
Acha berjalan mengekor tanpa ekspresi di belakang Bintang yang kini nampak mendorong trolly belanja n. Mata tajam nya sibuk mengamati rak-rak berisi bermacam keperluan sehari-hari.
Dan saat mereka berhenti pada rak berisi garam, dengan cepat Bintang meraihnya, mengambil hampir seluruh stok yang ada di rak itu.
" Hei, kau gila ya?? Untuk apa kau berbelanja garam sebanyak itu?? Apa kau selalu memasak dengan satu bungkus garam?? Darah tinggi baru tahu rasa kau nanti !! " pekik Acha sambil melotot setelah sedari tadi dia diam dan terlihat tak acuh.
" Hanya untuk cadangan kok " Jawab Bintang tanpa menoleh pada Acha.
" Satu bungkus saja hampir satu bulan tidak habis. Lalu untuk apa cadangan sebanyak itu?? " Omel Acha.
Kali ini Bintang melirik tajam ke arah Acha, dia sedikit kesal karna Acha begitu cerewet.
" Hmmmmmm----- sudah diam saja. Cerewet sekali kau itu, cukup diam dan temani aku belanja " Ujar Bintang seraya mengusap seluruh wajah Acha dan sedikit mendorong nya sehingga gadis itu mundur beberapa langkah.
" Issshhhhh ------- " Desis Acha seraya menatap dan mem - pout kan bibirnya kepada Bintang yang sudah berjalan meninggalkan nya.
Meskipun agak kesal tapi nyatanya Acha malah menghampiri Bintang yang tak peduli dengan rasa jengkel nya. Bahkan dalam hati Acha bolak-balik mengumpati makhluk tampan yang ada di depannya ini.
" Cha, bantu aku mengambil bawang putihnya, kita perlu banyak ! " pinta Bintang sok seperti bos, eh, memang bosnya kan dia.
" Iya " Dan Acha pun membantu Bintang mengambil seluruh stok bawang putih yang ada di rak minimarket.
Sebenarnya Acha ingin sekali lagi menanyakan untuk apa bawang putih ini karna Bintang membelinya secara urakan, tapi percuma saja. Pikir nya, toh nanti Bintang akan melakukan hal yang sama. So, diam dan ikut saja kemanapun bos muda ini melangkah serta melakukan apapun yang dia pinta.
Meski sudah sampai di kasir pun Acha masih diam, dia tak banyak bicara. Entahlah saat dekat dengan Bintang, dia selalu saja ingin marah-marah.
Kelakukan absurd pemuda ini terkadang membuat Acha naik darah.
" Nih bawa semuanya ke mobil !! " Perintah Bintang seraya menyodorkan dua kantong plastik besar di depan wajah Acha yang sedari tadi sedang asyik menikmati keadaan sekitar.
Acha menoleh dan sedikit melotot. Inilah yang sangat di benci olehnya, saat Bintang dengan seenak jidatnya berbuat sesuatu sesuai kehendak hatinya pada Acha. Apalagi saat ini Acha tak bisa banyak berkutik karna dia adalah asistent Bintang, yang di gaji besar hanya untuk melayani dirinya, sang bintang muda dan terkenal ini.
' Awas kau ya, Bin! Jika kau menggunakan wewenangmu sebagai bosku dengan seenaknya, aku pasti akan mencekikmu!!' - Acha.
Setelah menghela nafas, Acha menerima dengan kasar kantong plastik yang di sodorkan Bintang padanya lalu membawanya ke dalam mobil.
Masih hening, di antara keduanya tidak ada sekalipun yang buka suara. Ya, beginilah mereka kalau sedang berada pada badmood mode on.
Rasanya mereka berdua kini benar-benar seperti seorang bos dan asistent nya. Mulai ada batas di antara mereka, sebenarnya batas itu yang membuat adalah Acha. Dia ingin bekerja secara profesional.
" Kau tak makan dulu, Cha ?? " tanya Bintang saat mereka sudah memasuki apartemen .
Acha menggeleng tanpa menoleh kepada Bintang. Gadis itu membawa barang belanjaan Bintang ke dapur dan mulai menatanya ke tempat yang sebagaimana semestinya.
" Hmmmmmmm----- terserah kau saja lah " Gumam Bintang seraya berjalan ke dalam kamarnya dan dia tak pernah keluar lagi.
Acha pun juga begitu, setelah melakukan tugasnya, iapun berjalan ke kamar tamu yang letaknya dekat dengan kamar Bintang. Matanya mulai menyipit, kantuk sudah mulai menyerang sepertinya.
.
.
.
.
" Aaarrrghhhhhhhh !!!! Chaaaaa--- toloooongggg akuuuuuu " Suara teriakan Bintang yang sayup-sayup terdengar, membuat Acha terjaga.
Dia membuka matanya yang masih terasa lengket sembari mengeryitkan dahi.
" Isshhhhhh ------ ada apa sih?? Kenapa dia histeris begitu di tengah malam seperti ini ?? Dia menggigau ??" Gumam Acha yang kini nampak mendudukkan dirinya seraya mengusap kedua matanya.
" Chaaaaaaaa-- Achaaaaaa!!! " teriakan Bintang terdengar kembali.
Kali ini Acha melotot dan langsung melompat dari atas ranjangnya, membuka pintu dan berlari menuju pintu kamar Bintang.
" Bin, ada apa?? Apa yang terjadi ?!! " teriak Acha seraya memutar knop pintu kamar , namun berulang kali memutarnya, pintu itu tak mau terbuka, Bintang menguncinya dari dalam.
" Bintang, buka pintunya !!! "
Bintang tak bersuara kali ini dan ini semakin membuat Acha khawatir.
" Sial !! Bagaimana ini ?? Apa yang harus aku lakukan?? Mendobraknya? Akhhhh iya, ini jalan satu-satunya. Mencari kunci duplikat pun percuma, aku tak tahu dimana letaknya " omel Acha, seraya mendorong pintu kamar Bintang dengan lengannya.
" Tuhaannnn, beri aku kekuatan malam ini saja, ubah aku menjadi wonder women, amin " Sambung Acha masih berusaha membuka paksa pintu kamar Bintang.
Dan ajaibnya kekuatan Acha yang notabene adalah seorang perempuan, setelah berulang kali mencoba kali ini ia dapat membuka pintu kamar Bintang.
Sedikit terhuyung dan bahkan hampir terjerembab, jika saja Acha tidak sigap menahan dirinya yang telah berhasil membuat pintu ini terbuka.
" Bintang !!! " pekik Acha saat ia mendapati Bintang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya.
Acha berlari dan membuka selimut tebal yang menutupi tubuh Bintang. Tubuh pemuda itu bergetar hebat.
" Biinnnn---" Acha mengusap punggung Bintang yang bergetar, pemuda itu sedang telungkup dengan kedua lutut yang ia lipat di dekat dada.
Perlahan pemuda itu bergerak dan memandang Acha yang duduk di sebelahnya dengan tampang cemas.
Dan dengan gerakan spontan, Bintang berhambur memeluk tubuh Acha.
" Hei, ada apa sih?? Kau mau modus ya ?!! " pekik Acha seraya memukul punggung Bintang yang masih bergetar.
Tubuh Bintang juga nampak berkeringat.
" A, a, ada hantu, Chaaa. Disini. Di kamar ini "
Acha mengkerutkan dahi nya, dia masih tak percaya, tapi saat mata beningnya bertemu dengan mata bening lain namun terkesan dingin, yang kini nampak melayang dekat jendela kamar Bintang, ia baru percaya.
Acha cukup lama memandang sosok itu seraya mengusap punggung Bintang yang kini mulai tenang.
" Temani aku tidur " Ucap Bintang yang kini menaruh dagunya di dekat ceruk leher Acha.
" Apa maksudmu ?!! " pekik Acha.
" Aku takut tidur sendiri, Cha. Temani aku tidur disini, malam ini. Kau tega membiarkanku tidak tidur malam ini?? Besok jadwalku pasti padat setelah dua hari libur "
" Baiklah, tapi tidak disini. Kita pindah di ruang tengah, tidurlah disana. Aku akan menjagamu "
" Baiklah. Ayo! " ajak Bintang yang mulai melepaskan pelukannya, meraih bantal dan menarik jemari Acha untuk keluar dari kamarnya.
" Hmmmmmm ?? Ada apa lagi sih? " gadis yang kini bersidekap di depan Bintang itu, nampak menatap tajam ke arah Bintang yang kini sedang merengek, sepertinya.
" Jangan jauh-jauh dariku " rengek Bintang, lagi.
" Astagaahhh---aku disini, Bin. Aku tidak akan kemana-mana, jangan seperti bayi begitu lah! Cepat tidurlah ! " ujar Acha seraya menghela nafas dan menggeleng- geleng kan kepalanya.
Sahabat sekaligus bos nya ini memang menyebalkan, dari dulu tidak pernah berubah sepertinya, penakut.
" Ahhhhhh---- tidak mau ------" Bintang merengek kali ini, seraya menghentak- hentakkan kakinya dan seluruh tubuh yang ia goyang-goyangkan, benar-benar mirip seperti bayi yang meronta meminta susunya.
Acha memejamkan matanya seraya menghembuskan nafas, mencoba menetralisir sedikit rasa kesalnya pada makhluk tampan namun super menyebalkan yang ada di depannya ini.
" ------ Chaaa, kemarilah. Duduk disini, aku ingin menggunakan pahamu untuk bantal------" Kembali merajuk dan merengek, akh, benarkah dia pria macho yang biasa membintangi film action???
" Ha?! Apa maksudmu?!! Aku tidak mau, pakai saja bantalmu itu!! " pekik Acha.
" Haissshhh ---------" Bintang mendesis kesal, lalu ia beranjak dan berpindah ke sofa dimana Acha duduk lalu dengan sedikit pemaksaan, ia tidur dengan berbantalkan paha Acha.
" ----- haaaaaaa, kalau begini aku baru bisa tidur tenang. Karena kau tak akan bisa kemana-mana, tak akan bisa meninggalkan ku" gumam Bintang sembari menyamankan posisi dan terpejam.
Acha memutar bola matanya jengah, mau tak mau iapun harus menuruti kemauan bos gendeng nya ini.
" Dasar gila! " gumam Acha, lirih.
Sayangnya meskipun Acha baru saja mengatainya, pemuda ini tak akan bergeming karena ia telah benar-benar tertidur. Acha bahkan bisa membayangkan bagaimana jadinya jika pemuda ini mendengar kata-katanya barusan. Bisa amat di pastikan, pemuda ini akan mengomel dan balik mengolok Acha.
Setengah jam berlalu, dengkuran halus Bintang terdengar cukup kentara dan itu tandanya pemuda ini telah benar-benar terlelap.
Acha yang masih terjaga sejujurnya masih penasaran dengan sosok yang baru saja di lihatnya di kamar Bintang itu.
Acha lantas bergerak, mengangkat kepala Bintang perlahan, memindahkan nya pada bantal. Lagipula kakinya juga sedikit kebas, sehingga ia harus memijitnya singkat untuk mengurangi sedikit rasa kebas nya, sebelum ia beranjak ke kamar Bintang.
**********
Di dalam kamar Bintang, Acha kembali menatap sosok cantik nan anggun namun nampak dingin dan beraura cukup menakutkan yang kini nampak masih melayang, menatap keluar kaca jendela kamar Bintang dengan tatapan dingin tak terbacanya.
" Bisakah kau jelaskan apa tujuanmu berbuat demikian pada Bintang ?? " tanya Acha seraya melipat tangannya di dada.
Sosok melayang itu kini menoleh ke arah Acha, lalu melayang ke langi-langit kamar Bintang dan berakhir terduduk di pinggiran ranjang Bintang.
" Tidak ada, aku hanya suka saja menggodanya " jawab mahkluk ini santai.
" Oh, begitu kah? Bagaimana jika aku mengusirmu dari sini ??" Acha kembali mengintimidasi.
" Coba saja jika kau bisa ! " Dan sedetik kemudian sosok itu berubah wujud menjadi sosok yang menakutkan, dimana wajahnya penuh darah dan sebagian kulit wajahnya terkelupas.
Acha yang di takuti seperti itu hanya menatap santai ke arah makhluk tak kasat mata itu.
" Sudah selesai bermain-main nya ?? "
Mimik wajah makhluk itu berubah, lalu dia kembali kepada wujud aslinya, wujud yang hampir menyamai wujud manusia pada umumnya. Kali ini makhluk itu sedikit mencebikkan bibirnya kesal.
" Issshhhhhh ----- kenapa kau tak takut padaku?! " protes makhluk ini tak terima.
" Untuk apa aku takut pada makhluk menyedihkan seperti dirimu?? Dimana kau tak diterima di dunia manapun sehingga kau mirip orang yang sedang tersesat, kehilangan arah " Kali ini Acha menyandarkan dirinya ke lemari besar milik Bintang.
Sejujurnya kini bulu kuduknya sedikit meremang, aura mahkluk semacam ini memang amat kuat karena ia memiliki magnet dimana dia selalu menyerap energi positif di dalam diri manusia. Jika si manusia tidak pandai menjaga imannya, maka bisa di pastikan seluruh pikiran, tubuh dan energi positif akan di kuasai dengan mudah oleh mahkluk semacam ini.
Makhluk ini mendelik lalu sedetik kemudian ia nampak sedih.
" Iya, aku memang menyedihkan. Aku tidak bisa naik krena sepertinya ada yang harus aku selesaikan dulu di dunia "
" Jangan bilang kau hantu perawan yang ingin merasakan bercinta dengan pria perkasa, makanya kau menggoda Bintang yang memiliki aura macho itu?! "
" Haaa------ tidak ! Tidak ! Tidak ! Aku hanya suka mengikutinya. Aku suka dengan aura tubuh dan aroma nya, dia seperti mirip dengan seseorang. Tapi-------- akh, aku lupa "
" Apapun alasan mu, cukup tinggalkan dia. Tinggalkan Bintang, jangan mengganggunya " Acha kali ini menatap mata makhluk itu tajam.
" Akh, Kakak--- jangan mengusirku! Aku nyaman tinggal disini. Aku janji. Aku tidak akan mengganggu. Aku malah akan membantu kalian jika perlu "
Acha menyipitkan matanya.
" Kau kira aku bisa mempercayai makhluk seperti mu?! "
Mahkluk ini kini berlari ke arah Acha, meraih jemari Acha dan menggenggam nya. Dan tangan dingin mahkluk itu langsung dapat di rasakan oleh Acha.
" Eh! Kau bisa menyentuhku ?? " Pekik Acha.
" Jika aku ingin, maka aku bisa dengan mudah menyentuh manusia "
" Wahhhhhh ----------" untuk sejenak Acha nampak tertegun, namun sedetik kemudian dengan cepat ia menggeleng, dia berusaha untuk kembali sadar dan tak mau terpengaruh dengan perbuatan mahkluk astral yang ada di depannya ini.
" ----- siapa namamu ??" tanya Acha.
" Kenalkan, namaku Anna. Nama Kakak Acha kan? Huaaaaa --- kita bisa jadi saudara atau sahabat kan, Kak ?? " ujar mahkluk astral bernama Anna ini seraya memasang tampang cute dan jujur saja itu sedikit membuat Acha luluh.
" Oke, baiklah. Kau boleh tinggal disini bersama kami. Tapi, jangan coba-coba dekati atau mengganggu Bintang lagi. Jika itu masih kau lakukan, maka aku tak segan-segan untuk membelenggumu! " Ancam Acha seraya menatap Anna dengan tajam.
" Siap, Bossss !! " pekik Anna seraya memberikan tanda hormat kepada Acha, Acha hanya balas tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepala.
" Aku mau tidur dulu, jangan ganggu kami, okay ?? " ujar Acha sembari melangkah keluar dari kamar Bintang.
" Selamat tidur, Kakak ! Aaaaaaaaaahhhh------- senang nya! Aku sekarang memiliki banyak teman. Kak Bintang, Kak Acha ! " pekik Anna seraya menari ballet dengan gerakan heboh di kamar Bintang.
Acha sendiri sudah keluar sedari tadi, gadis itu sudah cukup lega sepertinya karena telah menyelesaikan satu masalah Bintang. Kemampuan indigo nya selama ini cukup bermanfaat rupanya.
Acha merebahkan dirinya di sofa hitam tepat di depan Bintang. Ia menaikkan kakinya, meregangkan punggung nya dan kemudian tak sampai hitungan detik ia terlelap.
.
.
.
~ TBC