
Langit Seoul nampaknya lebih bersahabat dengan Celina. Rencananya berkeliling disambut baik dengan cerahnya cuaca hari itu. Tapi gadis itu lupa bahwa Andares telah mengutus seseorang untuk menjemputnya.
“Ah iya! Untuk apa dia menyuruh orang menjemputku?” gumam Celina seorang diri.
Celina pun akhirnya menunda rencana berkelilingnya setelah orang suruhan Andares sudah tiba di depan apartemennya. Terkadang ia bingung, apakah Andares memang sebaik ini, atau ia melakukan ini karena dia akan menjadi istrinya. Bukan tanpa alasan Celina memikirkan hal ini. Ia selalu merasa perlakuan Andares padanya sedikit berlebihan meski ia setuju untuk menikah dengannya.
"Kita mau kemana, Pak?" tanya Celina.
"Pak Andares meminta saya mengantar Anda berbelanja” jawab supir itu.
Mendengar jawaban itu, Celina kembali melongo. Semudah itu orang kaya memerintahkan ini itu. Dan lucunya ia hanya bisa menerima tanpa bisa membantah. Kebetulan supir yang dikirim Andares adalah orang Korea yang bisa berbahasa Indonesia dengan fasih, karena sering berhubungan dengan Andares. Ia membantu Celina berbelanja banyak pakaian, sepatu, dan tas. Ia juga mengantarnya berkeliling kota Seoul hari itu. Membuat Celina bisa mencatat semua hal yang menurutnya penting. Dan tujuan terakhir mereka adalah apartemen.
"Kita sudah sampai, Nona"
Celina takjub begitu melihat gedung yang ditunjukkan sang supir. Gedung itu lebih tinggi, besar dan nampak mewah dari apartemen tempat ia menginap. Ia lupa kalau dia ada di Korea, negara yang lebih maju daripada negaranya, tentu semuanya terasa lebih dari yang ada di Indonesia.
“Ini dimana, Pak?” tanya Celina ragu.
“Ini apartemen Pak Andares” jawab supir itu.
Celina mendadak blank. Ia pikir apartemen tempat ia menginap adalah tempat tinggal Andares, ternyata bukan. Setelah memasukinya, Celina mendecak kagum, karena apartemen ini jauh lebih mewah dari segala sisi.
Dan disaat Celina masih tertegun melihat ruangan-ruangan di apartemen itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara pintu terbuka. Celina pun berbalik untuk melihat siapa yang masuk ke ruangan itu. Dan betapa terkejutnya Celina saat ia melihat wajah yang tak asing baginya.
“Pak Andares? Sejak kapan Bapak tiba di Korea?” tanya Celina.
Andares tidak menjawab dan hanya memasuki satu ruangaj yang belum sempat Celina jelajahi. Ia cukup lama berada di ruangan itu, hingga Celina terus memanggilnya. Ia takut terjadi sesuatu dengan Andares.
“Pak..”
Namun tetap tak ada jawaban dari dalam. Celina pun memberanikan diri membuka pintu ruangan tersebut dengan perlahan. Saat separuh tubuhnya sudah masuk ke dalam, ia ditarik oleh pria itu dan langsung disudutkan ke tembok.
“Pak, apa yang Anda lakukan!” teriak Celina.
“Apa kau tidak mengenaliku?”
Setelah mengamati lebih lama, ternyata pria yang berdiri di depannya bukanlah Andares, melainkan Andreas.
“Andreas..” ucap Celina lirih.
“Ya, ini aku. Kenapa kau mengabaikan ucapanku untuk tidak menerima tawaran Andares, huh?” seru Andreas.
“Memangnya kenapa? Kenapa aku harus menolaknya?”
“Berapa kali aku harus katakan? Dia itu hanya memanfaatkanmu, Celina!” teriak Andreas.
Celina semakin tak paham dengan maksud ucapan Andreas. Dan lagi-lagi, disaat ia belum mendapat jawaban, sikap Andreas kembali berubah. Ia mulai mendekatkan kepalanya dan kembali mencium bibir Celina. Bahkan kali ini terasa lebih berbeda dari sebelumnya. Celina merasakan ciuman itu lebih dalam dan cepat seolah sedang terburu-buru.
Celina berusaha melepaskan diri, namun usahanya selalu sia-sia. Sesaat setelahnya, tubuh pria itu menjauh dengan napas terengah. Celina menatap wajah itu, kali ini dia bisa merasakan bahwa pria itu telah berubah kembali menjadi Andares. Tatapan matanya sudah berbeda dengan Andreas. Tatapan yang sebelumnya penuh dengan amarah dan emosi, kini berubah menjadi lebih redup dan sejuk.
“Andares..” ucap Celina lirih.
Tanpa diduga, pria yang kini telah berubah menjadi sosok Andares justru kembali mencium Celina tanpa ijin darinya. Namun entah karena alasan apa, tubuh Celina merasa berbeda. Jika sebelumnya dia ingin menolak dan melepaskan diri, kali ini ciuman itu terasa lebih pelan dan hangat. Tanpa ia sadari, Celina pun membalas ciuman Andares hingga mereka larut di dalamnya.
“Apa dia baru saja meninggalkanku begitu saja?” gumam Celina.
Celina mendecak tak percaya. Ia ditinggalkan begitu saja setelah ‘diserang’ seperti itu. Tanpa ucapan dan penjelasan apapun.
Dengan perasaan campur aduk, Celina keluar dari ruangan itu dan berniat pergi meninggalkan apartemen Andares. Ia sama sekali tak menemukan Andares setelahnya.
“Apa dia menghilang setelah melakukan hal itu?” ucap Celina kesal.
Akhirnya dia kembali ke apartemennya dengan emosi yang tertahan.
***
Celina mendadak gugup ketika Andares menyuruh beberapa orang datang ke apartemennya lagi. Kali ini dia akan diantar ke sebuah butik milik desainer ternama Korea untuk melakukan fitting baju pengantin.
Celina sempat melupakan alasan dia berada di Korea adalah untuk menikah dengan Andares. Ia terlalu asyik dan terlena dengan semua hal baru yang ia temukan di Korea.
Sesampainya di sana, Celina melihat Andares sudah duduk dengan kaki yang disilangkan serta tangan dan mata yang sibuk menjelajahi salah satu majalah fashion terkenal di Korea.
Celina ingin sekali berbicara empat mata dengan Andares. Ia ingin membahas semua hal, termasuk aksi ‘serangan cium’ yang datang setiap dia berubah menjadi Andreas. Tapi ia tak pernah mendapat kesempatan itu.
Andares terus saja sibuk sendiri seolah pernikahan ini hanya untuk formalitas. Memang itulah faktanya. Tapi Celina justru merasa sedikit baper dan marah tanpa ia sadari.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Celina menjajal beberapa gaun yang sangat elegan, cantik, mewah, dan mahal pastinya. Celina yang merasa makin cantik setelah memakai gaun-gaun itu, berubah kesal setelah melihat sikap Andares tidak merespon apapun saat ia menunjukkan gaun yang ia pakai. Sampai-sampai karyawan butik itu pun melihatnya dengan tatapan penuh tanda tanya, dan Celina tahu pertanyaan itu.
“Kenapa pengantin prianya terlihat cuek dan tak peduli?”
Sekian jam berada di butik itu, akhirnya Andares mengajak Celina pergi menggunakan mobil pribadinya. Kali ini mereka pergi berdua saja tanpa didampingi anak buah Andares.
“Kita mau kemana?” tanya Celina.
“Ikut saja!”
Celina kembali kesal. Ia merasa ucapan Andreas benar adanya, bahwa Andares hanya memperalat dirinya.
Mendadak mobil Andares berbelok ke suatu gedung yang berbeda lagi dari kedua gedung yang sudah disambangi Celina. Setelah turun di area parkir bawah tanah, Celina mengekor Andares menuju lift. Ia melihat ‘calon suaminya’ itu menekan tombol dengan angka 20 dan melesat ke atas dengan kecepatan yang menakjubkan. Celina bisa merasakan lift itu naik dengan cepat tapi ia tak merasakan getarannya sama sekali. Sungguh beda fasilitas negeri maju ini.
Begitu lift berhenti dan mereka turun, Celina dibuat terpukau lagi. Kali ini mereka masuk di sebuah ruangan besar yang terlihat seperti kantor. Andares membawa Celina masuk ke satu ruangan besar. Ruangan itu penuh dengan fasilitas super lengkap. Desain interiornya pun sangat mewah. Furniture yang ada disana juga menampilkan kesan mahal.
“Ini kantor siapa?” tanya Celina.
“Ini ruanganmu. Setelah menikah kau akan bekerja di kantor ini” jawab Andares.
Celina terkejut. Ia akan bekerja di ruangan ini? Celina sungguh tak mengerti jalan hidupnya yang penuh kejutan setiap hari.
Andares pun meninggalkannya mematung seorang diri di ruangan itu. Celina melihat-lihat ruangan mewah itu sembari menunggu Andares kembali.
Beberapa menit kemudian, Celina mendengar pintu di belakangnya diketuk. Ia mengira Andares telah kembali dan memanggilnya dengan ketukan. Dan saat ia menoleh, Celina begitu terkejut melihat seseorang yang tak pernah ia sangka akan bertemu di tempat itu.
“Aksa..”