
Fiona sudah meninggalkan ruang meeting, begitu juga Celina dan Andares. Kini mereka berdua berada di rooftop. Keduanya saling diam sampai Andares mendekat ke arah Celina.
"Nona Celina..”
Celina beringsut mundur. Ia takut kejadian malam itu akan terulang kembali.
“Apa kau takut padaku?” tanya Andares.
Namun Celina tak menjawab, ia masih menjaga jarak dengan bosnya itu.
“Soal malam itu..”
Ucapan Andares terputus karena Celina memotongnya.
“Siapa, Pak?”
“Huh?”
“Siapa yang mencium saya?Andares atau Andreas?” tanya Celina.
Andares terkejut karena Celina mengetahui rahasia yang selama ini ia simpan. Meski lirih, Celina mendengar pria itu mengumpat pada Fero karena telah membeberkan rahasianya pada Celina.
“Jadi kau sudah tahu?”
“Iya, Fero sudah menceritakannya pada saya” jawab Celina.
“Dia Andreas” ucap Andares sambil memalingkan wajahnya.
Celina merasa cukup dengan jawaban Andares, setidaknya untuk saat itu. Dia tidak ingin terjadi hal yang tak diinginkan terjadi pada bosnya. Ia pun segera beralih pada masalahnya sendiri yang tak kalah rumit.
“Kenapa Bapak membawa saya kesini?” tanya Celina.
“Oh, itu..”
“Apa kau benar melakukan hal itu?" tanya Andares dengan nada bicaranya yang dingin dan tajam, seolah telah kembali pada mode bos-nya.
"Tentu saja tidak!" Celina sedikit berteriak yang membuat Andares sedikit terkejut.
“Baiklah..”
Celina terperangah melihat sikap bosnya yang seperti sedang bermain-main dengannya.
“Bapak hanya mau bicara tentang itu? Kalau gitu saya mau turun, saya harus meluruskan rumor itu!” ucap Celina sambil beranjak pergi.
Namun Andares menahannya dengan menarik tangan Celina.
“Kau diam saja di sini! Aku akan mengurusnya” ujar Andares dan langsung meninggalkan area rooftop.
Celina semakin tak bisa paham dengan apa yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini. Ia merasa menjadi wanita paling sial di muka bumi ini.
Saat dia sedang merutuki nasibnya, tiba-tiba pintu atap kembali terbuka dengan keras. Celina kembali dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang diluar dugaannya.
“Aksa?” pekik Celina.
“Cel! Apa kamu baik-baik saja?” tanya Aksa.
“Bagaimana kamu bisa kemari?” tanya Celina bingung.
Aksa berkata bahwa dia telah mulai bekerja di perusahaan itu sejak hari ini. Celina langsung teringat dengan ucapan Aksa yang mengatakan bahwa dia telah mendapat pekerjaan baru.
“Jadi kamu kerja di sini sekarang?”
“Iya. Oya, aku dengar soal kamu tadi, apa itu benar?” tanya Aksa.
Wajah Celina kembali kusut. Ia tak percaya hal pertama yang ditanyakan sahabatnya sendiri adalah hal itu.
“Enggak, Sa! Kenapa sih semua orang kayak nggak percaya sama aku, bahkan kamu juga!” teriak Celina protes.
"Aku percaya sama kamu, tapi mereka bilang mereka punya bukti lain.." jawab Aksa memasang wajah serius.
"Kamu mau aku dorong dari atap ini sekarang? Bukti lain apa?" pekik Celina geram.
Bisa-bisanya Aksa masih bertele-tele di saat karir Celina berada di ujung tanduk.
Aksa menghela nafas singkat dan menarik badan Celina ke arahnya. Kini mereka saling berhadapan.
"Cel.." Aksa menurunkan nada bicaranya menjadi lebih lembut.
"Aku tahu kita temenan udah lama, tapi kamu tahu kan kalau aku nggak suka dibohongi. Kamu harus jujur setidaknya sama aku" ucap Aksa sambil memandang wajah Celina.
Celina menampar Aksa dengan keras. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa sahabatnya sendiri meragukan kejujurannya.
"Tutup mulutmu!" ucap Celina dingin.
Aksa menarik lengan Celina saat dia hendak meninggalkan tempat itu.
"Bukan hanya satu orang, Cel.."
"..Ellen juga pernah melihatmu jalan sama pria berumur" lanjut Aksa.
"Aku baru tahu kamu sebrengsek ini, Sa. Mulai sekarang kita gak usah ketemu lagi deh!”
Celina melepas tangan Aksa dan meninggalkannya dengan amarah yang tertahan.
Celina berpikir keras tentang apa yang terjadi hari ini. Kenapa tiba-tiba ada yang melaporkannya soal kepergianmya ke hotel untuk menemui klien, ditambah pula sahabatnya yang justru ikut menghakiminya seolah tidak mengenal Celina dengan baik.
"Siapa si brengsek yang kurang kerjaan itu" ucap Celina lirih.
***
Aksa mengepalkan tangannya sampai bergetar, menahan agar tinjunya tidak mendarat di wajah pria yang ada di depannya.
"Ngapain lo disini? Nggak bantuin Celina packing? Bukannya dia dipecat?" kata pria itu sambil menyeringai licik.
"Brengsek! Nggak kapok juga lo gangguin Celina? Sengaja cari mati?" seru Aksa ketus dan mengancam.
Pria itu justru melempar tawa mengejek Aksa yang sudah geram setengah mati meladeninya.
"Gue udah bilang, kalo Celina itu cewek munafik, dulu aja pas sama gue dia sok jual mahal, sekarang malah main sama klien di hotel" jawab pria itu sambil terkekeh.
Dan menyebalkannya lagi si pria itu justru kembali mengejek Aksa dengan ekspresi wajahnya, membuat Aksa tak tahan dan finally melayangkan tinju di wajah pria itu.
"Sialan, jadi ini semua ulah Dion? Brengsek!"
Celina mulai terisak di balik pintu setelah kembali ke rooftop dan mendengar pembicaraan Aksa dengan pria yang tak lain adalah Dion, mantan pacar Celina.
***
Celina langsung berlari turun kembali menuju ruangannya. Namun baru saja dia menuruni beberapa anak tangga, tubuhnya menabrak tubuh Andares yang tiba-tiba muncul dari pintu darurat di depannya.
“Ouch!”
“Maaf, Pak!” ucap Celina sambil mengusap air matanya.
Lagi-lagi Celina ditahan oleh Andares. Kali ini dia malah menariknya dan membawanya ke suatu tempat yang ia tak tahu dimana. Andares membawanya ke sebuah ruangan yang belum pernah ia datangi selama bekerja di perusahaan itu. Wajar ia tak tahu karena tidak semua lantai di gedung itu pernah dia kunjungi.
“Kenapa Bapak membawa saya kemari? Bapak jangan macam-macam!” kata Celina.
“Kamu tenang saja! Andreas yang menciummu, bukan aku!” jawab Andares sambil mengunci pintu ruangan itu.
“Kenapa Bapak mengunci pintunya?
“Agar kamu tidak bisa melarikan diri”
Deg
Celina mulai semakin takut. Ia mulai overthinking. Kenapa bosnya melakukan hal ini padanya. Apa jangan-jangan pria yang ada di depannya bukanlah Andares? Apa dia Andreas? Pikiran itu terus mengganggu Celina.
Ya. Andreas mengidap sebuah penyakit langka. Ia mengidap Gangguan Identitas Disosiatif atau yang sering disebut gangguan kepribadian ganda.
Di dalam tubuhnya bersemayam sosok fiktif yang bernama Andreas. Dan profil Andreas adalah sosok kakak kembar Andares yang sudah meninggal. Tentu saja itu hanya mindset Andares saja. Dia tidak benar-benar hidup di dalam tubuh Andares, tetapi keberadaannya juga tidak bisa diabaikan.
“Celina, apa kau ingin rumor dan pemecatanmu aku hapus dari kantor ini?” tanya Andares.
“Apa maksud Bapak?” tanya Celina balik.
“Aku bisa melakukan itu, aku juga akan membantumu membalas dendam pada mantan pacarmu, aku akan memberimu rumah dan uang. Tapi bisakah kau menikahiku? Aku tidak punya banyak waktu!” ujar Andares.
Celina kehilangan kata-kata menghadapi sikap bosnya. Kenapa tiba-tiba dia mendapat pilihan seperti ini, pikir Celina. Tetapi dalam hati kecilnya dia sedikit tertarik dengan tawaran itu. Ia juga sudah muak menjadi Celina yang lemah dari banyak hal. Ia ingin menguatkan dirinya menjadi Celina yang baru.
Ketika Celina masih berkutat dengan pikirannya, tiba-tiba sikap Andares berubah kembali. Ia menunduk dan menahan rasa pusing yang datang menyerang kepalanya. Celina makin kebingungan melihat sikap Andares yang berubah-ubah. Dan saat Celina memegang kedua bahu Andares, dia mendongak menatapnya.
“Apa kau Celina? Jangan terima permintaan Andares! Jangan menerimanya!”
Celina ternganga seketika. Perasaannya campur aduk antara sedih, takut, dan cemas. Ia baru memahami apa yang sedang terjadi di depannya. Saat ini yang tengah berbicara dengannya bukan lagi Andares bosnya, melainkan Andreas, sosok kepribadian lain yang mendiami tubuh Andares.