
Dering handphone Leora berbunyi, sebuah nomor tak di kenal muncul di layar handphone-nya.
Leora mengerenyitkan dahi, "Siapa ini?"
"Kenapa?" tanya Arzeno.
"Ada orang asing yang nelpon aku," jawabnya.
"Coba lihat".
Leora menunjukkan Handphone-nya yang masih berdering kepada Arzeno.
"Angkat aja," suruh Arzeno.
"Kalau ini penipuan gimana?"
"Kalau itu penipuan langsung kasih ke aku aja, biar aku marahi."
"Oke."
Leora mengambil handphone-nya dan melihat nomor yang tak dikenalnya itu. Ia penasaran, siapa yang meneleponnya itu? Ia mengambil nafas dalam-dalam dan menekan tombol hijau untuk mengangkat telepon.
"Halo?"
"Lo dimana?" tanya seseorang di seberang sana.
"Ini siapa ya?"
"Ini gua, Naren".
Leora segera mendekap handphonenya saat mengetahui yang menelponnya ternyata adalah Naren. Lalu ia melirik Arzeno yang sedang menatapnya penasaran.
Gawat! Kalau Naren tau dia lagi sama Arzeno mungkinkah mereka akan bertengkar kembali? Tidak! Tidak! Naren tidak boleh tau jika dirinya sedang berduaan dengan Arzeno.
"Oy!" Teriak Naren kesal.
"Oh iya, ini aku lagi di perpustakaan, lagi belajar." Leora mencoba mencari alasan yang tepat.
"Kelas lo sekarang kosong kan, ayo bolos aja."
"Apa? Bolos?"
"Iya. Ayo bolos sekarang," ajak Naren.
"Ini belum waktunya pulang."
"Halah .... Tinggal berapa menit lagi jam terakhir selesai."
"Tapi kan_"
"Yaudah kalau lo nggak mau, gua tinggal ya," ancam Naren.
"Yah jangan dong! Nanti Leora pulang sama siapa?" protesnya.
"Ya makannya ayo balik sekarang," paksa Naren.
"Kalau ketahuan, Naren yang tanggung jawab ya," ucap Leora.
"Iya .... Iya .... Bawel lo. Buruan!"
Tuutt...
Panggilan di putus sepihak oleh Naren.
"Kamu mau pulang sekarang?" tanya Arzaeno.
Leora mengangguk.
"Ayo aku antar kembali ke kelasmu." Arzeno berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya ke Leora.
"Nggak usah, aku bisa kembali sendiri," tolak Leora dengan panik.
"Kamu ingat jalan kembalinya?"
"Ingat kok," jawab Leora cepat.
Arzeno mengangguk paham. Ia mengerti mengapa Leora menolak tawarannya, pasti ini ada hubungannya dengan Naren.
Leora mengumpulkan semua buku-buku yang ia pilih, lalu membawanya ke meja petugas perpustakaan untuk dipinjam. Ia harus mengurus kartu anggotanya terlebih dahulu karena ia murid baru. Ia menunggu petugas untuk memproses peminjaman buku-bukunya.
Diam-diam Arzeno menatap punggung Leora dengan ekspresi yang sulit dimengerti.
.
.
.
.
.
Naren melangkah menyusuri koridor yang menghubungkan ke perpustakaan.
Tadinya ia hanya akan menunggu Leora di parkiran, namun Leora tak kunjung datang juga sehingga ia langsung bergegas ke kelas gadis itu untuk mengecek keberadaannya. Ternyata Leora tidak ada di kelasnya, hanya ada tas yang tergeletak di bangkunya. Demi meminimalisir waktu, Naren masuk ke kelas Leora dan memberesi semua buku juga alat tulis Leora.
"K-kak Naren, Leora kenapa? Kenapa semua barang-barangnya di beresin? Kan belum waktunya pulang." Rentetan pertanyaan itu berasal dari Lily.
"Dia sakit," jawab Naren singkat.
"Sakit apa?" tanya Lily khawatir. Perasaan sebelum Leora pergi dia baik-baik saja lalu kenapa sekarang jadi sakit?
Naren tidak menanggapi pertanyaan Lily dan langsung pergi begitu saja setelah selesai memberesi buku-buku Leora.
Saat akan ke luar dari kelas, dirinya dihadang oleh seseorang.
"Nggak ada yang boleh bolos atau pulang lebih dulu kecuali ada hal yang mendesak di kelas ini. Itu adalah peraturan yang kelas kami buat dan sepakati," ucap seorang gadis berambut pendek itu.
"Oh ya? Memangnya gue percaya," ucap Willy yang tak percaya dengan alasan kakak kelasnya itu.
"Dengar! Gue nggak punya urusan sama lo, jadi jangan ganggu dan halangi gue," ucap Naren ketus.
"Gue ketua kelas di sini, jadi semua orang harus nurut sama gue dan peraturan yang ada," balas Willy tak kalah ketus.
"Terus gue peduli gitu?" Naren menghempaskan tangan Willy kasar dan menerobos keluar kelas begitu saja.
Willy menatap kesal Naren karena sudah merendahkan posisinya sebagai ketua kelas.
.
.
.
.
.
"Kak, aku pergi dulu ya," pamit Leora pada Arzeno setelah proses meminjam bukunya selesai.
"Iya. Hati-hati di jalan ya," ucap Arzeno tersenyum manis.
Lagi-lagi Leora hanya mengangguk malu. Lalu pergi meninggalkan Arzeno.
Pintu besar itu di tutup oleh Leora dengan pelan. Saat membalikkan badan, ia di kejutkan dengan kehadiran Naren yang sudah ada di depannya.
"Oh astaga!" teriaknya kaget.
"Apa gue kelihatan seperti hantu buat lo?"
Leora menggeleng.
"Leora cuma kaget aja," jawabnya.
"Ayo balik, lama banget sih lo," gerutu Naren.
"Ya kan Leora harus ngurus kartu anggota perpustakaan dulu," ucap Leora memberi alasan.
"Oh! Tas Leora kenapa ada sama Naren?"
Naren berhenti, kemudian di lemparnya tas pink itu ke pemiliknya. Untung saja si empunya dapat menangkap tas itu dengan baik meski di tangannya banyak buku.
"Buruan!" Naren meninggalkan Leora yang masih memasukkan buku-buku yang baru ia pinjam ke tasnya.
"Naren tunggu!" teriak Leora yang kemudian segera menyusul Naren yang mulai melangkah jauh darinya.
"Sebenarnya apa hubungan mereka berdua?" tanya seseorang yang mengintip keduanya dari tempat persembunyiannya.
.
.
.
.
.
"Naren, katanya kita mau pulang? Tapi ini bukan arah jalan pulang," tanya Leora bingung saat Naren melewati jalan yang berbeda saat mereka berangkat sekolah.
Naren tidak menjawab pertanyaan Leora, anatara ia yang tidak dengar atau memang sengaja mengabaikannya.
Leora yang tak mendapat jawaban dari Naren memasang muka cemberut.
Sekitar dua puluh menit, Naren menghentikan motornya di halaman rumah seseorang.
Naren turun dari motornya dan melepaskan helmnya. Ia mengernyit saat Leora yang masih stay duduk di atas jok motornya.
"Lo nggak turun?"
"Ini rumah siapa? Katanya mau pulang, tapi kenapa malah kesini," ucap Leora sedikit merajuk.
"Ini rumah temen gue, ayo masuk," ajak Naren.
"Nggak mau. Leora mau pulang aja."
"Gue cuma sebentar doang. Ayo turun."
"Nggak mau! Di bilang nggak mau juga," kesal Leora.
"Ya Udah kalau gitu gue masuk sendiri, lo disini aja," ucap Naren yang juga ikut kesal.
"Ya Udah," balas Leora sambil memalingkan wajahnya.
"Ck ...." Naren meninggalkan Leora yang masih pada posisinya.
Langkah Naren terhenti di depan pintu, " Lo yakin nggak mau masuk?"
"Nggak!"
"Ya Udah. Denger ya, kalau ada om-om tua yang nyamperin kamu, jangan mau ikut kalau diajak pergi beli permen," ucap Naren memperingatkan Leora agar tidak pergi kemana-mana.
"Kenapa emangnya?"
"Dia om-om pedo yang suka makan anak kecil kaya kamu," ujar Naren menakut-nakuti Leora.
"Awas jangan sampai ikut dia!" peringat Naren mengacungkan jari telunjuknya sebelum menghilang di balik pintu.
Seketika ketakutan menghantui Leora. Bagaimana jika yang dikatakan Naren benar. Bagaimana jika dirinya di culik oleh om-om yang dimaksud Naren.
Leora yang ketakutan segera turun dari motor dan berlari masuk ke rumah itu dengan tergesa-gesa. Ia berharap dapat mencapai rumah itu sebelum sesuatu yang mengerikan terjadi.