
"Kenapa pihak pemerintahan mewakilkan seseorang untuk mengawasi penelitian anda Professor?! dulu anda pernah bilang bahwa tidak ada yang boleh memasuki kawasan ini selain anda sendiri!"
Arif terlihat sangat marah setelah mendengar kabar yang dibawa oleh Professor Hardy.
"Mohon maaf tuan, hal ini benar-benar di luar dugaan. Tuan Presiden memerintahkan 3 orang untuk mengawasi hasil penelitian saya selama ini, kabar ini benar-benar tidak pernah saya duga sebelumnya."
Ucap Professor Hardy yang mendadak merasa cemas.
"Lalu ... bagaimana dengan nasib kekuargaku?! aku tidak mau pihak pemerintahan sampai tahu siapa Numala!"
Bentak Arif lagi.
"Apa tuan Arif setuju selama satu minggu ke depan kalian mengungsi ke suatu tempat untuk sementara waktu?"
Professor Hardy pun memberikan alternatif.
"Tidak, hal itu justru akan menimbulkan kecurigaan mereka. Bukankah anda pernah membuat laporan dan meminta izin ke pemerintahan untuk membawa kami tinggal di pegunungan ini lewat surat resmi? Jika kami tidak berada di sini, mereka pasti akan curiga."
"Hmm, mungkin anda benar tuan, seperti nya kita harus mencari jalan keluar lain."
"Bagaimana jika Numala kita dandani agar terlihat seperti manusia biasa? Pertama-tama, kita harus membeli cat rambut untuk menutupi rambut Numala yang berwarna putih keemasan, lalu bola matanya kita pakai-kan sebuah kontak lensa."
Dengan perasaan tidak tenang, Arif mencoba memberi Alternatif lain demi keselamatan keluarganya.
"Sepertinya itu ide yang bagus tuan, tapi bagaimana dengan kekuatan mereka? Sepertinya kita harus memperingatkan ini kepada mereka."
Sambung Professor Hardy.
"Sebenarnya yang aku khawatirkan bukanlah Numala, tapi Shin dan Maqq ...."
Dengan perasaan gelisah, Arif duduk di sebuah bangku sambil memegang erat rambutnya dengan kedua tangan.
"Akan saya panggil mereka semua untuk membahas masalah ini tuan."
Prof.hardy pun memanggil Numala dan anak-anaknya untuk membahas masalah tersebut.
"Kenapa kami semua di panggil kemari Professor?"
Tanya Numala kebingungan.
"Sebenarnya ada masalah serius yang ingin saya bahas di sini Nyonya, Dalam waktu 3 hari ke depan, kita akan kedatangan tamu dari pihak pemerintahan. Selama mereka di sini, mereka akan melakukan observasi serta melakukan riset untuk melaporkan semua hasil penelitian saya di lab ini,"
Ujar Professor Hardy
Bentak Numala yang kesal setelah mendengar informasi yang diberikan oleh Professor Hardy.
"Tenang sayang, kami sudah membahas masalah ini sebelumnya, kita akan mendandani kalian seperti manusia biasa."
Tutur Arif, sembari meredakan amarah Numala terhadap Professor Hardy.
"Aku tidak akan bisa terima jika terjadi hal buruk menimpa keluargaku!" Numala benar-benar emosi terhadap Professor Hardy yang menurutnya menipu keluarganya.
"Maafkan saya nyonya, jika pihak pemerintahan mengirimkan beberapa orang kemari, saya harap anda dan anak-anak anda tidak bersikap terlalu mencolok."
Dengan lembut, Professor Hardy meminta maaf kepada Numala.
"Itu benar, kita akan menyembunyikan identitas kalian semua selama mereka melakukan obersvasi di sini. Dan untuk anak-anak, kalian tidak boleh lagi menggunakan kekuatan alam kalian. Ayah harap kalian bisa mengerti dengan keputusan ini." Dengan tegas, Arif memperingatkan anak-anaknya tentang kekuatan alam mereka.
"Apa yang ayah maksud menyembunyikan identitas kami?" tanya Shan penasaran
"Ayah akan mendandani kalian seperti manusia biasa. Tapi sepertinya kamu tidak perlu Shan, hanya ibu, Shin dan Maqq saja. Itu Karena, fisik mereka jelas terlihat berbeda."
Ujar Arif kepada Shan.
Numala merasa takut tentang apa yang pernah ia lihat akan menjadi sebuah kenyataan saat setelah ia membaca mantra kitab peninggalan dewa Azzel beberapa waktu yang lalu. Dalam mantra itu, hanya keturunan ratu Evenor lah yang bisa melihat masa depan sebuah pristiwa. Namun, Numala tidak bisa menceritakannya karena mantra tersebut telah mengikat lisannya.
"Kamu mau mendandani ku seperti apa sayang?" tanya Numala dengan ekspresi lesu menatap Arif.
"Pertama-tama, aku akan mengecat rambut mu. Kemudian kamu harus memakai sebuah kontak lensa, dan sebaiknya kamu menutupi telinga yang runcing itu di selah-selah rambut mu itu Numala."
"Apa ini akan berhasil, aku ... benar-benar takut."
Numala hanya menangis di pelukan Arif.
"Kamu ingat janjiku? aku akan menjagamu seumur hidup ku Numala, Aku pasti akan selalu menjaga keluarga kita."
Arif pun mencoba menenagkan Numala yang tengah bersedih dipelukannya
Selama hidup bersama selama bertahun-tahun lamamya, Arif benar-benar memahami sifat istrinya yang memiliki sifat melankolis dan selalu berfikir paranoid. itu sebabnya Arif selalu meluangkan waktu jika suasana hati Numala terkadang berubah menjadi cengeng, dan selalu memeluk hangat istrinya tersebut dikala perasaannya sedang rapuh.
********
Next bagian 30