
Malam ini Naren menghabiskan waktunya dengan nongkrong bersama teman satu gengnya. Kondisi hati Naren sedang tidak baik. Entah mengapa sedari tadi dirinya terus merasa kesal. Anak-anak Tiger lainnya pun menjadi enggan membuka suara padanya, karena hawa dingin yang terus menguar dari tubuhnya.
"Psstt .... Dia kenapa?" Bisik Yoshua pada Haikal.
"Nggak tau," jawab Haikal menggidikkan bahunya. Kemudian ia melanjutkan game-nya.
"Dia kenapa?" bisik Yoshua pada Andy.
"Kayaknya dia lagi cemburu deh," ucap Andy santai seraya fokus pada game-nya. Kali ini ia tidak boleh kalah dari Haikal atau dia akan dijadikan babu oleh makhluk tak berperasaan itu.
"Cemburu ke siapa?" Yoshua menatap kaget Naren. Ia tau betul sahabatnya ini seperti apa dan siapa orang bisa membuatnya seperti ini.
"Setan kecilnya," jawab Andy pelan takut di dengar Naren.
"Serius?"
"Mungkin."
"Ck, iya atau nggak?!" kesal Yoshua.
"Kalau lo penasaran tanyain aja sendiri sana! Kenapa ganggu gue mulu." Andy ikut kesal pada Yoshua karena di teriaki.
"Lo kan teman satu sekolahnya," jengkel Yoshua.
"Terus kenapa kalau kita satu sekolah? Apakah gue harus selalu tau tentangnya? Apa gue orangtuanya?"
"Lo ini benar-benar ngeselin ya!" hardik Yoshua.
"Aakhh .... No... No ...."
"Yuhuuuu .... Gue menang lagi!" teriak Haikal senang karena berhasil mengalahkan Andy lagi.
"Gara-gara lo sih, gue jadi kalah," kesal Andy pada Yoshua.
"Gue kenapa?" elak Yoshua.
"Lo ganggu gue terus dari tadi. Sekarang lihat! Si iblis ini pasti bakal nyuruh gue yang aneh-aneh," marah Andy.
"Heh! Lo yang nggak bisa ngalahin dia, kenapa malah nyalahin gue?"
"Kalau lo nggak ganggu gue tadi, gue pasti menang, cuma tinggal____"
"Lo memang selalu kalah dari Haikal, 'kan? Lo nggak pernah menang melawan Haikal".
"Apa kata lo?!" Andy meninggikan intonasi suaranya.
"Lo selalu kalah dari Haikal," balas Yoshua penuh penekanan.
"Dasar anak anjing ya lo!" Andy bangkit, lalu menyerang Yoshua secara brutal.
"Heh bocah! Lepasin Gue!" teriak Yoshua kesakitan karena rambutnya di jambak sangat kuat oleh Andy.
"Nggak akan." Andy semakin menguatkan jambakannya.
Yoshua yang tak mau kalah pun ikut menjambak rambut Andy. Dan sekarang terjadi lah perang jambak-jambakan anatara Andy dan Yoshua.
Steven yang melihat itu hanya mendesah lelah sedang Haikal dan Hans, mereka bertaruh siapa yang akan menang.
Hans berada di pihak Yoshua dan Haikal berada di pihak Andy. Mereka berdua menyemangati pilihan masing-masing dengan heboh.
"Ya! Ya! Ya! Andy jangan kendorin tangan lo," sorak Haikal.
"Yoshua jangan buat malu! Badan lo lebih besar dari dia, jangan sampai kalah." Hans pun tak mau kalah.
Andy dan Yoshua saat ini sudah dalam posisi berguling-guling di lantai.
"Lepasin rambut gue!" perintah Andy.
"Gue nggak akan lepasin sebelum lo duluan yang lepasin!" tolak Yoshua.
Suara gebrakan meja membuat mereka semua langsung terdiam, termasuk Yoshua dan Andy. Mereka semua membeku dengan pose terakhir mereka.
"Apa kalian nggak bisa diam?" Naren menatap anggotanya dengan tatapan menusuk.
Ke-empatnya menelan ludah dengan susah.
"Maaf," ucap mereka sembari menunduk tak berani menatap Naren.
Lagi, Steven menghela napas lelah, ia sudah tau jika ini akan menjadi akhirnya.
"Gue lagi kesal hari ini, jadi jangan buat gue semakin kesal," ucap Naren.
Yang lain pun mengangguk paham.
Naren pergi meninggalkan mereka yang masih diam seribu bahasa.
Steven yang melihat Naren pun pergi menyusulnya.
"Kalian berdua sih, Naren jadi marah kan." Haikal melimpahkan semua kesalahan pada Yoshua dan Andy.
"Dasar kekanak-kanakan," sambung Hans menimpali Haikal.
Andy dan Yoshua menatap keduanya kesal. Bukannya mereka juga salah. Melihat temannya kelahi bukannya di pisah malah di sorakin dan di jadikan bahan taruhan.
Andy dan Yoshua saling tatap beberapa detik, sampai akhirnya mereka berdua menyerang Hans dan Haikal secara tiba-tiba.
"Woy .... Lepaskan gue!" teriakan Haikal menggema karena Andy mengigit tangannya dengan kuat.
Hans juga tidak kalah histeris saat kepalanya di piting oleh Yoshua.
.
.
.
.
.
Lain markas Tiger lain pula dengan markas Black Moon. Mereka sedang asyik main kartu bersama.
Reno berdecak kesal saat dirinya kalah dalam dua putaran berturut-turut.
"Sudahlah gue nggak mau main lagi," pundung Reno.
"Oy .... Kenapa harus ngambek karena kalah main?" Marko mencegah Reno pergi.
"Kalian main aja tanpa gue, gue capek."
"Oho ... Lo capek karena kalah terus ya," ejek Juna.
"Tutup mulut lo atau gue bakal sobek-sobek tuh mulut!"
"Uuuu.... Takut ...." Sepertinya Juna sudah siap mati hari ini.
"Lo____" Reno mencoba menarik kerah Juna namun di halangi Julian.
"Lepasin gue! Biarin gue robek mulutnya yang kurang ajar itu," kesal Reno.
Juna yang merasa di lindungi pun semakin mengejek Reno dengan wajah menyebalkannya.
Gino yang berada di samping Juna segera membekap mulut Juna agar pemuda itu berhenti mengejek Reno yang kesabarannya sudah setipis tisu. Juna memberontak, namun kekuatan Gino lebih besar hingga ia tak bisa berkutik.
"Kenapa gue harus punya teman kayak mereka sih," gerutu James.
Reno pergi meninggalkan mereka. Saat melewati depan kamar Arzeno, Reno berhenti saat tidak sengaja melirik pintu kamar ketuanya yang tidak tertutup rapat.
Dapat ia lihat ketuanya sedang berdiri memandang figura besar yang menampilkan satu objek yang sudah tidak ada di dunia ini.
"Lagi?"
"Gue pikir dia sudah move on," batin Reno.
Tok! Tok!
Reno mengetuk pintu bercat hitam itu.
Arzeno menoleh dan mendapati Reno yang sudah berdiri di depan kamarnya dengan wajah datarnya.
"Kenapa?"
"Gue pikir lo sudah lupain dia."
"Gimana caranya gue bisa lupain dia?"
"Bukannya lo lagi deket sama anak baru itu."
" .... "
"Jangan bilang lo gunain dia buat balas dendam ke Naren?"
"Dia memang cantik, tapi nggak ada yang bisa gantiin dia di hati gue." Arzeno terus menatap wajah seseorang di figura depannya.
"Kalau lo mau ngejomblo sampek mati demi dia ya silahkan aja. Nggak ada yang larang juga." Reno mendesah lelah.
"Tapi satu hal yang harus lo tau. Masih banyak cara untuk balas dendam ke Naren tanpa melibatkan orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalu kalian," nasihat Reno.
"Dia cuma gadis polos yang nggak tau apa-apa. Jangan jadi pecundang hanya untuk membuktikan sebesar apa rasa cinta lo ke dia," lanjutnya
"Sampai kapan pun dia nggak bisa jadi milik lo, jadi jangan gila!" Reno meninggalkan Arzeno sendiri di kamarnya.
"Kalau aja kamu nggak tergila-gila sama dia. Pasti aku masih bisa lihat senyum manismu itu," lirih Arzeno menitikkan air matanya.