ATLANTIC - The Last Civilaztion

ATLANTIC - The Last Civilaztion
Bab 35



...13 prajurit suci atlantis...


...prajurit suci penguasa petir...


"Aku mau keluar!"


Dengan raut wajah kesal, Shin pun pergi meninggalkan lab Professor Hardy.


"Kakak ... Maqq ikut."


Maqq yang khwatir dengan kakaknya pun menyusul Shin yang sedang kesal.


Shin keluar lab dengan perasaan marah karena setiap tindakannya selalu saja dinilai salah oleh Ibunya.


Shin berjalan melewati ruang tengah rumahnya yang sangat luas. Tanpa sengaja, ia melihat pintu kamar ibunya yang terbuka.


"Hmm ... kenapa pintu kamar ibu terbuka? Sebaiknya ku tutup saja."


Ketika Shin hendak menutup pintu kamar ibunya, pandangannya teralihkan setelah melihat benda berkilau yang tersimpan di bawah bantal. Benda tersebut merupakan kitab peninggalan Dewa Azzel yang Numala temukan di kuil matahari bersama Arif.


"Benda apa ini. Apa ini kitab yang dimaksud oleh ibu waktu itu?"


Dalam hati Shin bertanya-tanya tentang isi dari kitab tersebut.


Shin membuka halaman demi halaman. Namun, bahasa yang tertulis di dalam kitab tersebut adalah bahasa kuno bangsa Atlas yang tidak Shin mengerti pada saat itu.


"Ini bahasa apa sih?! aneh.


Mungkin sebaiknya aku minta bacakan ibu saja."


Setelah berjalan beberapa langkah, Shin teringat bahwa dirinya sedang kesal dengan sikap ibunya dan mengurungkan niat nya tersebut. Kemudian, Shin mulai berfikir untuk mencoba mencari tahu sendiri tentang apa saja yang tertulis di dalam kitab tersebut.


Shin lalu pergi menuju ruang pribadi milik Professor Hardy, dimana Shin mencari buku ekspedisi milik Professor Hardy selama ia berpetualang mempelajari bahasa-bahasa kuno bangsa Mesir, Romawi kuno, Yunani kuno bahkan bahasa Atlantis yang di deskripsikan dal teori Plato.


Akan tetapi, Shin hanya mendapatkan sedikit kosa kata dari buku ekspedisi milik Professor Hardy, mengingat sedikitnya pula informasi mengenai eksistensi bangsa Atlantis yang di dapatkan Professor Hardy sebelum bertemu dengan Arif dan Numala.


"Sepertinya aku bisa sedikit mengerti yang tertulis disini. Sebaiknya aku cari bagian yang paling menarik dari kitab aneh ini, hehehe."


Shin mulai membuka halaman yang menurutnya paling menarik untuk dibaca.


Shin membuka satu-persatu halaman kitab tersebut yang seolah menceritakan suatu pristiwa di dalamnya.


1. Terra (Bumi) Bintang induk Matahari.


"Terra merupakan evolusi dari Dewa Azzel sebagai salah satu dari ke-13 prajurit suci bangsa Atlas yang telah di ramalkan kedatangannya setelah 7000 tahun. Dewa Azzel sang pemilik petir mengumpulkan ke 12 cahaya Milky way (bima sakti) ke dalam sebuah pedang.  kekuatan terkuat Dewa Azzel adalah ... (Tulisan terputus) dengan cahaya."


Setelah membaca halaman tentang kekuatan Dewa Azzel, Shin pun berinisiatif menyimpan kitab tersebut untuk sementara waktu karena merasa bahwa kekuatab Dewa Azzel sama seperti kekuatan alam yang ia miliki.


"Woaaaaaah ... jadi bakat alam yang ku miliki ini berasal dari kekuaatan Dewa. Hmm, sebaiknya ku baca ini di atas bukit saja dari pada ketahuan ibu."


Shin berinisiatif menguji bakat alamnya di atas bukit batu kapur sekaligus membawa kitab tersebut.


Namun, tanpa sengaja Maqq melihat kakaknya yang sedang membawa sesuatu.


"Kakak ...!"


Teriak Maqq.


"Maqq?! Sssst jangan berisik, kakak punya hal menarik, kamu mau ikut?" Ucap Shin yang berbisik di telinga Maqq.


"Mauu ... tapi apa itu kaaaak?" Maqq pun berbisik di telinga Shin.


"Akan kakak jelaskan nanti, sebaiknya kita ke bukit batu kapur dulu sekarang, ada banyak hal menarik di buku ini."


Ajak Shin lagi.


"Buku nya besar sekali kaaak ... ada hal menarik apa di buku itu?"


Tanya Maqq dengan wajah polosnya.


"Ikuut saja Maqq, tapi jangan sampai kita ketahuan ibu."


"Oke kak, Maqq mau ikuuuut" sambil berbicara berbisik-bisik.


Shin mengajak maqq menuju bukit batu kapur untuk menguji bakat alam terkuat yang di milikinya, serta mencari tahu apa saja yang tertulis di dalam kitab tersebut karena Shin baru membaca sepenggal tentang kisah dari Dewa Azzel.


*******


Next bagian 36