
Bruk!
Satu tonjokan berhasil menumbangkan keseimbangan Arzeno. Naren segera menduduki perut Arzeno untuk mencegah lawannya bangkit kembali. Di tariknya kerah Arzeno hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja.
"Sudah gue bilang, gue nggak ada sangkut pautnya dengan dia. Itu pilihannya sendiri jadi lo nggak bisa melimpahkan semua kesalahannya ke gue!" bisik Naren pelan.
"Lo memang makhluk paling keji di dunia ini. Kalau bukan karena lo dia-"
Dhuak!
Satu tonjokan kembali mengenai wajah Arzeno. Saat akan kembali melayangkan pukulan tangan Naren di tahan oleh Leora yang tiba-tiba datang.
"Lepas," perintah Naren ddengan suara pelan.
Leora menggeleng, " Aku bakal lepasin kalau Naren berhenti pukulin dia."
"Ini bukan urusan lo. Lepas!" Naren berusaha melepaskan tanganya yang di tahan oleh Leora.
"Aku-"
"Lepasin dia. Aku baik-baik aja," ucap Arzeno.
Leora menoleh ke sumber suara. Masih dengan memegang tangan Naren, Leora terkesima dengan ketampanan pemuda yang ada di depannya ini. Begitu pun dengan Arzeno yang juga menatap Leora. Naren yang melihat itu pun muak dan dengan tidak manusiawi ia mendorong Leora hingga jatuh ke pelukan Arzeno. Setelah tangan Naren bebas, ia meninggalkan tempat itu.
"Naren!" teriak Leora memanggil Naren.
Saat akan bangkit dari atas tubuh Arzeno, pemuda itu menahan pinggang Leora, "Makasih ya."
"O-oh iya," Leora beranjak dari posisinya dan pergi meninggalkan Arzeno yang masih menatapnya. Leora pergi tanpa melihat ke belakang lagi. Takut dirinya akan kembali terpesona.
"Bahkan dengan wajah babak belur aja dia masih kelihatan ganteng apalagi kalau wajahnya mulus," gumam Leora yang kembali membayangkan wajah tampan Arzeno tadi.
Leora berlari kecil mencari Naren. Entah kemana anak itu pergi, kini Leora sudah mulai lelah mencari keberadaannya.
Seseorang tiba-tiba menariknya ke ruang uks yang berada tak jauh dari tempat berdirinya Leora beberapa waktu lalu. Orang itu menghempaskan tubuh Leora dengan kasar ke ranjang.
"Naren?"
"Gue peringatin ke lo untuk jangan ikut campur urusan gue sama Arzeno," desis Naren.
"Jadi namanya Arzeno," ucap Leora menghiraukan peringatan Naren.
"Nama yang bagus untuk orang seganteng dia," lanjutnya sambil terkekeh pelan.
"Jangan pernah suka sama dia," ujar Naren.
"Kenapa?" protes Leora.
"Dia bukan orang baik," jawab Naren.
"Kalau dia bukan orang baik, lalu Naren apa. Bukannya Naren juga mukulin dia bahkan sampai dia babak belur," sanggah Leora. Ia tak percaya dengan apa yang di katakan Naren.
Naren yang mendengar itu sontak terdiam. Apa yang di katakan gadis itu ada benarnya. Akan tetapi dirinya tidak akan memulai pertengkaran jika buka Arzeno yang terlebih dulu memulainya.
"Kalau lo nggak mau nurut sama gue, mulai sekarang jangan pernah ganggu dan ikut kemana pun gue pergi," ancam Naren.
"Yah jangan dong. Nanti Leora nggak bisa pergi kemana-mana," ucap Leora meraih tangan Naren.
"Jadi?"
Leora berpkir sejenak, "Iya. Aku nggak bakal dekat apalagi suka sama Arzeno," putus Leora.
"Bagus," ucap Naren.
"Sekarang obatin luka gue!" perintah Naren.
"Kenapa harus Leora?"
"Kalau ada lo kenapa mesti gue," ujar Naren.
"Itu kan lukanya Naren kenapa-"
"Oh ya sudah, kalau begitu-"
"Leora ambil obatnya dulu," potong Leora. Leora segera meminta obat ke petugas uks.
Leora datang dengan membawa air dingin dan selembar handuk kecil. Di taruhnya baskom itu di nakas samping Naren. Leora mencelupkan sebagian handuk ke air. Kemudian ia mulai mengusap perlahan luka Naren. Saat di rasa lukanya sudah bersih dari darah, Leora mengeringkan luka itu menggunakan sisi handuk yang masih kering. Lalu di oleskannya salep antibiotik di atas luka Naren untuk menjaga permukaannya tetap lembab serta mencegah pembentukan bekas luka.
Naren memperhatikan Leora yang fokus dengan lukanya. Matanya tidak pernah beralih kemana pun selain wajah Leora. Baginya Leora terlihat cantik jika sedang fokus seperti ini.
"Sudah," ucap Leora yang sudah selesai mengobati Naren.
"Jangan berantem lagi. Leora nggak mau obatin Naren lagi," nasihat Leora.
Naren hanya berdehem sebagai jawaban.
Ck, Leora berdecak pelan. Apakah watak Naren memang seperti ini? Harusnya ia berterima kasih padanya yang sudah mengobatinya bukannya malah berdehem seperti itu. Balasan macam apa itu.
***
Jika Naren di obati penuh ke hati-hatian, tidak dengan Arzeno yang di obati oleh Reno. Reno sungguh kebalikan dari Leora. Ia mengobati sahabatnya ini dengan kasar.
"Auw! Pelan-pelan, sat!" maki Arzeno.
"Lo pikir gue dokter pribadi lo, hah?! Yang setiap saat mesti ngobatin lo kalau lagi babak belur begini," kesal Reno.
"Lo nggak bisa lembut sedikit aja apa?" tanya Arzeno yang kesakitan.
"Nggak bisa," tukas Reno.
"Reno kayaknya nggak cocok deh kalau jadi dokter," bisik Juna kepada Marko.
"Gue dengar ya Juna!"
"Dia kayaknya keturunan cenayang deh. Padahal kan gue ngomongnya pelan banget kenapa dia masih bisa dengar," ucap Juna.
"Jangan sampai lo di siram air sama Reno kalau belum berhenti juga ngomongin dia," kekeh Marko.
"Ren, jangan kasar-kasar bisa nggak sih? Yang lembut dong," pinta Arzeno memelas.
"Mending diam deh lu. Jangan samapi gue siram alkohol muka lu," ancam Reno.
Mereka bertiga menatap Reno ngeri. Arzeno pun sudah tidak berani menegur Reno. Bisa-bisa bukannya sembuh tapi wajahnya akan makin hancur di tangan Reno.
***
Brak!
Pintu uks di buka dengan kasar. Haikal datang manghampiri Naren yang sedang terbaring di ranjang uks.
"Naren sahabatku... Apakah kau baik-baik saja? Kau tidak berniat meninggalkan aku sendirian di dunia ini kan?" ucap Haikal penuh drama sembari mengguncang-guncang tubuh Naren.
"Haikal, anak anjing lo ya," pekik Naren.
"Kau tidak jadi meninggoy sahabatku? Syukurlah," Ujar Haikal mencoba memeluk Naren namun di halau oleh Naren.
"Lo benar-benar-"
"Hei... hei... Gue emang anak anjing jadi lo nggak perlu mempertegas lagi," potong Haikal.
Naren berdecih mendengar ucapan Haikal.
"Oh ya ngomong-ngomong cewek yang lu gandeng tadi pagi siapa?" tanya Haikal dengan wajah tengilnya.
"Bukan siapa-siapa," jawab Naren singkat.
"Masa sih bukan siapa-siapa," goda Haikal.
"Di bilangin bukan ya bukan," kesal Naren.
"Kalau bukan siapa-siapa, kenapa tadi dia ngelerai lo sama Arzeno? Gue aja nggak berani jadi wasit kalau lo sama bocah tengik itu gelut," ujar Haikal penasaran.
"Oh! Atau jangan-jangan lo di jodohin sama dia ya," tebak Haikal.
"Lo kayaknya kurang sehat deh, omongan lo ngelantur mulu."
"Ya siapa tau aja kan orang tua lo jodohin lo sama anak temennya," ucap Haikal.
"Lo kan nggak pernah demen ama cewek, itu kenapa mungkin orangtua lo pengen ngejodohin lo sama dia," sambungnya.
"Mending lo diam aja deh. Pening pala gue denger lo ngebacot mulu," kata Naren sambil membalikkan badannya memunggungi Haikal.
"Yeuu.... Gue kan cuma menyalurkan pemikiran gue aja. Kalau emang nggak ya yaudah," tukas Haikal.
"Gue penasaran kenapa lo nggak pernah suka sama cewek?"
"Gue nggak tertarik aja."
"Nggak tertarik? Haaa.... Jangan-jangan lo gay ya," tuduh Haikal.
"Bener-bener lo ya anak anjing!" Naren melempar bantalnya ke Haikal dengan keras. Temannya ini sepertinya minta di mutilasi jadi berkeping-keping.