
Celina masih terkejut dengan kedatangan Aksa di Korea yang begitu tiba-tiba. Bagaimana bisa dia muncul di Korea hanya selang dua hari setelah ia tiba di sana. Aksa sendiri pun juga sedikit terkejut saat melihat Celina di kantor itu. Ia tidak mengira akan bertemu Celina di sana, sebab Aksa memang berniat merahasiakan kedatangannya.
Celina yang merasa harus menghindari Aksa untuk sementara, memilih pergi meninggalkan kantor tanpa mengatakan hal apapun padanya. Ia tidak ingin kejadian di taman itu kembali terulang. Bisa saja Ellen mengirim orang untuk mengikuti Aksa. Atau bahkan bisa jadi dia sendiri yang datang bersama Aksa.
Sementara itu Aksa yang memang datang ke Korea karena urusan pekerjaan, juga memutuskan untuk tidak mengganggu atau menghubungi Celina untuk sementara. Dan benar saja dugaan Celina, Aksa memang datang bersama Ellen. Ia bersikeras untuk ikut saat tahu Aksa akan pergi ke Korea. Ellen merasa akan kecolongan apabila dia membiarkan Aksa berangkat sendiri, mengingat Celina juga ada di kota yang sama. Aksa pun merahasiakan pertemuannya dengan Celina dari Ellen.
Merasa sudah cukup untuk berkeliling, Celina meminta Andares untuk mengantarnya pulang ke apartemen sebelum ia melihat Aksa di kantor itu. Andares pun menurutinya karena memang dia juga sudah berniat meninggalkan tempat itu.
Begitu sampai di depan gedung apartemennya, entah kenapa dia mendadak merasa sangat ketakutan setelah bertemu dengan Aksa. Bayangan saat Ellen menyuruh orang untuk mengikutinya sampai ke rumah, membuat Celina sedikit trauma. Bahkan dia menjadi sangat lemas dan berkeringat dingin. Sampai semuanya tiba-tiba gelap.
***
Celina terbangun dan mendapati dirinya ada di ruangan yang familiar. Dan kali ini ia melihat Rio yang duduk di sebelahnya.
"Kenapa Nuna selalu pingsan di depanku? Membuatku ingin melindungi Nuna setiap saat”
Celina yang mulai ingat alasan dia berbaring di tempat tidur Rio lagi, bergegas bangun dan berniat melarikan diri karena malu. Namun dengan sigap tangan Rio kembali menghadangnya. Dia memegang bahu Celina dengan sangat kuat, bahkan bisa disebut mencengkeram bahunya. Celina pun meringis kesakitan karena cengkraman tangan Rio. Melihat tangannya menyakiti Celina, Rio segera melepaskan cengkramannya, namun berganti memegang tangan Celina. Sedangkan Celina sendiri hanya membiarkan tangan Rio memegang tangannya.
"Apa hobi Nuna memang pingsan di depan laki-laki?" tanya Rio kembali sambil menggoda Celina.
Celina mendengus mendengar ucapan Rio. Dia selalu bersikap menyebalkan saat bersama Celina, dan itu membuat Celina frustasi. Ia langsung bangkit dari tempat tidur Rio, kali ini Rio tidak menghadangnya dan membiarkan Celina pergi. Tapi sebelum Celina sampai keluar dari rumahnya, Rio mengatakan sesuatu dengan nada setengah berteriak.
"Setidaknya Nuna harus istirahat terlebih dahulu. Nuna syok dan kurang makan. Apa pekerjaan Nuna tidak membiarkan Nuna beristirahat?"
Celina sontak terdiam. Konyol sekali si Rio ini. Ia bahkan memberinya diagnosa. Apa ia seorang dokter, batin Celina sinis. Tapi ia tak menggubris ucapannya dan tetap melangkah keluar dari rumah Rio. Ia juga sangat kesal pada Andares yang meninggalkannya seorang diri dan hanya menurunkannya di depan gedung hingga ia harus mengalami hal memalukan lagi seperti ini. Celina langsung meninggalkan apartemen Rio setelah Andares meneleponnya kembali dan mengatakan bahwa dirinya sudah berada di depan pintu apartemen Celina.
“Dari mana saja kamu ini?” tanya Andares begitu Celina sampai di tempatnya.
“Dari jalan-jalan di luar” jawab Celina bohong.
Beruntung Andares tak melanjutkan pertanyaannya. Ia hanya meminta Celina bersiap untuk ikut dengan Andares menuju apartemennya.
“Kau harus tidur disana malam ini!” perintah Andares.
“Apa? Tapi kenapa?” tanya Celina balik.
“Kau lupa besok kita akan menikah? Apa ibuku harus tahu kau tidak tinggal bersamaku?”
Tanpa bisa menyela lagi, akhirnya Celina mengikuti semua perintah Andares. Ia sudah berjanji akan menyerahkan hidupnya pada takdir yang akan menuntunnya kemanapun dia ingin.
***
Hari ini adalah hari pernikahan Celina dengan Andares. Dalam bayangannya, ia akan menikah dengan seorang pewaris kaya raya yang akan menyelenggarakan pernikahan besar-besaran di sebuah tempat yang mewah dan mahal. Celina lupa bahwa pernikahan itu adalah pernikahan rahasia yang tak boleh diketahui banyak orang.
Namun ia sangat tercengang saat melihat lounge pernikahannya. Mereka menyelenggarakannya di sebuah hotel yang sangat mewah. Meski pernikahan rahasia, tetapi undangan yang hadir terbilang cukup banyak. Dan ketika ia berada dalam ruang tunggu pengantin, ada seseorang yang masuk dan membuatnya terkejut.
"Fero!" teriak Celina kaget karena melihat ada orang yang bisa ajak bicara.
Dengan senyum yang merekah, Fero mendekat dan memberi selamat pada teman barunya itu.
“Selamat apanya! Aku menggadaikan hidupku hari ini” balas Celina.
Fero hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan pengantin cantik di depannya itu. Tapi melihat masih saja ada raut kegelisahan di wajah Celina, Fero pun menanyai gadis itu.
“Ada apa? Kenapa kamu terlihat gelisah seperti itu?”
“Apa kelihatan sejelas itu?” balas Celina yang dibalas dengan anggukan oleh Fero.
“Aku takut, Fer. Katanya Andares harus merahasiakan pernikahan ini, tapi kenapa undangannya begitu banyak?” tanya Celina lagi.
Fero tersenyum lagi, kali ini sedikit lebih lebar.
“Kamu tenang saja! Mereka sudah menandatangani perjanjian” jawab Fero.
“Perjanjian? Apa maksudmu?”
Fero mengatakan bahwa semua tamu yang hadir saat itu telah menandatangani sebuah surat perjanjian dimana mereka tidak akan membahas, merekam, memberitahukan pada siapapun mengenai pernikahan tersebut. Tentunya dengan banyak pasal dan ketentuan lainnya. Bahkan saat itu tidak ada satupun tamu yang membawa tas atau ponsel, semua dititipkan di resepsionis. Bahkan kamera dari pihak penyelenggara pun juga tak ada. Pengawasan dan pemeriksaan di pintu masuk pun sangat berlapis. Mereka memastikan semua tamu tak bisa merekam pernikahan itu dalam bentuk apapun. Bahkan kamera tersembunyi sekecil apapun akan bisa mereka temukan.
Mendengar penjelasan yang begitu mencengangkan itu, bulu kuduk Celina langsung merinding. Ia tak percaya pernikahannya akan terasa ‘buta’ seperti ini. Mulai dari pengantin pria yang baru ia kenal, pernikahannya yang harus dirahasiakan, tak ada momen mengabadikan, dan tak ada satupun tamu yang ia kenal selain Fero. Bahkan keluarga yang tinggal kakaknya seorang pun tak bisa menghadiri pernikahannya.
“Wuah, jadi seperti ini kekuatan kelurga Andares?” gumam Celina.
“Apa kamu takut?”
“Tentu saja aku takut. Hanya orang bodoh yang tidak takut mengalami semua ini” jawab Celina.
Akan tetapi setelah mengatakan hal itu, Celina justru kembali dikejutkan dengan kehadiran Farah, sahabat Celina.
“Farah!” teriak Celina kaget.
“Celina!”
Farah pun berlari memeluk Celina yang masih melongo melihat kehadirannya.
“Fer, apa yang terjadi? Kenapa Farah bisa ada di sini?”
Tiba-tiba Celina panik karena takut rahasianya bocor di seluruh kantor.
“Andares yang memintanya. Dia bilang setidaknya ada seseorang dari pihakmu yang menghadiri pernikahanmu” jawab Fero.
“Tenang aja, Cel. Aku sudah diberi tahu untuk merahasiakan semua ini” sahut Farah.
Celina tercengang dengan ucapan sahabatnya itu. Ia lebih tak percaya lagi bahwa Andares memperlakukan sahabatnya sama seperti tamu-tamu lain dengan memberinya surat perjanjian itu.
Obrolan mereka pun harus berakhir saat petugas hotel meminta Celina keluar untuk memulai prosesi pernikahan. Ia cukup terpukau melihat penampilan Andares yang begitu memikat semua orang yang memandangnya. Dia menggunakan satu set tuxedo yang berwarna senada dengan gaun miliknya. Ia juga memasang senyum yang selama ini tak pernah Celina lihat. Dan tanpa disadari dalam hatinya Celina bersyukur menikah dengan Andares walaupun dengan cara seperti ini dan tanpa perasaan apapun di antara keduanya.