Bad & Good Boy

Bad & Good Boy
Chapter 2 : Hot News



"Ini pakek!" suruh Naren sembari memberikan helm kepada Leora.


"Kita naik motor?" tanya Leora.


"Ya iyalah naik motor, emang mau naik apa lagi?!" ucap Naren ngegas.


"Kenapa nggak naik mobil aja? Kan kalau naik motor panas, nanti kalau aku jadi gosong gimana?"


Naren menghembuskan napas dengan kasar, "lo mau naik atau gue tinggal?"


"Naik," dengan terpaksa Leora naik ke motor itu.


"Kenapa helmnya nggak di pakek?" tanya Naren.


"Nanti rambutku berantakan," jawab Leora santai.


"Lo mau gue di tilang pagi-pagi, hah!"


"Tilang? Kenapa harus di tilang?" tanya Leora polos.


"Lo bego apa gimana sih," kesal Naren.


"Leora nggak bego kok buktinya Leora sering masuk ke 10 besar," bela Leora.


"Ck, bodo amat lo mau masuk 10 besar kek, berapa kek, yang jelas ini helm harus lo pakek!" Naren merebut helm di tangan Leora dan memasangkannya di kepala gadis itu dengan paksa.


"Gini kan aman," ucap Naren sebelum melajukan motornya.


Sementara Leora hanya bisa menatap punggung Naren dengan kekesalan, ia mengutuk Naren dalam hatinya sepanjang perjalanan.


Selang beberapa menit Naren memasuki area sekolah, di parkirnya motor kesayangannya berdampingan dengan motor Haikal yang sudah tiba.


"Tumben nih bocah sudah datang, biasanya telat mulu," batin Naren.


Naren turun dari motor begitu pula Leora. Saat Naren akan bergegas menuju kelasnya, lengannya ditahan oleh Leora.


"Kenapa?" tanya Naren bingung.


"Helmnya gimana?"


Naren mengernyitkan dahinya," ya tinggal lepas toh."


"Leora nggak bisa ngelepasin ini," Leora menunjukkan pengait helmnya ke Naren.


Naren menghembuskan napas lelah.


"Sini," Naren mendekat ke Leora guna melepaskan pengait helm itu.


"Naren wangi," ucap Leora saat jarak dirinya dengan Naren begitu dekat.


"Ya iyalah wangi, orang gue mandi," ucap Naren.


Puk!


Naren menepuk pelan helm Leora setelah berhasil melepas pengait helm.


"Ih kok di pukul sih, sakit tau," rengek Leora.


"Sudah kan, gue mau ke kelas. Jangan ganggu+ gue lagi!"


Lagi-lagi saat akan melangkah lengannya di tahan oleh Leora.


"Apalagi?" kesal Naren.


"Leora nggak tau dimana ruang gurunya," ucap Leora.


"Ngapain lo ke ruang guru," tanya Naren.


"Ya kan Leora murid pindahan, jadi harus ke ruang guru dulu," ujar Leora.


"Nyusahin banget sih lo pagi-pagi. Ya udah ayok," Naren menggeret Leora menuju ruang guru.


Naren adalah seorang pria yang dikenal sebagai anti wanita. Ia selalu menghindari kontak dengan wanita dan menghindari berbicara dengan mereka. Namun, di sepanjang koridor yang mereka lewati, banyak pasang mata yang tercengang melihat Naren yang dikenal sebagai anti wanita justru menggandeng tangan seorang gadis. Ini menjadi kali pertama mereka melihat Naren berinteraksi dengan wanita.


"Siapa perempuan itu?" bisik orang-orang di sana.


Naren tetap melanjutkan langkah kakinya meskipun ia tahu bahwa bisikan-bisikan itu adalah tentang dirinya. Ia berusaha untuk tidak memperhatikan, namun Leora yang berada di sampingnya tidak bisa menahan malunya. Leora semakin menundukkan kepalanya saat melihat segerombolan gadis yang menatapnya tajam, seakan-akan mereka ingin menghakiminya. Ia merasa takut dan malu, namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain menundukkan kepalanya dan berharap semua orang akan segera melupakannya.


***


Seseorang berlari tergesa-gesa hingga menabraki beberapa murid.


Brak!


Pintu ruangan khusus itu di buka dengan kasar. Terdengar suara napas yang terengah-engah.


"Lo kenapa sih?" tanya Arzeno yang kaget dengan kehadiran sahabatnya yang tidak ada santainya sama sekali itu.


"Gue punya berita hot, saking hotnya gue jamin lo bakal kaget," ucap Juna.


"Emang apaan?" tanya Arzeno penasaran.


"Tadi gue lihat Naren gandeng cewek," ucap Juna antusias.


"Terus kenapa kalau dia gandeng cewek," ucap Arzeno lelah dengan tingkah Juna.


"Lo nggak kaget?" tanya Juna polos.


"Ngapain dia mesti kaget," ucap Marko sembari melempar bungkus snack yang kosong ke Juna.


"Tapi kenapa yang lainnya pada heboh?" tanya Juna.


"Itu karena mereka kurang kerjaan, sama kaya lo," ucap Reno tanpa mengalihkan pandangannya dan tetap fokus ke buku yang ia baca.


"Bukan gue yang kurang kerjaan tapi kalian yang kurang asik," kesal Juna.


"Naren gandeng cewek? Siapa?" batin Arzeno.


***


Pintu ruang kelas 1-2 dibuka, yang tadinya kelas sangat bising seketika menjadi hening saat seorang wanita paruh baya datang bersama seorang gadis asing.


"Selamat pagi semuanya," sapa Bu Anggun, wali kelas mereka.


"Pagi buu..." jawab mereka dengan kompak.


"Baik, hari ini saya membawakan kalian teman baru. Saya harap kalian bisa berteman baik dengan dia, nak silahkan perkenalkan diri kamu," ucap Bu Anggun.


Leora maju selangkah untuk memperkenalkan diri, " halo namaku Leora, aku pindahan dari SMA Tunas Bangsa. Salam kenal semuanya."


"Ada yang mau kalian tanyakan ke Leora?" tanya Bu Anggun ke anak-anak didiknya.


Seorang gadis berkacamata mengangkat tangan.


"Baik Lily, kamu mau tanya apa?" tanya Bu Anggun.


"Leora, kamu yang digandeng kak Naren tadi kan?" tanya Lily dengan antusias.


"Naren?"


Lily menganggukkan kepalanya.


"Ah iya, itu aku."


"Lo pacarnya Naren?" tanya seseorang yang berpenampilan lusuh, Willy.


Saat Leora akan menjawab pertanyaan itu, Bu Anggun segera memotongnya.


"Oke anak-anak, karena tidak ada hal penting yang kalian tanyakan ke Leora lebih baik kita akhiri saja sesi tanya-jawab seputar Leora," ucap Bu Anggun.


"Leora silahkan kamu duduk di sebelah Lily," lanjut Bu Anggun. Bu Anggun menunjuk bangku yang di tempati Lily.


"Terima kasih bu," ucap Leora menunduk sopan.


"Sama-sama," jawab Bu Anggun tersenyum.


Leora menghampiri teman sebangkunya yang baru itu.


"Hai," sapa Leora dengan suara pelan.


Lily pun membalas sapaannya dengan senang.


Seorang gadis yang duduk di pojok belakang, dengan wajah yang penuh dengan kebencian, menatap Leora dengan tatapan yang sangat menyeramkan. Entah apa alasannya, ia tampaknya sangat membenci Leora, meskipun Leora dan Lily sedang sibuk berkenalan dan bercanda.


Hari semakin siang, cacing-cacing di perut Leora berdemo ingin segera di beri makan. Leora mengajak Lily ke kantin untuk mengisi perut. Setibanya di sana, mereka disambut oleh suara keributan. Banyak orang yang berkerumun di sekitar sumber suara itu hingga Leora dan Lily tidak bisa melihatnya.


"Di depan ada apa?" tanya Leora. Lily mengangkat bahu.


"Itu kenapa ya rame-rame?" tanya Lily pada seseorang yang baru saja ia cegat.


"Itu Kak Naren sam Kak Arzeno berantem," jelas orang itu.


"Kok bisa?" tanya Lily sekali lagi.


"Gue juga nggak tau," ucap orang itu sebelum pergi.


"Yang di maksud Kak Naren itu Naren yang berangkat bareng sama aku tadi pagi?" tanya Leora.


"Ya iyalah, di sini cuma ada satu yang namanya Naren," jawab Lily yang agak kesal dengan pertanyaan teman barunya itu.


"Gawat! Aku harus misahin mereka," ucap Leora.


Lily menarik tangan Leora, mencegah gadis itu untuk melerai kedua troule makerĀ  itu.


"Emang kamu berani ngelerai mereka? Bisa-bisa kamu juga bakal kena tonjok mereka," ucap Lily.


"Aku nggak berani sih sebenarnya, tapi kalau Naren kenapa-kenapa aku nggak bisa pulang nanti," ucap Leora.


"Aku harus lerai mereka, awas!" lanjut Leora. Leora lari menerobos kerumunan itu tanpa menghiraukan Lily.


"Sebenarnya dia benar-benar khawatir Kak Naren kenapa-kenapa atau -"


"Ah sudahlah masa bodoh sama alasannya Leora. Leora tunggu!" Lily lari menyusul Leora.