Be Your Secret Wife

Be Your Secret Wife
Insiden Seoul



Apartemen yang akan ia tinggali sangat besar, bahkan cukup untuk tinggal dua keluarga. Perabotan dan lainnya pun sama seperti yang ia tonton di drama. Bahkan isi kulkas di dapurnya saja penuh dengan makanan dan minuman. Celina tentu tak mau melewatkan hal ini. Ia mencoba semua makanan yang ada sembari mengistirahatkan tubuhnya di sofa. Tubuhnya terasa berat dan letih. Tapi pikirannya justru kembali membayangkan pertemuannya dengan laki-laki yang membantunya tadi. Ah, Celina menyesal tidak bertanya siapa namanya. Laki-laki itu sangat ganteng, pikirnya. Lagi dan lagi ia tersenyum konyol sendirian.


Meski malas, Celina bangkit dan membongkar kopernya. Ia tidak mau menunda membongkarnya karena itu akan membuatnya lebih malas. Baru saja ia menarik kopernya, sesuatu terjatuh dari atas koper.


"Hai, my name is Rio"


Begitu membaca tulisan di kertas yang terjatuh, Celina nyengir karena tahu siapa penulisnya.


***


Sementara Celina menikmati fasilitas yang dia dapatkan, Aksa dan Ellen masih saling diam setelah percakapan mereka di kantor. Ellen masih mengutuk Celina yang berciuman dengan kekasihnya. Karena bagaimanapun Ellen mulai menyukai Aksa, walapun awalnya ia malas dijodohkan dengannya.


Ellen meninggalkan Aksa dan mengancam akan menyakiti Celina jika Aksa kembali berhubungan dengannya. Dia tidak akan tinggal diam begitu saja melihat pertunangan mereka sudah ditentukan.


Sementara itu Aksa tengah menunggu di ruangan Andares. Tak berselang lama Andares tiba di ruangannya.


"Gimana, apa dia sudah naik pesawat?"


Andares mengangguk dan menghela nafasnya panjang dan menjatuhkan dirinya di kursi panjang yang empuk.


"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Andares.


Aksa tidak menjawab pertanyaan Andares. Ia terus terdiam.


"Bisakah kau berhenti sekarang?" tanya Andares.


“Kau bisa kembali meng-handle perusahaan ini sementara aku kembali ke Korea” lanjut Andares.


Andares melihat Aksa yang berdiri di samping jendela.


"Sudah waktunya, Sa. Kamu harus kembali!"


"Belum saatnya. Aku udah sejauh ini. Aku tidak mungkin merusaknya sekarang"


Aksa keluar dari ruangan Andares dengan perasaan campur aduk. Ditambah banyak pekerjaannya yang menumpuk dan belum ia selesaikan. Ia terlalu sibuk mengurusi urusan pribadinya. Sementara itu Andares kembali menelepon Fero.


"Apa permintaanku disana sudah kau urus?"


"Sudah, Pak"


Andares dengan cepat menutup teleponnya. Ia mulai memikirkan sesuatu dengan gaya khasnya memutar kursi. Lalu ia meninggalkan ruangannya menuju ruangan Fiona. Mereka lantas terlihat mendiskusikan sesuatu dari kaca pembatas ruangan.


***


Celina mulai mencoba beradaptasi dengan keadaannya saat ini. Awalnya ia pikir hanya dengan makan makanan ringan yang sudah disiapkan orang suruhan Andares, ia sudah cukup kenyang, ternyata ia salah. Celina masih merasa lapar. Tapi ia ragu untuk turun dan mencari makanan, karena Celina sama sekali tidak tahu daerah itu.


Meski jam sudah menujukkan pukul sepuluh malam waktu setempat, dia tetap memutuskan bangkit dari tempat tidurnya dan turun untuk mencari makanan. Dia berniat mencari minimarket atau semacamnya, seperti yang ada di drama.


Celina keluar dari apartemen dengan jalan kaki, menelusuri jalanan kota Seoul. Ia belum tahu cara menaiki transportasi umum. Dan rutenya pun juga sama sekali belum ia pelajari. Saat itu Celina merasa sangat stres dan frustasi karena tidak menyiapkan apapun.


Meski sedikit takut, ia terus berjalan mencari minimarket terdekat. Matanya sesekali berbinar melihat keindahan Seoul yang ada di depannya. Kebetulan area apartemen Celina berdekatan dengan banyak gedung perkantoran dan pusat hiburan, sehingga dia dengan mudah ia bisa menemukan yang dicarinya.


Celina melihat ke sekitar minimarket, mencari beberapa makanan yang sekiranya bisa ia makan. Akhirnya ia memutuskan mengambil beberapa bungkus mie instan dan roti, berikut minumannya. Celina bergegas menuju kasir dan berbicara sebisanya saat pelayan kasir mengajaknya bicara. Lagi-lagi semua hanya berdasarkan apa yang dia tonton di drama.


"Huh, ternyata nggak semudah yang aku bayangkan" gerutu Celina.


Celina terus mengeluh sambil mendudukkan dirinya di kursi yang berderet di depan minimarket. Sudah hampir tengah malam tapi ia memberanikan diri untuk tetap di luar, untuk melihat dan menjajal kehidupan orang Korea.


Tidak berbeda jauh dengan Jakarta, mayoritas penduduk kota Seoul pun masih banyak yang terjaga meski sudah melewati tengah malam.


"Wuah, aku di Seoul! Ini Seouuuullll"


Celina berdiri sambil berteriak, berputar-putar dan tertawa. Ia mengundang banyak perhatian dari orang-orang yang ada di sekitar minimarket. Ternyata Celina sedikit mabuk. Tanpa ia sadari ia memilih minuman yang ada kandungan alkoholnya. Dan dengan penuh percaya diri ia menenggaknya tanpa mengecek terlebih dahulu.


Hal yang sangat ingin dihindari Celina saat membayangkan hidup di Korea adalah alkohol. Ia sangat membencinya. Ia berpikir orang yang minum alkohol adalah orang yang membahayakan dirinya sendiri dalam berbagai hal. Namun sekarang Celina malah mengalaminya.


Dengan sisa kesadarannya, Celina berkali-kali mencoba berdiri. Ia merasa sangat pusing dan ingin pulang. Tapi setiap dia mencoba berdiri, pijakan kakinya selalu goyah dan membuat dia terhuyung. Wajahnya juga berubah sangat merah. Ini pertama kali Celina meneguk alkohol yang sangat ia benci.


Akhirnya ada seseorang yang melihat tingkah aneh Celina dan mendekatinya. Namun bukannya membantunya untuk berdiri tapi orang itu justru merogoh saku jaket Celina dan mencari-cari sesuatu. Begitu ia mendapatkan dompetnya, ia pun tersenyum dan bergegas meninggalkan Celina.


"Hey, berhenti! Letakkan dompet wanita itu!"


Seseorang laki-laki menghadang pencuri itu dengan menjegal kakinya. Setelah merubuhkannya dengan beberapa pukulan, dia mengambil dompet dan kembali menolong Celina yang sudah tergeletak sambil terus meracau. Tanpa pikir panjang pria itu menarik Celina ke atas punggungnya. Ia menggendongnya dan menjauh dari area minimarket untuk menghindari pandangan orang-orang yang melihat adegan baku hantam tadi.


"Wah, bukannya ini gadis yang kemarin?"


Ternyata laki-laki yang menolong Celina adalah orang yang menolongnya kemarin saat kesulitan membawa koper. Dia mengenalinya setelah melihat wajah Celina saat menggendongnya. Tanpa membuang waktu dia membawa Celina ke apartemen. Dan tidak sulit menemukan unit yang ia tinggali karena laki-laki itu membantu Celina sampai depan unitnya.


Masalahnya dimulai begitu mereka sampai di depan unit. Apartemen Celina hanya bisa diakses dengan kartu yang dipegang penghuninya atau dengan kata sandi. Dan ketika laki-laki itu berusaha mencari kartu akses di dompet Celina, ia tidak menemukannya. Satu-satunya cara hanyalah bertanya kata sandinya. Tapi melihat Celina yang teler dan sudah tidak sadarkan diri, laki-laki itu berpikir hal lain.


***


Langit sudah berubah menjadi jingga, seperti langit subuh khas Indonesia. Celina yang mulai sadar dari tidurnya, mengerjap dan terbelalak saat mendapati ruangan yang ia yakini bukan kamar apartemennya. Saat mencoba bangun di tengah kepalanya yang masih menyisakan pening, Celina juga terkejut. Ia sama sekali tidak menggunakan baju. Dan spontan dia pun berteriak sekencangnya.


"Apa ini? Kenapa aku di sini? Ini di mana?" teriak Celina kebingungan.


Mendengar teriakan itu, seseorang lantas muncul membuka pintu kamar tempat Celina berada. Mengetahui ada orang asing melihatnya hanya dalam balutan selimut, Celina kembali berteriak dan menahan selimutnya agar tetap tertutup.


"Who are you?"