
Hampir seminggu berlalu semenjak Celina menikah dengan Andares. Satu minggu juga berlalu setelah ia bertemu Aksa di kantor Korea. Dan semua mulai berjalan seperti apa adanya. Celina menjalani kehidupan barunya di Korea sesuai kemampuannya.
Menjadi istri rahasia seorang Andares ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Celina memang membayangkan semua akan berjalan dengan sulit, tapi ia tak menyangka akan sesulit ini hingga membuatnya mulai stres di hari ke tujuh menjadi Nyonya Andares.
Celina mulai merasa pusing dan stres sejak hari pernikahannya seminggu yang lalu. Tak ada yang spesial bagi Celina saat itu. Ia hanya melihat orang-orang super tajir sedang melakukan pesta mewah dengan dirinya yang ada di dalamnya. Celina bahkan tak melihat dirinya yang harusnya menjadi pusat perhatian. Dia hanya melihat orang-orang itu menyalaminya dan selesai. Mereka akan langsung larut dalam percakapan bisnis yang sangat dalam hingga melupakan bintang sebenarnya dari acara hari itu. Pernikahan itu benar-benar hanyalah formalitas yang membuat Celina merasa seperti boneka hidup. Dan ia tak bisa menyesalinya apalagi berpikiran untuk kembali mundur.
Selain masalah pernikahan, masalah malam pertama pun juga menjadi pikiran tersendiri bagi gadis muda itu. Celina memang tidak berharap sesuatu yang lebih layaknya pasangan suami istri sesungguhnya, tetapi ia sama sekali tak berpikir bahwa Andares akan memperlakukannya begitu kentara.
Malam itu juga, dia meminta Celina untuk pulang kembali ke apartemennya. Pria dingin itu bahkan tak memberinya napas untuk beristirahat di lounge dan kamar yang telah disiapkan oleh pihak hotel. Andares benar-benar dengan tegas menyuruh Celina kembali ke apartemen setelah mengganti gaun pernikahannya.
Sedihnya lagi Celina tak bisa mengeluh apapun soal ini. Dia pun kembali ke apartemennya dengan perasaannya yang campur aduk.
Di samping itu, Celina juga langsung diminta bekerja di kantor yang kemarin diperlihatkan oleh Andares. Tak mau ambil pusing memikirkan Andares dan sikapnya yang dingin, Celina memutuskan untuk bekerja dan menghabiskan waktunya dengan melakukan hal-hal yang ia inginkan.
Sudah tiga hari sejak Celina masuk ke kantor dan bekerja, dan dia hampir tak pernah melihat Aksa di sekitar kantor. Celina berusaha keras untuk membangun kembali karirnya di Korea. Kali ini dia harus berusaha lebih ekstra karena ia satu-satunya pegawai dari Indonesia. Celina juga harus mengasah kemampuan bahasa Korea-nya yang masih terbilang kurang. Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil les bahasa, tentu dengan uangnya sendiri. Meski dirasa harus berhemat, tapi kebutuhan yang satu ini juga penting baginya. Andares hanya menjadikannya istri diatas kertas, bukan berarti ia adalah istri sesungguhnya yang bisa meminta uang darinya begitu saja.
Satu hal yang aneh lainnya adalah, ia sama sekali belum bertemu dengan Rio. Meski ia selalu merasa kesal setiap terlibat dengannya, Celina merasa aneh saja tidak melihat dia selama seminggu ini. Semenjak kejadian pingsan di rumahnya, Celina merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia sering berpikir apakah sikapnya keterlaluan, meninggalkan rumah Rio tanpa bicara apapun padahal Rio berkali-kali membantunya. Bahkan seingatnya dia malah belum mengucapkan terima kasih. Tapi Celina justru selalu berusaha melupakan pikiran ini. Ia hanya ingin fokus dengan pekerjaannya.
***
Hari itu Celina selesai bekerja seperti biasa. Ia menuju apartemennya pada pukul tujuh malam. Celina memang selalu menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Ia tergolong pegawai yang cukup disiplin dan tidak suka menunda pekerjaan. Mungkin itu juga alasan Andares memindahkannya ke kantor Seoul.
Sesampainya di rumah, Celina menemukan sebuah kotak kardus yang tergeletak di depan pintunya. Berpikir bahwa itu mungkin paket dari orang suruhan Andares yang memang beberapa kali pernah mengiriminya barang-barang, Celina membawanya masuk ke dalam apartemen. Ia tidak langsung membukanya dan meletakkannya di atas meja ruang tamu karena ingin segera membersihkan diri terlebih dahulu.
Setelah selesai mandi, Celina berniat memakan tteokbokki yang ia beli dari warung tenda pinggir jalan saat ia pulang tadi. Ia pun keluar dari kamar mandi dalam keadaan masih menggunakan bathrobe. Namun ia teringat dengan kardus yang ia bawa dari depan apartemennya. Dan ketika membuka kardus itu, Celina langsung seketika berteriak sekencang-kencangnya. Ia sangat terkejut karena di dalam kardus itu ada seekor burung dalam keadaan mati dan penuh darah. Celina berusaha tenang dan tidak panik, tetapi tangan dan kakinya tetap bergetar ketakutan. Siapa yang mengiriminya hal seperti ini terlebih di Korea. Ia bahkan belum mengenal banyak orang.
Di tengah Celina yang masih bingung dan ketakutan, bel pintu apartemennya berbunyi. Celina berusaha bangkit meski kakinya masih bergetar. Ia berharap supir atau suruhan Andares yang datang agar ia bisa meminta tolong untuk menyingkirkan kardus itu. Namun ketika ia membuka pintu apartemennya, dia melihat Aksa yang berdiri di depannya.
"Sa, bagaimana kamu bisa tahu aku di sini? Apa pak Andares yang memberitahumu?"
Celina bertanya dengan suara yang tercekat, berusaha menyembunyikan kejadian yang baru saja menimpanya.
"Boleh aku masuk?"
"Enggak! Kita ngobrol di luar aja!" jawab Celina sambil menutup pintunya hingga bunyi pengaman pintunya terdengar.
Mereka pun berjalan menuju atap, satu-satunya tempat yang memadai dan aman dari jangkauan Ellen. Celina sadar keputusannya berbicara dengan Aksa akan berisiko cukup besar. Ellen adalah gadis yang cukup nekat. Sekali dia menginginkan sesuatu, dia akan berusaha mendapatkannya.
Begitu sampai di atap apartemen, Aksa langsung memeluk Celina. Kali ini cukup erat sampai Celina sulit bernafas. Celina sedikit terkejut karena Aksa memeluknya tanpa aba-aba. Dan ketika dia berhasil melepaskan diri dari pelukan Aksa, laki-laki bertubuh atletis itu justru menyerangnya dengan ciuman yang mendarat di bibir Celina. Bahkan kali ini ciumannya lebih membabi buta dibanding saat mereka berciuman di taman. Aksa menjelajahi bibir Celina yang ranum dan merah muda. Sementara Celina yang makin terbelalak karena 'kejutan' ini, justru ingin melepaskan diri dari ciuman Aksa.
Celina merintih di sela-sela ciuman Aksa yang makin membuatnya kesulitan bernafas. Aksa benar-benar ******* habis bibir Celina. Dan saat dia sedikit lengah, Celina menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri dari Aksa.
PLAKK
"KAMU GILA???!!!" teriak Celina, tangannya pun juga berhasil mendarat di pipi Aksa.
Aksa yang sama-sama terengah kehabisan nafas, hanya bisa diam melihat Celina yang mulai menangis.
"Maaf, Cel.."
"..aku kangen banget sama kamu. Aku ingin peluk kamu sejak kita bertemu di kantor"
Aksa yang mulai sadar perbuatannya diluar kendali, makin merasa bersalah saat tangis Celina semakin pecah. Ia tidak berpikir perbuatannya akan sebegitu menyakiti gadis yang ia cintai.
"Kamu gila, Aksa. Kamu tahu Ellen bisa saja melihat kita, tapi kamu malah melakukan hal gila seperti ini" Celina mencoba mengatur nafasnya dan kembali berbicara.
"Kamu mikir nggak perasaan aku kayak apa? Hah? Kamu kira dengan kamu menciumku seperti ini, aku akan berlari memeluk kamu, gitu?"
"Aku minta jangan temui aku dulu, Sa! Sampai otak kamu bisa berpikir jernih. Kalau kamu tetap seperti ini, aku tidak akan mau menemui kamu lagi” kata Celina tegas.
Celina pun meninggalkan Aksa yang hanya terdiam melihat hasil dari perbuatannya. Sejujurnya ia memang hanya ingin memeluk Celina, tapi rasa kangen dan perasaan yang selama ini ia tahan, membuatnya menyakiti gadis yang sangat ia cintai.
Dengan tangis yang kembali pecah, Celina menuju apartemennya. Hatinya hancur melihat sikap Aksa yang sama sekali tidak memikirkan perasaan dan posisi Celina. Setibanya di rumah, Celina dengan cepat menekan tombol pengaman untuk memasukkan kata sandinya. Dan begitu pintu terbuka, Celina menjerit untuk kedua kalinya. Kali ini dia melihat rumahnya sudah dalam keadaan berantakan. Semua perabotan dan hiasan yang ada di rumahnya pecah berserakan. Baju-baju di kamarnya juga terserak di lantai. Rumahnya seperti habis disambangi maling. Ia pun segera berlari keluar karena takut pelakunya masih ada di dalam rumah. Dan satu-satunya tempat yang muncul di pikirannya saat itu hanyalah rumah Rio. Ia pun menuju ke sana.
Celina menggedor pintu rumah Rio dengan keras sembari memanggil namanya. Ia sudah tidak peduli bagaimana pandangan Rio nantinya. Ia hanya ingin meminta pertolongan dan berharap Rio muncul untuk menolongnya. Dan benar saja, Rio yang seminggu penuh hampir tidak bertemu dengan Celina, akhirnya muncul dari balik pintu rumahnya.
Melihat Celina yang menggedor pintunya dengan wajah yang ketakutan dan penuh air mata, Rio pun terkejut. Ia segera menarik Celina untuk masuk.
"Nuna, apa yang terjadi?" tanya Rio panik.
"Rio, aku minta maaf, bisakah aku di sini untuk malam ini, aku t-takut.."
Celina pun menjelaskan apa yang terjadi dengan rumahnya. Rio yang mendengarkan ceritanya, langsung berlari menuju apartemen Celina untuk mengecek. Karena siapa tahu memang pelakunya masih ada di rumah Celina. Namun Rio tidak menemukan siapapun di sana. Ia hanya melihat rumah Celina sudah dalam keadaan berantakan. Ia pun kembali ke apartemennya dan berusaha menenangkan Celina.
"Nuna, untuk sementara kamu tinggal saja di sini. Jangan pulang sebelum aku mencari tahu siapa pelakunya" kata Rio.
Celina yang masih sangat syok hanya mengangguk menuruti Rio. Dia mencoba menelepon Andares, tapi tidak diangkat. Dan tidak mungkin dia akan menghubungi Aksa yang baru saja bertengkar dengannya. Celina pun menyerah. Ia memutuskan untuk tidur di rumah Rio malam itu