Bad & Good Boy

Bad & Good Boy
Chapter 7 : Markas Tiger



Naren memasuki markas Tiger dengan santai.


"Kenapa lama banget?" tanya Steven, orang pertama yang menyadari kedatangan ketua mereka.


"Gue harus ngurus setan kecil dulu," jawab Naren seraya merebut minuman Andy. Andy yang melihat itu kesal namun tidak berani memarahi Naren. Bisa-bisa dirinya langsung di lahap hidup-hidup oleh Naren.


"Setan kecil?" bingung Hans menengok kanan kiri.


"Kalian belum tau ini ya, kesabaran Naren saat ini lagi di uji sama orangtuanya," kata Haikal.


"Di uji?" - Steven.


Andy mengangguk, "Dia diminta untuk jagain setan kecil." Andy menimpali.


"Wahh .... Betapa tidak beruntungnya dirimu kawan." Steven menepuk-nepuk bahu Naren sembari tertawa kecil.


Naren menghela napas kasar, " Kayanya gue bakal jarang kumpul sama kalian, deh."


"Oh Why?" kaget Hans.


"Itu karena gue harus selalu bawa dia kemana-mana," jelas Naren.


"Gue nggak mungkin kan buat dia dalam bahaya. Kalian tau kehidupan kita ini seperti apa," sambungnya.


"Jadi nggak seru lagi dong kalau lo nggak ikut," ucap Steven.


"Mau gimana lagi," pasrah Naren.


"Bukannya lo masih bisa bawa dia ikut kumpul bareng kita? Cuma nongkrong nggak akan jadi masalah, kan?" - Hans.


Naren tampak berpikir, apa yang dikatakan Hans ada benarnya. Jika hanya sekedar berkumpul sepertinya tidak masalah. Toh, tidak ada musuh yang akan mendatangi markas lawan jika tidak mau mati di kandang lawan.


"Kedengarannya oke, tapi apa kalian nggak keberatan?"


"Ya nggak lah," kompak anggota Tiger.


"Naren! Naren!" terdengar suara teriakan Leora memanggil Naren.


"Ada apa lagi sama bocah itu," batin Naren.


Leora datang sambil berlari, wajahnya terlihat panik dan ketakutan. Gadis itu memeluk Naren dengan kuat saat ia berhasil menemukannya. Terdengar suara isakan tangis Leora yang sedikit teredam di dada Naren.


"Ada apa? Kenapa nangis?" panik Naren. Apakah sesuatu terjadi padanya. Padahal tadi ia baik-baik saja sebelum di tinggal masuk.


Bukannya menjawab Leora semakin mengeraskan tangisannya.


"Dia kenapa?" tanya Haikal. Naren menggeleng.


"Sstt .... Apa itu setan kecil yang kalian maksud," bisik Hans pada Andy. Andy mengangguk sebagai jawabannya.


"Lo ini kenapa? Datang-datang nangis. Bukannya tadi baik-baik saja," cecar Naren.


Leora menutup mulut Naren dengan tangannya agar pemuda itu tidak bertanya padanya terus-menerus. Keempat anggota Tiger menahan tawa saat melihat ketua mereka di perlakukan seperti itu. Ini pertama kalinya mereka melihat Naren diam saja saat di peluk wanita dan yang membuat mereka tertawa adalah ini kali pertama mereka melihat ada yang seberani itu kepada pimpinan mereka.


Naren menyadari dirinya menjadi pusat perhatian teman-temannya pun merotasikan bola matanya.


Tak lama datang Yoshua yang berlari kecil sembari membenarkan ikat pinggangnya.


"Hey! Apa kalian lihat ada penyusup masuk ke rumah ini?" tanya Yoshua dengan napas tersenggal-senggal.


"Apa yang lo maksud dia?" Steven menunjuk gadis yang berada di pelukan Naren.


Yoshua memincingkan matanya mengamati apakah gadis ini yang mengintipnya tadi. Benar! Ini orang yang mengintipnya tadi. Tapi yang membuatnya bingung, mengapa gadis ini bisa memeluk ketuanya apalagi tangannya dengan kurang ajar membekap mulut Naren.


"Dia siapa? Lo kenal dia, Ketua?"


"Kenapa nggak dijawab?"


"Ya gimana Ketua bisa jawab kalau mulutnya aja di sumpal begitu," sahut Andy.


Yoshua menepuk pundak Leora agar gadis itu mau melepaskan Naren. Leora yang terkejut di tepuk begitu kembali menangis dengan kencang. Semua yang ada di sana langsung menutup kuping mereka karena tidak tahan dengan suara melengking itu.


"JAUHKAN MONSTER MENGERIKAN INI DARIKU!" Teriak Leora.


"Monster/Monster?!" kompak mereka bingung.


"Aku melihatnya sedang memakan manusia tadi," adu Leora pada Naren.


Naren mengernyitkan dahinya, sepertinya ia mulai paham apa yang terjadi pada Leora. Seketika perasaan takut muncul saat Yoshua di tatap tajam secara tiba-tiba oleh Naren.


Naren menyingkirkan tangan kecil Leora dari mulutnya dengan paksa. Di jauhkannya tubuh Leora, lalu ditatapnya mata yang sedang menangis itu.


"Dia bukan monster. Dia teman gue," jelas Naren.


"Jadi Naren juga monster?"


Lagi dan lagi Naren di buat syok dengan pertanyaan tak masuk akal bocah ini.


Naren menghembuskan napas pelan, "Baik gue maupun dia atau orang-orang yang ada disini itu bukan monster." Naren mencoba menjelaskan pada Leora dengan pelan-pelan. Sepertinya kemampuan otak gadis ini di bawah rata-rata, pikir Naren.


"Tapi kenapa dia makan orang?" tanya Leora yang masih bersikeras bahwasanya orang itu adalah monster,


"Makan orang?" tanya Hans.


"Eum ...." Naren bingung harus seperti apa menjelaskannya pada Leora. Nampaknya Leora sama sekali tidak memahami tentang hal-hal berbau dewasa.


"Dia lagi nggak makan orang, tapi dia lagi meluapkan kasih sayangnya ke pacarnya," jelas Steven membantu Naren yang tampak kebingungan.


"Aku nggak paham," gumam Leora pelan.


"Dia lagi bercocok tanam sama pacarnya. Masa lo nggak tau sih?" ucap Haikal blak-blakan.


Naren dan Steven sontak menatap tajam Haikal. Haikal yang merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya kembali pada game di ponselnya.


"Bercocok tanam? Kenapa di atas kasur? Kenapa nggak di luar?" Leora mendongak menatap Naren.


Naren yang di tatap pun kembali bingung.


"Eumm .... Di kulkas sana ada es krim, Lo mau?" Naren mengalihkan topik pembicaraan seraya menunjuk kulkas yang berada di pojok ruangan.


"Es krim?" Agaknya Leora sudah mulai teralihkan. Naren mengangguk.


"Iya, di sana," ucap Naren.


Leora mengangguk cepat.


"Lo bisa ambil es krim di sana .... Sana ...." kata Naren sedikit terdengar seperti sedang mengusir Leora dari hadapannya.


Dengan semangat Leora berlari menghampiri kulkas itu. Dan betapa terkejutnya dia saat tau di kulkas ini memiliki berbagai macam es krim, minuman dan makanan.


"Waahhh .... Banyak banget. Nggak sia-sia aku ikut Naren kesini." Leora mengambil es krim rasa coklat di tangan kanannya dan es krim rasa vanila di tangan kirinya. Dirinya seperti mendapatkan jackpot.


"Makan .... Makan yang banyak." Leora senang.


"Jangan makan banyak-banyak bocah!" teriak Naren memperingati Leora saat melihat bocah itu menggenggam dua es krim di tangannya.


Leora menatap Naren dengan nyalang lalu mengabaikan Naren. Naren hanya bisa mendesah pelan. Akan seberat apa hari-harinya nanti.


"Tunggu dulu, apa disini cuma gue yang nggak ngerti siapa gadis itu? Kenapa dia bisa bersama Ketua?" tanya Yoshua pada Naren.


"Dia anak teman orang tua gue. Gue diminta untuk jaga dia. Dia juga tinggal di rumah gue," jawab Naren.


"Lalu kemana orangtuanya?" tanya Hans.


"Orangtuanya kerja di luar negeri," ujar Naren.


"Kayaknya lo agak tertekan sama keberadaannya," ucap Steven.


"Bukan agak tapi sangat! Dia ganggu banget, apalagi dia sering buat gue kesel," jengkel Naren.


"Gue kira lo suka sama dia, itu kenapa lo biarin dia meluk lo tadi," ucap Hans dengan entengnya.


"Itu nggak akan mungkin terjadi," elak Naren.


"Ini sudah kedua kalinya gue lihat kalian begitu intim. Pertama waktu lo gandeng dia di sekolah, lalu yang kedua kalian pelukan di depan kita semua," timpal Andy.


"Dan lo sama sekali nggak menolaknya," goda Haikal yang membuat mereka tertawa.


"Ey, bukan gitu ____"


"Uwow .... Kenapa kelihatan merah banget?" goda Haikal lagi.


"Apanya yang merah!" kesal Naren.


Melihat Naren yang kesal, anak-anak Tiger yang lain ikut menggoda ketua mereka. Sedang Leora masih asyik menikmati es krim di tangannya.


"Apa mereka tidak bisa mengecilkan suara tawa mereka? Mereka benar-benar berisik," gerutu Leora yang melihat anak-anak laki di sana dengan jengah.