja, Rio" kilah Celina.
"Kalau begitu ikut aku!"
Rio menarik tangan Celina dan mengajaknya ke dalam kamar. Dia menunjuk ke arah lemari dimana dulu Celina mengambil baju ganti saat insiden mabuknya.
"Ambil disana! Itu baju baru milik adikku. Ukurannya sama sepertimu" kata Rio sambil menutup pintu kamar, membiarkan Celina menyelesaikan urusan pribadinya.
Celina tersenyum simpul. Sebenarnya Rio terlihat seperti orang baik terlepas dari sikapnya yang kadang menjengkelkan. Tetapi bukan tanpa alasan ia membuat persyaratan agar Rio tidak membuatnya jatuh cinta. Celina tidak menyukai hubungan dengan pria yang lebih muda darinya. Karena Celina tipe orang yang ingin diayomi oleh pasangannya. Dan jika pasangannya lebih muda darinya, ia hanya akan terbayang perasaan bahwa dialah yang harus ngemong pasangannya. Celina membutuhkan orang yang lebih dewasa darinya agar dia bisa terbantu mengatasi tingkat emosinya yang lumayan tinggi.
***
Hari ini Celina memberanikan diri tetap bekerja dengan harapan tidak bertemu dengan Aksa. Entah dia masih di Korea atau sudah kembali, dia tetap tidak akan mau berhubungan dengannya selama beberapa waktu, setidaknya sampai hatinya merasa tenang.
Rio yang sedari pagi merengek untuk mengantar Celina, akhirnya berhasil membuat Celina mengalah. Mereka pun berangkat naik mobil Rio menuju kantor. Rio juga meminta Celina untuk menyimpan nomor teleponnya. Mau tak mau Celina pun menyimpan dan memberikan nomornya juga untuk urusan rumahnya yang sudah jadi urusan polisi.
"Rio, apartemen itu bukan milikku, tapi perusahaan, apakah aku harus merahasiakannya dari bosku?" tanya Celina saat masih di perjalanan.
"Iya, Nuna. Karena aku rasa pelakunya adalah salah satu orang dekat kamu. Jadi lebih baik Nuna merahasiakannya dulu, apalagi soal tinggal di tempatku" jawab Rio santai dan tetap fokus menyetir.
Celina yang sedari tadi memandang ke arah Rio yang tengah menyetir, kini mulai memicingkan matanya.
"Ada apa? Kenapa kau memandangku seperti itu?"
"Dari kemarin kamu terus bicara santai denganku" kata Celina.
Rio terkekeh mendengarnya. Ia memang melupakan perbedaan usia mereka yang sebenarnya hanya terpaut satu tahun lebih muda dari Celina. Tapi dia membiarkan gadis itu berpikir bahwa Rio masih muda karena wajahnya mendukung hal itu. Dia pun hanya mengusap kepala Celina yang membuatnya terserang syok ringan dengan perlakuan Rio.
"Rio!!!" protes Celina.
"Kenapa?"
"Jangan mengusap kepalaku!"
"Kenapa?"
Rio pura-pura tidak mengerti maksud Celina. Dia terus menggoda Celina dengan nada bicaranya. Sedangkan Celina hanya memanyunkan bibirnya melihat tingkah Rio yang menggodanya. Sampai mobil Rio akhirnya berhenti di pinggir jalan depan gedung kantor Celina.
"Nuna, nanti aku jemput. Jangan pulang sendirian" kata Rio yang disambut lirikan sinis Celina.
Rio menunggu hingga Celina benar-benar memasuki gedung. Ia memang baru bertemu dengan Celina, tapi semenjak kejadian di atap dan rumahnya, Rio sangat mengkhawatirkannya.
***
Ponsel Celina bergetar sesaat setelah memasuki gedung. Ternyata dari rumah sakit tempat Melani dirawat yang menelepon.
"Halo” sapa Celina.
“Apa kakak saya baik-baik saja?” tanya Celina.
Setelah mendengar bahwa Melani semakin pulih, Celina pun menutup telepon itu dengan perasaan lega.
Dia terlalu larut dalam hidup barunya sehingga sedikit melupakan kakaknya yang masih terbaring sakit. Dan parahnya lagi, Celina juga melupakan status barunya yang telah menjadi istri Andares.
Semenjak pernikahannya, Andares sama sekali belum bertemu dengannya secara langsung. Jangankan bulan madu, meneleponnya saja tidak.
“Cih, apa begini saja akhir kisah Cinderela Celina?” gumam Celina.
Anehnya, ada perasaan ‘kangen’ yang muncul saat Andares mengabaikannya seperti itu. Celina membodohkan dirinya sendiri karena merasa seperti itu. Namun ia tetap mencoba mencari tahu lewat Fero.
“Halo, Fero!” sapa Celina.
“Ya, Cel. Apa yang bisa aku bantu?”
“Mm, Fer. Boleh tanya nggak, apa Pak Andares sibuk banget? Kenapa dia tidak menelepon atau menemuiku setelah pernikahan kemarin?” tanya Celina.
“Mmm, aku nggak bisa bantu jawab. Tapi hari ini kamu akan tahu jawabannya. Jadi sabar aja, ya!”
Setelah jawaban Fero, Celina memutuskan teleponnya tanpa mendapat kepastian.
“Hari ini? Tahu apa? Dia aja nggak nelpon” gerutu Celina sebal sambil melangkah menuju ruangannya.
"Hai, Celina.." tiba-tiba sebuah suara muncul dari sekitar Celina.
"Kak Fiona???"
Celina begitu terkejut saat memasuki ruangan dan melihat Fiona melambaikan tangan padanya. Ia tak percaya melihat Fiona di tempat itu.
"Apa kabar, Cel?"
"Baik, Kak. Kak Fiona kok bisa di sini?" tanya Celina heran.
Fiona pun menjelaskan alasan keberadaannya di Seoul. Andares mengirimnya untuk sebuah proyek iklan yang bekerja sama dengan salah satu idol besar di Korea. Celina terkejut mendengar hal itu, karena ini adalah impian Celina selama ini.
"Kamu juga diikutkan dalam proyek ini, Cel”
Mendengar ucapan Fiona, Celina berteriak tanpa suara. Ia merasa inilah obat dari semua masalahnya kemarin. Akhirnya Celina akan menggarap sebuah proyek besar dengan idola Korea.