
Malam ini, Andy dan Marko sedang bersaing untuk menjadi yang tercepat di jalur sirkuit balapan. Mereka berdua saling mengejar satu sama lain dengan motor yang berkecepatan tinggi, mencoba untuk mencapai garis finish lebih dulu. Mereka berdua berjuang untuk menjadi yang terbaik, dan siapa pun yang berhasil mencapai garis finish lebih dulu akan menjadi pemenangnya.
Sementara pendukung mereka, menyoraki mereka sepanjang jalanan sirkuit. Setelah beberapa putaran, Andy berhasil menjadi yang tercepat dan memenangkan perlombaan. Pendukungnya pun bersorak keras untuk menyambut kemenangannya.
Andy tersenyum puas saat ia menyadari bahwa ini adalah kali pertamanya ia berhasil mengalahkan Mark di sirkuit. Mark tampak begitu kesal dengan kemenangan Andy, ia menatap Andy dengan tatapan yang penuh dengan kemarahan. Andy memberikan senyum mengejek saat ia melihat Marko marah. Wajahnya Marko berubah menjadi merah dan bibirnya bergerak-gerak mencoba mengontrol emosinya.
Andy menghampiri Marko.
"Lo lihat barusan? Sekarang gue bisa ngalahin lo!" bangga Andy.
"Lo baru sekali ngalahin gue tapi, sudah belagu?"
"Gue akui gue memang terlalu dini untuk beranggapan bahwa gue mampu melampaui lo tapi, mau gimana lagi? Bukannya sebuah kemenangan patut di rayakan?"
"Kalau lo mau merayakan kemenangan pertama dan terakhir lo silahkan. Gue nggak bakal larang," ucap Marko dengan santai.
Andy menatap Marko tidak senang.
"Tapi saran gue lebih baik jangan terlalu berlebihan dalam menanggapi kemenangan lo ini. Sampai kapan pun, nggak peduli mau lo lebih unggul dari gue atau nggak, lo nggak akan bisa mendapat apa yang lo inginkan selama ini," ucap Marko sembari mendekat.
"Lo hanyalah anak seorang pelacur yang tidak tau malu," bisik Mark.
Andy yang mendengar perkataan Marko mengenai mamanya naik pitam. Tanpa ba-bi-bu lagi ia langsung menonjok rahang Marko. Marko yang tak terima membalas tonjokan Andy pun membalasnya. Hans, Yoshua dan Haikal juga tak tinggal diam, mereka ikut membantu Andy melawan Marko. Begitu pula dengan teman-teman Marko, mereka mencegah antek-antek Andy menyerang Marko. Dan terjadilah keributan antara dua geng motor yakni Tiger dan Black Moon. Para pendukung mereka menjauh dari keributan itu untuk menghindari hal-hal yang mereka tidak inginkan.
Arzeno yang baru datang, tampak bingung dengan yang terjadi di depan sana. Apakah anggota gengnya berkelahi dengan anggota geng Naren?
Arzeno turun dari motornya dan bertanya ke salah satu orang di sana, "Ada apa?"
"Andy dan Marko kelahi lagi," jawab orang itu.
"Lagi?"
"Sebenarnya apa masalah Marko sama Andy? Kenapa setiap bertanding selalu berakhir seperti ini," bingung Arzeno.
Arzeno datang menghampiri sumber keributan, lalu mencoba melerai mereka.
"Berhenti semuanya! Berhenti!" pinta Arzeno pada anggota gengnya, namun tak di tanggapi. Mereka justru tetap saling menyerang.
Suasana mulai tidak kondusif, berbagai kata umpatan keluar dari mulut mereka, wajah mereka juga sudah di penuhi luka. Biasanya Naren yang akan menghentikan keributan ini jika sudah mulai tidak kondusif lagi tetapi, dimana anak itu?
Arzeno menoleh kanan kiri untuk mencari keberadaan Naren namun nihil, anak itu tidak ada di sini.
"Gue bilang STOP! Ya STOP!!" teriak Arzeno yang batas kesabarannya sudah menipis.
Teriakan menggelegar dari Arzeno ternyata ampuh untuk menghentikan mereka.
"Kalau aja Arzeno nggak datang, lo mungkin sudah habis di tangan gue," bisik Marko seraya mencengkram kerah baju Andy dengan kepalan tangan yang hampir mengenai wajah Andy yang sudah babak belur.
Dengan sinis Andy berkata, " lo bahkan lebih terlihat seperti kacung Arzeno di banding seorang sahabat, hanya dengan satu perintahnya lo langsung nurut?""
Marko kembali melayangkan bogem mentah ke Andy. Ia tersinggung dengan ucapan Andy barusan. Haikal yang tak terima sudah bersiap akan kembali menyerang akan tetapi, berhasil di halangi oleh Steven.
"Sudahlah, ayo kembali," ucap Arzeno sembari menarik tubuh Marko pergi dari hadapan Andy.
Marko merasa terhina dengan tatapan mengejek yang diberikan Andy. Meskipun, ia berada beberapa meter dari Andy, ia masih dapat mendengar tawa penuh ejek itu dengan jelas.
.
.
.
.
.
"Naren, aku tetap nggak dapat jawabannya," rengek Leora yang sudah pusing dengan soal matematika di hadapannya.
"Gue udah jelasin l berulang kali dan lo masih belum paham?" bentak Naren. Ia sudah kehilangan batas kesabarannya.
Bagaimana tidak kesal? Sudah dua jam lamanya ia mengajari Leora namun, gadis itu baru bisa menjawab 3 soal dari total 10 soal. Setengahnya saja tidak ada. Ini yang dia sebut pintar dan selalu masuk peringkat sepuluh besar? Sepertinya Leora menyogok gurunya untuk memberinya nilai bagus.
Leora menangis mendengar bentakan Naren, ia kan hanya bertanya.
Kepala Naren serasa akan pecah saat ini.
"Berhenti nangis atau gue bakal___" Naren berhenti saat melihat Leora bersiap untuk mengeraskan tangisannya.
"Bawa sini," ucap Naren yang sudah lelah. Ia menarik buku tugas Leora dan mulai mengerjakan soal itu dengan cepat tanpa meminta atau menyuruh Leora untuk menghitungnya sendiri.
Selama Naren mengerjakan pekerjaannya, gadis itu menatapnya dengan kagum. Bagaimana bisa ada orang setampan dan sepintar ini.
"Tunggu dulu! Apa yang sedang aku pikirkan?" batin Leora seraya menepuk kedua pipinya agar tersadar.
Naren melirik tingkah aneh gadis itu lalu mendengus. "Dia memang cewek aneh," batinnya.
"Selesai," ucap Naren saat menyelesaikan soal terakhir.
"Wahh .... Naren memang pintar," ucapnya sambil mengacungkan dua jempolnya.
"Gue memang pintar," balas Naren sembari menyibak rambutnya ke atas.
"Nggak kayak lo, goblok!" lanjut Naren. Leora mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Naren.
Naren bangkit lalu berjalan membuka pintu kamar Leora.
"Mau kemana?"
"Balik ke kamar."
"Ngapain?"
"Ya tidur lah, ini sudah malam, mau apa lagi?!" sewot Naren. Sungguh pertanyaan yang tidak berfaedah.
Naren bergegas meninggalkan ruangan sebelum Leora bertanya lagi dengan pertanyaan yang aneh dan tak masuk akal yang dia tanyakan sebelumnya. Dia tak ingin menghadapi situasi yang membuatnya merasa tidak nyaman lagi
.
.
.
.
.
Di rebahkannya tubuh lelah Naren, duduk hampir tiga jam membuat punggungnya sakit. Mengajari Leora ternyata butuh banyak tenaga.
Diambilnya ponsel miliknya. Ada satu notifikasi dari Haikal. Pesan itu kemudian di buka. Dapat ia lihat keadaan Andy yang sedang babak belur. Naren menghela napas.
"Sepertinya mereka berkelahi lagi," ucap Naren yang sudah menduga hal ini akan terjadi kembali. Sudah jadi rahasia umum jika Andy dan Marko tanding akan berakhir dengan keributan.
Sebenarnya Naren bingung dengan sikap Marko jika sudah berhadapan dengan Andy. Bagi Naren diantara yang lain, Marko yang terlihat lebih kalem juga waras, tapi jika sudah berhadapan dengan sahabatnya itu entah kemana perginya kewarasan Marko.
Naren juga menyadari perkelahian itu akan pecah setiap kali Marko membisikkan sesuatu ke Andy. Namun setiap kali Naren bertanya, Andy selalu menghindar.
"Sebenarnya apa hubungan mereka?"