
Andy tidak langsung membawa Leora pulang ke rumah. Ia membawa Leora ke rumah sakit tempat Haikal di rawat. Malam ini jatah dirinya menemani Haikal di rumah sakit. Jadi daripada bolak-balik ke rumah Naren dan rumah sakit yang arahnya berlawanan, ia memutuskan untuk membawa Leora sekalian ke rumah sakit, agar nantinya bisa pulang bersama dengan Naren.
Beberapa menit kemudian Andy dan Haikal sampai di rumah sakit.
"Kenapa kita kesini? Memang ada yang sakit?" tanya Leora bingung.
"Haikal masuk rumah sakit hari ini," jawab Andy.
"Sakit apa?"
"Ayo masuk dulu. Nanti kamu bakalan tau," ajak Andy. Leora mengangguk.
Andy jalan lebih dahulu, kemudian diikuti oleh Leora.
Setibanya di depan ruang inap Haikal, Andy langsung membuka pintu tanpa permisi.
Naren yang ada di dalam sedikit terkejut dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba.
"Lo sudah datang. Kenapa bawa dia kesini?" tanya Naren saat melihat keberadaan Leora disini.
"Arah rumah lo berlawanan dari rumah sakit, jadi daripada gue bolak-balik mending dia gue bawa sekalian. Kan kalian bisa pulang bareng nanti," jelas Andy panjang lebar.
Naren mengangguk paham dengan penjelasan Andy.
"Dia tidur atau apa?" tanya Andy.
"Dia tidur," jawab Naren.
"Sejauh ini .... Ini yang paling parah." Andy meringis melihat keadaan Haikal yang hancur babak belur begitu.
"Dia kenapa Naren?" tanya Leora yang menyempil diantara Naren dan Andy.
"Sakit," jawab Naren singkat.
"Sakit apa?"
"Lo nggak bisa lihat apa?" Naren sedikit kesal.
"Dia luka-luka," ucap Leora.
"Tuh tau."
"Maksudnya tuh dia luka-luka karena apa?" sebal Leora.
"Dia berantem sama anjing di rumahnya," timpal Andy.
"Wah.... Sampai segitunya? Apa dia sudah di vaksin? Dia nggak bakal kena rabies, 'kan?" Deretan pertanyaan terlontar dari bibir Leora.
"Kalau lo nggak bisa diam, lama-lama gue bawa juga lo ke rumah Haikal," ujar Naren.
"Buat apa?"
"Buat jadi santapan anjing liarnya Haikal. Mau lo?!" kesal Naren.
"Hahh.... Jangan!" Leora memeluk Naren erat. Takut jika nanti dirinya benar-benar dikirim ke rumah Haikal.
"Makanya diam. Heran jadi orang kok ngga bisa diam. Nyerocos mulu tu mulut," sentak Naren.
Leora hanya diam sambil manyun padahal dalam hati ia sangat kesal pada Naren karena sedikit-sedikit ngancam.
Andy yang melihat itu diam-diam terkekeh pelan. Sudah lama ia tidak melihat Naren bisa sedekat itu dengan perempuan.
"Apa kalian nggak bisa lihat orang tidur sebentar aja?" tanya Haikal tiba-tiba.
"Lo bangun, bang?"
"Gara-gara lo semua berisik gue jadi bangun," kesal Haikal.
"Dan lo! Tumben banget panggil gue bang? Biasanya cuma panggil nama doang," Tunjuk Haikal pada Andy.
"Gue kan emang setiap saat selalu manggil lo begitu," sangkal Andy.
"Cih, lo pikir gue lupa ingatan apa? Sampai nggak bisa inget semua kelakuan lo ke gue."
"Hehehe .... Siapa tau," kekeh Andy.
"Eh ada si cantik," ucap Haikal saat melihat keberadaan Leora.
"Halo kak." Leora melambai pada Haikal. Haikal balas tersenyum.
"Kak .... Kak .... Giliran Haikal aja lo panggil Kak la gue kenapa cuma nama doang?" protes Naren.
"Suka-suka Leora dong! Mulut-mulut siapa?" Nyolot Leora.
Naren hampir mencomot mulut Leora, untung saja Leora refleknya bagus jadi bisa langsung menghindar.
"Lama-lama gue makan juga lo!" sebal Naren.
"Nyenyenye ...." ejek Leora.
Haikal dan Andy tertawa melihat kelakuan mereka berdua yang tidak pernah akur itu.