
"Sa.."
"Sebentar saja, Ra" kata Aksa.
Celina merasakan pelukan Aksa justru semakin kuat. Tetapi dia bingung harus bereaksi seperti apa. Di satu sisi dia tidak merasa nyaman, tapi di satu sisi dia juga tidak ingin memaksa dirinya untuk menerima ungkapan hati Aksa. Ia hanya akan terlihat seperti wanita yang terbuang dan melampiaskannya pada Aksa.
Tak lama Aksa melepas pelukannya dan memandang Celina. Nampak dari mata Aksa yang mulai berkaca, bahwa sebenarnya ia sangat mencintai Celina, bahwa ia sangat tertekan dengan keadaannya saat ini.
"Cel, jawab pertanyaanku!"
"Huh? Ah, itu.." Celina tiba-tiba tergagap ketika Aksa menodong jawaban darinya.
"Bisakaha kamu menungguku?" Aksa mengulang pertanyaannya ingin memastikan.
"Sa, aku tidak yakin. Aku.."
Ucapan Celina kembali terpotong. Tiba-tiba saja bibir Aksa sudah mendarat lagi di bibir Celina yang sudah basah karena air mata. Celina sedikit terdorong dan kaget untuk kedua kalinya, tapi kemudian dia menutup matanya. Mencoba merasakan apakah ini yang dia inginkan, atau hanya karena Celina merasa kehilangan Dion saja.
***
Aksa mengantar Celina pulang saat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Begitu sampai di depan rumah, mereka melihat satu mobil yang cukup familia di mata Celina.
Sesuai dugaan, Fero keluar dari pintu depan mobil milik Andares dan langsung menghampiri Celina yang masih berdiri di samping Aksa.
“Fero? Kenapa bisa di sini? Itu mobil Andares, kan?” tanya Aksa.
Celina mengernyit heran begitu mendengar Aksa menyebut Fero dan Andares hanya dengan nama mereka, padahal dia baru saja bekerja di kantor itu.
Fero hanya tersenyum dan mengangguk. Ia langsung beralih berbicara dengan Celina.
"Cel, Pak Andares mau ketemu" kata Fero singkat.
“Andares? Kenapa dia mau ketemu Celina? Apa dia kenal sama kamu, Cel?” kata Aksa heran.
“Enggak ada apa-apa. Udah kamu pulang aja, ini cuma urusan kerjaanku aja!” jawab Celina
Ia memutuskan untuk menjawab seperti itu agar Aksa tidak bertanya lebih lanjut. Celina tak mau berbohong lagi, karena sekali menaruh kebohongan maka akan muncul seribu kebohongan lainnya.
Celina langsung beranjak menuju mobil Andares, sementar Fero berusaha mengalihkan perhatian Aksa yang masih belum meninggalkan tempat itu.
"Sorry bro, Celina harus menyelesaian satu kerjaan yang masih pending. Soalnya dia mau ke Korea” ujar Fero mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Nah mumpung lo bahas itu, gimana ceritanya temen gue bisa tiba-tiba dipindahin ke Korea?" tanya Aksa.
Celina mendengar pertanyaan itu dalam perjalanannya menuju mobil dan segera mengirim pesan agar Fero tidak menceritakan sebab yang sebenarnya. Fero yang langsung paham, segera memutar otak untuk memberi penjelasan kepada Aksa.
"Oh, itu karena Andares lagi ada proyek baru sama investornya di Korea. Dan mereka meminta karyawan baru yang sudah memahami sedikit bahasa Korea, dan aku lihat Celina bisa” terangnya.
Kemampuan mengarang Fero bisa dibilang cukup meyakinkan, karena Aksa terlihat mempercayainya begitu saja. Tapi mungkin memang ini tak sepenuhnya karangan, sebab alasan yang diucapkan Fero memang bisa saja dipikirkan oleh Andares saat meminta Celina pergi ke Korea. Karena Fero sendiri belum tahu alasan sepupunya mengajak Celina pergi ke negeri ginseng itu.
Sementara di dalam mobil, Andares membawa dua kabar untuk disampaikan pada ‘calon istrinya’.
“Ini! Semua pengobatan kakakmu, biaya rumah sakit, dan ganti rugi sudah aku bereskan. Rumor di kantor akan diurus besok oleh Fero” kata Andares dengan nada dinginnya.
Celina merasa lega sekaligus pedih. Jika semua ini sudah diselesaikan, berarti dia benar-benar akan menikah dengan pria di depannya. Dan Andares melanjutkan ke berita yang akan mengejutkan Celina kembali.
“Kita akan menikah tiga hari lagi, sebelum itu kamu harus resign dari kantor!” katanya.
Mendengar kata ‘tiga hari’, Celina membelalak tak percaya. Bagaimana bisa sebuah pernikahan bisa diputuskan tanpa melibatkan dirinya, apalagi secepat itu. Celina lupa bahwa Andares adalah young crazy rich dan dia hanya mendapat predikat young and crazy nya saja. Andares bisa melakukan apapun sementara dia hanya bisa menerima apapun perintahnya.
Pukulan terakhir dari hari itu mendadak membuat Celina sesak napas. Ia tak tahu lagi harus berkata apa sehingga dia memutuskan untuk meninggalkan mobil Andares.
Setelah percakapan orang-orang itu dirasa selesai, akhirnya mereka membubarkan diri. Celina merasakan hari ini terlalu lama dan berat untuknya. Dia hanya ingin mandi dan tidur.
***
Sebelum memejamkan matanya, dia menelaah semua berita yang Andares sampakan. Menikah dalam seminggu, yang benar saja. Ia merasa ditipu oleh Andares. Awalnya dia membuat penawaran diusir ke Seoul atau menikah dengannya. Ia memilih menikah namun pada akhirnya dia juga akan pergi kesana. Mirisnya menjadi orang susah, pikir Celina.
Namun anehnya di tengah pikirannya yang kalut, dia malah kembali teringat saat Aksa menciumnya di taman. Ada perasaan malu, sedih dan juga bahagia. Aneh sekali dia bisa merasakan bahagia ketika melakukan hal bodoh itu. Dan ketika Aksa memintanya untuk menunggunya, Celina pikir itulah jawaban yang tepat untuk mereka.
Sementara itu Aksa yang tengah menyetir sepulang dari rumah Celina, mendadak putar arah setelah membaca pesan masuk di ponselnya. Dia menancap gas dengan kecepatan diatas rata-rata.
Celina sudah naik ke tempat tidur dan mencoba memejamkan matanya saat pintu rumahnya kembali diketok oleh seseorang.
"Apa lagi sih ini? Jam segini bertamu" gerutu Celina.
Celina sedikit takut tapi memberanikan diri untuk mendekat ke pintu dan membukanya.
"Aksa, ada apa? Kenapa balik lagi?" tanya Celina bingung melihat Aksa yang kembali dengan keadaan yang gelisah dan buru-buru.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Aksa.
"Aku baru mau tidur, aku baik-baik aja. Kenapa sih?”
"Ellen bilang dia akan bikin perhitungan sama kamu, dia ngirim foto seseorang sedang mengintai rumah kamu. Dia ada di sekitar sini, Cel" jelasnya.
"Ellen? Kenapa tiba-tiba Ellen bilang begitu?" tanya Celina yang semakin bingung.
"Dia melihat kita di taman.."
***
Celina merasa seperti tersambar petir tengah malam. Ia merasa hidupnya akan berakhir sejak Aksa berkata Ellen sudah mengetahui semuanya. Ada perasaan menyesal oleh Celina, kenapa harus menerima ciuman Aksa di taman, apalagi dua kali. Harusnya dia segera melepasnya saja, dengan begitu Ellen mungkin tidak akan melihat yang kedua. Ah, tapi sudah terlambat.
"Apa tadi ada orang yang mengganggumu, Cel?" tanya Aksa gusar.
Aksa mengangguk dan mengusap kepala Celina dengan lembut.
"Kamu masuk aja, aku akan di sini sebentar trus pulang" kata Aksa.
Celina tak yakin apakah ini akan baik-baik saja. Ellen melihat pacarnya berciuman dengan musuhnya. Dan bukan hanya sebuah kecupan. Dia melihat mereka berpelukan, dan sekarang pun dia pasti melihat sikap Aksa yang mengelus kepalanya.
Celina masuk kembali ke dalam kamarnya. Sedangkan Aksa duduk di teras mereka sambil mengutak-atik ponselnya.
Aku tahu kalian berciuman. Apa kamu juga menidurinya?
Bunyi pesan yang dikirimkan Ellen yang membuat Aksa kembali putar balik ke rumah Celina. Dia pun juga mengirimkan foto mereka berdua di taman. Aksa pun berkali-kali menelepon Ellen tapi tidak diangkatnya. Hingga Aksa pun menyerah saat meninggalkan rumah Celina malam itu.
***
"Sa, apa Celina udah nyampe kantor?" tanya Farah sambil tergopoh-gopoh.
"Aku belum lihat, aku baru datang, ada apa emangnya?"
Aksa yang baru datang ikut panik mendengar Farah mencari Celina, terlebih setelah kejadian tadi malam.
Farah pun hanya memasang raut wajah panik seraya menyodorkan ponselnya ke Aksa. Tanpa bertanya Aksa meraih ponsel Farah dan membukanya. Spontan wajahnya memerah, tangannya yang memegang ponsel pun bergetar. Ia melihat foto dirinya dan Celina yang tengah berciuman di taman malam itu disebar di sebuah grup obrolan.
"Siapa yang posting ini?" tanya Aksa geram.
Tapi sebelum Farah menjawabnya, Aksa sudah melihat sebuah postingan pesan di bawah foto tersebut.
Hot News : Celina berciuman dengan Aksa, lihat fotonya
"Ellen.." gumam Aksa geram.
Aksa meninggalkan Farah setelah memberikan ponselnya kembali. Ia berlari menuju ruangan tempat Ellen bekerja. Tapi dia tak menemukan gadis yang sudah berpacaran selama tiga tahun dengannya itu.
Sementara Aksa tengah 'mengejar' Ellen, Celina yang sudah memutuskan untuk menghadapi Ellen, akhirnya tiba di kantor. Hari ini dia akan mengepak barangnya dan berpamitan dengan beberapa karyawan lain sesuai perintah Andares.
Ia memutuskan untuk menuju ruangannya untuk mengepak barang-barangnya terlebih dahulu. Dia merasa orang-orang di sekitarnya sedikit aneh. Sejak dari pintu masuk hingga ruangannya, dia merasa semua orang membicarakannya. Tapi Celina masih belum mengetahui apa yang terjadi.
Ponselnya yang berbunyi membuat Celina berhenti mengepak dan menjawab panggilan yang ternyata dari Andares.
"Celina, kamu dimana?" tanya Andares dari telepon.
"Di ruangan saya, Pak. Saya sedang packing" jawab Celina.
"Kamu segera temui saya di hotel. Barang-barang kamu nanti akan diurus oleh Fero. Sekarang kamu berangkat ke sini" perintah Andares.
Celina belum sempat menjawabnya kembali namun Andares sudah menutup panggilannya. Walaupun masih trauma karena berurusan dengan seseorang di hotel kemarin, namun Celina tetap menjalankan perintah atasannya itu. Dia langsung meninggalkan ruangan dan menuju hotel tempat Andares menginap.
***
Andares menutup panggilannya dan kembali melakukan panggilan lain dari ponselnya.
"Halo.." suara seseorang dari dalam ponsel Andares.
"Saya sudah menyuruhnya ke hotel, kamu urus yang di sana" kata Andares yang langsung menutup teleponnya kembali.
Tak lama bel kamar Andares pun berbunyi, dengan Celina yang sudah berdiri di depan pintu. Hotel tempat Andares menginap memang dekat dari kantor agar mempermudah mobilitasnya.
Andares membuka pintu dengan tatapan dinginnya, disusul dengan Celina yang mengekor di belakangnya. Ia belum pernah masuk ke kamar Andares yang merupakan suite room termewah di hotel itu, karena selama ini dia mengantar Andares, dia hanya berhenti sampai depan lift di lantai satu.
Celina berdecak kagum melihat kemewahan kamar Andares. Semua diisi dengan barang-barang mewah. Walaupun itu hotel tapi seolah rumah Andares sendiri.
"Jangan-jangan ini memang hotelnya Andares" batin Celina
"Ada apa Bapak memanggil saya kemari?" tanya Celina lebih dulu.
"Bagaimana persiapan untuk besok lusa? Apa kamu sudah siap berangkat?" tanya Andares.
"Mm, saya sudah packing, hari ini tinggal pamitan saja sama temen-temen di kantor. Ada apa memangnya, Pak?"
"Kamu tinggal saja di sini, nggak usah kembali ke rumah. Pamitannya lewat telepon saja, saya siap-siap dulu habis itu kita ambil barang-barangmu di rumah" kata Andares beruntun.
Celina kaget dan membelalak.
"Tinggal di sini? Apa maksud Bapak?" protesnya.
"Sudah, kamu ikuti saja apa yang saya suruh" kata Andares sedikit sebal karena Celina selalu protes kalau dia memerintah.
Karena sudah tidak bisa dinegosiasi lagi, akhirnya Celina menuruti perintah Andares. Dia menelepon beberapa teman kantornya dan juga Farah. Tentu saja Farah tidak memberitahu Celina soal yang terjadi di kantor pagi itu.
"Ya udah kamu hati-hati ya, Cel. Jaga diri baik-baik disana, jangan lupa kabarin gue kalau udah nyampe sana" kata Farah sambil menahan tangisnya, kehilangan sahabat dan partner kerja dalam waktu yang nggak tahu sampai kapan.
Celina hanya menjawab sekedarnya karena Andares sudah mengodenya untuk bergegas. Mereka meninggalkan hotel dan menuju rumah Celina untuk mengambil barang-barangnya.
***
Aksa mengecek ponselnya berkali-kali dan nampak kesal ketika tidak mendapatkan apa yang ia cari. Dan di saat yang bersamaan, Celina mengiriminya pesan.
Aku berangkat sekarang. Kamu jaga diri baik-baik.
Aksa menghela nafasnya lagi.
"Syukurlah.." ucap Aksa dengan suara lirih.
Rupanya sedari tadi Aksa berusaha menjauhkan Celina dari kantor agar dia tidak mengetahui hal buruk yang terjadi gara-gara ulah Ellen. Aksa juga yang menelepon Andares agar dia memanggil Celina secepatnya ke hotel. Dan soal tinggal di hotel, itu juga saran dari Aksa.