Angel

Angel
Episode 5



Bang bang bang !!


Pangya pangya pangya !!


Bang bang bang !!


Pangya pangya pangya !!


Nada dering bertemakan single Bang Bang Bang by Big Bang, sukses membangunkan Acha dari tidur lelap nya. Bahkan juga berhasil memutus mimpi indah gadis cantik bersurai coklat itu.


Dengan mata menyipit dan belum sepenuhnya terbuka, gadis itu meraih ponsel nya lalu menjawab panggilannya cepat, tanpa membaca siapa yang telah menghubungi nya dini hari seperti ini.


" Halo " Sapa Acha seraya menggosok kedua matanya.


" Hei, bangun gadis judes !! Kau itu tidur atau mati ?!! Dari tadi aku mengetuk pintu kamarmu tapi tidak ada jawaban !!" Omel seseorang dari ujung sana, membuat Acha mengeryitkan dahinya.


" Hoammmsssss ------- ada apa sih ?? Aku ngantuk, jangan ganggu aku!! " Jawab Acha malas.


" Aissshhhh ----- cepat kemari ! Keluarlah ! Aku menunggumu di balkon, aku mau bicara. Ini perintah bos loh "


Acha bangkit, mendudukkan dirinya yang masih amat sangat mengantuk.


" Dasar kau tidak berperikemanusiaan !! Bos gila !! Jika tidak ada hukum pasti aku akan membunuhmu, Bin !! " Omel Acha.


" Hahahahahahaha ------ I don't care, baby "


Acha melotot, dia tidak salah dengar kan?? Tidak! Telinganya masih berfungsi dengan baik kok.


" Aissshhhh---- " Acha berdesis seraya bergerak dari ranjangnya dan berjalan keluar dari kamarnya.


Dia bahkan langsung memutuskan sambungan telepon nya dengan Bintang secara sepihak.


Acha menutup pintu kamarnya dengan gerakan super malas. Tubuhnya terlalu lelah, bahkan hanya untuk dibuatnya berjalan.


Belum lagi dia harus sedikit di buat terkejut dengan kehadiran dua sosok makhluk tak kasat mata yang kini sedang bermesraan di sofa ruang tengah.


' Cepat sekali akrabnya ?? Bahkan sudah bermesraan seperti itu. Ck ck ck !! " - Acha


" Ehem !! " Acha berdehem, sebenarnya dia ingin mengejutkan dua makhluk itu dan benar saja, keduanya menoleh bersamaan seraya tersenyum salah tingkah.


" Haiiii, Kak------" Sapa Anna canggung, sedangkan Acha hanya melambai pada hantu itu seraya tersenyum manis dan setelah itu dia pergi ke arah balkon.


" Ada apa ?? " Tanya Acha kepada pemuda yang kini sedang berdiri di dekat pagar pembatas sembari meneguk Wine kesukaannya.


Pemuda ini pun menoleh seraya tersenyum manis lalu menaruh gelas Wine nya ke atas meja.


" Kemarilah! Mendekatlah! " Pinta pemuda ini seraya melambai. Membuat Acha mau tidak mau akhirnya menghampiri pemuda ini.


" Ada apa sih ?? Kenapa musti mendekat segala?? Mau modus ya?? " omel Acha penuh curiga.


Pemuda ini, Bintang. Hanya tersenyum manis menanggapi omelan Acha.


" Tumben kau terlihat cantik " Ujar Bintang seraya memberikan wink nya pada gadis ini.


Acha mendengus seraya mendelik.


" Sial !! Untuk apa kau menggembel seperti itu padaku?!! Kau mabuk ya ?? " Teriak Acha.


Bintang mendekatkan wajahnya pada wajah Acha.


" Aku tidak mabuk. Aku tidak sedang menggombal. Kau memang terlihat berbeda malam ini, Cha. Apa jika kau tidur selalu mengenakan baju seperti ini? Heum?"


Acha mendengus sekali lagi seraya mendorong kening Bintang agar menjauh.


" Jika kau menyuruhku kemari hanya untuk menanggapi kegilaanmu, maaf ya! Aku tidur lagi saja kalau begitu !! " Pekik Acha seraya memutar tubuhnya dan bersiap akan meninggalkan tempat ini.


Namun dengan gerakan cepat Bintang berhasil mencegah pergerakan Acha, mencekal tangan Acha hingga gadis itu berputar dan langsung menubruk dada bidang Bintang. Kali ini cukup dekat, bahkan sangat dekat. Sehingga membuat keduanya sama-sama membeku.


Untuk sepersekian menit mereka saling menatap ke dalam manik mata masing-masing. Bahkan entah bagaimana ceritanya tangan Acha telah berada di atas dada bidang Bintang, sedangkan tangan Bintang berada di pinggang Acha.


Sedetik kemudian keduanya tersadar, bahkan saling mendorong untuk menjauh.


" Apa yang kau lakukan?! " teriak Acha untuk menutupi rasa gugupnya.


" Kau itu !! Apa yang sudah kau lakukan?! Kau mau mengambil kesempatan yah?! " Pekik Bintang.


Sama. Pemuda ini juga berusaha menutupi rasa gugupnya.


" Sialan kau, Bin !! " Umpat Acha lalu berjalan maju dan meraih leher Bintang. Dia langsung mencekik Bintang hingga pemuda itu berteriak-teriak.


" Awwww----- hoek !! Uhuk !! Lepaskan aku, Cha! Baik lah, aku salaaaahhh !! Hoek !! Hoek !! Uhuk !! Uhuk !! " Teriak Bintang seraya meronta-ronta.


Dan akhirnya Acha melepaskan cekikannya lalu menatap Bintang dengan tajam.


" Aiisshhhhh ------ ini penyiksaan namanya, Cha!! Uhuk !! Kau sadis!! " teriak Bintang seraya mengusap-usap lehernya.


" Aku tidak peduli!! Salah sendiri kau membuatku jengkel setengah mati "


" Aissshhhhh ----- " Desis Bintang seraya merogoh sakunya.


" ------ ini, untukmu !! " Sambung Bintang seraya menyodorkan tiga buah coklat toblerone kepada Acha.


Acha mengeryitkan dahinya.


" Apa ini?! Untuk apa kau memberi aku ini? Kau mau menyogokku?? Aku bukan lagi gadis ABG lagi, Bin!"


" Issshhhh---- siapa yang mau menyogokmu ?? Ini hanya untuk-------- untuk-------- akh, aku tadi melihat nya waktu mampir ke supermarket dan aku ingat padamu. Kau kan suka coklat, makanya aku membelikannya untukkmu. Sudahlah, ambil ini !! "


Acha menatap coklat dan wajah Bintang secara bergantian, dia ragu.


" Kau ikhlas kan memberikan ini untukku?? Tidak ada bayaran apapun kan?? " tanya Acha sambil melirik Bintang penuh curiga.


" Issshhh---- kenapa kau menuduhku seperti itu?! "


" Habisnya waktu masih sekolah, kau akan memberi ku coklat, es krim dan semua yang kusuka hanya agar aku bisa mengenalkanmu pada gadis yang kau incar di sekolah kan? "


Bintang tergelak.


" Hahahahahaha------ itu kan dulu, Chaaa. Sekarang aku tidak perlu begitu, aku bisa mendapatkan gadis yang ku inginkan dengan mudah. Siapa sih yang bisa menolak pemuda tampan, terkenal, kaya dan baik seperti ku ?? Hm ??! " Ucap Bintang seraya tersenyum dan menaik turunkan alisnya.


Acha melirik Bintang tajam seraya mencebikkan bibirnya.


" Haissshhhh-----" Desis Acha seraya mengambil coklat toblerone dari tangan Bintang lalu pergi dari hadapan Bintang.


"--------- thanks " Sambung Acha, ketika gadis itu sampai di ambang pintu sambil menggoyangkan coklat ke arah Bintang.


Tanpa memperdulikan jawaban Bintang gadis itu segera melesak ke dalam kamarnya.


Dan tanpa sepengetahuan Acha dan Bintang, ternyata dua makhluk ini baru saja menyaksikan adegan yang sudah terjadi antara Acha dan Bintang barusan. Membuat keduanya saling melirik dan tersenyum.


" Mereka sangat cocok kan, Sayang? Awwwwwww--- mereka berdua seperti pemeran utama di dalam drama yang biasa ku tonton " Pekik Anna, si hantu cantik. Yang kini nampak menepuk-nepuk kedua pipinya imut.


" Iya, Yank. Aku rasa mereka berdua sama-sama menyimpan ketertarikan satu sama lain. Namun, ya begitu. Gengsi " Ujar hantu tampan yang kini berdiri di samping Anna seraya memeluk hantu cantik itu, Juna.


" Haaaa--- dasar manusia. Mengapa selalu menyia-nyiakan hal begini sih? Padahal jika mereka sudah seperti kita akan susah ya? "


" Susah ?? Apa kita juga susah?? Nyatanya kita sekarang sedang pacaran kan, Sayang?" Ujar Juna seraya tersenyum genit.


" Aisshhhh---- meski ku akui aku tak bisa menolak pesona mu. Tapi sejujurnya aku sendiri masih sedikit bingung. Kenapa dengan cepat, bahkan baru sehari kita bertemu. Mengapa kau langsung menyatakan cinta padaku? " Tanya Anna seraya menatap Juna.


Juna hanya tersenyum lalu menempelkan keningnya ke kening Anna.


" I love you, I love you, I------- love you "  Jawab Juna seraya tersenyum tampan.


Dan kali ini Anna tak mampu lagi berkata-kata. Pesona Juma sungguh sangat membuatnya melayang dan terbang.


Hantu bisa ya jatuh cinta ?? Kenyataannya ?? Bisa kan. Hahahaha---- lucu, tapi romantis kan??


*****


Delapan bulan berlalu, kali ini Acha menjalani pekerjaannya dengan semangat.


Bahkan kini ia mulai tidak lagi memperdulikan kelakuan Bintang yang suka membuatnya jengkel. Jika Bintang mulai kambuh, maka Acha akan pergi meninggalkan pria itu ke dalam kamar atau pergi begitu saja kemanapun untuk menghindari kelakuan aneh Bintang.


Apalagi sekarang Acha mulai dekat dengan seseorang, yang baru saja di ketahui jati dirinya sebulan lalu oleh Acha.


Pemuda itu adalah artis yang bernaung di agency yang sama dengan Bintang. Jadi terkadang Acha selalu bertemu dengan pemuda itu ketika keduanya di pertemukan di lokasi pekerjaan yang sama.


Mereka sering pergi bersama saat Acha mendapatkan hari libur dari Bintang.


Seperti sekarang ini saat keduanya sedang makan di sebuah restaurant Italia dengan suasana yang cukup romantis.


" Jadi pada akhirnya Bintang mengijinkanmu pergi, Cha? " Tanya pemuda ini buka suara.


" Iya, Don. Dia itu benar-benar orang yang sangat menyebalkan. Ini kan hari liburku, kenapa dia selalu menghalangiku? " Jawab Acha sambil mengomel dan mengiris daging di depannya dengan bernafsu, mirip orang yang sedang mencincang daging musuhnya.


" Hahahahahahaha----- dia tahu kau sering pergi denganku ?? " Tanya pemuda ini, Doni. Lalu meraih gelas bertungkai tinggi dan menyesap isinya sedikit.


" Entahlah. Aku tidak pernah bilang jika aku sering pergi denganmu. Lagipula untuk apa? Ini kan kehidupan pribadiku "


Doni tersenyum, lalu meletakkan garpu dan pisau yang sedari tadi di genggamnya, menautkan kedua jemarinya di atas meja dan menatap Acha kemudian.


Acha yang ditatap seperti itu jelas saja merasa sangat malu, dia bersemu.


" A, a, ada apa, Don? Ada yang aneh dengan wajahku? "


Doni tersenyum.


" Iya, ada yang aneh dengan wajahmu. Wajah mu terlihat makin berseri dan sangat cantik, selalu bertambah tiap hari "


Acha kembali tersenyum malu, lalu memukul lengan Doni manja.


" Dasar perayu !! Sudahlah, jangan menggodaku terus "


" Hahahahahaha----- kau sungguh menggemaskan. Oh ya, aku boleh tanya sesuatu ?? " Tanya Doni tiba-tiba.


" Boleh, tanya saja " Jawab Acha.


"  Bukankah kau dan Bintang adalah sahabat ? " tanya Doni.


Acha mengangguk.


"---- lalu kenapa kalian sering bertengkar seperti itu?? Harusnya kalian akur kan??"


" Dari dulu gaya persahabatan kami memang seperti ini sih, Don. Kami berdua tahu, kapan kami akan serius. Kapan kami bercanda. Kapan kami akur dan kapan kami bertengkar. Ya---- begitulah " Ujar Acha seraya menaikkan bahunya.


" Apa kalian berdua tidak pernah saling tertarik? "


Acha tergelak.


" Hahahahhaa--- Di kamus kami berdua tidak ada yang namanya cinta. Itu tidak akan terjadi. Aku tidak pernah tertarik dengannya. Apalagi mencintainya. Hahahahahahaha----- ya ampun, membayangkan saja aku geli "


" Oh, begitukah? Jika Bintang tertarik dan menyimpan sesuatu untukmu di dalam hatinya, bagaimana?? Apa yang akan kau lakukan?? Yah----- itu sih hasil pengamatanku saja " Kali ini Doni bergerak, menyandarkan punggungnya ke bantalan empuk kursi restaurant.


Acha terpaku beberapa detik.


" Ahahahahahaha----- itu tidak mungkin. Dia kan artis, tampan dan kaya. Pasti dia punya kekasih di luar sana. Untuk apa mencintaiku yang jelek ini--hahahahahahaha!! Kami sudah berjanji satu sama lain " ucap Acha lagi-lagi seraya tertawa geli.


" Hmmmmmmm---- baguslah kalau begitu. Aku hanya tak ingin milikku nanti meninggalkan ku hanya karena dia tak menyadari perasaannya sendiri dari awal  "


Acha autis seketika.


" Hm? Milikmu? "


Doni tak menjawab, ia hanya tersenyum.


" Setelah ini kita kemana? Ke taman bermain yuk. Ke rumah hantu, naik roller coaster dan makan cotton candy. Bagaimana? "


" Oke, deal " Ujar Acha antusias.


********


Acha kini sedang menatap keluar kaca jendela taksi yang ia tumpangi. Gadis ini tersenyum sambil sesekali memejamkan matanya. Dari sorot matanya, dia terlihat sangat gembira hari ini.


Acha menolak tawaran Doni untuk mengantarkannya pulang.


Mereka berdua memang merahasiakan kedekatan mereka dari Bintang, atas permintaan Acha.


Entahlah, meskipun belum ada kejelasan status antara dia dan Doni. Namun gadis ini merasa tak enak hati jika Bintang tahu.


Apa dia sedang menjaga perasaan Bintang sekarang ?? Ouhhh---- ayolah untuk apa?? Apa mereka berdua sedang menjalin suatu ikatan? Sedang dalam hubungan?? Tidak kan?? Mereka hanya sahabat.


Perasaan gembira dan senang yang baru saja di rasakan Acha saat ia mengingat kebersamaan nya bersama Doni tadi, kini berubah menjadi perasaan sedih. Entah mengapa seperti ada yang mencubit hati Acha?


Acha meraba dadanya, meremas kaos tak berlengannya tepat di dada. Saat bayangan nya melayang, mengingat kebersamaannya dengan pemuda itu. Ya, pemuda itu.


.


.


.


~~ TBC