
Fero meminta Celina merahasiakan percakapan mereka mengenai penyakit Andares. Celina pun merasa hal itu bukan hal yang pantas ia umbar kemana-mana.
Setelah kembali ke kantor dengan membawa Americano pesanan bosnya, Celina meminta ijin untuk pulang lebih awal. Ia harus mencari rumah kontrakan baru karena masa tinggal di asrama kantor sudah hampir berakhir.
Akan tetapi saat mengungkapkan alasannya, Andares tidak memberinya ijin. Ia terus memberinya pekerjaan-pekerjaan yang membuatnya harus lembur.
“Hish, apa dia sengaja balas dendam padaku?” gerutu Celina.
Andares membuat Celina harus bekerja hingga pukul sepuluh malam. Sikap yang ia tunjukkan pada Celina pun semakin dingin pascapenolakan yang dilakukan gadis itu.
Sebenarnya semenjak Celina mengetahui penyakit apa yang diderita Andares, perasaan Celina berubah menjadi tidak nyaman. Ia sempat berpikir untuk menerima ‘pinangan’ Andares. Tapi dengan cepat ia meluruskan pikirannya.
“Lu udah gila, Celina!” ucap Celina pada dirinya sendiri.
Jam di dinding ruangannya sudah menunjuk ke angka 10.30 malam. Celina merapihkan semua berkas yang masih terserak di atas mejanya. Badannya sudah sangat letih. Ditambah ia juga belum mencari kontrakan untuk tempat tinggalnya.
Celina mengambil ponselnya, dan menelepon Melani kakaknya. Celina mengabarkan bahwa ia belum bisa mencari kontrakan hari itu, dan akan mengopernya menjadi esok hari.
“Baiklah, kamu tidur aja di rumah Bibi dulu” pungkas Celina seraya menutup teleponnya.
Ia beranjak keluar dari ruangannya. Suasana kantor sudah sangat sepi dan gelap. Untungnya Celina adalah gadis yang tak memiliki ketakutan soal hantu dan sejenisnya.
Ia sedang menunggu lift untuk turun ke lantai dasar. Malam itu Aksa menawarinya untuk menjemput dirinya. Tentu saja tawaran itu disambut baik oleh Celina, karena dia tak harus berjalan kaki menuju asrama kantor yang lokasinya sebenarnya tak jauh dari gedung utama. Ditambah ia berencana mengajak Aksa mencari makanan karena ia mendadak lapar.
Akan tetapi begitu lift terbuka, dia justru ditarik oleh seseorang yang membuat Celina berteriak keras. Saat dia berusaha meronta untuk melepaskan diri, orang itu justru membekap mulutnya dan menyuruhnya diam.
“Sstt, ini saya!” bisik orang yang tak lain adalah Andares.
Begitu tahu bahwa orang itu adalah bosnya, Celina berhenti bergerak agar Andares segera melepaskan tubuhnya.
“Bapak ini kenapa? Kenapa tiba-tiba menarik dan membekap saya seperti itu?” teriak Celina kesal.
“Saya minta maaf, tapi bisakah kau membantuku?” ucap Andares.
Belum sempat Celina membuka mulut untuk menjawab pertanyaan itu, Andares sudah mendaratkan bibirnya di bibir Celina. Ia juga menahan tangan Celina agar tidak bisa melepaskan diri dari ciumannya. Mendapat perlakuan seperti itu, Celina otomatis kembali meronta dan berusaha melepaskan diri, tetapi dia gagal, Andares terlalu kuat.
Setelah menahan diri selama beberapa menit, akhirnya Andares melepaskan tubuh Celina yang hampir kehabisan napas.
Namun ada yang berbeda dengan Andares. Setelah melepaskan Celina, ekspresi wajahnya berubah menjadi bingung dan kaget. Ia justru langsung meninggalkan Celina yang masih tak memahami apa yang terjadi pada dirinya malam itu.
Celina bergegas turun dan menghampiri mobil Aksa yang sudah diparkir di depan gedung.
“Tumben lembur!” kata Aksa sambil merapihkan beberapa barang yang berserakan di mobilnya.
“Iya” jawab Celina pendek.
“Oya, aku udah dapet kerjaan!” kata Aksa.
“Oya, dimana?” tanya Celina.
“Ada deh.”
Celina tidak membalas lagi. Pikirannya tidak fokus karena masih terpaku pada sikap Andares yang membuatnya syok. Sementara Aksa yang melihat sahabatnya sedikit aneh dan pendiam, tidak berani bertanya lebih lanjut karena dia merasa Celina masih memikirkan pertunangannya yang gagal.
Akhirnya setelah berkeliling mencari makanan, Celina kembali ke asrama kantor dan terlelap dengan baju kantor yang masih melekat di tubuhnya.
***
"Celina!!" teriak Farah tiba-tiba dari koridor kamar mandi kantor.
"Ada apa, Far? Jangan teriak-teriak di kantor" jawab Riana, dia baru saja berjalan keluar dari lift di lantai kantornya.
"Kamu udah tahu belum kalau hari ini dari divisi kita ada yang akan dipecat!” ucap Farah dengan suara yang dipelankan.
"Hah, siapa? Tahu dari mana?"tanya Celina.
"Nggak tahu, cuma tadi pas di toilet gue denger ada yang lagi ngomongin itu" jawab Celina.
Tanpa pikir panjang Celina langsung berlari menemui Fiona, orang yang tahu pasti siapa karyawan yang dimaksud Farah.
Tapi baru saja Celina melangkah mencari keberadaan Fiona, dia malah dicegat oleh beberapa karyawan perempuan lain di ujung koridor.
"Minggir, gue mau lewat!" seru Celina tanpa babibu lagi.
"Gue nggak ada waktu buat ngeladenin ocehan kalian, minggir!!!"
Lalu Stefani, salah satu cewek yang terlihat paling lemah di antara ketiganya, menyodorkan sebuah ponsel dengan sebuah ruang obrolan yang terbuka di layarnya.
Celina mengambil ponsel itu dan membacanya. Tak butuh waktu lama sampai Stefani kembali merebut ponsel itu dan ketiganya meninggalkan Celina dengan umpatan kecil yang nyaris tak terdengar.
Seketika Celina terduduk, tubuhnya lemas, bahkan rasanya dia seperti lumpuh setelah membaca apa yang ada di ponsel Stefani.
"Apa maksudnya.." ucap Celina lirih.
"..kenapa aku yang akan dipecat.."
***
Sementara di luar heboh dengan berita pemecatan Celina yang tersebar cepat seperti virus, di dalam ruangan Fiona sepertinya lain cerita. Justru sangat hening seperti tidak terjadi apa-apa.
Celina pun sudah kembali menyadarkan dirinya dan bergegas mencari Fiona untuk mencari tahu apa yang terjadi. Dan setelah mencari Fiona selama kurang lebih dua puluh menit, akhirnya Celina bertemu dengan Fiona di koridor depan ruang meeting di lantai 19.
"Celina, temui saya sebentar di ruang meeting ya"
Jantung Riana berdenyut tidak karuan, dalam otaknya terbersit pikiran bahwa hari ini adalah hari terakhirnya di kantor. Tapi kenapa, bagaimana bisa. Pikiran itu terus membayangi Celina sembari berjalan menuju ruang yang dimaksud.
"Cel, kamu udah dengar beritanya, kan?" ucap Fiona pelan.
"Jujur sudah, tapi saya bingung, Kak. Saya tidak tahu kenapa bisa muncul rumor seperti itu" tutur Celina yang tidak bisa menutupi suaranya yang bergetar karena menahan tangis agar tidak pecah.
Fiona menghela nafasnya pendek.
"Cel, saya langsung saja ya. Ada yang melaporkan ke saya, bahwa kamu membantu salah satu klien kita untuk membatalkan kontrak kerjasama dengan kantor kita. sama salah satu karyawan kantor kita.." Fiona menjeda ucapannya sambil melihat reaksi Celina yang mulai gagal menahan terobosan air matanya.
"..dan untuk hal itu, sepertinya saya harus memberhentikan kamu demi menjaga keberlangsungan kerjasama perusahaan kita" lanjut Fiona.
Mendengar hal itu, jantung Celina seperti berhenti berdetak. Bahkan kini air matanya sudah membanjiri pipinya yang mulus dan putih itu.
"Kak, saya tidak mungkin melakukan itu. Dan saya tidak tahu kenapa ada orang yang tega membuat rumor dan fitnah seperti ini" jelas Celina sambil masih terisak.
"Ada yang melihat kamu keluar dari kamar hotel jam 5 pagi dengan salah seorang klien kita. And sorry to say, bahkan orang ini mengambil foto kalian berdua" terang Fiona.
Otak Celina mencoba berpikir, namun belum sampai mendapat jawabannya, Fiona menyodorkan ponselnya ke arah Celina.
Deg
Celina terdiam, karena dia mengenali siapa laki-laki yang ada di foto itu.
"Astaga, ini salah paham, Kak. Kita tidak ada hubungan apapun selain profesional kerja, apalagi sampai mengarah ke hal itu" Celina menjelaskan.
"Oke, saya akan mencoba dengarkan apa yang akan kamu jelaskan.." ucap Fiona.
"Kami memang bertemu jam 5 pagi, Kak. Saat itu Farah harus segera memberikan berkas penting ke klien kita itu, tapi dia tidak bisa bertemu langsung karena ibunya tiba-tiba sakit, dan Farah minta tolong sama saya untuk anter berkas itu" Celina mencoba menjelaskan, kini isakan tangisnya sudah mereda meski suaranya masih bergetar. Dia sangat gugup.
Sebelum Fiona membuka mulutnya, Celina seperti bisa membaca apa yang akan diutarakan Fiona kepadanya.
"Ini, Kak. Saya ada bukti chat dari Farah saat itu" ucap Riana sembari memberikan ponselnya kepada Farah.
Dan kini Fiona yang tidak bisa berkata-kata lagi. Tanpa bicara, Fiona meraih ponsel Celina dan melihat chat yang dimaksud, berikut dengan keterangan waktunya.
"Tapi Cel, kalau memang kamu bertemu untuk menyerahkan berkas, kenapa kamu hanya memakai baju tidur. Dan lagi, hanya dengan chat ini, kita nggak tahu apa yang terjadi di dalam kamar hotel itu. Saya bukan meragukan kamu, tapi.." suara Fiona sedikit tercekat.
".. sebenarnya nggak masalah mau orang pacaran dan pergi ke hotel atau bagaimana, itu hak mereka selama mereka sudah cukup umur. Tapi karena hal ini sudah tersebar di kantor dengan indikasi kamu membantu klien membatalkan kontrak, aku nggak bisa diam aja, Cel” ucap Fiona.
"Saya nggak sempat ganti baju, Kak. Karena klien kita sedang buru-buru mengejar pesawat. Saya mohon, Kak..”
Brakk
Tiba-tiba pintu ruangan meeting terbuka dengan suara yang keras, diiringi seseorang yang melewati pintu itu.
"Celina, kamu ikut saya sekarang !!" kata orang itu dengan nada tinggi.
"Pak Andares.."