Bad & Good Boy

Bad & Good Boy
Chapter 12



Haikal sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. Namun saat melewati ruang makan, ia melihat ada banyak makanan yang tertata rapi di meja makan. Haikal mengernyit heran. Tidak biasanya ada makanan di meja makan.


Haikal tak ambil pusing dan bergegas menuju garasi untuk mengambil motornya. Akan tetapi, langkah kakinya dihentikan oleh panggilan lembut dari arah dapur.


Haikal menoleh ke sumber suara. Haikal menatap datar seseorang yang memanggilnya barusan.


"Aku sudah buat sarapan buat kamu juga papamu. Ayo makan dulu, habis itu baru berangkat sekolah," ujar seseorang bernama Fitri. Gadis itu adalah kekasih papanya, calon mama tirinya.


Tanpa menghiraukan gadis itu, Haikal pergi dari hadapannya. Namun saat akan pergi, lagi-lagi seseorang menghentikan langkah kakinya.


"Apa begitu caramu bersikap ke calon mama mu?" ucap pria paruh baya dari atas tangga.


Pria itu adalah papanya Haikal, namanya Haris.


Haikal merotasikan matanya kesal.


"Calon mama? Sampai kapan pun mama ku cuma satu, yaitu orang yang sudah melahirkan aku, bukan dia." Haikal menekankan setiap katanya.


"Lagi pula aku yakin kalau perempuan ini cuma mau menguasai harta papa. Mana ada perempuan muda yang bener-bener mau sama laki-laki beruban kaya papa!" lanjut Haikal.


"Tutup mulutmu Haikal!" Haris menampar wajah anaknya.


Haikal tersenyum sinis, ini sudah biasa baginya.


"Kenapa aku harus tutup mulut? Semua yang aku katakan itu benar!" tantang Haikal.


"Haikal!" Haris menonjok Haikal membabi buta.


Haikal tertawa kesetanan, " Teruskan! Hajar aku sampai mati, brengsek!"


"Sayang! Sayang hentikan! Kamu bisa bunuh anak kamu nanti." Fitri mencoba menghentikan Haris namun, tak didengar. Haris masih saja memukuli Haikal.


...****************...


"Gue pulang duluan ya, Ra." Lily pamit kepada Leora untuk pulang lebih dulu.


"Iya. Besok jangan lupa ya." Leora mengingatkan janji mereka besok.


"Iya. Besok aku jemput jam 8. Jangan ngaret lo ya."


"Iya. Sana pulang." Leora memberikan gestur memgusir.


"Dih ngusir," ngambek Lily.


Leora tertawa kecil melihat Lily ngambek.


"Dadah ...." Lily melambaikan tangan pada Leora sebelum pergi meninggalkan Leora di depan parkiran.


"Dah ...." Leora membalas.


Leora menghampiri motor Naren sesuai tempat yang terparkir pagi tadi. Namun, setibanya di sana ia bingung karena tidak ada Naren bahkan, motornya pun juga sudah tidak ada. Apa ia lupa dimana Naren memarkirkan motor? Atau Naren memang meninggalkannya?


Tidak! Ia yakin jika motor Naren terparkir disini. Ia ingat betul dengan motor berwarna pink dengan stiker hello kity itu terparkir tepat di samping motor Naren tadi.


Leora bingung dan hampir menangis. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar parkiran tetapi, ia tidak kunjung menemukan motor Naren.


Leora mengambil handphonenya. Ia mencari kontak Naren, lalu menelponnya. Akan tetapi, pemuda itu tidak mengangkat telpon darinya. Leora semakin panik.


Bagaimana caranya pulang sekarang? Kenapa Naren meninggalkannya?


 Di tengah kebingungannya tiba-tiba ada yang menepuk bahunya.


Leora terlonjak kaget.


"Kak Arzeno." Leora menghela napas lega. Ia kira siapa.


"Kenapa belum pulang? Naren mana?"


Leora menunduk seraya menggeleng. Ia jadi sedih kembali saat teringat jika dirinya di tinggal Naren.


Arzeno mendengus kesal.


"Apa dia ninggalin kamu?"


Leora mengangguk.


"Bisa-bisanya dia ninggalin kamu," gerutu Arzeno.


"Yasudah. Kalau gitu kamu ikut aku aja, biar aku yang anterin kamu pulang," tawar Arzeno.


"Emangnya nggak papa kak?"


"Nggak papa." Arzeno mengusap rambut Leora lembut.


Deg... Deg...


Jantung Leora berdetak begitu cepat saat menerima perlakuan lembut Arzeno. Sepertinya ia memang sudah jatuh cinta pada pemuda itu.


Leora terkejut.


"A-aku ... Nggak! Aku nggak melamun," elak Leora.


Arzeno hanya tersenyum tipis.


"Ayo pulang sekarang." Arzeno mengulurkan tangannya pada Leora. Dengan senang hati Leora menerimanya.


Daripada dia sendirian disini sampai malam, lebih baik dia terima tawaran Arzeno, 'kan.


Arzeno membawa Leora ke tempat parkir motornya.


Saat akan menaiki motor Arzeno. Seseorang dari belakang berteriak memanggil nama Leora.


"Tunggu Leora!" teriak Andy yang ngos-ngosan.


Andy lupa jika dirinya diberi amanat dari Naren untuk mengantar Leora pulang. Tadi Andy ketiduran di atap dan dia tidak menyadari jika bel pulang sudah berbunyi.


Untung saja Naren menelponnya dan mengingatkannya untuk mengantar Leora pulang. Jika tidak ia pasti sudah kebablasan tidur di atap sekolah.


Leora menatap Andy bingung sedang Arzeno menatap datar. Anak ini mengganggu saja, pikir Arzeno.


"Kenapa?" tanya Leora bingung.


"Lo pulang bareng gue," ungkap Andy.


"Naren dimana? Kenapa Kak Andy yang antar aku pulang?"


"Dia lagi ada urusan, makanya dia nyuruh gue antar lo pulang," jelas Andy.


"Lalu kenapa baru datang?"


"Tadi gue ketiduran di atap." Andy memberi alasan kenapa ia telat datang.


"Di atap? Tidur di genteng?" Leora mengerjap polos.


Andy mendesah lelah. Apa yang dikatakan Naren sepertinya benar. Gadis ini bodoh.


"Lupakan itu, ayo pulang sama gue." Andy menggandeng tangan Leora.


Ketika hendak pergi, ada sesuatu yang menahan Leora. Andy menatap yang menghalangi mereka pergi.


"Dia bareng gue," ucap Arzeno dingin.


"Lo nggak denger tadi gue ngomong apa? Naren minta gue buat nganterin Leora pulang, jadi dia ikut pulang sama gue, bukan lo!" balas Andy yang gedek dengan tingkah Arzeno.


Tidak tau apa? Jika dirinya sudah sangat lelah dan tidak ingin berdebat.


Leora yang tidak ingin terjadi keributan diantara Arzeno dan Andy memilih untuk pulang bersama Andy sesuai perintah Naren. Jika ia tidak menurutinya, bisa-bisa Naren akan marah terus padanya.


"Kak Arzen, aku pulang bareng Kak Andy aja yah."


"Kamu yakin?" tanya Arzeno yang enggan membiarkan Leora pulang bersama Andy.


Leora mengangguk.


"Yasudah kalau begitu. Kamu boleh pulang sama dia," ngalah Arzeno.


"Cih, tanpa izin dari lo juga dia tetep bakal pulang ama gue." Andy menarik tangan Leora menuju motornya.


Arzeno menatap kesal Andy yang sudah mengganggu rencananya. Sepertinya Naren sangat menjaga gadis itu.


Dilain tempat, Naren berusaha mengeluarkan Haikal dari kamarnya. Ya. Pemuda itu mengabari dirinya tadi jika ia sedang dikurung oleh papanya.


Setelah berhasil menyelinap ke rumah Haikal, Naren segera mencongkel gembok dengan peniti yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi. Secepat mungkin ia lakukan, karena takut ketahuan papa Haikal.


Tak!


Tak butuh waktu lama, gembok itu berhasil di buka. Naren segera masuk ke kamar Haikal. Dapat ia lihat keadaan Haikal cukup memperihatinkan.


Tak ingin membuang waktu lebih lama, Naren segera memapah Haikal untuk dibawa ke rumah sakit. Saat akan keluar rumah, ia berpapasan dengan seorang wanita muda yang baru saja keluar dari mobil.


Naren menatap wanita itu datar.


"Mau dibawa kemana dia?" tanya Fitri.


"Lo buta?! Jelas mau ke rumah sakit lah," sinis Naren.


"Minggir!" Naren mendorong wanita itu menjauh.


Naren memasukkan Haikal ke dalam mobil. Untung saja sebelum kesini dirinya sempat menukar motornya dengan mobil Steven.


Sedangkan Fitri hanya diam sembari menatap kepergian dua pemuda itu.