Bad & Good Boy

Bad & Good Boy
Chapter 4 : A Small Commotion



Hari sudah gelap, semua orang sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Dengan langkah kaki yang mengendap-endap ia mendatangi Naren di kamarnya. Ia ingin memeriksa keadaan Naren. Guna memastikan apakah Naren sudah memberikan salep pada lukanya atau belum.


Tok! Tok!


Tidak ada sahutan dari dalam, Leora berinisiatif untuk membuka pintu kamar Naren sendiri tanpa izin. Saat pintu terbuka sedikit, Leora mengintip dimana Naren berada. Namun ia tidak menemukannya. Dengan keberaniannya ia masuk begitu saja demi mencari keberadaan Naren. Tak lama kemudian muncul Naren dari balik pintu kamar mandi dalam keadaan setengah telanjang yang mana bagian bawah hanya di lapisi sehelai handuk.


Saat Naren melihat Leora, ia terkejut dan menutupi bagian tubuhnya dengan kedua tangannya. Leora pun terdiam dan tak bisa berkata apa-apa.


"Ngapain lo disini?" tanya Naren.


"I-itu .... Itu ...." seketika Leora bingung ingin berkata apa.


"Keluar!"


Naren menyuruh Leora untuk keluar dari kamarnya. Leora pun menuruti perintah Naren dan berjalan keluar dengan malu. Ia berusaha untuk menghindari tatapan Naren yang masih menatapnya dengan tatapan tajam. Leora berlari keluar dari kamar Naren dengan hati yang berdebar-debar.


"Aduh .... Gimana ini? Mata Leora sudah nggak suci lagi," gumam Leora yang bersandar di depan pintu Naren.


Pintu dibuka dari dalam membuat Leora yang bersandar hampir terjatuh, untung saja Naren dengan sigap menahan tubuh Leora. Tak berlangsung lama karena Naren mendorong tubuh Leora untuk kembali ke posisi berdiri.


"Jadi ngapain lo malam-malam ke kamar gue?"


"Itu .... Leora cuma mau pastiin lukanya Naren sudah di obati lagi," jelasnya.


"Apa peduli lo," ketus Naren.


"Kan sekarang Naren sopirnya Leora, kemana-mana Leora pergi harus sama Naren. Kalau Naren sakit yang ngantar Leora kemana-mana siapa dong," ungkap Leora panjang lebar.


Naren yang mendengarnya di buat cengo oleh penuturan gadis di hadapannya ini.


"Sopir? Lo anggap gue sopir pribadi lo begitu?"


Leora mengangguk dengan polosnya.


Naren tertawa pelan, setelah itu di di pitingnya kepala Leora dengan lengannya yang agak berotot itu.


"Siapa yang bilang kalau gue itu sopir lo, hah!" gemas Naren sembari menjitak kecil kepala Leora.


"Ah .... Auw .... Sakit, Naren lepasin ...." rengek Leora.


"Nggak akan gue lepasin sebelum lo berhenti beranggapan kalau gue sopir lo!"


"Aaaaa .... Lepasin. Tante .... Naren nakal ke Leora," tangis Leora sembari memanggil tante Sarah.


"Nggak usah ngadu-ngadu lo bocah," ucap Naren yang semakin menguatkan pitingannya.


"AAAaaaa .... Tante tolongin Leora. Naren Lepasin Leora," teriak Leora.


"NO WAY!"


Sarah yang mendengar keributan itu pun keluar dari kamarnya dan mendapati Leora yang sudah menangis karena kelakuan putranya.


"Astaga Naren lepasin anak orang. Kalau dia kenapa-napa gimana," omel Sarah sembari memukul lengan anaknya.


Leora yang lepas dari pitingan Naren berlari bersembunyi di balik tubuh Sarah.


"Kamu ini anak orang di gituin, kalau dia ngadu ke mamanya gimana?"


"Ya biarin aja dia ngadu, sekalian aja tuh suruh dia balik ke mamanya," jawab Naren dengan santai.


Sarah menghela napas lelah, sehari saja Naren tidak membuatnya pusing sepertinya tidak bisa.


"Sudah ya berantemnya, Leora kamu kembali ke kamarmu ya. Ini sudah malam, besok kamu harus sekolah kan," ucap Sarah meminta Leora untuk kembali ke kamarnya.


"Iya," Leora menuruti perintah Sarah. Ia kembali ke kamarnya sendiri. Malam ini Leora sudah tidak tidur di kamar Naren, karena kamarnya sudah siap ditempati.


Sarah menghadap ke arah Naren, ia mengelus surai Naren dengan lembut.


"Jangan perlakukan Leora seperti itu, jangan samakan dia dengan wanita lain," nasihat Sarah.


"Leora hanya-lah gadis polos, jika sesuatu keluar dari mulutnya yang menyinggung perasaan kamu tolong maklumi aja dia," lanjutnya.


"Ya masa aku dianggap sopir sama dia," rajuk Naren.


Sarah tersenyum, " Bukannya begitu?"


"Apa?"


"Sudah besar tapi masih doyan kelahi, untung sekarang ada Leora yang bisa berhentiin kamu kelahi, juga ngobatin kamu. Harusnya kamu banyak bersyukur karena Leora masih punya dampak positifnya untuk kamu," lanjut Sarah.


"Apanya yang bisa di syukuri soal dia," gerutu Naren pelan.


Sarah yang mendengar hanya geleng-geleng kepala, percuma bicara dengan putranya yang keras kepala ini.


"Selamat malam Naren, tidur yang nyenyak ya."


"Iya. Mama juga."


Sarah tersenyum, setelahnya ia menutup pintu kamar Naren dan kembali ke kamarnya.


"Semoga Naren bisa berubah dengan hadirnya Leora dalam hidupnya," batin Sarah penuh harap.


***


Bulan telah berganti dengan matahari, kicau burung mulai terdengar. Seperti biasa Leora sudah siap dengan seragam sekolahnya. Leora memoles sedikit wajahnya agar terlihat lebih segar.


"Sekarang Leora sudah cantik," pujinya sembari menatap pantulan dirinya di cermin.


"Cih, cantik apanya," ucap Naren yang sudah berdiri bersandar di pintu kamar Leora.


Leora terkejut dan menatap kesal Naren.


"Naren nggak sopan masuk ke kamar orang tanpa izin," kesal Leora.


"Hoho .... Terus yang lo lakuin semalam sopan gitu? Masuk ke kamar orang nggak pake permisi, terus-"


"Leora udah ketok-ketok pintu kamar Naren ya, tapi emang dasar Narennya aja yang budeg." Leora memotong ucapan Naren karena malu dengan kalimat yang akan keluar selanjutnya.


Lagi-lagi Naren di buat syok dengan ucapan Leora kepadanya. Budeg? Siapa yang budeg? Bisa-bisa bocah tengil itu nyebut dirinya budeg.


"Heh! Lo bilang gue apa tadi?" tanya Naren sambil menunjuk wajah Leora.


Leora mendekat, "Budeg, wlee ...."


Leora lari sebelum kejadian semalam terulang kembali.


"Heh bocah kesini lo!" teriak Naren mengejar Leora.


"Kalau sampai ke tangkap gue piting pala lo!"


"Coba aja kalau bisa, wlee ...." Leora berlari menuju ruang makan sembari menjulurkan lidah mengejek Naren.


"Hei .... Hei .... Aduh, ini kenapa sih? Pagi-pagi udah berantem lagi," tanya Sarah yang mulai lelah dengan kelakuan mereka berdua. Bayangkan ini masih hari kedua mereka bersama, tapi sudah membuat Sarah pusing lalu bagaimana dengan hari-harinya yang akan datang.


"Hei sudah .... Sudah .... Ayo duduk, jangan berantem lagi." Sebastian mencoba melerai Naren dan Leora.


"Dia duluan tuh ngeselin," adu Naren.


"Emang Leora ngapain Naren?" tantang Leora.


"Lo udah dua kali ya ngatain gue," ucap Naren kesal.


"Leora nggak ngatain, kan emang faktanya begitu," sanggah Leora.


"Emang dasar anak setan lo, ya!"


"Kalau Leora anak setan terus Naren anak apa?"


Naren akan membalas perkataan Leora, namun keduluan oleh papanya.


"Naren anaknya Om sama Tante, begitu juga dengan Leora yang anaknya papa sama mamanya Leora," ungkap Sebastian.


"Nggak ada anak setan satu pun disini," sambung Sebastian.


"Tuh denger!" ucap Naren agak nyolot.


"Naren juga dengerin!" ujar Leora tak kalah nyolot.


"Sudah .... Sudah .... Ayo makan, keburu siang. Nanti bisa telat,"ucap Sarah menarik Leora untuk duduk di sampingnya.


Akhirnya Naren memilih mengalah dan duduk di samping papanya. Ingat hanya kali ini saja dia akan mengalah dan tidak melanjutkan masalah ini. Kalau sampai Leora mengganggunya lagi, bukan hanya pitingan saja yang akan ia dapat. Ingat itu!