
Meski begitu dia tetap merasa kehilangan Celina. Sayangnya, ucapannya justru terdengar oleh Ellen yang datang entah dari mana dan mendadak sudah ada di depan Aksa yang terus menatap ponselnya.
"Oh, jadi si ****** itu udah kabur duluan ke Korea?"
Aksa mendongak dan kaget melihat Ellen bisa tahu apa yang ia rencanakan. Bagaimana pula dia bisa tahu soal Celina yang akan pergi ke Korea?
“Ellen! Apa yang kamu rencanakan dengan foto itu?" teriak Aksa geram.
"Aku mau Celina merasakan apa yang aku rasakan. Aku mau dia dipermalukan, sama seperti kamu mempermalukan aku, Aksa!" teriak Ellen.
"Ellen, apa yang kamu lihat di taman itu bukan seperti yang kamu bayangkan."
"Apanya yang bukan? Soal kamu ciuman sama dia? Itu bukan kayak yang aku bayangin?" Ellen semakin berteriak tatkala Aksa mulai membahas apa yang terjadi di taman malam itu.
"Kalian munafik, sok sok-an bilang sahabatan, nyatanya kalian selingkuh di belakang aku" tangis Ellen pun pecah.
Aksa yang semakin frustasi kemudian membawa Ellen menuju ruangannya agar tidak menjadi tontonan dan bahan omongan karyawan lainnya.
Di dalam ruangan pun Ellen masih menangis dan enggan disentuh Aksa. Ia terus menyebut Celina dengan umpatan-umpatan favoritnya. Dan Aksa hanya bisa menunggu hingga pacarnya itu mereda dengan sendirinya.
"Sekarang kamu dengerin aku, diem dulu!" kata Aksa tegas, ia tak mau Ellen kembali memotong apa yang ingin dia katakan.
"Aku sama Celina, memang ngelakuin hal itu. Kamu tahu dari awal kalau aku pacaran sama kamu karena apa. Kamu juga tahu aku nggak pernah bisa ngelupain Celina, kamu tahu itu dari awal kita pacaran" ujar Aksa. Dia kembali mengisyaratkan agar Ellen tidak memotong ucapannya.
"Tapi kita tidak pacaran. Aku memang memintanya menunggu, tapi Celina tidak mau aku ninggalin kamu" pungkasnya.
Ellen hanya tersenyum mengejek, ia masih tak yakin Aksa mengatakan yang sebenarnya. Baginya, dengan mereka berciuman itu sudah cukup menjadi bukti bahwa mereka berselingkuh. Sekalipun Ellen tahu betul perasaan Aksa dari awal, ia tetap tidak rela.
Ellen dan Aksa memang menjalin hubungan sejak tiga tahun lalu. Tapi tidak ada cinta di antara keduanya. Mereka dijodohkan oleh orang tua masing-masing. Ellen pun tahu bahwa Celina adalah cinta pertama Aksa sejak SMA. Tapi tetap saja, ia tidak mau kalah dengan Celina, musuhnya.
***
Celina berangkat menuju rumahnya bersama Andares. Ia merasa sedikit aneh karena rencana dadakan ini. Ia bahkan harus tinggal di hotel bersama Andares tanpa alasan yang jelas. Ia juga memikirkan nasib sang kakak, Melani. Bagaimana dia bisa ditinggalkan seorang diri dengan keadaan seperti itu. Sepanjang jalan menuju rumahnya pun Celina hanya melamun.
Lamunan Celina buyar ketika ponsel Andares berbunyi. Ia mendengar bosnya hanya menjawab singkat beberapa kali dan langsung menutup teleponnya. Mobil yang mereka tumpangi pun mendadak berhenti di pinggir jalan.
Celina yang melihat Andares keluar dari mobil, ikut keluar juga dari dalam mobil.
"Hei, kamu tidak usah ikut keluar. Saya tidak akan mengantar kamu sampai rumah kamu. Fero yang akan mengantarmu"
Mendengar ucapan Andares, Celina terdiam dan bingung. Memang beginilah sikap asli Andares, suka semena-mena padanya. Ia sempat heran karena Andares nampak baik padanya, tapi ternyata ending-nya ia ditinggalkan seperti ini di pinggir jalan. Entah kenapa Celina jadi kesal setelah mendengarnya.
"Jadi Pak Andares tidak ikut ke rumah saya?"
Andares menggeleng. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di belakang mobil mereka. Dan Andares berlalu dengan menaiki mobilnya kembali. Sementara Fero keluar dari mobil yang baru saja tiba.
"Cel, aku akan mengantarmu ke rumah sakit untuk bertemu kakakmu" ucap Fero.
“Lalu barang-barangku?”
Fero mengode bahwa barang-barang milik Celina sudah ada di dalam mobil. Fero membuka pintu mobil dan mengisyaratkan Celina untuk segera naik. Perlakuan sekretaris Andares sedikit membuat Celina takjub. Ia hanya karyawan biasa, tetapi perlakuannya sangat halus dan baik.
"Maaf, kalau boleh tahu kenapa Pak Andares tidak jadi ikut? Apa dia ada jadwal lain?"
Fero yang semula fokus menyetir, kini melihat Celina dari kaca spion di depannya. Dia tidak menggubris pertanyaan Celina, membuat Celina manyun. Ternyata Fero memiliki sisi menyebalkan juga padahal mereka sudah memutuskan untuk berteman.
Tidak lebih dari tiga puluh menit, mobil mereka pun sudah memasuki area parkir rumah sakit. Fero dan Celina langsung bergegas menuju kamar perawatan Melani. Begitu melihat kakaknya sudah sadar dari operasi, Celina sangat lega.
“Kak Mel!” ucap Celina lirih sembari memeluk kakaknya.
“Kenapa kamu masih di sini?” tanya Melani pelan.
“Huh?”
“Aku sudah tahu semuanya. Bosmu sudah kemari dan mengatakan semuanya” kata Melani.
“Bosku? Maksudmu Andares?”
“Siapa lagi? Dia datang tepat setelah aku membuka mata pertama kali” kata Melani.
Sang kakak juga mengatakan bahwa Andares menunggu di depan ruang operasi selama ia ditangani. Ia tahu dari perawat yang bercerita padanya. Mendengar hal itu Celina mendadak terharu. Bosnya melakukan hal seperti itu? Rasanya tidak mungkin, batin Celina.
Akhirnya setelah berbicara mengenai ini itu dan saling berpesan untuk menjaga diri, Celina berpamitan pada Melani karena Fero sudah mendapat panggilan dari Andares. Sebelum Celina keluar dari kamar itu, Melani mengatakan padanya bahwa dia harus bersikap baik pada Andares. Meski pernikahannya ada unsur keterpaksaan, tapi Andares telah membantu menyelesaikan masalah mereka.
Celina hanya mendecih dan kembali memeluk sang kakak sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah sakit.
Begitu memasuki mobil, Fero mendapat perintah dari Andares untuk membawa Celina langsung ke bandara. Ia akan terbang hari itu juga. Mendengar hal itu, Celina langsung terkejut dan protes.
“Berangkat sekarang? Fer, aku belum mandi dan lain-lain!” kata Celina.
“Iya, pak bos udah mesenin tiket dan penerbangannya sebentar lagi. Kamu nggak boleh telat!” jawab Fero lugas dan jelas.
Celina terus menggerutu tanpa direspon lagi oleh Fero. Ia benar-benar membenci cara Andares memaksa dirinya. Sesampainya di bandara, Fero membantu Celina membawakan koper dan tasnya.
"Aku antar sampai disini saja"
Fero pun meninggalkan Celina yang kini mulai merasa jenuh. Sebab ia masih harus menunggu sekitar tiga puluh menit sebelum waktu penerbangannya.
***
Akhirnya kejenuhan Celina berakhir setelah ia mendengar panggilan untuk penumpang. Ia pun segera menaiki pesawatnya dengan langkah berat. Entah hanya perasaannya, atau Celina yang memang berat meninggalkan semuanya. Ia tidak ingin pergi seperti ini. Tetapi dengan mantab ia memutuskan untuk melepaskan semuanya dan memulai hidup barunya di Korea.
***
Setelah melalui penerbangan yang cukup lama, akhirnya Celina mendarat di bandara Incheon, Seoul. Terjebak tujuh jam di dalam pesawat membuat Celina jetlag. Ia menggeret kopernya dengan langkah yang sedikit berat.
Beruntung Celina tidak harus mencari hotel atau penginapan karena Andares sudah mengurus semuanya. Bahkan dia juga mengirim supir untuk menjemputnya di bandara.
Celina menghabiskan waktunya di perjalanan untuk menikmati keindahan kota Seoul. Ia sudah lama bermimpi untuk tinggal di kota ini. Kota yang hanya ia lihat dari drama atau youtube. Kota yang menginspirasinya banyak hal. Kota yang membuatnya tertarik untuk belajar bahasa Korea. Semuanya berawal dari Seoul. Ia begitu mengaguminya sampai tidak menyadari bahwa ia sudah tiba di depan sebuah gedung yang sangat tinggi.
"Nona Cellina, kita sudah sampai" kata supir itu.
Celina mengalihkan perhatiannya ke supir yang mengantarnya. Lalu melihat ke arah gedung yang ditunjuk supir itu.
"Apa ini apartemen? Apa saya akan tinggal di sini?" tanya Celina.
"Iya, pak Andares meminta saya mengantar Anda kemari"
Supir itu mengeluarkan barang-barang Celina dari dalam bagasi mobil. Tetapi Celina sedikit kesal karena ia kembali ditinggal tanpa dibantu membawa kopernya sampai di rumah. Ia kesulitan membawa semua barangnya ke lantai lima belas.
"May i help you, Miss?"
Sebuah suara mengejutkan Celina dari belakang. Ia melihat seorang laki-laki muda dengan wajah yang membuatnya kaget dan tersenyum konyol. Wajah itu mirip dengan salah satu idol dari boygroup favoritnya.
"Ah, yes. Please!" jawab Celina sambil nyengir.
Laki-laki muda itu tersenyum dan mengambil koper Celina dari tangannya. Membawanya ke dalam lift disusul Celina yang menenteng tasnya. Setelah bertanya lantai berapa yang Celina tuju, laki-laki itu menekan tombol lift untuk Celina. Masih dengan senyumnya yang membuat Celina melupakan kekesalannya.
Selang lima menit mereka tiba di lantai lima belas, tempat apartemen Celina berada. Mereka pun sudah berdiri di depan pintu unit yang diberikan pada Celina.
"Thanks" ucap Celina dengan senyumnya.
"You're welcome"
Laki-laki berwajah idol itu pun meninggalkan Celina. Ia merasa beruntung bertemu penduduk lokal yang baik plus berpenampilan menarik. Belum lagi apartemennya yang membuat Celina takjub dan melongo.