
Karena ke-ingintahuannya yang amat sangat besar terhadap kehidupan di dunia luar, Shin pun mencoba kabur dari rumah dan memanjat pagar pembatas rumahnya yang sangat teramat tinggi.
Saat mencoba menuruni pegunungan, Shin tidak melewati jalan utama karena di pertengahan dan di bawah gunung di jaga oleh para penjaga di sebuah pos jaga dan harus melewati sebuah portal.
Shin mampu melompati pepohonan, dari pohon satu ke pohon yang lain tanpa diketahui oleh para penjaga.
Shin lalu pergi menuju timur untuk melihat seperti apa kehidupan di luar sana sekaligus mencari seorang teman.
Saat berhasil melewati para penjaga di tengah dan di bawah kaki gunung, Shin melihat sebuah perkampungan kecil yang berada tepat di bawah kaki gunung tersebut.
Perkampungan tersebut terlihat gersang karena sedikitnya pepohonan rindang yang berada di sana. Namun dari kejauhan, Shin melihat beberapa rumah kayu dan beberapa kandang hewan ternak bersama orang-orang yang sedang melakukan berbagai macam aktifitas sehari-hari.
Saat Shin mencoba memasuki area perkampungan kecil tersebut, ia melihat seorang anak perempuan yang susia dengannya sedang bercocok tanam. Perkampungan tersebut dihuni oleh orang-orang datangan yang tidak mendapat tempat di perkotaan. Dengan percaya dirinya, Shin pun berjalan dengan santai mendekati anak perempuan tersebut untuk sekedar menyapanya.
"Haii kau sedang melakukan apa?"
Tanya Shin, sambil melambaikan tangannya pada anak perempuan tersebut.
Anak perempuan itu bernama Friska.
"Haaaaah ..! Ka-kaauu ssi-siapaa?
Friska tampak ketakutan saat bertemu dengan Shin untuk pertama kalinya.
Shin memilliki rambut panjang berwarna putih bercahaya, bola mata berwarna hijau, kulit putih yang kencang, serta telinganya yang terlihat sedikit runcing. Sontak, hal itu membuat Friska berteriak setelahnya dan memanggil-manggil ayahnya.
"Ayaaaaah ...!"
Matsu adalah nama ayah Friska.
"Ada apaa?! Apa ada hewan buas lagi yang mau memakan ternak kita?"
Tanya Matsu yang mendengar teriakan anaknya.
"Tidak ayah ... tadi ada orang yang sangat aneh menyapaku, dia terlihat seperti hantuu."
Friska mengira bahwa Shin adalah sosok hantu.
"Dimana kau melihatnya?"
Tanya Matsu lagi.
"Tadi dia berada tepat di sini, tapi ... tiba-tiba dia menghilang."
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja anaku. Sebaiknya istirahatlah dulu, pasti kau lelah karena seharian berkebun membantu ayah,"
Ucap Matsu sembari memegang pundak anaknya dan mengajaknya untuk ber-istirahat di rumah.
"Iyaa ayah."
Terdengar suara dari dalam semak-semak, suara itu berasal dari Shin yang kesakitan karena digigit oleh kawanan semut saat ia bersembunyi.
Matsu yang kaget mendengar teriakan di dalam semak-semak pun seketika langsung menodongkan pisau untuk melindungi anaknya.
"Heii ..! Siapa di sana, keluar ...!"
Dengan mengeluarkan pisau, Matsu mencoba melindungi Friska anak nya.
Shin pun keluar dari semak-semak dan terjatuh menahan rasa sakit akibat terkena gigitan kawanan semut.
"ADUUUUH ... HADDUHH ... SAKIIIT ... KENAPA KALIAN MENGIGIT KU SIIIH ...!"
Teriak Shin kesakitan.
"Astaga ... Siaapa kau!"
Matsu terlihat kaget saat melihat fisik Shin yang sangat aneh sembari menodongkan senjata nya kepada Shin.
"Namaku Shin paman."
"Makhluk apa kau ini?! Dan mau apa kau kesini?!"
"Akuuu ..?" sambil menunjuk dirinya sendiri. "Aku manusia, bukan makhluk jadi-jadian seperti yang anak paman katakan! aku kemari hanya mau mencari seorang teman,"
Balas Shin dengan nada membentak.
"Mencari seorang teman?"
Matsu hanya kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh Shin, lalu menatap Friska. "Apa maksudmu?!"
"Aku hanya ingin tahu seperti apa kehidupan di dunia luar karena aku selalu di tentang oleh kedua orang tuaku agar tidak keluar menuruni gunung. Hmm ... rumahku berada di atas gunung itu,"
Ucap Shin sambil menunjuk gunung, tempat dimana ia berasal.
"Aku tidak mengerti apa maksud dari perkataanmu nak, tapi setahuku ... disana merupakan tempat rahasia sebuah objek penelitian. Namun, tidak tidak seorang pun tahu apa yang mereka teliti di atas sana karena penjagaan di gunung tersebut sangatlah ketat."
"Aku bahkan tidak tahu kenapa orang tuaku selalu melarangku untuk menuruni gunung, mereka tidak pernah menjelaskan apapun tentang hal itu. Tapi yang pasti ... aku benar-benar merasa bosan dan memilih kabur kemari untuk mencari seorang teman."
Shin hanya memalingkan wajahnya ke bawah dengan ekspresi murung.
Matsu mencoba bersikap ramah terhadap Shin karena Shin hanya lah anak remaja biasa sama seperti putrinya, walaupun Matsu berfikir bahwa penampilan fisik Shin terlihat sangat tidak biasa.
******
Next bagian 17