Be Your Secret Wife

Be Your Secret Wife
Laki-laki Muda itu..



Laki-laki yang semalam membantunya hanya tersenyum dan mendekati tempat tidur.


"Tenang, tenang, saya tidak akan menyakitimu. Saya hanya membantumu" kata pria itu dalam bahasa Korea.


Mendengar dan memahami ucapan pria itu, Celina sedikit mereda. Perlahan ingatannya mulai muncul. Ia mengenali pria itu sebagai orang yang membantunya membawa kopernya ke apartemen. Tapi menyadari posisi dan keadaannya yang sedang tidak memakai baju, ia pun berpikir untuk mencari penjelasannya nanti. Ia menyuruh pria itu untuk keluar agar dia bisa memakai bajunya. Tapi Celina tidak menemukan bajunya sama sekali.


"Oh, sorry. Bajumu basah, tapi saya sudah menyiapkan baju ganti di sana"


Melihat Celina kebingungan mencari baju, pria itu menunjuk ke arah lemari. Walaupun Celina masih canggung membayangkan siapa yang mengganti bajunya, ia bergegas menuju lemari setelah pria itu meninggalkan kamar.


Celina terkejut saat melihat banyaknya baju wanita di lemari itu. Apakah ini baju adik atau kakaknya? Atau baju pacarnya? Celina bergidik ngeri membayangkan identitas pria yang menolongnya ini. Dengan cepat dia memilih dan mengganti bajunya dan merapihkan rambutnya. Ia pun keluar dari kamar dengan hati-hati dan perasaan canggung. Celina berharap bisa kabur saja dari tempat ini. Tapi pikirannya kembali terusik dengan penjelasan soal kenapa dia bisa ada di tempat ini.


Pria itu melihat Celina keluar dari kamar, dan mempersilakannya duduk di bar kecil di area dapur. Di sana sudah ada makanan yang tertata rapi. Celina hanya menurut mengingat dia membutuhkan penjelasan.


"Are you okay? Apa kamu sudah sadar?" tanya pria itu santai.


"Anda siapa? Bagaimana saya bisa ada di sini?" Celina balik bertanya dengan beberapa kosa kata yang ia rangkai sebisanya.


"I'm Rio. Semalam anda tidak sadarkan diri di depan minimarket, apa anda tidak ingat?"


Celina mencoba memilah ingatannya yang campur aduk. Ia baru ingat nama pria itu dalam catatan kecil yang ia selipkan di kopernya. Sebagian ingatan lainnya pun mulai kembali tapi sebagian sama sekali tidak bisa dia ingat. Ia hanya ingat saat membeli makanan dan duduk sambil minum di depan minimarket. Dia pun langsung sadar betapa bodohnya dia saat mengetahui minuman yang ia teguk mengandung alkohol.


"Bodoh!" ucap Celina lirih sambil memukul kepalanya.


Pria yang menyebut namanya Rio itu tertawa kecil melihat Celina memukul dirinya sendiri. Ia yakin gadis itu sedang berpikir banyak hal buruk setelah apa yang terjadi padanya semalam.


"Siapa namamu, Nuna?"


Celina termenung sejenak saat pria yang ada di depannya memanggil dia dengan sebutan Nuna. Panggilan pria yang lebih muda kepada perempuan yang lebih tua. Ia bergidik, biasanya ia hanya mendengarnya di drama, tapi sekarang dia mendengarnya secara langsung.


"Apa Anda yang mengganti pakaian saya?"


Celina mengabaikan pertanyaan Rio dan mengalihkan pembicaraan. Pikiran soal baju masih sangat mengganggunya. Tapi lagi-lagi Rio hanya tersenyum, kali ini senyumannya sedikit menggoda.


"Menurut Nuna siapa yang menggantinya?"


Celina frustasi karena jawaban Rio yang bertele-tele. Ia pun memasang wajah sinis dan mulai bangkit dari kursinya. Makanan yang sedari tadi disiapkan di meja pun juga tak disentuhnya sama sekali. Celina bergerak menuju pintu, berniat keluar tanpa mendengar jawaban dari Rio soal bajunya.


Tapi baru saja Celina melangkah, Rio memegang pergelangan tangannya dan menarik tubuh Celina ke arahnya. Spontan Celina terkesiap, karena kini wajahnya hanya berjarak sepuluh sentimeter dari wajah Rio.


"Celina Nuna, kau mau pergi ke mana?"


Tanpa disadari Celina, jantungnya berdegup sangat kencang. Ia terdiam dan hanya bisa menatap mata Rio yang sedemikian dekat. Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah benar dia yang mengganti bajunya. Jika benar, matilah dia, pikir Celina. Dan baru kali ini Celina berdiri sedekat ini dengan seorang pria asing. Peluh dingin turun membasahi wajah Celina, nafasnya juga agak tertahan saking dekatnya dengan Rio.


"Apa yang Anda lakukan? Bagaimana kau bisa tahu namaku?" tanya Celina.


Rio melihat Celina yang semakin gugup, kemudian melepasnya sambil tertawa lagi. Celina pun mulai bisa bernafas lega.


"Maaf membuatmu kecewa, Nuna. Kau pasti berharap orang lain yang mengganti bajumu, tapi bagaimana ya. Akulah yang terpaksa menggantinya"


Ucapan Rio membuat Celina terpaku. Ia merasa bagai disambar petir di pagi hari. Bagaimana tidak, seorang pria asing membuka bajunya dan menggantinya saat dia tidak sadarkan diri. Rasanya ia ingin kabur secepat yang ia bisa, tapi kakinya mendadak lemas.


Celina kembali pingsan.


***


Kali ini Celina kembali terbangun dari pingsannya. Ia melihat ruangan yang sama namun dengan warna langit yang berbeda. Ternyata ia pingsan sampai malam. Sungguh gadis yang tak tahu tempat dan situasi, rutuk Celina pada dirinya sendiri.


Ia memutuskan untuk segera keluar dari apartemen Rio dengan mengendap-endap setelah gagal mencarinya. Ia tak percaya dirinya bisa pingsan di depan pria asing selama itu, terlebih di rumahnya. Pikiran itu terus membayangi Celina.


"Bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa kamu bisa mabuk, Celina"


Ia merutuki dirinya kembali sambil keluar dari rumah Rio. Ia tidak peduli Rio tidak ada dirumahnya, ia ingin pulang dan tidak akan menemuinya lagi. Dan begitu dia membuka pintu rumah Rio, ternyata dia masih di gedung apartemen yang sama.


"Apa ini? Jadi dia satu gedung denganku? Hish.."


Celina pikir Rio memang membawanya ke rumah karena tidak bisa membuka pintu unitnya. Tetapi dia tidak tahu kalau sebenarnya Rio juga tinggal di gedung yang sama dengan Celina. Pantas dia membantunya membawa koper kemarin, pikir Celina saat itu.


Tak begitu lama waktu yang dibutuhkan Celina untuk kembali ke apartemennya yang hanya berbeda satu lantai dengan apartemen Rio. Ia berusaha menyadarkan dirinya lagi dengan minum air putih sebanyak mungkin. Ia kembali lapar. Semalaman dia hanya tertidur tanpa makan apapun. Belanjaannya dari minimarket semalam pun raib entah dimana. Celina menyerah untuk makan dan berniat mandi, hingga ponselnya berbunyi. Ternyata Andares sudah meneleponnya sejak semalam, terlihat dari banyaknya panggilan tak terjawab di ponselnya.


"Halo.."


"Heh, Celina! Apa yang terjadi? Kenapa kau tidak mengangkat telepon saya?" teriak Andares.


Celina bingung harus menjawab apa. Ia tidak mungkin menjawab bahwa ia sedang mabuk di pinggir jalan dan pingsan di rumah orang asing. Ia memutuskan untuk berbohong bahwa ia sudah tertidur semenjak ia datang.


"Lain kali kau harus segera mengangkat teleponku! Besok akan ada yang menjemputmu di apartemen. Kau harus bersiap!”


Dan Andares pun menutup teleponnya begitu saja. Celina kesal sekali dengan sikap bosnya yang mendominasi itu. Suka memerintah dan menutup telepon tanpa menunggu jawaban darinya terlebih dahulu.


Celina pun bergegas mandi dan berniat turun untuk mencari makanan. Ia sudah tidak tahan dengan rasa laparnya yang membabi buta. Ia harus segera memberi makan perutnya atau emosinya akan meledak. Celina memang tipe yang bisa emosi hanya dengan rasa kelaparan. Dia juga berniat berkeliling untuk menghafal jalan dan lingkungan di sekitar apartemennya. Celina juga berpikir untuk belajar menggunakan transportasi umum. Agar mulai besok dan seterusnya dia bisa kemana-mana tanpa masalah.


Baru saja ia membuka pintu apartemennya, Celina sudah dikagetkan dengan keberadaan Rio di depan pintu.


"Nuna.." ucap Rio tersenyum lebar dan menerobos masuk apartemen Celina.


"Hey! Kenapa Anda masuk begitu saja ke rumah orang?” teriak Celina.


Celina tidak habis pikir dengan keberanian orang ini. Dan untuk apa dia masih mencarinya sampai ke apartemennya.


"Celina Nuna, kenapa kau keluar dari rumahku tanpa bicara denganku?"


Rio dengan santai duduk di sofa tanpa mempedulikan Celina yang kebingungan. Lagi-lagi ia bingung bagaimana Rio bisa tahu namanya. Lalu ia teringat soal dompetnya yang berisi ktp dan lainnya. Ah, Rio pasti melihatnya, batin Celina sebal.


"Permisi, Rio-nim! Kenapa Anda mengabaikan pertanyaan saya? Kenapa Anda kemari?" tanya Celina dengan nada sinis.


"Nuna, bahasa Korea-mu ternyata sangat bagus. Kau bisa bicara dengan nyaman padaku. Aku lebih muda darimu"


Untuk kesekian kali pertanyaan Celina diabaikan. Rio memang nampak lebih muda dibandingkan dengan Celina. Ia terlihat seperti berada di pertengahan usia 20-an. Dan wajahnya juga sangat mendukung. Dia sangat mirip idolanya, terlebih saat dia tersenyum. Celina yang tidak mau terpesona lebih lama, segera menyadarkan dirinya.


"Rio-nim, terimakasih telah membantu saya kemarin dan semalam. Tapi ini tidak benar! Anda menerobos masuk rumah orang!”


Kali ini Celina memasang wajahnya yang paling garang. Nada bicaranya pun sedikit ia naikkan. Ia tidak mau menghabiskan waktunya untuk meladeni bocah ini. Dia harus segera mengurus urusannya sendiri.


"Wah, ternyata Nuna orangnya sangat pemarah. Padahal aku hanya ingin berkenalan" kata Rio sambil menyodorkan tangannya.


"Bukankah kau sudah tahu namaku? Dan aku sudah tahu namamu. Itu sudah cukup" gertak Celina, kali ini dia memberanikan diri memakai bahasa nonformal dengan harapan Rio akan merasa terintimidasi. Dia sudah tidak tahan dengan sikapnya ini.


"Akhirnya, Nuna memakai bahasa nonformal. Aku anggap ini sebagai persetujuanmu untuk lebih dekat denganku"


Rio memberikan sebuah tas plastik berisi makanan dan beranjak dari sofa. Ia pergi meninggalkan Celina yang masih terdiam. Dia hanya menggelengkan kepala dan menahan emosinya.