
Hari sudah gelap, seorang remaja berlari menaiki tangga demi tangga untuk mencapai gedung tertinggi di gedung sekolah tempatnya belajar. Dibukanya pintu atap sekolah dengan kuat hingga terdengar suara yang memekakkan telinga. Dengan napas yang terengah-engah, remaja laki-laki itu mendekati satu objek yang sama sekali tidak terpengaruh dengan suara benturan pintu dan tembok.
“Lo ngapain disana?!” teriak remaja laki-laki itu kepada gadis berambut pendek.
Gadis itu tidak menyaut, dia hanya diam sembari menatap indahnya pemandangan kota dari atas pagar pembatas.
“Lo jangan gila!” teriaknya lagi.
Gadis itu membalikkan tubuhnya menghadap remaja laki-laki itu.
“Kenapa baru sekarang?” tanya gadis itu.
Remaja laki-laki itu mengernyitkan dahi. Ia tidak mengerti maksud dari temannya itu.
“Apa gue harus mati dulu baru lo bakal datang ke gue?” Gadis itu terisak pilu.
“Gue minta maaf kalau selama ini gue selalu ngerepotin lo. Sekarang lo bisa tenang karena gue nggak akan pernah ganggu hidup lo lagi,” lirihnya.
Gadis itu menatap orang yang disukainya dengan tatapan yang menyedihkan, lalu dalam hitungan detik gadis itu menjatuhkan dirinya dari atap gedung dengan ketinggian empat lantai.
“JANGAN!!” Remaja itu teriak histeris seraya berlari demi menggapai tubuh gadis itu. Namun, sayang tubuh gadis itu sudah jatuh ke ke bawah sana.
Dapat ia lihat darah menggenangi tubuh gadis itu. Remaja itu syok dengan apa yang ia saksikan barusan. Teman semasa kecilnya mengakhiri hidupnya tepat di hadapannya.
***
Naren sudah sampai rumah. Setelah memarkirkan motornya setelah mendorongnya sejauh dua meter, ia masuk ke dalam rumah dengan pelan. Untung dia selalu bawa kunci cadangan rumahnya. Jangan sampai orangtuanya bangun karena ia yang masuk ke rumah dengan grasah-grusuh, bisa-bisa dirinya akan diomeli habis-habisan jika ketahuan pulang larut malam lagi.
Selesai mengunci pintu kembali, Naren langsung menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas. Saat membuka kamarnya ia dikejutkan dengan sosok perempuan dengan gaun putih serta rambut yang tergerai menjuntai sedang duduk di meja belajarnya dengan posisi memunggungi dirinya.
Seketika keringat dingin membasahi pelipis dan tangannya.
"Se-setan," ucap Naren terbata-bata sambil menunjuk sosok itu.
Sosok perempuan yang merasa ternganggu akan kehadiran Naren pun menoleh. Dapat Naren lihat wajah sosok itu penuh dengan warna putih.
"WAAA... ANJIINGG... SETANNN!" Teriak Naren sebelum akhirnya jatuh pingsan.
Sedang sosok yang di teriaki Naren bingung dan panik.
"Setan? Mana? Dimana setannya? Huaaa... Mamiii Leora takuttt..." Sosok itu menangis ketakutan.
Leora menghampiri Naren yang belum sadarkan diri, "hei bangun kenapa malah tidur di sini."
"Jangan mati dulu nanti Leora yang di salahin, Leora nggak mau masuk penjara huaaa..." Leora mengguncang-guncang tubuh Naren tetapi pemuda itu tak juga bangun.
"Dasar setan nyebelin! Sudah buat anak orang mati tapi malah ngilang," ujar Leora yang menyalahkan setan.
Hei Leora! Haruskah ku beritahu kalau yang membuat Naren pingsan itu bukan setan sungguhan tapi kau yang sedang cosplay menjadi setan. Bisa-bisanya menyalahkan setan yang tidak bersalah.
Pagi telah tiba, Leora sedang bersiap untuk pergi ke sekolah barunya. Dirasa dirinya sudah rapi dan cantik, Leora menghampiri pemuda yang hingga kini belum bangun juga.
"Sebenarnya dia ini sudah mati atau belum sih? Kenapa nggak bangun-bangun, sebentar lagi kan berangkat ke sekolah," Leora menatap Naren bingung.
"Sudahlah mending Leo turun aja kebawah, leo sudah lapar." Leora meninggalkan Naren dan memilih untuk sarapan bersama Om Tian dan Tante Sarah.
"Selamat pagi Om, Tante," sapa Leora kepada pria dan wanita paruh baya yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Pagi juga Leora/ pagi nak," balas mereka.
"Ayo duduk. Sebelum berangkat ke sekolah kamu harus sarapan dulu," ujar Sarah sambil mengambilkan sarapan untuk Leora.
"Terima kasih tante," ucap Leora saat mengambil piring berisi makanan yang di sodorkan oleh Sarah.
Leora memulai sarapannya begitu pula dengan Sebastian dan Sarah yang melanjutkan sarapan mereka yang tertunda.
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga sudah selesai dengan sarapannya. Mereka pun berbincang-bincang sebentar sembari menunggu seseorang untuk gabung bersama.
Tak lama yang di tunggu pun akhirnya menampakkan batang hidungnya dengan seragam yang jauh dari kata rapi. Kemeja yang keluar, dasi yang belum dipasang serta rambut yang masih acak-acakan. Tapi tenang itu semua tidak mengurangi kadar ketampanannya.
"Sudah bangun kamu?" Tanya Sebastian kepada putra tunggalnya itu.
"Ck, anak ini benar-benar," Sebastian menghela napas lelah sembari mengelus dadanya sabar.
Kesalahan apa yang ia buat dalam proses pembuatan Naren putranya. Kenapa kelakuannya selalu bikin ngelus dada.
"Naren, kenapa semalam kamu pingsan?" Tanya Sarah.
"Aku? Pingsan?" Tanya Naren bingung.
"Iya, semalam kamu pingsan, masa nggak ingat," ujar Sarah.
Naren menatap gelas kosong di tangannya sembari mengingat kembali tentang apa yang terjadi semalam.
Naren meletakkan gelas ke meja makan dengan keras, ia menatap orangtuanya dengan mata yang membesar.
"Semalam aku lihat setan di kamarku," bisik Naren sembari mencondongkan tubuhnya ke Sebastian dan Sarah.
"Setan?" Tanya Sebastian.
"Iya, aku lihat dengan jelas," ucap Naren dengan yakin.
"Seperti apa setannya?"
"Setan itu pakai baju putih, rambutnya panjang bergelombang, wajahnya putih dan duduk di atas kursi belajarku-"
BRAAKK!
Naren dan kedua orangtuanya kaget mendengar gebrakan meja makan. Dapat mereka lihat seorang gadis sedang menatap marah Naren.
"Leora bukan setan ya! Sembarangan aja kalau ngomong!" Teriak Leora kesal pada Naren. Leora cukup sadar dengan ciri-ciri yang disebutkan Naren merujuk ke dirinya.
"Dia siapa?" Tanya Naren bingung di tambah dengan muka cengonya.
Sepasang suami istri itu tersadar dari keterkejutannya setelah mendengar pertanyaan putranya.
"Oh Leora, ayo duduk dulu. Naren nggak bermaksud ngomong seperti itu dia cuma kaget dan spontan mengatakan hal itu," ucap Sarah yang mencoba menenangkan Leora.
"Iya sayang, ayo duduk lagi. Biar om jelasin ke anak nakal ini kalau kamu bukan setan yah," bujuk Sebastian kepada anak temannya ini.
Leora pun kembali duduk dengan kesal. Sedang Naren yang tidak tahu apa-apa termasuk dengan keberadaan Leora pun hanya diam dan bingung.
"Naren kenalkan dia Leora, anak teman mama sama papa," Sarah mengenalkan Leora kepada Naren.
"Dan Leora, dia anak Tante sama Om, dia yang bakal jagain kamu mulai sekarang." Ucapan Sarah barusan membuat Naren terkejut setengah mati.
"Apa maksud mama aku bakal jagain dia mulai sekarang?" Tanya Naren.
"Mulai saat ini kamu harus jagain dia, kamana pun dia pergi kamu harus ikut begitu pun sebaliknya. Jangan sakitin dia, jangan buat dia nangis atau semua fasilitas kamu papa sita. Jelas Narendra?" Jelas Sebastian dengan tampang mengejek. Dia tau dengan hadirnya Leora dalam hidup Naren akan membuat anak nakalnya itu mudah untuk di kendalikan.
"Kenapa-" ucapan Naren terpotong saat melihat mamanya memengang pisau dengan tatapan tajam dan papanya menatap dirinya dengan smirk penuh ancaman.
"Oke, nggak masalah." Naren memilih mengalah saat ini daripada nyawa menjadi ancamannya.
"Lo udah selesai makan kan, ayo buruan berangkat ke sekolah," ucap Naren sebelum beranjak dari ruang makan dan pergi keluar terlebih dahulu.
"Kenapa Leora harus berangkat sama dia? Leora nggak mau," tolak Leora.
"Leora, mulai sekarang kamu bakal pulang dan pergi dengan Naren. Om sama tante nggak bisa ngantar kamu karena kami sibuk, nggak papa ya," bujuk Sarah agar Leora mau beragkat sekolah dengan Naren.
Leora mengangguk setuju.
"Kalau begitu Leora pergi ke sekolah dulu ya tante, om," pamit Leora.
"Iya, hati-hati di jalan ya," ucap Sarah.
"Kalau Naren nanti ngebut di jalan pukul aja kepalanya nggak papa kok,"ujar Sebastian.
"Iya, dadah om, tante." Leora pergi meninggalkan mereka berdua.
"Dadah~" ucap mereka sambil melambaikan tangan.