
Naren menggebrak pintu usang itu dengan kasar, hingga terdengar suara dentuman keras yang menggema di seluruh ruangan. Bangku-bangku yang sudah tak terpakai pun turut ia tendang dan banting dengan kasar. Napasnya terdengar bergemuruh, menahan amarahnya yang besar. Ia menggebrak meja itu dengan kasar, seolah-olah ingin menyalurkan amarahnya yang tak tertahankan.
Tak lama kemudian, Haikal dan Andy datang menyusulnya dan berusaha untuk menghalangi pemuda itu agar tidak merusak barang-barang yang ada di ruangan tersebut. Mereka berusaha untuk menyampaikan bahwa hal itu tidak akan menyelesaikan masalah yang ada. Sebenarnya mereka berdua cukup bingung, mengapa Naren bisa semarah itu hanya karena melihat Arzeno dekat dengan Leora?
"Kenapa lo semarah ini, Bung?" sembur Haikal.
"Gimana gue nggak marah kalau dia mulai melibatkan orang yang nggak bersalah dan nggak ada sangkut pautnya dalam permusuhan kami," teriak Naren.
"Lalu lo mau apa? Apa dengan seperti ini lo bisa menghentikannya?" sahut Andy.
"Di banding meluapkan kemarahan lo di sini, kenapa nggak lo hajar aja dia di tempat," sambung Andy.
"Andy benar, lo cuma buang-buang tenaga lo di sini," setuju Haikal dengan ucapan Andy.
"Biasanya lo bakal langsung menghajarnya kalau dia berulah kan? Tapi kenapa sekarang begini?" tanya Haikal yang bingung dengan tingkah sahabatnya.
Naren tidak akan segan-segan menghajar Arzeno di depan banyak orang, tetapi apa ini? Mengapa ia justru melimpahkan semua amarahnya di sini. Pada benda yang tak bersalah.
Naren terdiam, apa yang di katakan kedua temannya ada benarnya. Mengapa ia seperti ini? Jika ia tidak menyukai apa yang di lakukan musuhnya terhadap dirinya, ia akan langsung menghajarnya. Tetapi, ini? Mengapa ia pergi dan memilih meluapkannya disini.
.
.
.
.
.
.
Seorang gadis yang berada di kantin saat kejadian legend itu terjadi menampilkan senyum smirk. Ia melihat Arzeno sepertinya mulai tertarik pada anak baru itu atau mungkin hanya sekedar main-main saja, mengingat gadis itu datang bersama dengan musuhnya saat pertama kali memasuki area sekolah ini. Ia juga melihat bagaimana Naren yang menatap Arzeno penuh kemarahan. Akankah kejadian dua tahun lalu akan terulang kembali?
"Willy, tadi lo di minta Bu Anggi untuk menemuinya di kantor sekarang," ucap Selly teman sekelasnya.
"Oh iya .... Gue kesana sekarang," ujar Willy. Setelah menghabiskan minumannya, Willy pergi ke kantor guna memenuhi panggilan wali kelasnya.
Di lain tempat, Lily tampak terus menggoda teman barunya itu.
"Cieee .... Ada yang jadi incarannya ketua Black Moon ni," goda Lily seraya tertawa.
"Apa sih," bantah Leora malu-malu.
"Aduh .... Aduh .... Anak mama lagi shy shy cat."
"Iiiihhh .... Berhenti," rengek Leora.
"Coba lihat orang di sekitar, mereka sepertinya iri sama lo karena Kak Arzeno ngasih susu," ucap Lily menatap sekitaran mereka.
Leora pun ikut memutar kepalanya dan melihat sekitar dan benar saja! Mereka sedang melirik ke arahnya, yang sialnya itu adalah lirikan sinis penuh ke iri dengkian. Leora menundukkan wajahnya.
"Tamat riwayatku," lirih Leora.
"Sudah, abaikan saja mereka. Kalau lo jadi pacarnya Kak Arzeno nanti, gue jamin nggak akan ada satu pun orang yang bisa nyakitin lo sedikit pun," ucap Lily menenangkan Leora yang terlihat ketakutan dengan tataapan tak bersahabat mereka.
"Akan lebih aman lagi kalau kamu nggak bahas ini lagi," ucap Leora menatap Lily dengan tatapan memohon.
"Oke .... Oke .... Gue nggak akan bahas ini lagi di muka umum," ucap Lily seraya terkekeh pelan.
Diam-diam Leora melirik ke arah mereka, dan tatapan itu masih sama menyeramkannya.
Jika mereka terus membicarakan hal ini, apakah Naren akan mendengarnya?
"Haahh .... Mati aku!"
"Kenapa?" Lily terkejut dengan ucapan Leora.
"Apa kamu lihat Naren ada di sekitaran kantin ini?" bisik Leora.
Lily mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kantin. Lalu menggeleng saat tak menemukan keberadaan Naren dkk.
"Ngga ada," jawab Lily.
Leora menghela napas lega," syukurlah kalau dia ngga ada di sini."
"Memang kenapa kalau dia ada disini?" bingung Lily.
"Dia melarang aku buat dekat sama Kak Arzeno," ucap Leora sedih.
"Kenapa dia larang lo?"
"Katanya Kak Arzeno itu bukan orang yang baik, jadi aku di minta untuk menjauhinya," ungkap Leora,
"Yang di katakan Kak Naren kayaknya ada benarnya".
"Apa maksudmu!" Leora tak terima dengan perkataan Lily yang cenderung setuju dengan apa yang dikatakan Naren.
"Biar gue kasih tau kau satu hal, Kak Naren bukan tipe orang yang mencari keributan lebih dulu."
"Itu pasti karena Kak Arzeno yang memancingnya terlebih dahulu," ucap Lily.
"Kamu ngomong begini bukan karena menyukai Naren kan?" Leora menatap curiga Lily.
Pasalnya baru beberapa menit lalu ia menggoda dirinya mengenai hal manis yang di lakukan Arzeno padanya namun, kini ia malah berbalik membela Naren.
"Ngga, gue mengatakan hal yang sebenarnya," bela Lily.
"Ngga mungkin Kak Arzeno seperti itu," lirih Leora.
"Apanya yang ngga mungkin? Lo bahkan baru beberapa hari kenal dia!" sembur Lily.
"Memangnya kamu sudah kenal banget sama dia?"
Lily meringis mendengar pertanyaan itu, " Ngga."
"Yasudah! Kalau begitu jangan banyak bicara omong kosong!" kesal Leora.
"Heh lo ini! Gue kan hanya memberitahu lo apa yang gue tau, kenapa jadi marah begini." Lily jadi ikut kesal.
.
.
.
.
.
Sepanjang perjalanan pulang tidak ada pembicaraan apa pun antara Naren dan Leora. Sampai rumah pun mulut mereka tetap terkunci.
Brak!
Leora berteriak karena terkejut dengan bantingan pintu yang tiba-tiba itu. Leora menatap pintu kamar Naren dengan bingung.
"Dia kenapa?" gumam Leora bingung.
Saat akan membuka pintu kamarnya, Leora teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu. Kemudian ia menoleh ke arah pintu Naren dengan cepat. Matanya pun terbelalak, "Apa dia sudah tau?"
"Apa dia diam aja karena marah ke aku yang sudah ingkar janji?"
Leora mengetok pintu Naren, namun tidak ada sahutan. Ia pun berinisiatif membuka pintu itu sendiri, akan tetapi pintu itu di kunci dari dalam.
"Ah sudahlah! Masa bodoh dia mau marah atau ngga. Aku ngga peduli."
Leora masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
.
.
.
.
.
Malam telah tiba, Leora beserta Sarah dan Sebastian sedang menikmati makan malam mereka.
"Kemana anak itu? Kenapa belum pulang juga," ucap Sebastian yang telah menyelesaikan makan malamnya.
"Dia pasti pulang kok," sahut Sarah menenangkan suaminya.
"Memangnya Naren kemana?" tanya Leora.
"Biasa, pasti ngeluyur nggak jelas," jawab Sebastian agak kesal dengan putra satu-satunya itu.
"Mungkin dia ke rumah temannya yang waktu itu," ucap Leora.
"Temannya yang mana?" - Sarah.
"Leora nggak tau itu rumahnya siapa tapi, yang jelas itu rumah temannya Naren."
"Apa Naren pernah bawa kamu kesana?" tanya sebastian.
"Pernah, kemarin dia bawa aku kesana habis pulang sekolah."
"Bukannya kemarin kalian pergi ke kedai es krim?" bingung Sarah.
"Nggak, kemarin aku memang makan es krim tapi, di rumah temannya."
"Anak itu benar-benar," desis Sebastian.
Bagaimana bisa anaknya membawa Leora main ke rumah temannya yang begajulan itu. Jika sesuatu terjadi pada Leora bagaimana? Apa yang akan ia katakan pada orangtuanya nanti.