Bad & Good Boy

Bad & Good Boy
Chapter 9 : Sepenggal ingatan Andy



Derap langkah kaki terdengar menaiki anak tangga menuju atap sekolah. Naren sang pemimpin datang untuk memeriksa keadaan dua anggotanya di atas sana.


Suara derit pintu mengejutkan dua orang yang sedang merokok dengan santai itu.


"Gue pikir siapa," desah Haikal yang terkejut.


"Memang siapa?" tanya Naren mendatangi keduanya dengan tangan yang dimasukkan ke kedua saku celananya.


"Gue kira si guru kejam itu. Gue lagi nggak pengen denger ceramah rohaninya," jawab Haikal.


"Kalau nggak mau di hukum, ya jangan buat masalah," kata Naren.


"Ho ho .... Lihat itu An, bukannya orang ini nggak tau malu?". Haechan menatap Andy.


"Kayak nggak pernah buat salah aja padahal situ ketuanya," lanjutnya.


"Udah deh jangan banyak ngomong lu pada," ketus Andy.


"Kenapa dia?" tanya Naren pada Haikal.


Haikal menggidikkan bahunya, "Nggak tau, dia sudah kayak gini sejak semalam."


"Hei, sebenarnya lo ini kenapa, Andy? Apa masalah lo sama Marko sebenarnya? Kenapa kalian kelihatan nggak pernah akur bahkan saat pertama kali gue memperkenalkan lo pada mereka." Rentetan pertanyaan itu keluar dari mulut Naren.


Haikal yang penasaran pun ikut menoleh ke arah Andy yang berada di sampingnya.


Andy tampak terdiam mendengar pertanyaan Naren. Apa ia harus mengatakannya pada teman-temannya?


Tidak! Ini belum saatnya. Belum saatnya mereka tau.


"Jangan pernah percaya sama apa yang di katakan orang itu," jawab Andy yang bertentangan dengan pertanyaan Naren.


"Apa lo mengenalnya lebih dulu dibanding kami?" Haikal menatap Andy.


Lagi, Andy terdiam tidak menanggapi pertanyaan Haikal.


"Haihh .... Dia benar-benar nyebelin!" kesal Haikal yang tak mendapat jawaban apa pun dari adik kelasnya ini.


"Apa lo nggak ingat kenapa gue bawa lo kesini?" tanya Naren dengan dingin.


Andy menatap Naren. Ingatan saat pertama kali mereka bertemu terputar di otaknya.


Saat itu hari sudah sangat gelap, ia baru saja pulang dari rumah sakit usai menjaga mamanya yang sedang terbaring sakit di sana. Pada saat itu, Andy masih duduk di kelas 3 SMP, ia tak memiliki siapa pun selain mamanya sehingga, dirinya akan pergi menjenguk mamanya sepulang sekolah lalu pulang di malam harinya untuk belajar.


Di tengah perjalanan pulang, segerombol orang menghampiri dirinya. Orang-orang itu turun dari motor mereka dan langsung menghajar Andy tanpa aba-aba. Pukulan terus di layangkan pada Andy. Tubuhnya penuh luka memar bahkan, mulutnya sudah memuntahkan darah.


Andy yang tidak memiliki basic berkelahi hanya mampu berpasrah diri. Mungkin ini sudah takdirnya untuk hidup sampai hari ini. Hingga ia mendengar seseorang berteriak dengan lantang. Seseorang yang masih berseragam sekolah di malam hari dengan penampilan yang acak-acakan. Hanya dengan sekali teriakan membuat orang-orang itu menghentikan pukulan padanya. Orang itu adalah Naren yang membawanya pada perubahan pada dirinya seperti ini.


"Apa masalah lo?" ucap seseorang bertubuh gempal.


Naren berdecak, "Harusnya gue yang tanya begitu ke kalian!"


"Apa masalah kalian sana bocah ini? Apa kalian nggak punya urat malu mengeroyok bocah SMP?"


"Itu bukan urusan lo!" sergah pria gempal itu.


"Gue nggak mungkin berdiam diri melihat bocah tak bersalah babak belur di tangan kalian," ucap Naren dengan nada dinginnya.


"Banyak ngomong lo, serang dia!" perintah pria gempal itu kepada anak buahnya.


Tidak seperti Andy yang pasrah saat di hajar, Naren melawan mereka. Jangan ragukan kemampuan berkelahi Naren, dia benar-benar jago dalam hal ini. Andy yang melihat bagaimana cara Naren menghindar dan memukul lawannya sampai berdecak kagum. 1 lawan 4 adalah hal yang mudah baginya. Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuknya membuat mereka tumbang.


Naren menginjak dada pemimpin mereka lalu berjongkok di hadapan wajah pria gempal itu dengan tatapan tajam, "Apa kalian juga merampas sesuatu darinya?"


Pria itu menggeleng ketakutan, "Nggak! Gue nggak ada satu pun ngambil barang bocah itu."


"Tolong lepaskan gue," mohon pria itu.


Dengan kesal Naren menendang kepala pria itu hingga jatuh pingsan.


Naren mendatangi Andy yang kesakitan, kemudian mengulurkan tangannya.


"Apa lo baik-baik aja?"


Andy mengangguk namun tak berselang lama ia mengaduh kesakitan di area perutnya. Orang-orang itu memang sempat menendang perutnya.


"Kalau sakit, bilang sakit," ucap Naren lalu memapahnya menuju motornya.


"Lo masih bisa naik motor kan?"


"Bisa," jawab Andy pelan.


Naren membantu Andy naik ke motornya. Setelah itu, ia segera melesatkan motornya menuju rumah sakit terdekat.


"___ Andy."


"Andy?"


"Apa sih," kejut bercampur kesal yang di rasakan Andy.


"Lo yang kenapa?!" kesal Haikal.


"Apa yang lo lamun kan?!"


"Nggak ada."


"Sudah jelas lo melamun masih aja mengelak," kesal Haikal.


"Gue bakal bilang kalau sudah siap, tolong jangan desak gue untuk sekarang," pinta Andy pada Naren yang masih setia menatapnya.


"Cih, bocah ini." Haikal yang sudah kepalang kesal dengan Andy memiting dan menjitak kepala pemuda itu dengan keras.


"Rasakan! Rasakan!"


"Akhh .... Lepaskan aku."


"Nggak akan!"


"Gue bilang lepasin!" kesal Andy.


Naren menatap Andy dengan tatapan tak terbaca.


.


.


.


.


.


Leora dan Lily sedang menikmati makan siang mereka di kantin.


"Wah .... Betapa beruntungnya lo bisa satu rumah sama Kak Naren," ucap Lily iri.


"Apanya yang beruntung?" tanya Leora dengan tatapan polos.


"Ya beruntung lah, kalau lo nggak ngerti soal pelajaran, lo tinggal minta dia buat mengerjakannya," ucap.


"Sudah aku bilang nggak semudah itu, aku harus dimarahi dulu selama berjam-jam, baru dia mau mengerjakannya secara percuma," kata Leora.


"Kalau gue sih nggak masalah soal itu, asal dia mau ngerjain tugas gue," ucap Lily diakhiri kekehan ringan.


"Tapi dia sangat menyeramkan saat marah," keluh Leora.


"Benar! Dia memang menyeramkan saat marah." Lily membenarkan ucapan Leora.


Tidak ada satu pun murid di sekolah ini yang berani mencari masalah dengan Naren kecuali Arzeno.


"Oh!"


"Ada apa?" bingung Leora saat Lily terlihat terkejut.


Lily sedikit mencondongkan tubuhnya ke Leora, "Kayaknya Kak Arzeno mau kesini, deh."


Sontak Leora menoleh ke belakang, dan benar Arzeno berjalan kearahnya seraya tersenyum.


Deg... Deg...


Jantung Leora berdebar dengan kencang. Tatapannya tak lepas dari Arzeno yang semakin dekat.


"Ini," Arzeno menaruh sebotol susu cokelat di meja mereka.


Leora melihat susu itu dengan tatapan bertanya.


"Untuk kamu," ucap Arzeno sembari mengusap kepala Leora lembut.


Lily menutup mulutnya terkejut saat melihat pemandangan langka tepat di depan matanya.


Leora menatap Arzeno yang juga menatapnya sambil tersenyum manis.


"Orang yang sedang jatuh cinta biasanya jantungnya berdebar lebih cepat saat berada di dekat orang yang dia suka."


Perkataan Arzeno kemarin terngiang di otaknya. Apakah benar jika ia telah jatuh cinta pada Arzeno. Bukankah ini terlalu cepat untuk jatuh cinta padanya yang baru ia temui beberapa hari ini. Tetapi, detak jantungnya sungguh berdebar dengan kuat saat berada di dekat pemuda itu.


Kini Arzeno dan Leora menjadi pusat perhatian murid-murid di kantin. Arzeno yang tidak jauh berbeda dengan Naren, saat ini terlihat sedang memberikan perhatian lebih ke anak baru itu. Apakah kejadian dua tahun lalu akan terulang kembali? pikir anak-anak tingkat tiga yang berada di TKP.


Tak jauh dari mereka, Naren menatap mereka marah. Akan tetapi, karena ia tidak dalam kondisi yang baik untuk berkelahi, ia memilih meninggalkan kantin dengan perasaan kesal dan amarah yang begitu besar.


Haikal dan Andy yang datang bersama pun menyusul Naren, takut-takut Naren melakukan hal yang tidak-tidak.