
Tok tok tok
Suara pintu ruangan yang diketuk oleh Fero membuyarkan konsentrasi Andares. Tanpa disadari dia menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk mencerna keputusan yang diambil oleh Celina. Harusnya pikiran Andares merasa lega karena hal yang selama ini mengganggunya sudah bisa ia selesaikan.
“Kenapa dia menerimanya secepat itu?” batin Andares.
Di tengah-tengah berpikir, Andares dikejutkan dengan ketukan pintu yang terdengar.
"Apa saya boleh masuk, Pak?" tanya Fero dari luar ruangan Andares.
"Masuklah!" jawab Andares.
Fero pun membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Andares. Ia menyodorkan amplop cokelat besar yang tampak berisi dokumen.
"Apa ini?" tanya Andares.
“Ini dokumen yang Anda minta, Pak” jawab Fero.
Andares tampak puas dengan kinerja Fero. Dia menyimpan dokumen itu di dalam laci mejanya. Sementara itu Fero yang masih berdiri diam di depannya, sedang berusaha memastikan sesuatu.
“Pak, mohon ijin bicara sebagai sepupu Andares!” kata Fero.
“Kau yakin akan menikahi Celina?” tanya Fero.
“Bagaimana lagi? Aku nggak bisa menolak kemauan mami. Lagian dia sendiri yang mau. Aku nggak maksa” jawab Andares.
“Tapi, Res.. kita baru kenal dia berapa hari” kata Fero.
“Fer, kau tahu mami nggak bisa nunggu lagi. Dan kau tahu aku udah cari berapa banyak gadis tapi semuanya zonk” kata Andares.
Fero tampak sedikit gusar. Sebab setelah itu, Andares menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang diluar dugaannya. Sesuatu yang bahkan Fero sendiri juga belum mengetahuinya.
Sebenarnya Fero adalah sepupu dari Andares yang bekerja menjadi sekretarisnya. Ibu Andares adalah kakak dari ayah Fero. Dia memutuskan untuk menjadi sekretaris Andares demi melindunginya setelah ia Aksanis mengidap DID atau Dissociative Identity Disorder. Orang awam menyebutnya gangguan kepribadian ganda.
Andares mengidap penyakit itu setelah ibu dan ayahnya selalu memperlakukannya dengan berbeda. Tak jarang Andares kecil dipukuli hingga babak belur oleh ayahnya. Semenjak itulah Andares memiliki trauma yang luar biasa hingga membuatnya mengidap penyakit langka itu.
***
Sementara itu di atap, Celina dan Aksa masih melanjutkan percakapan mereka yang mulai mencapai puncak.
“Apa maksud kamu pergi ke Korea?” tanya Aksa.
"Ya itu maksudnya, apa lagi?" jawab Celina acuh.
"Tiba-tiba? KOREA?" Aksa sedikit berteriak.
"Udahlah, Sa! Aku sudah memutuskan untuk menerimanya" ucap Celina lesu. Dia tidak mau menghabiskan tenaga dan waktu berharganya untuk bertengkar dengan Aksa.
"Apa kakakmu udah tahu hal ini?" cecar Aksa yang belum puas dengan jawaban Celina.
Celina mengangguk sementara Aksa hanya menghela nafas dan meninggalkan kamar Celina. Ia masih belum bisa menerima keputusan sahabatnya itu.
Sementara Celina merasa bersalah karena telah membohongi Aksa dengan mengatakan bahwa dia akan pergi ke Korea. Ia melakukan itu karena tidak mungkin mengatakan pada Aksa bahwa dia akan menikah, terlebih dengan bosnya sendiri.
Celina pun bergegas turun setelah mendapat telepon dari Fero yang menyuruhnya pergi ke ruangannya.
“Ada apa, Fer?” tanya Celina setelah tiba di ruagannya.
“Aku udah denger dari Pak Andares, katanya kamu mutusin nerima tawaran dia?” kata Fero.
“Ah, kamu udah tahu rupanya. Iya, Fer. Aku memutuskan menerimanya” jawab Celina dengan tersenyum kecut.
“Kenapa, Cel?”
Celina mulai berkaca-kaca, suaranya pun mulai tercekat karena merasa tak mampu membicarakan semuanya.
“Aku butuh banyak uang, Fer” ucap Celina lirih.
Celina memberitahukan alasan utama yang menyebabkan dia menerima tawaran itu, dan juga kebohongan yang ia gunakan untuk menutupinya.
“Itu akhirnya bukan sebuah kebohongan, Cel. Andares memintamu pergi ke Korea bersamanya” kata Fero.
“Hah?”
Bagai jatuh tertimpa tangga, Celina merutuki nasibnya yang ditimpa kemalangan berkali-kali. Sesuatu yang menjadi kenyataan dan bukan lagi sebuah kebohongan adalah Celina benar-benar akan pergi ke Korea atas suruhan Andares. Celina harus melakukan itu jika ia bersedia menikah dengan Andares.
Tapi Celina hanya bisa pasrah. Toh dia juga tidak bisa berbuat apapun selain menurut. Di sini hidupnya sudah kacau balau. Jika dia bisa menikah dengan orang kaya, hidupnya akan terjamin, mendapatkan banyak uang, kakaknya akan bisa dioperasi, bisa ke luar negeri, kenapa dia harus menolaknya. Tanpa dia sadari, hati dan pikiran Celina sudah tertutupi dengan bayangan-bayangan kemudahan yang akan ia dapatkan. Sekali lagi, dia sudah merasa muak dengan hidupnya yang berantakan.
***
Bunyi ponsel Celina terdengar sangat keras memenuhi kamar, walaupun volume di ponselnya sebenarnya sangat lirih. Satu hal lagi yang sangat merugi, ia baru saja menemukan kontrakan baru yang dibayarnya dengan sisa uang yang Celina punya. Tapi ia sudah akan meninggalkannya. Menyedihkan.
Celina mengambilnya dari atas meja dan membaca pesan yang masuk di ruang obrolan favoritnya.
Aku ingin bicara sama kamu. Aku di depan
Pesan itu dari Aksa. Celina sebenarnya masih malas untuk bertemu dengan Aksa. Apalagi setelah dia berbohong padanya dengan mengatakan akan pergi ke Korea. Namun setelah kebohongan itu menjadi nyata, dia memutuskan untuk menemuinya, lagipula dia tidak akan mungkin terus menerus menghindari Aksa. Karena itu dia mengambil jaketnya dan bergegas keluar.
Di luar rumah Aksa sudah menunggu di depan pagar rumahnya. Hanya berdiri bersandar di kap mobilnya saja sudah membuat Celina kagum dan menyesal, kenapa dia menyia-nyiakan Aksa hanya untuk si brengsek Dion.
Celina dan Aksa memang pernah dirumorkan berpacaran, namun faktanya hanya Aksa yang menyukai Celina. Karena Celina hanya menganggapnya sebagai sahabat dan ia tengah mengincar Dion waktu itu.
Melihat Celina keluar, Aksa segera menghampirinya.
"Hai!” sapa Aksa canggung, apalagi Celina hanya membalasnya dengan sedikit senyuman.
"Kamu, udah mau tidur belum? Aku mau ajak kamu nge-drive" tanya Aksa basa basi.
"Belum, tapi jangan jauh-jauh. Aku capek" balas Celina.
Aksa mengangguk dan bergegas membukakan pintu mobil untuk Celina. Dan segera mobil Aksa menghilang di tengah keramaian kota Jakarta.
Hampir tiga puluh menit berkendara, hanya terdengar suara mesin dari dalam mobil. Mereka hanya diam dan tidak ada yang berani memulai percakapan. Celina yang tak mau suasana canggung ini terus berlangsung, akhirnya membuka mulutnya lebih dulu.
"Mau ngomong disini?" tanya Celina.
"Enggak, kita berhenti di depan" jawab Aksa sambil mengarahkan mobilnya menuju tempat yang ia maksud.
Mereka berhenti di sebuah lokasi yang mirip taman kota. Setelah memarkirkan mobilnya, Aksa dan Celina pun berjalan pergi ke tengah taman.
"Ngomong disini aja, Sa!" kata Celina dan segera menghentikan langkahnya.
"Oke, soal yang kemarin..”
"Jangan dibahas lagi, Sa!” sahut Celina.
“Kamu benar-benar mau pergi?” tanya Aksa lagi.
Celina tersenyum kecut dan mengangguk.
“Cel, bisakah kamu batalin rencana itu?”
“Kenapa?” tanya Celina.
Alih-alih menjawab pertanyaan Celina, Aksa justru mengarahkan tangannya ke pinggang Celina dan menariknya hingga mereka saling bertatapan dalam jarak yang sangat dekat. Saat Celina masih mengerjap karena terkejut, Aksa justru langsung mencium bibir Celina yang ranum.
Beberapa menit Celina baru bisa melepaskan diri dari pelukan dan ciuman itu setelah Aksa melepasnya. Dengan napas terengah, tangan Celina refleks menampar pipi kanan pria yang dengan lancang telah menciumnya.
“Apa-apaan kamu, Aksa?” teriak Celina.
“Maaf, Cel. Aku nggak bisa menahannya lagi. Aku nggak pengen kamu pergi” jawab Aksa.
“Dasar gila! Kamu pikir aku wanita macam apa? Ingat kau sudah punya..”
Ucapan Celina terputus oleh teriakan Aksa.
“AKU TAHU! Aku tahu aku uda pacaran sama Ellen, tapi aku nggak bisa lupain perasaanku ke kamu, Cel” ucap Aksa.
"Wah, kamu bikin aku jadi seperti cewek perebut pacar orang, Sa!”
"Jujur, perasaanku dari dulu nggak berubah, Cel. Bahkan ketika kamu menolakku dulu"
Celina membelalak mendengar ucapan Aksa.
“Aku mau kamu nunggu aku, Cel. Saat ini aku nggak bisa ninggalin Ellen, tapi bisakah kamu nunggu aku, sebentar lagi!” kata Aksa dengan tatapan memelas.
"Dasar brengsek!" ucap Celina lirih.
"Aku pacaran sama Ellen karena aku punya perjanjian sama orang tuaku, Cel. Tapi aku nggak bisa ngelupain kamu" kata Aksa sambil menunduk.
"Hh..” Celina hanya menghela napasnya saking tak habis pikir dengan kata-kata yang keluar dari mulut Aksa.
Aksa melangkah mendekati Celina yang sudah kehabisan kata-kata. Ia pun memberanikan diri memeluk Celina. Sedangkan Celina hanya membiarkan dirinya dipeluk oleh laki-laki yang selama ini selalu ada untuknya. Ia bisa merasakan kehangatan yang tulus dari pelukan Aksa.
Tapi mau bagaimana, meski saat itu hatinya sempat bergetar karena Aksa menciumnya, dia sudah memilih untuk menikah dengan Andares. Dan semuanya hanya karena uang. Celina merasa tak berhak menyebut Aksa dengan sebutan brengsek, karena dia sendiri juga brengsek.