Bad & Good Boy

Bad & Good Boy
Chapter 5 : Discreetly



Jam pelajaran kosong karena sang guru ada kepentingan jadi, beliau tidak bisa mengajar di kelas Leora. Sebagian murid di kelasnya ada yang pergi ke kantin, ada yang mengulang materi sendiri, ada juga yang sedang bergosip ria. Leora sendiri berniat menghabiskan jam kosongnya untuk membaca di perpustakaan. Siapa tau ada semacam novel yang bagus di sana.


Langkah kaki Leora terhenti saat seseorang mencegahnya dengan berdiri di depannya persis. Ia mendongakkan kepalanya ke atas guna mengatahui siapa orang tersebut. Dan betapa terkejutnya saat orang yang harusnya ia hindari justru berada tepat di hadapannya. Leora memalingkan wajahnya selang beberapa menit setelah binar matanya bertatapan dengan Arzeno.


Arzeno tersenyum melihat tingkah Leora yang malu-malu itu.


"Kamu mau kemana? Kenapa jam segini keluyuran," tanya Arzeno.


"Oh itu .... Kelas ku lagi jam kosong jadi aku mau pergi ke perpustakaan buat baca-baca buku atau novel," jawab Leora.


"Emang kamu tau dimana perpustakaannya?" tanya Arzeno sekali lagi.


Leora menggeleng pelan. Ia tidak tau di mana perpustakaan berada bahkan ia sudah menghabiskan waktu 15 menit untuk mencari perpustakaan tapi tidak ketemu.


"Kalau nggak tau itu tanya," ucap Arzeno sembari terkekeh ringan.


"Emangnya Kak Arzeno tau?" tanya Leora dengan polosnya.


"Ya tau lah, kan aku sudah lama sekolah di sini, masa iya nggak tau," jawab Arzeno.


Leora mengangguk dan tersenyum canggung. Benar apa yang di katakan Arzeno, dirinya sudah lama berada di sini, dia pasti hafal dengan semua tempat yang ada di sekolah ini. Leora meruntuki pertanyaannya yang terkesan konyol itu.


"Ayo, aku antar ke perpustakaan," ajak Arzeno sambil mengulurkan tangannya.


Leora bingung harus menerima uluran tangan itu atau tidak. Jika ia menerima uluran tangan Arzeno nanti Naren marah padanya, tetapi jika ia menolak, pemuda itu bisa saja akan tersinggung dengan sikapnya. Leora menoleh ke kanan dan ke kiri juga depan dan belakang untuk memastikan Naren sedang tidak berada dalam jangkauannya.


Arzeno yang melihat tingkah aneh gadis di depannya mengangkat alis sebelahnya.


"Lagi apa?" bingung Arzeno.


Leora menggeleng sembari tersenyum, "Ayo." Leora menerima uluran tangan Arzeno.


Arzeno pun tersenyum lebar. Kemudian ia mulai menuntun Leora ke tempat tujuannya yaitu perpustakaan.


.


.


.


.


.


Bau tembakau mengguar di udara, dua di antara tiga pemuda yang sedang nongkrong di atap sekolah sedang menikmati seputung rokok mereka. Sedang yang satunya hanya mengisap permen lolipop sambil asyik scroll-scroll handphone  miliknya.


"Heh lo tau? Si Anjing itu ngehamilin anak orang," ucap Haikal tiba-tiba.


"Terus kenapa?" Naren masa bodoh.


"Kalau sampai si anjing peot itu nikahin dia .... Wah .... Berarti gue bakal punya nyokap baru yang umurnya nggak jauh beda dari gue," ujar Haikal tertawa pelan.


"Bukannya bagus? Di rumah, lo bakal di urusin sama nyokap baru lo itu," ucap Naren enteng.


"Lo bakal di sayang-sayang, Lo juga bakal-"


"Boro-boro di sayang sama diurusin, paling-paling dia cuma ngincar harta si anjing gila itu," potong Haikal dengan cepat.


"Terus gimana nasib mainan sebelumnya?" tanya Andy yang sejak tadi diam saja.


"Paling juga di musnahkan," jawab Haikal.


"Lo nggak mau ngikutin jejaknya, kal?" -Andy.


"Hei! Meskipun gue lahir atas campur tangan si anjing gila itu bukan berarti gue sama kaya dia," kesal Haikal.


"Kenapa nggak? Bukannya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." - Naren.


"HAHAHAHA," tawa Naren dan Andy saat berhasil membuat sahabatnya itu makin kesal.


"Dasar lo berdua emang anak setan ya!" hardik Haikal melempar sisa putung rokoknya yang sudah mati ke Andy.


"Eits, nggak kena," ejek Andy yang berhasil menghindar.


Haikal yang lelah dengan keduanya kembali membaringkan tubuhnya ke bangku.


"Oh ya, anak-anak BM ngajak balapan nanti malam," ujar Andy setelahnya tawanya reda.


"Siapa yang main?" tanya Haikal.


"Marko sama James," jawab Andy.


"Kalau gitu malam ini lo aja yang main. Lo bisa ngajak Hans atau Steven," usul Naren.


"Kenapa mesti gue?"


"Ya kan biar seru. Bukannya lo kangen banget ya sama Marko," ejek Haikal tersenyum puas.


"Lo harus coba. Bukannya kemampuan lo sudah mulai berkembang pesat?" - Naren.


"Lo harus buktiin ke Marko kalau lo bisa ngalahin dia," lanjutnya.


"Atau jangan-jangan lo takut kalah lagi ya lawan Marko," provokasi Haikal.


Andy berdiri dari bangkunya lalu menunjuk kedua temannya, "Kalian lihat aja, entar malam gue pastikan bakal menang dari si cunguk sialan itu."


"Oh oke .... Oke .... Silahkan tunjukan nanti malam," ejek Haikal yang tiada hentinya.


Naren hanya tertawa melihat kelakuan kedua makhluk yang jarang akur itu.


.


.


.


.


.


Leora sedang memilah buku yang akan ia baca dan pinjam dengan sangat teliti. Ia menyimak judul-judul buku yang ada di rak-rak buku, membaca sinopsisnya, dan menimbang-nimbang mana yang paling cocok untuk dibaca. Di tengah-tengahnya memilah buku, sesekali dirinya akan melirik Arzeno yang sedang asyik memainkan handphone-nya. 


"Kenapa dia bisa ganteng banget," puji Leora dalam hati.


Arzeno yang menyadari jika Leora sedang meliriknya tersenyum tipis.


Selesai memilih buku yang ingin ia baca, Leora mendudukkan dirinya di depan Arzeno.


"Banyak banget?"


"Iya, nanti mau Leora pinjam dan bawa pulang."


Arzeno mengangguk, diliriknya beberapa buku itu dan ia tertarik dengan buku bersampul pink.


"Apa itu cinta?" Arzeno membaca judul buku pink itu.


Leora kaget dan segera menutupi buku itu dengan buku yang lain.


Arzeno tertawa pelan, "Kenapa di sembunyikan?"


"Ah ini ...." Leora bingung harus jawab apa.


"Nggak papa, semua orang pasti pernah penasaran sama arti cinta. Jadi kamu nggak perlu malu," ucap Arzeno tersenyum.


Seketika Leora terpesona melihat senyum Arzeno. Baginya Arzeno terlihat semakin tampan saat tersenyum seperti itu.


"Apa kamu pernah jatuh cinta, Leora?"


Leora terkejut dengan pertanyaan Arzeno.


Leora menggeleng, " Leora nggak tau."


Leora menunduk malu.


"Kenapa nggak tau? Aaa .... Kamu belum pernah pacaran ya?"


Leora mengangguk malu.


"Kamu mau tau ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta?" tanya Arzeno.


"Mau, apa?" Leora tampak antusias.


"Orang yang sedang jatuh cinta, biasanya jantung berdebar lebih cepat saat berada di dekat orang yang dia suka, dia tidak berani menatap mata orang yang dia suka, dia juga selalu salah tingkah dan ...." gantung Arzeno sembari menatap Leora.


"Dia suka mencuri-curi pandang ke orang yang dia sukai," lanjutnya sambil mendekatkan wajahnya ke Leora.


Mata Leora terbelalak, apa Arzeno sadar jika dirinya sering meliriknya diam-diam.


"Hahahaha ...." Arzeno tertawa terbahak melihat wajah kaget Leora. Leora tampak seperti maling yang ketahuan.


"Kenapa mukamu jadi kaya tomat," goda Arzeno setelah memundurkan kembali tubuhnya.


Leora menyentuh kedua pipinya dan menunduk malu. Sial! Wajahnya terasa semakin panas sekarang.


"Berhenti."


"Apa?"


"Berhenti ketawa, ini di perpustakaan," pinta Leora.


Arzeno menghentikan tawanya meski sesekali dirinya masih terlihat menahan tawanya.


Melihat Leora yang malu-malu seperti ini saat ia goda, mengingatkannya pada seseorang yang dia kenal di masa lalu.